Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Ternyata


__ADS_3

Aku kembali memejamkan mataku. Tak berselang lama setelah aku tertidur, terdengar suara adzan berkumandang.


"Alhamdulillah, masih bisa mendengar adzan subuh lagi. Perasaan baru aja merem, kok cepet banget," ujarku.


Aku kembali melihat tempat orang tuaku tidur, tak ku temui mereka berdua di sana. Namun terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi.


"Bu." Panggilku.


Namun tak ada jawaban. Aku memutuskan untuk duduk, lalu memanggil ibu lagi.


"Ibu." Panggilku lagi.


Lagi-lagi tak ada jawaban, mungkin mereka lagi sibuk di ruangan lain. Tiba-tiba saat aku mencoba menggerakkan kakiku, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek!


"Ayah. Apa itu, Ayah?" tanyaku sembari melongok ke arah kamar mandi, pandanganku mencoba menjangkaunya.


Tak ada jawaban sama sekali, walaupun gemercik air tak lagi ku dengar. Terlihat seperti ada yang mengintip dari kamar mandi itu. Rambut terlihat terurai, namun tak terlihat wajahnya.


"Bu." Panggilku lagi.



Aku tetap melihat ke arah orang yang ada di kamar mandi. Sosok itu melihatkan wajahnya, dengan mata yang terlihat hitam saja.


Aku pun terperangah melihatnya, sosok itu seakan-akan ingin keluar dari tempatnya. Perlahan tapi pasti makhluk itu menampakan dirinya secara keseluruhan.


"Ibu, Ayah." Panggilku dengan berteriak sekencang-kencang.


Hantu itu semakin terbelalak matanya. Pintu kamar pun dengan cepat di buka oleh salah satu orang dari orang yang ada di sini.


Mereka semua berlari ke arahku, ibu memeluk mencoba menenangkanku.


"Ada apa, Nak?" tanya Nenek sembari mengelus kepalaku.


Aku hanga menunjuk ke arah kamar mandi, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Apa, Key?" tanya Jeje.


"Ada orang di sana, dari kamar mandi," ujarku memberitahu.


Semua orang yang berada di sini menatap ke arah kamar mandi, namun tak di temui siapapun di sana.

__ADS_1


"Nggak ada orang loh, Dek. Ya sudah yuk Ibu bantu kalau mau salat," ujar ibu.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Ayah membantu memindahkan aku ke kursi roda, sedangkan ibu menyiapkan baju dan mukena yang akan ku kenakan nanti.


Ayah menunggu di kasur, sedangkan ibu mendorongku ke kamar mandi. Aku merasa ragu untuk melanjutkan ke kamar mandi ini.


"Bu, mandi di kamar mandi luar aja, ya. Aku takut," ujarku.


Ibu pun menghentikan kursi rodanya sebelum benar-benar mendekati pintu kamar mandi.


"Dia dari dalam tadi, Bu. Lalu hendak menghampiriku, tetapi keburu aku teriak dan kalian kemari jadi hantu itu pergi," jelasku.


Ibu mengenduskan napasnya dengan cepat.


"Tapi kalau kamu semakin takut, mereka itu akan semakin bangga. Dan di saat itu juga mereka mencoba terus menggodamu," nasehat ibu, sembari kembali mendorong kursi roda ke kamar mandi.


Aku yang lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa jika tanpa bantuan orang lain, hanya mampu menuruti saja kemauan ibu. Walaupun sebenarnya di dalam hati ingin menolaknya.


Ibu membantuku untuk mandi, di dalam kamar mandi disiapkan kursi yang lain untuk mempermudahkan aku. Aku pun bergegas untuk mandi, udara dingin pagi hari bersama dinginnya air serasa menembus hingga ke tulang.


Tak perlu waktu lama, aku pun selesai. Ibu membantuku untuk pindah ke kursi roda walaupun dengan susah payah. Lalu beliau membantuku untuk berpakaian, waktu seperti ini membuat aku berasa seperti bayi kembali.


Setelah itu, ibu kembali mendorongku masuk ke dalam kamar. Terlihat ayah sedang membaca koran, mungkin saat aku mandi keluar untuk mengambilnya.


