
Bangunan yang besar, menjulang dan terlihat kokoh yang tampak dipenglihatanku. Bangunan yang tak asing bagiku berada tepat di samping rumah sakit ini.
Aku tercengang, hingga tak kusadari mulutku menganga dibuatnya. Saat ayah melepas pelukannya pun tak ku hiraukan, hanya karena bangunan itu.
"Kenapa, Dek?" tanya ayah, sembari menoleh kearah pandanganku.
"Rumah itu ...," ucapku menggantung.
"Kenapa dengan rumah itu, Dek?" sahut ibu.
"Rumah itu, ada di mimpiku," ucapku sembari menatap ke arah ibu.
Beliau hanya tersenyum, lalu mengelus kepalaku.
"Istirahat di kamar ya, Dek. Besok jalan-jalan lagi." Ibu menoleh ke arah ayah, "Ayo, yah."
Ayah tanpa menjawab, bergegas mendorong kursi rodaku. Mungkin mereka tahu apa maksudku, sehingga mencoba mengalihkan perhatianku. Ketika ayah mendorong kursi roda, ibu yang berjalan mengikuti kami tak henti untuk bersholawat, walaupun secara lirih.
"Yah." Panggilku.
Aku menoleh ke arah ayah.
"Iya, Dek," jawab ayah.
"Rumah itu, Yah. Beneran ada mimpiku," ucapku mencoba mempertegas.
Ayah mengelus kepalaku sembari berkata, "Nggak untuk saat ini ya, Dek. pikirkan kesehatanmu dulu."
Aku pun terdiam saat ayah berbicara seperti itu, ayah mungkin sangat tahu apa yang aku inginkan. Saat ini, kami pun sampai di depan ruangan tempat aku di rawat. Pintu segera di buka oleh ibu, di sana terlihat Esther sedang berdiri menghadap jendela.
"Keyla." Panggil Esther.
"Iya," jawabku.
Ayah dan ibu yang tak paham ketika aku berbicara dengan Esther, sontak memberhentikan kursi rodanya.
"Apa, Dek?" tanya ibu.
"Itu Esteh," jawabku.
Mereka mendengar jawabanku, kembali mendorong kursinya. Ketika berada di samping kasur yang biasa aku tempati, mula-mula ibu mengambil bantal yang ada di pangkuanku, saat ini juga memegang aku dengan erat agar aku tak tergelincir. Lalu, ayah kembali menggendongku untuk memindahkanku di atas kasur.
"Yah, boleh cerita soal rumah itu nggak sih?" tanyaku.
__ADS_1
Aku ingin sekali bercerita ke mereka, sebab terasa mengganjal di dalam hati.
Ayah meletakkan aku di atas kasur, lalu samping kanan dan kiri di dampingi bantal dan guling. Kata ayah sih agar aku tak jatuh, tapi entahlah. Berasa seperti bayi yang baru lahir, ketika diperlakukan seperti ini.
"Mau cerita apa? Tapi nggak boleh bantu-bantu apapun, hanya boleh cerita saja," ujar ayah.
Saat itu juga, aku menoleh ke arah Esther. Dia menatapku dengan mata sendu dan mungkin ada air mata di sana. Tapi saat ini, aku hanya ingin bercerita ke ayah, tak ingin menghiraukan Esther yang mungkin lagi bersedih.
"Dek, mau cerita apa? Ada apa dengan rumah itu?" tanya ibu.
Aku mengambil napas yang dalam sebelum bercerita.
"Rumah itu ada misteri di dalamnya, Bu. Istri pertama pemiliknya meninggal karena di bunuh dan pelakunya itu, istri kedua bahkan sahabat dari wanita itu sendiri," ceritaku.
Ayah mengelus kepalaku.
"Jangan dipaksa bercerita, jika kamu nggak mampu," ucap ayah.
Aku menoleh ke arah ayah, lalu mengangguk dan tersenyum.
"Sudahlah, Dek. Itu kasus ranah hukum, kita nggak perlu ikut campur," ucap ibu.
Aku sontak cemberut ketika ibu berbicara seperti itu. Mungkin kasusnya belum terpecahkan, sehingga makhluk itu membawaku ke alamnya.
"Tapi, Bu ... sepertinya kasusnya belum terungkap, sehingga hantu itu membawaku melihat sekilas hidupnya saat sebelum dibunuh," ceritaku lagi.
