
Sebelum pulang ke rumah, Ayah mengantarkan Pak Andi terlebih dahulu. Tak berselang lama akhirnya kita sampai di rumah Pak Andi
"Terima kasih ya,Pak. Sudah mau membantu kami, mohon maaf jika merepotkan." ujar
"Sama-sama,Pak. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan, mari mampir dulu Pak,Bu?" ajak Pak Andi.
"Terima kasih, Pak. Sepertinya Keyla kelelahan, kita langsung pulang dulu ya, Pak," kata ayah lagi.
Setelah itu, ayah kembali melajukan mobilnya kembali menuju rumah. Sesampainya, di halaman rumah, aku bergegas turun dan masuk ke dalam rumah.
"Dedek, mandi dulu ya baru istirahat biar badannya segar! perintah ibu.
"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu," jawabku.
Lalu, aku bergegas mandi dan menunaikan ibadah sholat. Setelah itu, saat hendak membaringkan badanku untuk beristriahat, tiba-tiba perutku terasa lapar. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar untuk makan. Sesampainya di dapur, aku mendapati ayah dan ibu berada di kursi tempat makan.
"Ihh, kenapaAyah dan Ibu makan enggak ajak-ajak?"kataku sambil cemberut.
"Ayo, sini makan. Kamu terlihat capek,Dek. Makanya, Ibu sengaja tidak memanggil kamu," jawab Ibu.
"Ibu, perut ini spertinya sudah terkoneksi dengan mata, deh. Perut berbunyi, eh mataku tidak mau merem juga, hahaha," kataku dengan becanda.
"Bisa aja kamu, Dek. Ayo makan, biar kamu nsnti cepat istirahat," sahut ayah.
"Siap, Pak Bos," jawabku.
Kami segera melahap makanan yang terhidang di depan kami. Tak perlu lama, kami selesai, saat itu juga ayah dan ibu mrngajakku berbicafa.
"Dedek, mulai senin depan kan sudah libur. Bagaimana kalau Ibu dan Dedek, Ayah antarkan ke rumah Nenek Rahma (orang tua dari Ibuku)?" tanya Ayah.
"Ke rumah Nenek Rahma, Yah? Hore, kita bisa ke pantai dong ini," kataku bahagia.
"Iya, Yah. Boleh juga ke Rumah Ibu, biar Dedek juga enggak kepikiran kejadian-kejadian sebelumnya," Ibu menyetujui.
"Ke pantai kan,Bu. Nanti kalau ke rumah Nenek?" tanya ku.
Ibu dan ayah menganggukan kepala secara bersamaan
"Istirahat dulu, Dek. Besok pagi setelah subuh, kita berangkat ke sana." Ayah menyuruhku istirahat.
"Siap, Yah!" jawabku dengan penuh semangat.
Aku menuju kamarku untuk beristirahat, lalu segera memejamkan mataku, lama-kelamaan aku terbawa dalam mimpi indah.
****
Mungkin sudah cukupnlama aku tertidur, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu kamarku.
Tok tok tok...
"Dek, ayo bangun sudah sore," panggil Ibu dari balik pintu.
"Iya,Bu. Sudah bangun ini aku," jawabku, dengan memaksa mataku untuk terbuka.
Aku masih berbaring di tempat tidur, tiba-tiba di otakku terbesit perihal masalah Diana dan aku berpikir lebih baik menceritak ke Dinar dengan segera. Kemudian, aku segera beranjak dan keluar kamar untuk mencari ayah dan ibuku dan ternyata mereka berada di rumah menonton televisi.
"Ayah, Ibu, aku mau ke rumah Dinar, ya?" tanyaku.
"Buat apa, Dek? Ini sudah sore loh!" jawab ibu sembari bertanya.
"Mau cerita-cerita ke Dinar lah, Bu. Kan besok sudah mau ke rumah Nenek," jawabku.
"Iya, nanti biar di antar Ibu. Kamu jangan sendirian," jawab ayah mengizinkan.
Aku tersenyum dan kembali membalikan badan menuju kamar untuk mrngganti pakainku. Dengan cepat aku melakukannya, sehingga saat selesai segera menghampiri ibuku kembali.
"Ayo, Bu. Kita berangkat terburu sore nanti," Ajakku.
"Enggak nunggu magrib sekalian, Dek?" tanya Ibu.
"Nanti sholat di mushola deket rumah Dinar, aja, Bu. Ayo berangkat sekarang saja," ajakku lagi.
Ibu pun berjalan menuju garasi, menghampiri motornya yang sedang terparkir.
