Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
pencarian (2)


__ADS_3

"Sita adalah teman di kampusku dulu, kami berteman cukup baik hingga sekarang. Lalu ada apa kalian mencarinya?" tanya Clara.


"Kami, teman si Boby di kantor. Ada masalah penting dengan si Sita ini sehingga kami mencarinya," jawab Ayah.


"Apa kamu sama Sita saat ini masih saling memberikan kabar?" sahut Ibu.


"Iya, bahkan baru saja dia memberikan kabar. Ada apa?" tanya Clara lagi.


Kami pun bercerita kejadian-kejadian yang dialami kami. Dia terlihat shock mendengarnya, karena selama ini dia juga mengerti kalau Boby memang sudah meninggal. Dan Boby selama ini tidak pernah menampakan wataknya yang seperti ini.


Bahkan saat ini dia terlihat panik, takut sahabat baiknya terancam keselamatannya.


"Saya ambil tas dulu, sekarang kita segera ke sana," ucap Clara.


Clara pun sedikit berlari menuju dalam rumah. Dia pun keluar dengan menenteng tas, tanpa berganti pakaian.


"Mari, segera berangkat," ucap Clara.


Kami memasuki mobil dan segera berangkat. Kami hanya mengikuti alamat yang sudah di berikannya. Ternyata rumah istri Om Boby tidak jauh dari gang rumah Om Deni.


Sehingga perjalanan kami di tempuh cukup jauh. Di perjalanan nampak Clara menghubungi seseorang.


"Halo Sita, aku sekarang menuju rumahmu," ucap Clara.


"Aku lagi di kantor, kalau mau ketemu kita bertemu di resto depan kantor saja ya," ucap Tante Sinta dari seberang telepon.


"Baik, aku segera ke sana," jawab Clara.


Telepon segera dimatikan setelah mendengar ucapan Tante Sita. Clara memberitahukan tempat bekerja Tante Sita.


Tak berselang lama, kami pun sampai di depan restoran yang dimaksud Tante Sita tadi di telepon.


"Bener ini Neng, tempatnya?" tanya Pak Budi memastikan.


"Iya, Pak," ucap Clara.


Kami sengaja masih di dalam mobil, dari kejauhan aku seperti melihat sosok Om Boby. Aku pun segera memberitahukan ke ayah.


"Ayah, itu bukannya Om Boby ya?" tanyaku.


Aku menunjuk kearah seseorang yang berada di seberang kantor depan restoran ini. Ayah dan Om Deni pun melihat seksama ke arah orang itu.


"Eh, iya. Itu Boby," ucap Clara.


Clara pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Tante Sita.


"Halo, Ta. Jangan lewat pintu depan kantormu, soalnya ada yang sengaja mengintai kamu," ucap Clara memberitahu.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Tante Sita.


"Nanti saja kalau ketemu, aku akan memberitahumu," ucap Clara.


"Baik," jawab Tante Sita.


Panggilan pun kembali dimatikan. Lama kami harus menunggu Tante Sita. Yang ternyata dari jam istirahat kantor mulai hingga berakhir, beliau tak kunjung datang.


Clara pun kembali menghubunginya.


"Di mana?" tanya Clara.


"Bentar, aku selesaikan dulu kerjaanku. Aku sengaja izin pulang duluan demi kamu," jawab Tante Sita.


Kami pun tetap mengawasi keberadaan Om Boby di seberang jalan. Dia pun juga turun ketika untuk bertanya ke orang-orang ketika tak melihat Tante sita keluar dari kantor.


Setelah itu, dia pun beranjak pergi dari depan kantor. Entah alasan apa yang membuat dia bergegas pergi.


"Masih lama, Kak?" tanya ku ke Clara.


"Bentar lagi keluar kok, aku juga sudah kirim pesan singkat ke Sita," jawab Clara.


Kami pun setelah kepergian Om Boby, segera masuk ke dalam restoran untuk menunggu Tante sita.


Tante Sita pun datang menghampiri Clara, dia nampak kebingungan kala melihat Clara bersama kami.


Dia pun menyalami kami satu persatu, sembari memperkenalkan namanya.


"Duduk dulu," jawab Clara.


"Aku sambil pesan makan, ya. Soalnya belum makan siang," ucap Tante Sita.


"Sebentar, ya," ucapnya sembari berlalu menghampiri pelayan resto ini.


Tante Sinta terlihat anggun dan elegan mengenakan pakaian kantornya. Dia menggunakan setelan atas lengan panjang dan celana panjang. Perpaduan warnanya yang pas untuk warna kulit Tante Sita.



