Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Strategi (2)


__ADS_3

Ibunya Dinar terlihat menenteng tas besar yang berisikan baju. Beliau melangkahkan kaki ke arah mobil. semakin mendekat beliau mengetuk kaca pintu mobil.


Tek tek tek.... (Anggap saja ketukan di kaca ya, Authornya ga paham bunyi-bunyian)


Kak Dita pun dengan sigap membuka kaca mobilnya.


"Bagasinya buka, Ibu mau taruh tas di bagasi saja," ucap Ibu Dinar dari luar mobil.


"Iya Bu," ucap kak Dita menuruti ucapan Ibunya.


Setelah menaruh tas, Ibunya Dinar pun masuk ke dalam mobil dan Kak Dita pun segera melajukan mobilnya putar balik untuk pergi ke gang sebelah.


Di sini Kak Dita menjelaskan siasat yang tadi sudah di pikirkan dengan matang ke Ibunya, dan Ibunya mengiyakan rencana itu.


"Bagaimana Dit, temanmu mau diajak kerjasama?" tanya Ibu.


"Mau Tante, alhamdulillah dia lagi ada di rumah dan dia mau aku mintain tolong," jawab Kak Dita.


Ketika putar balik, otomatis kita melewati mobil yang mengikuti kami. Aku dengan sengaja melihat kearah mobil itu, tetapi aku tidak menemui orang di sekitar sana.


Malah yang aku lihat ada Esther duduk di atas pohon yang tepat berada di samping mobil itu.


"Esteh, ngapain?" aku pun bertanya-tanya dengan nada yang lirih.


"Dek ngomong sama siapa?" tanya Ibu.


"Aku lihat Esteh, Bu," jawabku.


"Esther maksud kamu? Di mana?" tanya Ibu penasaran.


"Di atas pohon itu," jawabku sembari menunju ke arah pohon yang sudah kami lewati.


"Bukannya sudah dipulangin kemarin?" tanya Ibu lagi.


"Cerita nanti saja Bu, panjang soalnya," jawabku.


Tidak terasa kami mulai memasuki gang yang kami tuju, gang ini adalah tempat sekolahan TK itu. (Pengen tahu kisah sekolahan TK, baca part sekolahan TK)


Ketika sudah mulai dekat dengan sekolahan TK si Dinar mencolekku.


"Apaan sih Din," ucapku.


"Sekolahan TK," ucap Dinar.


Aku hanya melihat Dinar tanpa merespon ucapannya. Rumah teman Kak Dita tidak jauh dengan sekolahan TK itu, kalau mau ke rumah teman Kak Dita pasti melewatinya.


Kak Dita pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah temannya. Keluarga Dinar pun turun dari mobil. Sebelum berpamitan ibu berkata sesuatu dengan Kak Dita.


"Hati-hati ya kalian semua, nanti hubungi saja saya kalau mau minta bantuin ketika hendak ke rumah kami," ucap Ibu dengan suara lirih.


"Iya Tante, hati-hati juga" ucap Kak Dita.


Setelah itu kami berpamitan dengan keluarga Dinar. Ibu masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya untuk pulang. Kami lambaikan ke arah keluarga Dinar tanda berpisah.


_____________


*P**OV Dita*


Setelah Keyla dan ibunya pergi, kami pun segera mengetuk pintu rumah temanku.


Tok tok tok....

__ADS_1


Aku mengetuk pintu.


"Iya sebentar," terdengar suara temanku dari dalam.


Tak perlu menunggu lama pintu pun terbuka.


"Eh Dita, Tante sama Dinar, mari masuk," ucap Rani temenku.


Kami melangkahkan kaki memasuki rumah, lalu si Rani dengan cepat menutup pintunya.


"Silahkan duduk, aku ambilkan minum sebentar," ucap Rani lagi.


"Tidak perlu Ran, kami harus buru-buru seperti yang aku ucapkan di Wathsapp tadi," ucapku.



"Iya, mari aku antar lewat belakang, perlu aku antar tidak? tanya Rani.


Rani pun mengantar kami lewat belakang rumahnya untuk pergi ke perumahanku. Dia menunjukan jalannya.


"Makasih ya Ran," ucapku.


"Iya Dit, kalian semua hati-hati ya," ucap Rani.


Kami sekeluarga meninggalkan Rani. Jalan yang kami lewati hanya jalan setapak yang pinggirannya selokan.


"Kita jalan ke mana ini Kak? mana rumah Keyla?" tanya Dinar.