"Ayo, Dek!" Ajak Ibu.
"Yah, Dedek sama Ibu ke rumah Dinar dulu, ya." Aku berpamitan ke Ayah.
"Aku ngantar gadismu dulu, Yah. Biar enggak bawel!" Ibu juga berpamitan ke ayah sembari mengejekku.
"Iya, hati-hati bawa motornya,Bu," kata Ayah.
Aku dan Ibu pun berangkat ke rumah Dinar yang jaraknya dekat dengan rumahku. Tak perlu menempuh waktu lama, kita pun sampai.
"Assalamualaikum, Dinar," ucapku.
"Waalaikumsalam. Eh Keyla sama Ibu, mari masuk!" ajak Dinar.
__ADS_1
Kami pun masuk rumah Dinar, di sini Ibu dan Kakak Dinar ikut menyambut.
"Eh Keyla sama Ibunya, mari duduk, Bu," Ibu Dinar mempersilahkan duduk.
"Sebentar, aku buatin minum Tante," kata kakak Dinar.
"Tidak usah repot-repot, kami cuma sebentar kok," jawab ibu.
Kakak Dinar tetap pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Sedangkan ibunya Dinar, menemani kami di ruang tamu. Kami pun ngobrol masing-masing, ibunya Dinar dengan ibuku,. Sedangkan aku, bergegas menceritakan perihal Diana ke Dinar.
"Kamu tadi jadi ke rumah Bu Salma, Key?" tanya Dinar.
"Jadi dong, aku makanya ke sini mau cerita soal itu," jawabku.
"Ternyata Diana datang di mimpiku, bukan untuk menunjukan kertas itu kepada orang tuanya Din, tetapi Diana mau meminta tolong!" kataku lagi.
"Minta tolong? Minta tolong buat apa? Kan dia juga baru tau kamu," tanya Dinar.
"Waktu Diana kecelakaan dan jenazahnya di bawa ke rumah sakit, ada yang sengaja tetesin darah Diana dengan perasan jeruk nipis, loh," ceritaku.
"Terus buat apa memangnya? Kok di kasih perasan jeruk nipis?" Tanya Dinar lagi.
"Kata orang-orang sih, untuk membuktikan itu mitos atau fakta kalau orang kecelakaan darahnya di tetesin perasan jeruk nipis yang katanya saat malam akan mendengar orang merintih kesakitan di tenpatnkejadian itu," jawabku.
"Kok tega banget, sih? Arwah orang yang sudah meninggal aja, masih di buat mainan," kata Dinar terdengar agak kesal.
"Mungkin selama ini, arwah Diana itu mendatangi Pak Hendro mau minta tolong, tetapi sayangnya Pak Hendro tidak paham akan itu. Makanya, Diana tahu kalau aku bisa melihat dia, mungkin dengan cara itu dia bisa mendapat pertolongan," kataku lagi.
"Terus sudah tahu siapa yang buat arwah Diana kesakitan?" Dinar bertanya lagi.
"Sudah, dia anak yang rumahnya dekat dengan tempat kejadian perkara. Aku kemarin ke sana dan bertepan anak itu berada di depan rumah dan Diana menunjuk ke dia. Aku memberitahu ke yang lain, sehingga dia dipanggil ke arah kami.Diana menunjukkan wajah seram loh ke anak itu," ceritaku.
"Biar tahu rasa itu anak, pasti dia ketakutan," kata Dinar.
Aku pun tetap bercerita semua hal ke Dinar, termasuk keberangkatan ku besok ke rumah Nenekku.
Kumandang adzan sudah terdengar, kami berdua memutuskan untuk berpamitan pulang. Yang awalnya kita mau bertamu agak lama tidak jadi karena aku juga butuh istirahat untuk besok pergi ke rumah nenek.
"Saya dan Ibu pulang dulu ya, Tante. Maaf merepotkan." Aku bersalaman dan berpamitan.
Ibu melakukan hal yang sama. Kemudian kami segera pulang. Saat melewati rumah Mbak Sekar, dari kejadian yang menimpanya mmebuatku takut kala melewatinya.
"Bu, bisa agak cepat enggak? Dedek, takut," ucapku.
Yang membuatku semakin takut, karena hari yang sudah senja. Saat sampai di depan pintu pagar rumah, Aku segera turun untuk membukakan pintu, namun saat menutupnya malah mataku tertuju ke arah rumah Mbak Sekar.
"Kamu kenapa, Dek? Kok lari-lari," tanya ayah.