"Pembunuhannya, wanita itu digantung seolah-olah bunuh diri dan pelakunya meninggalkan surat untuk memperkuat wanita itu mati karena bunuh diri. Surat itu dibuat saat korban sedang meregang nyawa," tegasku.
"Astagfirullah, tega banget, ya. Padahal sesama wanita," ucap ibu terlihat geram dari ekspresi wajahnya.
"Hilang akal itu, Bu. Terlihat pemilik rumah itu orang kaya, mungkin si pembunuh menyingkirkan istri pertamanya agar mendapat hartanya," sahut ayah.
"Ih, kejam banget sih," ucap ibu.
Esther pun juga mendengarkan ceritaku, bahkan dia juga terlihat geram saat aku menjelaskan.
"Wanita gantung itu ya, Key? Dia tadi juga bercerita denganku, makanya aku bersedih," ujar Esther.
Aku pun kembali terperangah saat Esther berucap seperti itu, antara kaget dan heran sebab ada juga curhat-mencurhat di dunia perhantuan ini.
"Bu, kata Esteh si korban itu juga bercerita dengannya," aku mencoba memberitahu ibu.
"Apa kata, Esteh?" tanya ibu.
__ADS_1
"Esteh, ayo cerita!" suruhku.
Esther pun bercerita, jika hantu gantung yang sebelumnya menampakan diri juga menemui Esther. Dia bercerita, bahwa kasusnya mungkin tak akan pernah terungkap, sebab kejadian itu sudah setengah tahun yang lalu dan pelaku masih bersenang-senang dengan keluarganya.
Hantu itu juga bercerita, kalau dia sangat mengkhawatirkan anak kesayangannya. Sebab sudah berulang kali, wanita pelaku itu mencoba membunuh anaknya dengan berbagai cara, namun berhasil menghindar si anak ini.
"Astagfirullah, si Kevin?" tanyaku saat mendengar Esther berbicara soal anak korban pembunuhan itu.
"Kenapa, Dek? Apa kata Esteh?" tanya ayah.
"Oh iya, lupa kalau Ayah dan Ibu tak bisa mendengar Esteh," ucapku sembari tersenyum.
Setelah itu, aku menjelaskan apa saja yang diucapkan si Esther dan aku juga menjelaskan nama-nama yang ada di sana. Mulai dari si Kevin anak pemilik rumah, si Nadin korban dan si Candra pelaku pembunuhan. Aku juga kembali menceritakan tentang mimpi yang aku alami.
Aku bercerita sekilas tentang hidup korban saat sebelum pembunuhan itu dilakukan. Ayah dan ibu tercengang saat mendengar ceritaku, kalau wanita bisa sekejam itu.
"Lagi-lagi soal harta," sahut ibu.
"Benar, Bu," ucap ayah.
Aku kembali melanjutkan cerita, bahkan si korban juga difitnah gila sebelum kejadian itu. Bahkan saat ini anak korban pembunuhan juga akan dibunuh, berarti itu si Kevin.
"Yah, ayo bantu Kevin. Kasian dia," ucapku merengek ke ayah.
"Dek, ingat kondisimu. Mungkin saat ini jiwamu juga lemah, ayah takut kamu kenapa-napa," ayah melarangku.
"Iya, Dek. Mungkin sebentar lagi juga terungkap kasusnya, kamu pikirin kondisimu aja, itu hal tidak penting buat kamu," sahut ibu.
Aku pun cemberut kala mendengar kedua orang tuaku melarangnya. Apa mau di kata, aku tak bisa apapun tanpa bantuan mereka. Saat ini juga jika aku memohon pun tak akan dituruti, sebab melihat keadaanku seperti ini.
"Keyla, jangan cemberut. Benar orang tuamu, lagian kata hantu gantung itu keluarga mereka sudah pindah setelah kejadian itu," ucap Esther.
Aku mengangguk, tanda mengiyakan ucapan Esther.
"Kenapa, Dek?" tanya ayah.
"Seandainya ayah dan ibu mengizinkan pun kita tak bisa membantu dengan aku seperti ini yah. Sebab mereka sudah tak tinggal di rumah itu," ujarku.
"Kok Dedek tahu?" tanya ayah lagi.
"Iya, Yah. Kata Esteh, mereka sudah pindah setelah kejadian pembunuhan itu," ujarku.
Aku terdiam, terasa sedih menusuk hatiku.
__ADS_1
"Kasian Kevin, Yah," ujarku lagi.
Bersambung ...