Tata bicaranya yang sopan, dan terlihat ramah buat kami. Tante Sita kembali menghampiri kami.


"Kalian sudah makan?" tanya Tante Sita ke kami.


"Sudah tadi di rumah," ucap Ibu.


"Saya pesankan minuman, ya?" ucap Tante Sita, setelah itu dia memanggil pelayan restoran untuk kembali memesankan minuman.


Sembari menunggu pesanan tiba, kami mulai mengobrol untuk mengawali ucapan kami yang lebih serius.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, ada apa ya, Ra?" tanya Tante Sita ke Clara.


"Tahu nggak sih, Ta. Ternyata suamimu masih hidup," ucap Clara memberitahu.


"Tidak mungkin, aku datang kok ke pemakannya waktu itu," jawab Tante Sita.


"Lihat mereka, dia terluka karena ulah suamimu barusan," ucap Clara sembari menunjuk kearah Ok Deni dan Tante Eri.


"Maksudnya bagaimana? Aku melihat sendiri mayat Boby waktu akan di makamkan, memang mayatnya sudah tidak bisa di kenali. Saat itu pun mau di adakan proses visum aku tidak mau, aku anggap ya hal biasa yang mayatnya harus segera dimakamkan," terang Tante Sita memberitahu.


"Ternyata Boby merekayasa kematiannya itu," sahut Ibu.


"Sumpah aku tidak mengerti," ucap Tante Sita sembari tangannya memegang pergelangan tangan ibu.


Ibu mulai bercerita dari awal kejadian di taman, lalu hingga kejadian yang kami alami baru saja. Bahkan kami juga menyampaikan, bisa saja Om Boby membunuh Om Hendra.


Tapi entah kenapa berita kasus pembunuhan Om Hendra tidak di ungkap, kalau memang benar-benar dia terbunuh.


Tante Sita meneteskan air mata, ketika mendengar Om Boby dengan teganya berlaku kasar ke Tante Erika. Apalagi perbuatannya di perkuat dengan bukti luka lebam yang di terima Tante Eri.


Tante Sita tak henti-hentinya mengucapkan permintaan maaf. Saat ini beliau bercerita, jika awalnya dia kerap bertengkar karena Om Boby lupa akan tanggung jawabnya.


"Lupa tanggung jawab? Dia tidak pernah absen loh dari kerjaannya," ucap Ayah.


"Iya, dia selama ini selalu berjudi. Dia meninggalkan hutang ratusan juta ketika mendengar dia meninggal," ucap Tante Sita.


Dia pun berhenti sejenak, sembari mengatur emosinya. Dia terlihat ingin mengungkapkan sesuatu tapi berat.


"Bahkan dia tidak pernah membantu pengobatan anaknya hingga meninggal, bahkan amarahku memuncak karena mendengar dia di keluarkan dari kerjaannya sebab menggelapkan uang kantor dengan jumlah milyaran rupiah," ucap Tante Sita dengan penekanan suara yang terlihat.


Tante Sita, sudah tidak bisa tinggal diam. Dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Om Boby. Selama ini dia selalu bersabar, tetapi itu tak membuat Om Boby jera tapi malah kian menjadi-jadi.


Setelah lima hari kepergian Tante Sita dari rumah, saat itu dia mendengar kabar kalau Om Boby bunuh diri. Bahkan dia pun membaca kertas yang ditinggalkan tidak jauh dari lokasi bunuh diri itu.


Surat itu berisikan penyesalan yang selama ini diperbuat dan ucapan minta maaf untuk Tante Sita. Tante Sita menganggap semua berakhir si situ. Tetapi mendengarkan penjelasan kami tentang perbuatan Om Boby, ternyata anggapan dia selama ini salah.


"Tadi aku juga melihat Boby di depan kantormu, entah kenapa setelah itu dia pergi," ucap Clara.


"Setelah kamu memberitahukan ada yang mengintaiku, aku langsung memberitahu semua orang di kantor. Jika ada yang bertanya tentang aku, aku suruh bilang kalau aku resign dari sini," jawab Tante Sita.


"Pantes dia segera pergi," ucap Om Deni.


Kami sejenak hening, ketika melihat Tante Sita seakan-akan memikirkan sesuatu.


"Jadi selama ini dia, yang...." ucap Tante Sita menggantung


Tante Sita seakan mengingat sesuatu tetapi enggan mengucapkannya.

__ADS_1


Bersambung....


>>> Next Episode


__ADS_2