
"Oh, ku kira kamu nggak tahu," ucapku.
"Kan aku dengar dari Papa dan Mama kalau rumahmu ...." ucapan Jeje terpotong saat Tante Santi datang dan langsung membekap mulutnya.
"Jeje sayang, tolong bantu Nenek ya," ujar Tante Santi.
Aku merasa ada yang disembunyikan olehnya, aku ingin bertanya namun merasa taku.
"Keyla, nggak usah dengerin ucapan Jeje ya, Nak. Kamu tahu sendirikan, kalau Jeje anaknya suka ceplas-ceplos," ujar Tante Santi.
Aku hanya mengangguk, tak ingin menjawabnya. Yang ada di pikiranku sekarang hanya bagaimana caranya bertemu dengan Kevin. Aku ingin menceritakan semua hal yang diberitahukan Mamanya saat kilas balik itu.
"Keyla, kok bengong, Nak?" tanya Tante Santi.
Namun aku tak menjawab ucapan Tante Santi, sebab terlalu serius memikirkan cara bertemu Kevin.
"Keyla." Panggil Tante Santi sembari memegang tanganku.
Aku terperanjat saat Tante Santi memegang tanganku sembari berkata, "Eh, iya Tante. Kenapa?"
"Kamu istirahat saja, ya. Tante antar ke kamar," ujar Tante Santi sembari beranjak dari tempat duduknya.
Tante Santi segera mendorong kursi rodaku menuju kamar. Di sepanjang tante mendorong, beliau selalu meningkatkan jika aku tak perlu percaya ke Jeje kalau dia ngomong perihal masalah keluargaku. Aku hanya mengiya-iyakan walaupun sebenarnya aku tak benar-benar mendengarkan ucapan tante.
Sesampainya di kamar, tante kebingungan ingin membantuku berdiri namun takut jika tak kuat menahan bebanku.
"Sebentar ya, Key. Tante panggil Ayahmu dulu," ujar tante meninggalkan aku di dalam kamar.
Aku hanya mengangguk, terkadang merasa sepi jika dalam keadaan seperti ini tak ada Esther yang menemani. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah memudar dan hilang tak tau rimbanya.
Tak begitu lama tante dan ayah datang menghampiri, namun hanya ayah yang menggendongku di atas kasur.
"Istirahat ya, Dek," ujar ayah sembari mengecup keningku.
Aku tersenyum, setelah itu ayah berlalu pergi meninggalkan aku dan Tante Santi di kamar. Tante Santi perlahan mengelus kepalaku, sesekali juga mengecup keningku.
"Cepat sembuh ya, Nak. Nanti kita jalan-jalan ke pantai yang waktu lalu ketunda," ujar tante.
"Iya, Tante," ujarku sembari menutup mata.
Aku tak ingin tidur, namun aku hanya ingin sendiri. Maka dari itu aku sengaja menutup mata agar Tante Santi mengira aku sudah tertidur.
Benar saja, cukup lama aku terpejam akhirnya tante pun pergi keluar meninggalkan aku. Pintu pun ditutup secara perlahan, saat itu juga aku mendengar suara Jeje berbicara.
"Ma, Keyla tidur?" tanya dia dengan suara khasnya.
__ADS_1
"Iya, biarin dia tidur. Ayo bantu Tante beres-beres," terdengar suara tante mengajak Jeje.
Aku kembali membuka mataku, lalu mencoba duduk. Aku sengaja menumpuk beberapa bantal untuk menumpu badanku ketika menyender.
Dalam benakku berpikir cara untuk bertemu Kevin. Namun terasa buntu saat kembali mengingat keadaanku dan jarak rumah Kevin cukup jauh dari rumah ini.
Aku hanya berdiam diri tanpa mendapatkan pikiran yang pasti akan masalah Kevin, tiba-tiba pintu kembali terbuka.
Ceklek!
"Keyla." Terdengar suara ibu memanggil.
"Iya, Bu," jawabku.
Beliau masuk kamar sembari membawa sepiring nasi dan sebotol air minum.
"Makan dulu ya, Dek. Ibu suapin, ya," ujar ibu.
"Iya, Bu," jawabku.
Ibu meletakkan makanan di sampingku, lalu beliau mengambil kursi di dekat meja rias. Setelah itu secara perlahan dan sabar ibu menyuapi aku.
"Bu, gimana? Udah hubungin Bi Asih?"
