
Jeje hanya terlihat nyengir kala itu.
"Maaf, Ma. Habisnya serius banget," ujar Jeje dengan tawa yang terbahak-bahak sembari berlalu hendak keluar rumah.
"Mau ke mana, Je?" tanya Tante Santi.
Jeje pun menoleh sembari tersenyum.
"Mau beli sesuatu ke toko sebelah, Ma. Mau nitip nggak?" ucap Jeje.
"Enggak usah," jawab Tante Santi dengan suara lantang.
Jeje pun kembali melanjutkan jalannya, sedangkan kami masih membahas yang tadi lagi. Tiba-tiba terdengar ponsel ayah berdering.
"Yah, sepertinya ponselmu yang berdering," ujar ibu.
Ayah pun berdiri sembari celingukkan mencari sumber suara, lalu berkata, "Ponsel Ayah di mana ya, Bu."
"Di tas Ibu kalau nggak salah," jawab ibu sembari mengambil tas yang di letakkan di lantai yang tak jauh dari sofa.
"Ya Allah, tas aja naruhnya sembarangan," tegur nenek.
Ibu pun mengambilkan ponselnya ke ayah, lalu diberikan ke beliau.
"Siapa, Yah?" tanyaku.
"Nomor tak dikenal, Bu," jawab ayah.
Kemudian ayah menjawab teleponnya, setelah itu terlihat ekspresi ayah yang terbelalak seperti orang yang sedang terkejut. Sontak membuat kita semua yang ada di sini menjadi bingung.
"Kenapa, Yah?" tanyaku penasaran.
"Baik, Pak. Makasih atas informasinya," ujar ayah menjawab orang di seberang telepon sana.
Kami pun menunggu jawaban dari ayah atas pertanyaanku. Beliau setelah menjawab telepon terlihat begitu sedih dan menarik napas lebih dalam.
"Kenapa, Yah?" tanya ibu.
"Kevin, Bu ...," ucap ayah menggantung.
__ADS_1
"Kevin kenapa, Yah?" tanyaku tampak panik.
Ayah tak lantas menjawabnya, malah ayah terlihat menunduk dan raut wajah yang sedih.
"Kevin meninggal dunia. Ayah baru dapat kabar dari pihak kepolisan," jawab ayah.
Sontak kami yang berada di sini terperanjat kaget kala mendengar ucapan ayah.
"Innalillahi waina ilaihi Raji'un," ucap kami semua secara bersamaan.
Sontak aku kembali mengingat kata-kata Kevin yang memang menurutku sangat aneh. Kevin yang begitu terlihat membenci mama tirinya, tiba-tiba berubah baik banget.
Kata-kata Kevin itu kalau kuingat berucapakan, "Allah selalu menyayangiku, taubatlah aku akan memafkanmu." (Baca proses penangkapan)
Dalam hatiku berkata, 'Memang Allah sangat menyayangimu, Kak. Allah memberi kesempatanmu untuk menguak misteri kematian mama kamu. Dan kamu pasti saat ini tak akan merasakan kesakitan lagi, aku yakin hidupmu akan bahagia di sana, amin."
Aku tak kuat membendung air mataku, sebab semua ini bermula dari aku. Saat itu juga ayah dan ibu mengajakku untuk kembali ke rumah sakit untuk menemani jenazah Kevin untuk pulang. Namun saat itu juga ibu malah menolaknya dengan alasan pasti Kevin sudah di bawa pulang dan papanya mungkin tak bisa menerima kami.
"Bu, jangan pesimis. Kita langsung ke rumahnya saja, Ayah yakin kita datang baik-baik pasti di sambut dengan baik," ujar ayah.
Kami pun segera kembali ke rumah Kevin. Walaupun rasa letih begitu terasa, aku tak ingin melewati momen terakhirku bersama Kevin.
Aku hanya sanggup memeluk ibuku yang duduk tepat di sampingku. Rasa bersalah selalu menghantuiku saat ini, karena egoisanku membuat banyak orang kehilangan nyawanya.
"Dek, ayo kita berangkat," ajak ibu.
Lalu ayah dengan cepat memindahkan aku ke kursi roda, lalu naik mobil dan segera berangkat menuju rumah Kevin lagi. Ayah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang, sehingga mempercepat kami untuk sampai ke rumah Kevin.
