
Cukup lama kita berbincang di sana, hingga tepat pukul 07.00 kami memutuskan untuk segera kembali.
"Dek, kita kembali ke kamar dulu, ya. Terimakasih jamuannya," ujar nenek saat berpamitan.
"Terimakasih juga, sudah menyempatkan untuk menjenguk. Semoga Dek Keyla cepat pulih seperti sedia kala, amiin." ucap Tante Diana, sembari tersenyum ke arahku.
"Makasih ya, Tante, Om. Semoga Nenek cepat pulih, sama salam buat Pia, ya," ucapku.
Kami sembari bersalaman secara bergantian dengan Om Adi dan Tante Diana. Ayah kembali mendorong kursi rodaku menuju ruangan yang biasa gunakan. Seperti biasa, dari kejauhan aku melihat kuntilanak merah tepat di depan pintu saat pertama kali aku lihat. (Baca mulai flashback-2)
Aku bergegas memalingkan wajahku, aku tak ingin berurusan kembali dengan makhluk jahat dan susah dimusnahkan itu.
"Dek, kamu tiduran dulu ya. Ayah dan Ibu pindahin barang ke mobil dahulu," ujar ayah memberitahu.
Ayah menggendongku kembali untuk memindahkan aku di atas kasur.
"Memangnya pakai mobil siapa?" tanyaku.
"Kan kemarin nenek ke sini bawa mobil sama Tante Santi dan Jeje. Terus mereka pulang di jemput sama Om Yudi dan Kak Nova," ucap ayah.
Om Yudi itu suami dari Tante Santi, tepatnya ipar ibuku. Kalau Kak Nova itu kakaknya Jeje yang waktu lalu di ceritakan ikut sekolah ayahnya di beda kota yaitu di kota tempat kerja ayah Jeje. ( Baca part berkunjung ke rumah Nenek)
"Kok aku nggak tahu?" tanyaku.
"Kamu kan ke marin masih koma, Dek. Jeje cukup lama loh di sini, dua harian," sahut ibu.
Setelah itu aku hanya berbaring di kasur dan di temani nenek duduk di kursi samping tempat tidurku. Sedangkan ayah dan ibu mulai membawa barang-barang bawaan menuju mobil.
Nenek mengambil Al-Qur'an yang berada di meja. Beliau mulai membacanya dengan lirih sembari menemaniku. Aku hanya terdiam dan mendengarkan, tak terasa lagi-lagi mataku terpejam dengan sendirinya.
Mungkin efek aku minum obat setelah makan tadi, sehingga aku cepat sekali merasa mengantuk. Secara perlahan suara nenek mengaji perlahan menghilang bersama lelapnya tidurku.
Entah berapa lama aku tertidur, hingga aku mendengar sayup-sayup dokter berbicara secara bergantian dengan keluargaku.
Perlahan aku membuka mata, melihat dokter menjelaskan entah apa aku juga tak mengerti.
"Bu." Panggilku.
__ADS_1
Mereka semua yang ada di ruangan melihat ke arahku.
"Si cantik sudah bangun, ya," ujar dokter.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum ke arah dokter itu. Beliau yang selama ini membantu kesembuhanku.
"Jangan lupa check up ya nanti. Ke tempat saya praktek saja, tidak perlu ke rumah sakit," ujar dokter memberitahu.
"Baik, Dok," jawabku.
Lalu dokter memberikan kertas ke ibu yang sedari tadi sudah di bawanya, lalu beliau berpamitan.
"Ini buat kamu. Semoga cepat sembuh ya," ujar dokter sembari memberikan aku boneka kecil.
Beliau melenggang pergi bersama dengan perawat yang biasa menemani. Setelah itu, ibu juga menyusul melenggang pergi keluar ruangan sembari membawa kertas yang di berikan dokter. Mungkin itu resep obat yang harus di tebus ibu.
Nggak begitu lama, ayah juga ikut pergi keluar kamar sembari membawa tas kecil.
"Ayah dan Ibu mau ke mana, Nek?" tanyaku.