"Belum, kapan-kapan saja. Yang penting kamu sembuh dulu," jawab ibu.
Ibu hanya diam menatapku dengan tajam. Mata ibu terbelalak lebar, seakan-akan mengatakan tidak untukku.
"Ayah kemana?" tanyaku.
Aku memutuskan untuk mencari ayah, mungkin bicara dengan ayah pasti diperbolehkan.
"Ayah lagi menata barang-barang, Dek. Mau dipanggilkan?" tanya ibu.
"Iya, Bu. Aku disuapin Ayah saja," jawabku.
"Kok tumben?" tanya ibu yang merasa heran.
"Ehm ... Pengen saja, Bu," aku memberi alasan.
Ibu pun beranjak dari tempat duduknya, lalu melenggang keluar kamar. Tak berselang lama, ayah pun dan tang bersama ibu.
"Apa, Dek?" tanya ayah saat masuk kamar.
"Suapin aku, Yah. Biar ibu yang menata barang," jawabku.
__ADS_1
Ayah pun segera duduk dan mulai menyuapi makanan ke mulutku. Sedangkan ibu masih tetap berdiri melihat ayah menyuapiku. Sebenarnya aku ingin ibu pergi keluar kamar, agar aku tak ada kendala saat berbicara ke ayah soal Kevin.
"Ibu di sini sajalah," ujar ibu.
"Ibu nata barang sajalah nanti nggak selesai-selesai loh," bujukku.
"Iya-iya ... Oh iya, Yah. Kalau nanti Keyla ngomong ngajak ke Kevin jangan dituruti, ingat ya yah," ujar ibu sembari melangkah keluar kamar.
"Iya, Bu," jawab ayah.
Ayah kembali menyuapi aku, beliau juga cukup telaten. Aku ingin bicara jadi ragu dengar jawaban ke ibu tadi. Sehingga aku hanya diam tak mengajak ayah bicara walaupun hanya sepatah kata.
"Kok diem? Mau bilang apa? Bicara saja." Ayah menyuruhku.
"Sebenarnya ngomong soal Kevin seperti ucapan Ibu. Eh, Ayah sudah mengiyakan ucapan Ibu," ucapku sembari cemberut.
Ayah lagi-lagi hanya tersenyum sembari mengelus kepalaku.
"Benarkan, Ayah cuma senyum. Sudahlah," gerutuku.
"Ingat Dek. Kamu kan masih ...," ujar ayah belum selesai sengaja aku potong.
"Masih sakit, masih belum bisa apa-apa. Iya aku tahu, aku nggak bisa apa-apa nggak bisa nolong orang," ujarku dengan sedikit menaikan nada bicaraku.
Aku sengaja memalingkan wajahku ke ayah, aku tahu pasti ucapanku saat ini tak ada yang mereka turuti. Lagi-lagi karena keterbatasan fisikku yang membuat aku susah.
Tanpa aku sadari aku meneteskan air mata, sebelum ayah menyadari aku segera mengelap tetesan air mata yang membasahi pipiku.
"Dek, kok gitu? Bukan seperti itu maksud ayah," ujar ayah dengan lembut.
"Sama saja. Intinya aku nggak bisa berbuat apa-apa dengan kondisiku saat ini. Kenapa harus aku sih yang kaya gini, kenapa?" aku benar-benar menumpahkan semua kesal yang ada di dalam hati.
Aku membentak ayah, aku meneteskan air mataku. Pintu kembali terbuka, terlihat semua keluargaku yang ada di rumah ini masuk ke kamar.
"Kenapa, Yah?" tanya ibu menghampiri.
Jeje memelukku, sedangan tante dan nenek hanya berdiri diam menatapku. Jeje mengelap air mata yang menetes di pipiku.
Aku melihat ayah terdiam, terlihat sorot mata yang berbinar. Seakan-akan beliau menahan sesuatu yang enggan diungkapkan, mungkin ayah kecewa karena nada bicaraku yang tidak sopan.
Tapi aku juga capek dengan keadaan seperti ini. Semua yang ada di dalam hidupku terasa terbatas. Aku tak bisa melakukan apa-apa dengan caraku sendiri. Bahkan aku keluar untuk menuruni kasur ini aja perlu bantuan orang.
"Maafkan aku, Yah," ujarku.
Ayah hanya terdiam dan menatapku.
__ADS_1
Bersambung ....