Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Flashback


__ADS_3

Aku melihat Esther, mungkin dia juga sedih kala melihatku seperti ini. Tiba-tiba saat aku menatap Esther dengan seksama muncul makhluk lain berada di belakangnya. Sosok itu tinggi besar.


"Esteh, pergi!" teriakku.


Esther dengan cepat melesat menghindarinya, ketika mendengar ucapanku.


"Hahaha." Makhluk itu tertawa, lalu perlahan kembali menghilang.


Aku yang menatapnya masih tertegun. Saat aku berteriak, ayah dan ibuku terperanjat kaget kala mendengarnya.


"Kenapa, Dek?" tanya ibu.


Namun, saat itu juga aku tak langsung menjawab pertanyaan ibu.


"Dek." Panggil ibu lagi.


Aku terkejut dengan suara ibu.


"Eh, iya Bu," jawabku.


"Kenapa, Dek?" tanya ibu lagi.


"Tadi aku melihat, ada sosok makhluk yang besar hendak melukai Esteh, Bu," jawabku.


Ibu mengelus kepalaku, dengan lembut.


"Mau pakai kursi roda? Kita jalan-jalan di taman," ajak ibu.


Aku pun mengangguk sembari tersenyum. Memang ini yang aku harapkan sejak sekian lama berada di sini.


"Tunggu sebentar, ibu ambilkan," ucap ibu.


"Iya, Bu," jawabku.


Ibu pun melenggang pergi keluar kamar, sedangkan ayah masih menemani aku di dalam ruangan ini. Ayah tersenyum ke arahku, lalu mengelus kepalaku dengan lembut.


"Semoga suasana di luar buat kamu tambah semangat untuk sembuh ya, Nak," ucap ayah.


"Iya, Yah," jawabku singkat.


Setelah itu, ibu kembali dengan mendorong kursi roda. Beliau tampak tersenyum ketika masih di kejauhan. Ayah mulai mengangkat tubuhku, ketika ibu berada di dekat kami, aku pun di turunkan oleh ayah di atas kursi roda itu.


Aku duduk sendiri masih belum mampu, sehingga ayah kembali mengangkatku. Kemudian ibu meletakkan bantal di kursi roda yang pasang secara vertikal, mungkin untuk tubuhku bersandar. Lalu aku kembali di taruh ayahku di atas kursi roda itu.


Setelah itu, tepat di pangkuanku di berikan bantal lagi secara horizontal dan di masukkan ke celah tempat aku meletakkan tangan.


Aku yang melihatnya tertawa, walaupun sebenarnya di benakku sangat sedih sebab aku untuk duduk aja perlu bantuan bantal.

__ADS_1


"Hahahaha, payah banget deh aku ini. Duduk aja nggak mampu," ucapku terdengar bergetar suaraku.


Aku menyimpan tangis di dalam hatiku, demi memperkuat kedua orang tuaku yang mungkin saat ini sudah merasa down, karena terlalu lama berada di sini dengan keadaanku lambat untuk pulih.


"Husst, nggak boleh bicara seperti itu," sahut ayah.


Aku hanya tertawa ketika ayah melarangku. Saat semua sudah di rasa siap, ayah segera mendorong kursi roda. Pintu di buka oleh ibu, serasa keluar dari penjara, hati senang, perasaan lega yang pertama kali aku rasakan.


Kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit, setiap melewati orang yang berada di koridor rumah sakit ini, mereka seakan-akan menatapku dengan tatapan aneh. Tangan yang masih tertancap selang infus, duduk yang di bantu bantal di mana-mana, membuatku tampak seperti boneka mainan sewaktu aku masih kecil.


"Yah, kenapa aku seperti boneka yang pernah aku mainin pas waktu kecil?" tanyaku.


"Oh, ya? Memang mainan apa? Apa kamu ingat," tanya ayah.


"Jadi gini yah ...," ucapku menggantung, lalu pikiranku kembali ke masa laluku.


******


Flashback On.


Saat itu, usiaku masih sekitar lima tahun. Seperti biasa, saat hari minggu ayah berada di rumah. Beliau menemani aku bermain di teras rumahku, sedangkan ibu melakukan hal yang biasa dilakukan ibu rumah tangga pada umumnya.


