
Kami mulai bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Sebelum berangkat Ibunya Dinar sengaja menghubungi ibuku agar tidak mengkhawatirkan aku.
Beliau tidak ingin menceritakan hal yang aku alami ke ibu, tetapi hanya ingin meminta izin agar memperbolehkan aku ikut jalan-jalan.
Ibunya Dinar mulai menelepon ibuku. Setelah tersambung ibunya Dinar segera menyampaikan keinginannya.
"Halo Jeng, ini Keyla mau aku ajak jalan-jalan ya," kata Ibu Dinar.
Beliau tampak mendengarkan apa yang di ucapkan ibuku di seberang telepon.
"Oh iya, Keyla tidak merepotkan kok, sudah dulu ya Jeng," kata Ibu Dinar lagi sembari mematikan teleponnya.
Ibunya Dinar melihat ke arahku, beliau melemparkan senyumannya. Mungkin tadi Ibuku mengizinkannya.
"Apa Ibu mengizinkannya, Tante?" tanyaku.
"Iya Key, ayo berangkat sekarang saja," ucap Ibu Dinar.
Sebelum berangkat Kak Dita menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Tidak ingin orang yang meneror itu berhasil memasuki rumah ini.
Kami pun memutuskan untuk segera berangkat, satu persatu dari kami mulai masuk ke dalam mobil Kak Andre.
Secara perlahan Kak Andre mengemudikan mobilnya. Ia pun mulai menyalakan tape recorder dan memutar lagu dari Adele - Someone like you. Entah kenapa aku mendengarnya merasa lebih tenang, terasa terbawa arus suasana lagu itu.
Tak ada obrolan apapun di dalam mobil. Mungkin kalau tidak ada lagu ini, semua terdengar hening. Aku hanya menikmati alunan musik yang terdengar, tanpa aku sadari aku mulai ikut menyanyikan lagu.
Dengan mata tertutup tetap ku nikmati lagu satu persatu bergantian. Hingga terasa mobil ini berhenti. Di dalam benakku mungkin sudah sampai di tempat yang di inginkan Kak Andre.
Aku mulai membuka mata, tak ada Kak Andre di kursi kemudi. Aku celingukan ke kanan dan ke kiri, baru ku sadari ternyata ini ada di pom bensin. Dinar yang berada di sebelahku pun melihat ke arahku.
"Kenapa Key?" tanya Dinar.
"Enggak apa-apa ku kira kita sudah sampai, ternyata masih di pom bensin," jawabku.
Dari dalam mobil aku melihat Kak Andre sedang berbicara dengan perempuan. Perempuan itu terlihat seumuran dengannya. Kak Dita yang melihatnya pun tak meresponnya, mungkin mereka sudah saling mengenal.
Tak berselang lama setelah pengisian selesai, Kak Andre mulai masuk ke dalam mobil dan ia segera melanjukan mobilnya ke tempat tujuan
"Sayang, aku pernah ceritakan soal sahabatku yang lagi bekerja di luar negeri itu?" tanya Kak Andre.
"Iya, kenapa?" Kak Dita pun balik bertanya.
"Nah, tadi aku bertemu dia dan sempat mengobrol, kapan-kapan aku kenalin ke kamu ya," ucap Kak Andre.
Kak Dita hanya mengangguk, awalnya ku kira Kak Dita tak memberi respon karena sudah mengenalnya. Tetapi melihat obrolannya dengan Kak Andre terlihat Kak Dita sedang cemburu.
"Kita mau ke mana?" tanya Ibunya Dinar.
"Ke bioskop aja ya Bu, kita nonton," jawab Kak Andre.
"Iya, kita cari makan dulu ya Nak, kasian Keyla dan Dinar mungkin belum makan," kata Ibu.
"Baik Bu," ucap Kak Andre lagi.
Kak Andre pun menuruti ucapan calon ibu mertuanya. Ia mulai mencari tempat makan yang terdekat dengan lokasi saat ini. Tentu dengan mudah kami menemukan tempat makan terdekat, kita di pusat kota.
Kak Andre memarkirkan mobilnya. Satu persatu dari kita turun, kami mencari tempat duduk yang kosong. Setelah duduk pelayan pun datang dengan membawa buku menu.
Kami memesan makanan yang diinginkan. setelah semua sudah memesan, pelayan pun pergi dengan membawa catatan pesanan kami.
Tak perlu waktu lama pelayan pun datang dengan menu makanan yang kami pesan. Kami dengan lahap memakan makanan yang tersedia di atas meja.
(Sumber: Pinterest)
__ADS_1
"Keyla suka?" tanya Kak Dita.
"Suka Kak," jawabku singkat sembari menelan makanan yang sudah berada dalam mulutku.
"Kalau kurang suka pesan aja lagi Key," sahut Kak Andre.
"Suka kok Kak, makasih ya," ucapku.
Kami semua melahap makanan hingga habis. Setelah selesai makan, kami melanjutkan kembali perjalanannya.
Sampailah di bioskop, kami mulai berjalan masuk masuk ke dalam bioskop. Kami menunggu kak Andre yang sedang membeli tiket untuk kami semua.
Setelah itu, kami mulai duduk di kursi dan menonton filmnya. Aku duduk bersebelahan dengan Dinar dan Ibunya. Tepatnya aku berada di tengah-tengah mereka.
Saat asik melihat film yang di putar, tiba-tiba hidungku mencium bau amis. Bau amis ini seperti bau darah. Semakin lama semakin tajam.
Aku yang merasa aneh dan sedikit takut, segera mengajak Dinar mengobrol.
"Din, kamu nyium sesuatu tidak?" tanyaku dengan nada berbisik.