"Bentar aku telepon, soalnya tidak hafal kalau dari belakang," ucapku.


Tuuuuut tuuuuut....


"Halo, bagaimana Dit?" tanya Ibunya Keyla.


"Kamu jalan aja lurus ke arah jalan utama, nanti aku tunggu di belakang rumah, ada pintu gerbang kecil kok nanti saya di sana," jelas Ibunya Keyla lagi.


"Baik Tante, nanti saya hubungin lagi," ucapku sembari mematikan teleponnya.


Kami pun dengan langkah cepat pergi ke arah jalan utama. Kami sembari celingukkan melihat situasi dan mencari belakang rumah Keyla.


Dari kejauhan nampak Ibunya Keyla nampak berdiri di depan tembok belakang pagar rumahnya. Kami pun berlari ke arahnya.


Sesampainya di dekat ibunya Keyla, kami di ajak buru-buru masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo, cepat masuk," ucap Ibu Keyla sembari membuka pintu gerbang halaman belakangnya.


Kami hanya menuruti yang di suruh, dengan cepat kamu masuk ke dalam rumah.


__________


POV Keyla


Dinar dan keluarga sudah bersama ibuku lewat belakang rumah. Aku yang menunggunya di dapur pun mengajaknya masuk ke ruangan tengah tempat menonton televisi.


"Silakan duduk, tidak perlu sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri," kata Ibu.


"Makasih bantuannya jeng," ucap Ibunya Dinar.


Ibuku hanya melemparkan senyumannya ke mereka sebelum berlalu pergi ke dapur.


"Gimana Kak? Tadi tidak ada kendala kan waktu mau ke sini?" tanyaku.

__ADS_1


"Sedikit kendala Key, soalnya tidak hafal belakang rumahmu, untuk tadi telepon Ibumu," jawab Kak Dita.


"Makasih loh Key, sudah bantuin aku dan keluargaku," sahut Dinar.


"Sama-sama, Kak Dita tidak menghubungi temannya?" tanyaku.


"Oh iya lupa, aku telepon dia sebentar," ucap Kak Dita.


Kak Dita pun menghubungi temannya, panggilan pertama dengan cepat di respon temannya itu.


"Halo Ran, makasih bantuannya, oh iya aku sudah di rumah yang aku tuju," ucap Kak Dita sembari me-Loud speaker suaranya.


"Iya sama-sama Dit, yang ngikutin kamu apa mobil Honda jazz merah itu ya?" tanya teman Kak Dita.



(Sumber: Pinterest)


"Iya Ran, apa dia masih di sana? Terlihat tidak orangnya?" tanya Kak Dita lagi.


"Iya, mobil itu masih di sana, tetapi aku tidak melihat orangnya," jawab Temannya.


"Oh iya sudah, makasih ya Ran sekali lagi, Bye" ucap Kak Dita.


"Oke. Bey Dit, semoga tidak terjadi apa-apa sama kalian semua," kata temannya.


Ibu pun datang dengan membawakan minuman.



(Sumber: Pinterest)


"Mari di minum dulu," ucap Ibu.


Mereka segera meminumnya, mungkin mereka kehausan.


"Nanti kamarnya di lantai atas ya, di sana ada satu kamar yang jarang di pakai sih, soalnya biasanya dipakai ketika keluargaku berkunjung saja," ucap Ibu.


"Iya, makasih banget loh Jeng sama Keyla, sudah banyak membantu kami," kata Ibunya Dinar.


"Mari makan dulu, sudah aku siapkan juga," kata Ibuku lagi.


"Nanti saja Tante, aku masih kenyang," ucap Dinar.


"Baiklah, aku tinggal salat dulu ya," kata Ibu sembari berlalu pergi.


Aku menemani keluarga Dinar sembari menonton televisi chanel kesukaan. Mereka terlihat lelah.


"Istirahat saja Tante, kalau kecapekan," ucapku.


"Baru kali ini, dibuat repot sama orang, maunya apa coba?" tanya Tante tampak heran.


"Sudahlah Bu, istirahat dulu kita aman di sini," ucap Dinar.


Mereka bertiga pun berbaring di karpet di depan televisi.


"Tidak ke kamar aja Tante?" tanyaku.


"Di sini saja dulu Key, capek banget," jawab Ibunya Dinar.


Satu persatu dari mereka mulai memejamkan matanya, aku biarkan mereka untuk beristirahat agar hilang rasa penatnya. Aku memutuskan pergi ke kamar untuk beristirahat juga.

__ADS_1


>>>Next Episode


__ADS_2