
Tetapi, dengan kejadian ini, tampak orang yang tersakiti. Entah itu dari perkataan atau perbuatan Ayah dan Om Deni.
"Menurut kalian baik, tetapi sepertinya enggak dengan orang ini," ujar Ibu.
"Tetapi, kami nggak pernah ada masalah, Bu. Cuma dengan Boby kemarin saja," jawab Ayah.
"Sudahlah bahas ini nanti, cari istriku dulu," ucap Om Deni.
Kami masih melihat lewat mana orang ini membawa istri Om Deni. Ternyata, sebelum polisi datang, dia membawanya lewat pintu belakang.
Dari CCTV halaman belakang terlihat, dia berjalan menuju lahan kosong yang ada di belakang rumah Om Deni.
"Lahan Kosong?" Om Deni bertanya-tanya.
Ayah dan Om Deni saling bertatapan mata sebelum mengucapkan satu nama.
"Boby," ucap mereka hampir bersamaan.
Om Deni segera berlari lewat halaman belakang, dan di susul oleh kami semua.
"Kenapa nggak lewat jalan utama saja, Den?" tanya Ayah.
"Keburu kabur," ucap Om Deni sembari lari tergesa-gesa.
Setelah sampai di dekat dengan rumah yang tak jauh dari rumah Om Deni. Beliau mulai mengendap-ngendap. Beliau tak ingin ketahuan jika sudah mengetahui tempat persembunyiannya. Kami pun mengikutinya.
Rumah ini besar, namun terlihat tak terawat. Daun jatuh berserakan di halaman rumah, terlihat lantai dan kaca yang berdebu. Rumah ini tergolong terpencil dari rumah lainnya.
Kami pun menyelinap masuk dengan perlahan, kami berhati-hati walupun kami jumlahnya lebih banyak, tetapi pelaku membawa pistol yang sewaktu-waktu bisa di tembakkan ke arah kita.
Di dalam rumah ini, aku mendengar teriakan orang yang sama dengan yang ada di CCTV tadi. Ayah menyuruh ibu dan aku untuk tetap berada di ruangan paling depan, mungkin kalau bisa dikata ini ruang tamu.
Tetapi, aku tetap kekeh mengikuti mereka semua, kami berjalan ke satu ruangan yang menurut kami asal sumber suara itu.
Di ruangan itu, pintunya terbuka. Nampak jelas seorang wanita diikat di atas kursi dan seorang pria berdiri di depannya sedang memakinya. Pria itu dengan tega sesekali menampar dan memukul wanita itu.
Aku melihat ke arah Om Deni, yang tangannya mengepal dan wajahnya tampak memerah. Setelah itu, aku melihat pistol pria itu di letakkan di lantai tepat di depan kaki si wanita.
__ADS_1
Wanita itu, menendang pistol itu ke arah kami yang berada di sisi pintu. Mungkin wanita itu menyadari ke datangan kami. Dengan sigap Om Deni mengambilnya, sedangkan ayah dan Pak Budi menyergap orang itu.
Orang itu meronta-ronta ingin melarikan diri dari kami. Ayah pun membuka penutup wajah yang selama ini dipakainya.
"Boby," ucap Ayah dan Om Deni bersamaan, ketika penutup muka itu berhasil di buka.
Entah bagaimana, orang itu bisa terlepas dari pegangan ayah dan Pak Budi. Orang itu berlari sekuat tenaganya menjauhi kami. Orang itu berlari sembari berteriak.
"Kalian biad*b, aku tidak akan tinggal diam. Kalian akan menyusul Hendra ke neraka," ucapnya hingga berlalu.
Om Deni bergegas memeluk istrinya, yang ikatannya ternyata sudah di buka oleh ibu ketika orang itu berlari.
Kami pun membawa istri Om Deni untuk pulang ke rumahnya. Terseok-seok wanita itu berjalan, ibu memapahnya dengan sekuat tenaga.
Sesampainya di rumah Om Deni, Ibu bergegas mengambil air hangat untuk mengompres luka istrinya. Terlihat memar di tangan dan wajahnya.
"Kita harus meminta bantuan polisi untuk segera menangkap Boby," ucap Ayah di kala keheningan melanda kita.