"Bu, ini salahku. Aku egois ingin menguak misteri ini, sehingga menjadi malapetaka seperti ini," ujarku.
Ibu mendekap tubuhku kepelukannya.
"Dek, ambil sisi baiknya. Kevin pergi dengan hati tenang, sebab semua perkata dan misteri sudah terpecahkan," jawab ibu.
Mencoba memikirkan apa yang diucap ibu, tetapi tetap tak bisa. Pikiranku amburadul, cemas dan mencoba melupakan kesalahanku namun tetap tidak bisa.
Tak berselang lama, kami sampai di depan rumah Kevin. Dan benar saja, di sana sudah ada beberapa pihak kepolisian di sana tetapi mobil jenazah belum sampai di kediamannya.
Perasaan gelisah, takut papa Kevin kembali mengusir kami. Bersamaan dengan itu, mobil jenazah yang membawa Kevin pun sudah datang. Entah kenapa saat melihat tubuh Kevin yang sembujung di atas brankar dan tertutup kain putih membuat aku semakin terluka. Aku tanpa sadar menangis sejadih-jadinya.
__ADS_1
"Kak Kevin," ujarku.
Setelah itu, papanya Kevin kembali menatap kita dengan sinis. Kemudian beliau datang menghampiri kami dan marah-marah.
"Kalian semua penyebab kematian Kevin. Kenapa kalian dengan tega menyumpah Kevin untuk segera meninggal!" hardik papanya Kevin.
"Pak, bisa kami jelaskan. Bukan itu maksud ..," ujar ayah terpotong dengan papanya Kevin.
"Diam! Kalian si pahit lidah. Pergi!" cecar papanya Kevin.
Aku menolak ajakan ayah dan ibu untuk pergi dari sana. Aku masih nggak rela dengan kematian Kevin, aku sangat merasa begitu bersalah kala melihat jenazahnya.
"Dek, ayo pergi. Nanti kalau kita masih di sini nambah kekacauan," ujar ibu.
Aku hanya menangis sesegukan, ayah segera kembali mendorong kursi rodaku menuju mobil. Dada terasa semakin sesak, penglihatanku menjadi malapetaka untuk orang lain.
"Aku pembawa sial," ujarku.
"Dek, jangan bilang seperti itu," kata ayah.
Ayah memindahkan aku ke mobil, lalu kembali melajukannya untuk kembali pulang.
"Yang penting, kita udah ada niatan untuk ke sini. Masalah ini nggak akan pernah selesai jika kamu tak mendapat penglihatan itu," ujar ibu.
"Seharusnya aku nurut kata Ayah dan Ibu, aku nggak perlu bantu ini. Aku jahat ... jahat," hardikku ke diri sendiri.
Ibu memelukku dengan erat dan mengelus kepalaku. Aku mencoba untuk kembali memejamkan mata, berharap ketika bangun ini semua hanya mimpi burukku. Namun, saat mataku terpejam, aku melihat Kevin berdiri berdampingan dengan mamanya. Mereka terlihat tersenyum ke arahku, lalu mengucapkan terima kasih. Aku kembali membuka mata dan menatap ke arah ibu.
"Tidurlah jika ingin tidur," kata ibu.
"Aku baru saja melihat Kevin dengan mamanya, Bu. Mereka tersenyum dan berterima kasih kepadaku, aku melihat mereka bersinar wajahnya," ucapku.
"Iya, Dek. Selalu doakan yang terbaik untuk mereka dan jangan pernah menyalahkan kematian Kevin disebabkan oleh kamu," ujar ibu.
"Iya, Dek. Siapa yang bisa mengelak dengan datangnya kematian, walaupun kita tak pernah datang kalau semua sudah digariskan seperti ini kita semua tak bisa mengelaknya," sahut ayah.
Aku hanya menganggukkan kepala, mencoba memahami semuanya dan menghibur diriku sendiri. Aku masih nggak percaya, baru kali ini membantu dengan penglihatanku menjadi sesuatu yang mengerikan. Awalnya aku kira semua akan berakhir indah dan tawa bersama mereka seperti kasus-kasus sebelumnya. Namun, semuanya salah, orang yang aku bantu dan beberapa orang di sekitarnya terluka karena ini saja.
Bersambung ....
__ADS_1