Mungkin yang di maksud nenek adalah biaya perawatanku. Tak tahu harus berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk biaya selama aku di sini, sedangkan ayah selama aku di rawat beliau tak pernah bekerja untuk menemani ibu.
Aku juga tak tahu mereka mendapatkan uang dari mana untuk biaya perawatanku, biaya hidup mereka juga selama di sini.
Cukup lama kami menunggu ayah dan ibu kembali. Satu persatu, mulai dari ibu kembali terlebih dahulu sembari menenteng kantong plastik di tangannya. Setelah itu bergantian dengan ayah, tetap sama membawa tas kecil.
Ayah kembali mendekatkan kursi roda ke tempat tidur, lalu kembali menggendongku untuk di pindah ke kursi roda.
"Pulang ya, Dek. Semoga cepat sembuh," ucap ayah sembari mendorong kursi roda.
Nenek dan ibu berada di belakang kami. Tahu nggak sih, selama aku koma rambutku aja nggak keramas dan nggak disisir sekarang gimbal seperti apa?
Bayangkan seberapa banyak kotoran di rambutku selama satu bulan enggak keramas.
Selama aku sudah bisa mengangkat kepalaku, aku sudah mulai mengenakan jilbab lagi. Seperti saat ini, aku mengenakan pakaian baby doll panjang dan jilbab instan untuk mudah ku kenakan.
"Bu, rambutku bagaimana?" tanyaku saat menyusuri koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Iya, sampainya di rumah nanti di bersihin ya," ujar ibu.
Aku hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan ibu. Dari kejauhan sudah nampak pintu utama masuk rumah sakit ini, terasa beban di hati seolah-olah terangkat. Hanya perasaan bahagia yang saat ini aku rasakan.
Terasa keluar dari penjara yang selama ini membelenggu hidupku.
"Bu, gantiin ya. Ayah ambilkan mobil dulu," ucap ayah saat kami berada di halaman depan rumah sakit.
Ibu pun bergegas menggantikan posisi ayah yang sebelumnya mendorong kursi roda, sedangkan ayah berjalan cepat menuju parkiran mobil.
Ayah melajukan mobilnya ke arah kami, lalu beliau turun untuk memindahkan aku. Di bantu ibu melipat kursi rodanya lalu di masukkan di bagasi mobil.
"Kok dibawa pulang kursinya, Yah?" tanyaku.
"Iya, Dek. Pak Dokter sengaja membelikannya untuk kamu, katanya itu hadiah buat kamu karena sudah bisa duduk," jawab ayah.
"Kok Ayah baru bilang?" tanyaku lagi.
Ayah tak lantas menjawabnya, beliau bergegas menuju kursi kemudi. Di susul nenek dan ibu masuk ke dalam mobil. Ibu dan nenek duduk mendampingi aku.
Perlahan ayah melajukan mobil. Saat ini kami mulai menjauhi rumah sakit, di dalam hati terasa lega banget kala terbebas dari sana.
"Alhamdulillah." Kata syukur yang aku ucapkan saat pertama kali keluar rumah sakit itu.
Nenek dan ibu secara bersamaan mengelus kepalaku.
"Semoga cepat pulih ya, Nak. Anggap saja semua penyakit tertinggal di rumah sakit," ujar nenek.
Aku menatap beliau sembari melemparkan senyumanku. Lalu menatap ke arah ibuku, beliau juga membalas senyumanku. Ibu memelukku dengan erat, mungkin tak beliau sadari air mata menetes dari matanya mengenai lenganku.
"Kok nangis?" tanyaku.
"Ibu bahagia, Dek. Nggak nyangka bakal ada keajaiban seperti ini, kami nggak menyangka kamu bisa hingga proses duduk dengan secepat ini," ucap ibu sembari mengelus kepalaku.
Mungkin kebahagian beliau bukan hanya itu, tapi karena kami semua dapat keluar dari rumah sakit itu. Satu bulan bukan waktu yang sebentar untuk menunggui orang yang sakit, pasti rasa bosen dan jenuh menerpa di dalam hati.
Bersambung ....
__ADS_1