"Tetapi dari awal, kalian bilang Boby itu bunuh diri?" sahut Ibu.
"Memang, Bu. Beberapa hari setelah dia di keluarkan, kami mendapat kabar dia bunuh diri dengan membakar tubuhnya di halaman depan rumah tadi," jawab Ayah.
"Berarti, dia merekayasa kematiannya itu dengan membunuh seseorang? Apa itu yang di maksud dengan Hendra?" tanya Ibu lagi.
"Tidak, Bu. Itu orang yang berbeda, Hendra pun masih masuk beberapa minggu setelah itu, Hendra tidak ada kabar waktu kita pergi ke Malang kala itu," jawab Ayah.
"Yah, terus kapan kita pulang? Dedek takut," ucapku.
"Sementara kita tidak bisa pulang, Dek. Kita semua yang berada di sini otomatis akan menjadi saksi," ucap Ayah.
Aku memeluk ibu yang tengah mengobati istri Om Deni.
"Setiap kali Boby melampiaskan amarah kepadaku, dia selalu mengucapkan kematian anaknya dikarenakan kalian dan Hendra," ucap istri Om Deni.
Ayah dan Om Deni pun saling bertatapan mata.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan apapun. Kami sebelum kejadian dia dikeluarkan dari kantor, memang mendengar anaknya tengah sakit, tetapi kami tidak tahu kalau anaknya meninggal," Jawab Om Deni.
"Iya, terus apa hubungan kematian anaknya dengan kami?" tanya Ayah.
Kami semua berhenti berbicara, suasana terasa hening. Entah kenapa rasanya semua canggung untuk berbicara.
"Ayah, emang istri Om Boby ke mana?" tanyaku.
"Seharusnya ada di rumah itu, tetapi kenyataanya rumah itu sudah lama tak di tempati," jawab Ayah.
"Kita harus mencarinya," ucap Ibu.
"Kita istirahat sejenak, Bu. Saya tahu kalian juga pasti lelah," saran Pak Budi.
Ibu pun berinisiatif untuk memasak, beliau menggunakan bahan yang ada di kulkas. Karena kami sedari pagi belum ada yang makan.
Pak Budi, menghubungi anak dan istrinya untuk memberi kabar. Sedangkan yang lain termasuk aku berkumpul di ruang keluarga.
Ayah dan Om Deni, mencari kontak istri Om Boby. Sedangkan aku menonton televisi. Sedang asik menonton, tiba-tiba sekilas berita tentang mobil Om Deni yang di tinggal di dekat taman itu. Ternyata mobil itu di bakar di lokasi.
"Ayah, lihat itu," ucapku memberitahu.
"Itukan mobilmu?" ucap istri Om Deni bertanya-tanya.
"Iya, kemarin kami di jebak. Mungkin si Boby itu, dengan menggunakan nomor Hendra," jawab Om Deni.
Om Deni pun bercerita ke istrinya perihal yang dialami kami semua. Mulai dari telepon pertama kali, lalu insiden pembacokan hingga penembakan yang dialaminya. Istri Om Deni pun mengeluarkan air matanya.
Beliau menatap ke arahku. Dengan mata yang berbinar karena penuh dengan air mata, beliau mengucapkan terima kasih kepada kami. Karena sudah membantu menyelamatkan dari marabahaya.
Tidak sampai di situ, Om Deni pun bercerita jika orang itu pun sudah mengincarnya sekian lama. Tetapi baru melakukan aksinya saat ini, dia tahu dari rekaman CCTV itu.
Istri Om Deni pun memeluknya dengan kuat. Setelah itu, ibu pun datang mengajak kami ke ruang makan rumah ini, untuk menghilangkan rasa lapar kami semua yang mungkin kami tutupi.
Sampainya di meja makan, kami pun menikmati makanan yang dihidangkan Ibu. Sesekali mereka juga membahas perihal tadi.
"Yah, bagaimana kita mencari keluarganya hendra dan istri Boby. Mungkin mereka sedang dalam keadaan yang berbahaya," usul Ibu.
__ADS_1
Ayah dan Om Deni tampak memikirkan usul dari Ibu.
"Baik, kita bantu mereka. Sekarang yang penting selesaikan makanan ini dulu," ucap Om Deni.