"Enggak ada apa-apa sih, Yah. Takut lihat rumah Mbak Sekar hehehe," jawabku meberi alasan.
"Rumahnya Mbak Sekar tadi pagi sudah di adain pengajian, Dek. insyaallah sudah tidak ada apa-apa," jawab Ibu yang tiba-tiba di belakangku.
"Ibu ngagetin Dedek aja, sih," kataku menggerutu.
"Sudah sholat sana, minta perlindungan sama Allah SWT jangan takut kecuali sama yang Maha Segalanya, Dedek." Ayah menyuruhku sembari menasehati.
Aku berlalu pergi ke kamar untuk melaksanakan kewajibanku.
Selesai salat aku menyiapkan barang bawaan untuk besok ke rumah nenek. Aku sengaja tidak bawa baju banyak karena cuma beberapa hari di sana, kemungkinan masih banyak bajuku yang tertinggal di sana. Selesainya menyiapkan baju, aku segera tidur.
****
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh, aku segera bangun. Aku bersemangat untuk pergi ke rumah Nenek, karena kesibukan Ayah jadi kita semua jarang untuk pergi ke sana untuk sekadar berkunjung.
Selesai mandi dan salat aku bawa tasku keluar kamar.
"Bu, ini bawaanku sudah siap," kataku sambil memberikan tasku ke Ibu.
"Kamu ke meja makan dulu. Ayo sarapan dulu, biar tasnya Ibu taruh ke dalam mobil," perintah ibu sembari meraih tas di tanganku, lalu berjalan menuju mobil
"Ayah dimana, Bu?" tanyaku.
"Ayah, sudah ada di sana nunggu kamu makan," jawab ibu, yang sudah berjalan jauh dari tempatku berdiri, kemudian aku segera berjalan menuju meja makan.
"Ayah, nanti langsung kerja apa nginep dulu di rumah Nenek?" Aku bertanya sembari duduk.
"Ayah nanti cuma nganterin kamu sama Ibu saja, Dek. Kemaren Ayahkan sudah ambil cuti buat kamu," jawab Ayah.
Aku pun menganggukkan kepada dan saat bersamaan ibu datang menghampiri kami. Saat itu juga kami segera melahap makanan yang sudah dihidangkan ibu.
****
Selesainya makan, ibu membereskan tempat makan lalu mengecek semua peralatan dapurnya mulai kompor dan semua yang menggunakan listrik. Sengaja mematikannya, sebab rumah dibiarkan kosong untuk beberapa hari ke depan. Sedangkan aku dan ayah, berjalan terlebih dahulu menuju mobil.
Saat terlihat ibu sudah berjalan menghampiri kami, perasaan bahagia begitu terasa di dalam hatiku. Saat itu juga, ayah melajukan mobilnya menuju ke tempat nenek.
***
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kulewati dengan perasaan bahagia. Namun, saat melewati salah satu persimpangan jalan terlihat orang bergerombol di sana.
"Ada apa ya, Yah. Kok ramai banget?" tanya ibu.
Ayah tetap melajukan mobilnya melewati kerumunan orang itu, sebab beberapa orang juga melakukan hal yang sama.
"Kecelakaan, Bu. Mungkin ngantuk sopirnya ini kan masih pagi," jawab ayah.
"Mungkin ya, Yah. Kalau terasa capek dan ngantuk, kenapa nggak berhenti untuk istirahat dulu, sih? Kalau sudah begini siapa yang rugi, dia sendirikan? Untung jalanan masih sepi, jadi nggak ada korban lain," gerutu ibh.
"Sepertinya nggak ngantuk deh, Yah. Ada mereka yang jail di sana, mungkin mereka tidak tahu kalau di sini rawan jadi enggak permisi dulu," sahutku.
"Mereka siapa, Dek? Dari dunia lain maksud kamu?" tanya ayah.
"Iya, siapa lagi, Yah? Banyak tuh mereka di sepanjang jalan, mungkin mereka dulunya korban kecelakaan juga di sini," jawabku asal ceplos.
Aku tahu kalau tempat ini rawan ya dari Ayah karena kalau kita mau ke rumah Nenek pasti melewati jalan ini.
Biasanya kalau lewat masuk jalanan sini, orang-orang memberi klakson dulu. Entah itu mitos atau fakta, kita ikut aja yang penting tidak terjadi apa-apa.
-----
Lumayan berjalan yang kami tempuh menuju rumah nenek, akhirnya kita sampai juga. Aku melihat nenek dan tanteku sudah berdiri di depan rumah, mungkin untuk mrnyambut kami.
