Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Wulan (2)


__ADS_3

Tante Rasni muncul dari balik pintu kamarnya. Namun yang membuat aku terkejut, wajah beliau nampak seperti kelelahan dan tak mengenakan pakaian yang sudah aku siapkan. Beliau mengenakan dress mini yang menerawang dalam suasana udara yang dingin kala malam hari.


Padahal tadi aku sengaja menyiapkan baju tidur, celana panjang dan atasan lengan panjang juga. Aku yang merasa dingin saat berada di luar kamar, namun ternyata tak melihat itu di rasakan oleh Tante Rasni. Beliau malah terlihat berkeringat dan rambut acak-acakan.


"Tante, kenapa?" tanyaku tampak khawatir, karena melihat keringatnya yang bercucuran.


"Pengganggu!" hardiknya


Braakk!


Setelah mengucapkan itu, beliau kembali menutup pintu dengan keras. Aku terperanjat kaget karena tingkahnya. Setelah itu, aku memutuskan untuk kembali memasuki kamar, lalu segera berbaring lagi di atas kasur.


Saat ini dari kamar Tante Rasni terdengar hening, tak sama seperti sebelumnya. Saat itu juga aku memutuskan untuk tidur, sebab pagi-pagi buta aku harus melakukan aktivitas mulai dari menyapu dan mencuci pakaian beserta masak. Aku melakukan itu sebelum Tante Rasni bangun, aku takut lengah saat keadaan beliau sedikit mengkhawatirkan seperti ini.


Aku memejamkan mataku, tak butuh waktu lama aku pun terlelap. Tak tahu sudah berapa lama aku tertidur tiba-tiba terdengar suara yang membuat aku terbangun.


Braakk!


Lagi-lagi aku terdengar suara benturan keras. Aku membuka mataku, lalu bergegas berlari menuju kamar Tante Rasni. Aku mencoba membuka pintunya, namun terkunci dari dalam.


"Tante, buka pintunya," ucapku panik sembari mengetuk pintunya.


Tak ada jawaban, namun setelah itu pun terbuka pintunya. Terlihat Tante Rasni masih berwajah terlihat kucel karena baru bangun tidur.


"Malam-malam ganggu aja, pergi tidur!" Tante Rasni membentakku.


Kemudian beliau kembali masuk ke dalam kamar dan lagi-lagi menutup pintunya dengan keras. Aku sedikit lega, karena melihat Tante Rasni masih dalam kondisi baik. Tetapi yang membuat aku bingung, suara benturan apa yang terdengar keras di telingaku.


Aku menuju dapur, aku melihat ke meja makan. Takutnya ada kucing yang membuat kegaduhan itu. Lagi-lagi aku tak melihat apa pun di sana.


Aku menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di dapur, jam baru menunjukan pukul 02.35 WIB.

__ADS_1


"Kok aneh, ya. Nggak ada apa-apa kok terdengar seperti benturan keras. Masih jam segini juga, aku tidur sebentar deh." Aku melangkah menuju kamar, aku takut kalau tidak segera tidur nanti bakal kesiangan.


Baru saja aku memegang handle pintu kamarku, terlihat siluet hitam besar dari arah belakang rumah, menuju ke dalam kamar Tante Rasni. Aku yang merasa ketakutan, bergegas untuk segera masuk ke dalam kamar.


Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut, mulai dari kepala hingga kaki. Aku paling takut dengan yang dinamakan setan. Hingga tak kusadari aku pun tertidur kembali. Tak berselang lama, terdengar suara iqomah adzan subuh.


"Ya Allah, kok sudah iqomah," ujarku bergegas bangun dari tempat tidur.


Aku bergegas mengambil wudhu, setelah itu segera melaksanakan kewajibanku. Setelah selesai salat, aku melakukan aktivitasku. Aku mulai dari belanja di dekat jalanan depan rumah Tante Rasni.


Sebelumnya aku mengecek keadaan Tante Rasni, aku mencoba membuka pintunya dan ternyata tak di kunci. Aku melihat beliau masih tidur, namun karena minimnya pakaian hingga tersingkap melihatkan pahanya.