Ayah tersenyum ke arah kami, lalu membantuku untuk mengenakan mukena. Kami salat secara bersamaan, walaupun aku salat dengan posisi duduk. Namun tak mengurangi khusuknya kami, saat berserah diri sama yang maha pencipta.


____________


Salat pun selesai, setelah itu ayah dan ibu mengajakku untuk keluar kamar.


"Ayo keluar, Dek." Ajak ayah.


Aku menatap ke arahnya sembari berkata, "Kita jalan-jalan di luar, yuk."


"Ayo, Dek. Ibu sembari belanja," sahut ibu.


Ayah mendorong kursi rodaku, sedangkan ibu hanya melangkah beriringan dengan ayah. Setelah berada di luar kamar, ibu menggantikan posisi ayah, sedangkan ayah tak tahu mau ngapain.


"Sebentar ya, Dek. Ibu pamitan dulu ke Nenek." Ibu melangkah ke arah dapur.


Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menjalankan kursi roda, dengan aku menggerakkan rodanya menggunakan tanganku. Aku menuju dapur, dari kejauhan terlihat semua berkumpul di dapur termasuk ibu dan ayah.


Terdengar ucapan mereka walaupun dari jauh. Aku berhenti dan mencoba mendengarkan. Lamat-lamat aku mendengar ucapan mereka, tetapi yang menjadi fokus pembicaraan adalah aku.

__ADS_1


"Al, seperti usulan Ibu semalam. Sebaiknya kamu cari pak ustadz atau kyai itu," ujar nenek.


"Iya, Al. Kasihan Keyla kalau begini, fokus penyembuhannya dulu," sahut Tante Santi.


Aku bingung dengan ucapan mereka dalam batinku bertanya-tanya. Kenapa harus ada kyai, memangnya aku kenapa?


Terlihat Jeje hanya diam dan mendengarkan ucapan mereka.


"Kenapa Jeje boleh ikut, kenapa aku nggak boleh kalau pembicaraan orang tua?" celetukku lirih.


"Tapi, Bu. Bukannya saya nggak setuju, tetapi saya takut kalau Keyla merasa dalam hidupnya berbeda lagi. Sebab saat ini dia sudah mulai menerima keadaanya menjadi seorang indigo," celetuk ayah.


Dengan ucapan ayah aku semakin bingung Apa hubungannya penyakitku dengan aku yang indigo?


"Kan nanti bisa dibuka kembali saat dia menginginkannya atau saat di sudah benar-benar sembuh seperti sedia kala," ujar nenek.


"Dibuka?" tanyaku pada diri sendiri.


Aku ingin mendengarkan dulu apa yang sebenarnya mereka ucapkan, sehingga aku hanya diam di tempatku saat ini.


"Tapi tak semudah itu, Bu. Aku yakin dia bertahun-tahun dengan kemampuannya, jika kemampuan itu hilang dia akan merasa kehilangan sebagian dari hidupnya," ujar ayah.


"Kok bisa, Yah?" tanya ibu.


Ayah terdiam, lalu menunduk.


"Sebenarnya dulu aku pun seperti itu. Keyla itu turunan dari aku, namun kemampuan Keyla lebih hebat, dia tak gampang kerasukan. Sedangkan aku, dengan mudah kerasukan sehingga Almarhum ayah dulu menutup itu dan entah apa lagi yang beliau lakukan sehingga aku sama sekali tak peka akan hak itu," cerita ayah.


Aku tercengang saat mendengar pengakuan ayah.


"Apa Om nggak pernah kerasukan lagi saat ditutup? Lalu apa yang Om rasakan saat sebelumnya bisa melihat hantu, lalu menjadi nggak bisa?" tanya Jeje yang terlihat penasaran.


"Nggak pernah lagi, bahkan nggak bisa merasakan lagi. Om merasa ada sesuatu yang hilang dan seakan-akan Om mencari apa yang dulu ada dalam tubuh. Butuh waktu yang lebih lama untuk adaptasi itu," jelas ayah.


"Ya Allah, sampai lupa Keyla aku tinggal sendiri. Saya belanja dulu, Bu. Mau ajak jalan-jalan Keyla," ujar ibu berpamitan ke nenek.


Ibu pun berbalik arah, saat itu juga beliau melihat aku yang ada di sini.


"Keyla." Kata ibu.


Saat itu juga semua menoleh ke arahku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2