Ibuku dua bersaudara, beliau anak yang kedua. Tanteku bernama Santi puspita, sedangkan ibuku bernama Alifia Saputri dan Ayahku bernama Dimas Handoko.
Tanteku memiliki dua anak, yang pertama sekarang sudah kelas tiga SMA, yang kedua seumuran dengan aku.
"Hai, Keyla." Jesika menyapaku.
Jesika itu anak kedua dari tanteku, kakaknya sekolah ikut ayahnya di kota. Kakaknya sebulan sekali baru bisa pulang untuk berkunjung.
"Hai Jesika, Tante, Nenek." Aku menyapa semua orang yang berada di sini.
Ayah langsung berpamitan untuk pergi bekerja, sedangkan aku dan ibu segera turun dan masuk ke dalam rumah nenek.
"Istirahat dulu, Nak. Kalau sudah lapar, ayo makan dulu. Tadi Santi sudah masak spesial, katanya buat kalian," kata nenek.
"Nanti saja, Nek. Aku sudah makan tadi di rumah, mau mainan sama Jesika," kataku.
Jesika mengajakku duduk di depan televisi, kami di sini berbincang-bincang bertukar cerita soal ke seharian kita di rumah maupun di sekolah.
"Oiya, Key. Kata Mamaku, kamu bisa melihat hantu ya?" tanya Jesika.
"Iya, Je," jawabku.
Aku sering memanggil Jesika dengan sebutan Jeje dari kecil.
"Serem enggak sih, Key. Hantu itu?" tanya Jesika lagi.
"Tergantung hantunya dong, kalau lagi mood-nya baik ya enggak serem, kalau lagi bad mood ya serem, hahaha," jawabku dengan becanda.
"Kebiasaan kamu, kalau di tanya pasti enggak serius," kata Jesika sambil cemberut.
"Lagian ada-ada saja yang kamu tanyain. Enggak perlu, lagian ngerti buat apa coba?" jawabku.
"Eh Key, ada loh temanku yang seperti kamu bisa lihat hantu, tetapi ya gitu gampang banget kesurupan. Kamu gitu juga nggak?" cerita Jesika sambil bertanya.
"Enggak, sih. Tetapi ya pernah juga, habisnya hantunya tidak permisi dulu kalau masuk badan orang, sebel aku," kataku.
Jesika pun tetap bercerita semua hal sampai kita tidak menyadari hari sudah mulai siang.
"Anak-anak makan dulu, asik ngobrol sampai lupa sama itu perut." Tante Santi memanggil.
Kami berdua berjalan menuju ruang makan, sembari masih dengan becanda-canda, karena sudah cukup lama kita tidak bertemu.
"Seneng kalau lihat kalian berdua kumpul pasti, saling becanda. Keyla sekolah di sini ya, sama Nenek nanti kalau masuk SMA?" Nenek bertanya.
"Nanti yang nemenin Ibu di rumah siapa, Nek? Keyla sekolah di sana aja deh, Nek. Nanti sering-sering ngajak Ibu sama Ayah berkunjung ke sini," jawabku
Nenek melemparkan senyuman kepadaku. Aku menatap ke arah ibu dan tante yang terlihat seperti anak kembar, sebab mereka umurnya tak terpaut jauh. Aku yang tidak punya saudara sekandung tidak tahu bagaimana rasa nya kalau lagi kangen sama saudaranya.
****
Tak berselang lama, makan pun selesai. Aku dan Jeje beranjak dari tempat duduk menuju kamar untuk tidur siang.
"Tidur sini, Key. Kalau nggak ngantuk, nggak usah tidur. Kita cerita lagi, yuk," kata Jeje.
"Tidak mau, nanti kalau ada Mamamu dan Ibuku kita di marahin, ih ngeri hehehe," jawabku.
"Oh iya-ya. Kalau kamu melihat mereka marah sama lihat hantu ngeri mana?" tanya Jeje lagi.
"Ngeri kalau di marahin para Ibu-ibu lah. Kalau kamu di marahin, sudah tidur pun pas waktu bangun di lanjut tuh marahnya dengan kecepatan 90 Km/jam hahaha." Aku becanda bersama Jeje sebelum kami berdua pun tertidur.
Hatiku merasa senang berada di sini, bisa menghilangkan rasa ketakutan dan kejadian yang aku alami di rumah. Bukan berarti aku berada di rumah Nenek di sini tidak ada kejadian apapun.
di mana pun tempatnya pasti ada mereka di sekitar kita.
__ADS_1