"Aku tidak mencium apa-apa, jangan macam-macam kamu Key," kata Dinar.
Aku tak merespon ucapan Dinar. Bau amis ini semakin lama semakin menyengat. Aku rasa semakin tidak beres dengan ini semua.
"Din, semakin kuat baunya," ucapku lagi
"Kamu ini Key, jangan mulai aku takut di sini," ucap Dinar.
Aku memberanikan diri melihat di sekelilingku. Tiba-tiba ketika melihat di bangku bagian belakang, aku dibuat terkejut sesuatu.
(Sumber: Google)
Aku melihat cewek duduk di kursi belakang dengan wajah pucat di sana. terlihat samar-samar, sepertinya dia sedang menangis.
Dinar pun segera menoleh kebelakang. Dia tak mendapati seorang pun di kursi paling belakang itu.
"Key, kamu tidak mendengar kisah cewek cantik yang di temukan meninggal di bioskop ini?" tanya Dinar.
"Tidak pernah tahu aku," jawabku.
"Oke aku ceritain yang aku dengar ya," kata Dinar.
Aku pun mengangguk mengiyakan.
Dinar pun mulai bercerita.
***
Pov Dinar
Sekitar dua bulan yang lalu di row paling belakang itu di temukan cewek cantik meninggal di sana.
Katanya yang aku dengar cewek itu kehabisan napas. Tapi belom diketahui pasti penyebab cewek itu meninggal.
Apa ada yang sengaja menghabisi nyawanya dengan membungkam dia sampai meninggal atau dia meninggal karena sakit.
Kisah itu masih menjadi misteri hingga saat ini, sepertinya pihak yang berwajib juga tidak melanjutkan penyelidikan tentang permasalahan itu.
***
Pov Keyla
Dinar menceritakan sekilas yang dia dengar tentang itu. Tiba-tiba aku mendengar orang meminta pertolongan.
__ADS_1
"Tolong... tolong," suara yang aku dengar.
"Din, kamu dengar orang yang meminta pertolongan tidak?" tanyaku lagi.
Dinar hanya menggeleng.
Telingaku terdengar bisikan minta tolong kembali.
"Tolong aku," ucap bisikan itu.
Aku tak menghiraukannya, aku tetap mencoba menikmati film yang disuguhkan.
Suara minta tolong tetap terdengar sepanjang film di putar.
Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba tubuhku merasakan hal aneh. Mataku terpejam, aku melihat suatu kejadian.
___________
Aku melihat seorang cewek bersama dengan kekasihnya bercanda, tertawa-tawa ketika memasuki bioskop ini. Tak terlihat satu kesedihan pun di wajah mereka.
Mereka terlihat bahagia, bercanda tanpa menghiraukan orang di sekelilingnya. Seperti dunia serasa milik mereka berdua.
Setelah itu, aku melihat mereka mulai duduk di kursi row bagian belakang. Mereka duduk bersebelahan sembari terus menggenggam tangan satu sama lain.
Yang awalnya mereka menikmati cerita itu, tiba-tiba si cewek ini mulai mengajak kekasihnya mengobrol.
"yang, ada yang perlu aku omongin sama kamu, penting!" ucap cewek itu dengan wajah yang serius.
"Iya sayang ngomong saja," jawab kekasihnya.
"Aku mau tanya dulu, kamu sayang kan sama aku?" tanya cewek itu lagi.
"Iya, memangnya kenapa kamu tanya seperti itu?" cowok itu balik bertanya.
"Kapan kamu nikahin aku?" cewek bertanya.
"Nanti pasti aku nikahin, tapi enggak untuk sekarang. Aku belum siap," jawab cowoknya.
"Tetapi aku hamil yang, mau enggak mau kamu harus nikahin aku saat ini," ucap cewek itu.
Cowoknya tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Kamu gugurin anak itu, aku belum siap," kata cowok itu.
"Aku enggak bisa bunuh anak ini, aku enggak mau tahu pokoknya kamu harus nikahin aku dalam waktu dekat ini, aku nggak mau terima aib ini sendirian," cewek itu tetap kekeh memaksa cowok itu.
Tetapi ucapan penolakan demi penolakan yang ia terima. Mereka berantem walaupun dengan nada yang pelan-pelan. Sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Hingga aku melihat cewek itu tiba-tiba sesak napas, mungkin dia mempunyai penyakit asma.
Dengan kejamnya cowok ini mengambil obat yang biasanya untuk meredakan sesak itu dari dalam tasnya si cewek itu. Cewek itu terlihat memohon walaupun tanpa mengeluarkan suara.
Terlihat semakin susah cewek itu untuk bernapas, tiba-tiba cowoknya berbisik dalam telinganya, "Lebih baik kamu mati saat ini, jika kamu tidak mau menuruti apa yang aku mau."
Lama kelamaan cewek itu pun terpejam matanya. Dia sudah meninggal karena kehabisan napas.
___________
Setelah itu aku membuka mataku. Tetapi yang aku lihat bukan di dalam bioskop lagi. Ruangan ini terlihat tidak asing bagiku.
"Keyla, kamu sadar Nak?" ucap Ibunya Dinar.
"Ini di mana Tante?" tanyaku.
"Kamu tadi tiba-tiba pingsan, jadi kami semua panik dan langsung membawamu ke sini," jawab Ibunya Dinar.
"Keyla, kamu kecapekan ya sebaiknya kamu istirahat saja, Ibumu sudah perjalanan ke sini kok," ucap Kak Dita.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk. Entah kenapa tubuh ini terasa capek sekali, badan terasa sakit semua. Aku tetap berbaring menunggu sampai ibuku datang ke sini.