Aku masih ingat jelas, saat itu mainan berserakan di depan teras. Dari mainan mobil-mobilan, kereta, boneka, masak-masakan sampai peralatan rumah sakit pun ada.


"Ayah, naik kereta?" ucapku waktu itu.


"Iya, Dedek naik kereta mau ke mana?" tanya Ayah.


"Naik, kereta ke Nenek," jawabku khas anak kecil seumurannya, sembari melihat mainan keretaku berjalan sendiri karena memakai baterai.


Entah kenapa, saat itu aku memasangkan rel keretaku hanya satu secara memutar. Sehingga aku meletakkan dua kereta itu secara bersamaan dengan berlawanan arah.


Mainan keretaku bertabrakan, aku saat itu juga bergegas mengambil mobil mainan yang ku anggap mobil *ambulance.


"Ninoninonino, wiu wiu wiu*," celetukku, menganggap suara itu dari mobil ambulance dan mobil polisi saat aku masih kecil.


"Loh, suara apa itu?" tanya ayah sembari tersenyum.


"Mobil rumah sakit," celetukku.


Ayah yang mendengarnya sontak tertawa, karena aku menganggap mobil ambulance itu mobil rumah sakit.


"Ambulance, Dedek," ucap ayah sembari menahan tawa.


"Sama aja," ucapku.


Setelah mobil mainan aku letakkan di samping kereta, saat itu aku mengambil boneka barbie-ku. Boneka barbieku memang banyak tapi yang aku gunakan mainan hanya tiga saja, karena aku menganggapnya ayah, ibu dan anaknya.

__ADS_1


Aku meletakkan boneka barbie yang kecil, lalu boneka barbie yang besar aku pegang.


"Keyla, bangun. Keyla mati, ya," celetukku.


Aku anggap ucapan bukan hal yang pamali saat itu, aku mengucap apa saja yang ada di pikiranku. Ayah yang mendengarku, sontak melarangku.


"Ssst, kok gitu? Nggak boleh ya, Dek. Pamali sayang," ucap ayah.


Aku yang masih kecil, tetap saja seperti keinginanku. Aku dekatkan dua boneka barbie besar itu ke barbie kecil. Aku buat seakan-akan dua boneka itu mengangkat barbie yang kecil.


"Mau di bawa ke mana Dedeknya, Dek?" tanya ayah ketika aku meletakkan boneka kecil itu di atas mobil-mobilan.


"Rumah sakit, mau di periksa," ucapku.


Ayah tersenyum.


"Dedek Keyla, jadi dokternya?" tanya Ayah.


"Enggak, aku jadi yang sakit," jawabku.


Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepalaku secara perlahan saat itu. Saat itu juga aku ingat, ibu menghampiri aku dan ayah.


"Ayo, makan dulu. Nanti mainan lagi, ya," ucap ibu sembari duduk bersimpuh di dekatku.


"Bentar, ini Keylanya aku tidurin dulu. Nanti bangun lagi," ucapku sembari meletakkan barbie kecil itu di tempat tidur mainan.


"Iya, nanti mainan lagi. Dedek Keyla tidur ya, Dek," ucap ibu tersenyum kala melihat tingkahku.


Aku pun diraih ibu akan digendong. Mataku saat itu tertuju di bawah pohon seberang jalan. Aku melihat nenek tua renta duduk di sana.


"Bu, Neneknya mau makan?" tanyaku.


"Nenek, siapa sayang?" tanya ibu.


"Itu," ucapku sembari menunjuk apa yang aku lihat.


Ayah dan ibuku pun melihat ke arah jariku menunjuk. Mereka tak melihat siapapun di sana.


"Nggak ada Neneknya, Dek," ucap ayah.


Aku saat itu tetap bersikukuh bahwa di sana memang ada orang, memang aku melihatnya tetapi tidak dengan kedua orang tuaku. Ayah mencoba mengiyakan ucapanku, agar aku segera mau masuk ke dalam rumah.


"Iya, nanti Neneknya di kasih maka. Dedek makan dulu ya sama ibu," ucap ayah dengan lembut.


Aku hanya tersenyum, dan menurut ucapan ayah. Walaupun aku berada di gendongan ibu, aku meronta saat ayah dan ibuku bilang tidak ada siapapun di sana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2