Aku memutuskan untuk masuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Namun saat aku hendak pergi dan menutup pintunya, Tante Rasni bangun dan membuang selimutnya.


"Nggak tahu orang gerah apa? Pergi!" ujarnya.


"Maaf, Tante," ujarku.


"Wulan, gimana Tantemu? Masih nggak mau di ajak bicara?" tanya Bu Kokom saat melihat aku menghampiri mereka.


Aku pun tak lantas menjawabnya, aku hanya memilih sayuran yang hendak aku masak.


"Ya gitu lah, Bu. Kan masih syok, tidak sakit, tidak apa, tiba-tiba dapat kabar meninggal," jawabku.


"Iih, di periksakan, Dek Wulan. Takut jadi gila, kamu nggak takut?" ucap Bu Asti, kebetulan rumahnya bersebelahan dengan Tante Rasni.


Aku tetap memilih-milih sayuran, sembari mendengar pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan mereka yang berada di sini.


"Eh, Wulan. Kenapa nggak dipulangin ke orang tuanya, rumahnya kan bisa di jual?" tanya Bu Kokom lagi.


Mereka silih berganti bertanya, namun aku enggan menjawabnya. Aku hanya menjawab iya dan tidak untuk jawaban yang semestinya. Yang berlebihan aku tidak berani, takut menjadi bahan gosipan ibu-ibu yang berada di sini.

__ADS_1


Setelah serasa cukup bahan masakan yang aku gunakan nanti, aku memutuskan untuk segera membayar. Aku risih dengan pertanyaan-pertanyaan dari mereka, mereka seolah-olah tahu dengan keadaan tante Rasni yang sebenarnya.


"Mari, Bu. Saya duluan," ujarku berpamitan.


"Iya, Wulan Ingat ya, di periksakan takutnya terlambat nanti," ujar salah satu ibu-ibu yang tak terlalu mengenalnya aku.


Nada bicara ibu-ibu itu saat bicara seperti orang mengejek gitu, nyinyir sekali. Aku kembali melangkahkan kaki menuju rumah.


Saat aku hendak ke dapur, melihat kamar Tante Rasni terbuka lebar. Aku mencoba melihatnya, namun aku tak mendapati Tante Rasni di dalam. Perasaan panik tiba-tiba menyerangku, sampai-sampai belanjaan yang baru aku beli aku letakkan begitu saja di lantai.


"Tante ... Tante." Teriakku memanggil.


Aku mencari ke kamar mandi, siapa tahu dia sedang di sana, tetapi aku tak menemukannya. Aku putuskan untuk pergi ke dapur, namun aku malah melihat pintu yang mengarahkan ke belakang rumah malah terbuka lebar.


Aku di sini semakin panik, aku melihat situasi di belakang, gelap gulita pandanganku tak dapat menjangkau apapun yang ada di sana.


Aku kembali masuk ke dalam rumah, mencari senter untuk menjadi penerangan. Cukup sulit aku mencarinya, karena tidak tahu tata letak barang-barang di rumah ini. Sehingga aku memutuskan untuk mengambil ponsel untuk menjadi penerangan, setelah itu bergegas untuk menuju halaman belakang. Udara yang begitu dingin dan suasana yang gelap gulita membuat bulu kudukku berdiri.


"Tante ... Tante Rasni. Tante di mana?" ujarku.


Penerangam menggunakan tak cukup jauh untuk menjangkau di sekitar sini. Lamat-lamat dari kejauhan aku mendengar orang menyapu menggunakan sapu korek.


Namun suara itu berasal tak jauh dari pohon asem besar yang berada di rumah Tante Rasni.


"Tante, apa itu kamu?" tanyaku dengan ragu.


Aku berjalan semakin pelan, karena lagi-lagi ragu. Aku merasa takut, namun mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga Tanteku.


Dari kejauhan aku melihat seorang perempuan, mengenakan pakaian yang sama persis dengan Tante Rasni semalam.


"Tante." Panggilku lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2