Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Stevia


__ADS_3

"Ayo dong, Pia," aku tetep kekeh menyuruh Stevia bercerita.


Entah kenapa aku terlalu penasaran ke anak ini, dia terlalu hebat untuk memiliki kemampuan yang aku juga memilikinya.


Dia berbanding terbalik dengan aku, walaupun sama-sama memiliki kemampuan yang sama, entah apa yang bisa membuat kami berbeda cara menyikapinya.


"Jadi, aku cerita ini. Malu lah, takut nggak percaya," ucapnya terlihat ragu.


"Loh, kok berpikir begitu? Kan Keyla juga sama dengan kamu, Nak," ucap ibu.


Stevia tersenyum sembari menutup mulutnya.


"Aku cerita, ya. Jadi gini ...." ucap dia lalu bercerita.


*******


~Cerita Stevia~


POV Stevia


Aku sedari kecil memang sudah memiliki kemampuan ini, kalau di tanya, apa kamu nggak takut? Apa kamu pernah dilukai mereka? Kok bisa kamu seberani ini?


Tentu semuanya aku jawab, iya aku sebenarnya juga takut dengan mereka, aku bahkan berkali-kali mencoba dilukai dan satu lagi semua butuh proses hingga aku bisa sampai saat ini.


Kalau dikata memang usiaku masih dini. Namun semua sudah terbiasa bagiku, bahkan aku saat ini ada di masa jenuh kerap kali melihat dan menanggapi mereka.


_________


Malam itu, aku masih kecil kira-kira usia lima tahun dan kebetulan aku memiliki kebiasaan buruk, yaitu selalu terbangun saat tengah malam. Aku yang biasa hanya mengenakan celana dalam saja ketika tidur, aku terbangun.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat kedua orang tuaku tidur menemaniku. Namun, diluar kamar terdengar seperti orang sedang berbicara. Dan saat itu aku yang masih kecil hanya menganggap itu mungkin suara dari kakak atau pun asisten rumah tanggaku.


Aku pun saat itu belum paham akan waktu. Aku beranjak dari tempat tidurku, menuju ke arah sumber suara itu. Yang aku tahu saat itu hanya bermain, jadi jika merasa ada teman aku pun segera bergegas menghampiri.


Perlahan tapi pasti, aku berjalan menuju lantai dasar sebab aku tidur di lantai atas rumahku. Suara itu terdengar lantang di telingaku, namun tak dapat menangkap satu pun pembicaraanya.


Aku berjalan, anak tangga satu persatu aku turuni. Namun saat sampai pertengahan tangga, aku melihat lantai dasar gelap. Seperti biasa, asisten rumah tanggaku suka mematikan lampu di lantai nawah. Jika ada yang menyala itu hanya satu dua, itu pun menggunakan lampu kecil.


"Mak, Mak Ety." Panggilku.


Mak Ety itu adalah asisten rumah tanggaku, beliau dulunya yang mengasuh aku waktu kecil. Namum sejak aku sudah mulai tumbuh besar, beliau hanya menjadi asisten rumah tangga yang membantu membersihkan rumah ini.


Dia seorang janda dan tak mempunyai anak, sehingga beliau tak pernah pulang kampung. Dan beliau juga sudah tak memiliki orang tua, soalnya mereka sudah meninggal semua.

__ADS_1


Aku kembali berjalan menuruni anak tangga, aku mencoba mencari saklar lampu agar ruangan ini tak terlihat gelap.


"Mak Ety, Kak Zaky," panggilku.


Namun tak ada yang menyahut satu pun, mereka hanya sibuk ngomong sendiri. Aku pun ragu untuk turun, akan sebab itu aku memutuskan untuk duduk di anak tangga yang saat itu aku pijak.


"Mak Ety?" panggilku lagi.


Tiba-tiba suara yang sedari tadi menjadi pusat perhatian. Saat ini tak ku dengar lagi, suasana menjadi hening. Saat itu aku hanya duduk diam di anak tangga, sesekali memainkan jariku di pegangan tangga.


Aku bernyanyi lagu anak-anak yang biasa dinyanyikan guru di sekolahanku. Tiba-tiba saat aku sedang asik, terdengar suara langkah kaki yang terseret.


Awalnya aku tak menghiraukannya, sebab aku kira orang tuaku. Namun, setelah itu aku merasa dia tepat di belakangku dan saat itu juga aku merasa ada yang aneh dengan udara yang tiba-tiba terasa lain.



Aku pun menoleh dan tepat di belakangku berdiri sosok wanita yang tinggi. Entah aku malah dengan santai melihatnya.


"Bunda, nanti jatuh jangan ditutup wajahnya," ucapku dengan polos.


Terkadang aku merasa lucu jika mengingatnya, hantu itu mungkin kecewa saat melihat ekspresiku yang biasa aja ketika melihatnya.


Aku mendengar dia mengeram, mungkin dia mencoba menakutiku. Tetapi entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku tetap menganggap itu bundaku.


Aku menghampirinya, lalu memegang tangannya yang dingin. Jemarinya terasa lebih panjang dan kasar.


"Bunda, kedinginan ya. Tangannya dingin banget, nanti peluk Pia, ya," ucapku.


Hantu itu hanya mengikuti ajakanku. Sesampainya di kamar, aku melihat kedua orang tuaku masih terbaring di sana, lalu aku melihat ke arah hantu itu.


Aku lepaskan peganganku, kemudian berjalan mundur karena aku sudah tahu kalau dia bukan bundaku. Perlahan dia membuka penutup mukanya, begitu terkejut saat melihat wajahnya yang menyeramkan.



Mulut yang lebar, mata yang hitam, rambut terurai panjang.


"Kamu siapa? Kamu bukan Bunda!" ucapku dengan suara bergemetar.


Dia hanya tertawa melengking membuat telingaku sakit.


"Bunda!" teriakku.


Aku melihat ke arah kedua orang tuaku, mereka terperanjat kaget kala mendengar teriakanku. Ayah dan bunda bergegas menghampiri saat melihat ada makhluk jahat di depanku.

__ADS_1


"Bunda, tolong!" ucapku.


Bunda segera memelukku, sedangkan ayah menghalangi makhluk itu yang mencoba mendekat. Entah apa yang mereka lakukan aku tidak tahu.


Lagi-lagi makhluk itu menggeram.


"Aku hanya ingin bermain," ucap makhluk itu.


Ayah menatap ke arahku, lalu kembali melihat ke arah makhluk itu.


"Jangan banyak alasan!" gertak ayah, lalu beliau mulutnya komat kamit entah apa lagi yang di ucapkan.


Bersamaan dengan ucapan ayah, aku melihat makhluk itu menggeliat seperti menahan sakit.


"Panas! Aku tak akan menyakitinya, aku hanya ingin berteman. Hentikan bacaanmu!" ucap makhluk itu dengan nada tinggi.


"Nggak! Pergi!" sahut ibu.


"Jika aku menyakiti, sudah dari luar aku memakannya! Saat dia menggenggam tanganku, aku merasa kekuatan dia besar, aku tidak bisa melawannya!" tegas makhluk itu.


Makhluk itu sembari menggeram.


"Berhenti! Jangan sampai aku menyakitimu!" gertak makhluk itu ke ayah.


Saat itu aku malah merasa kasian ke dia, aku sengaja melepas pelukan bunda lalu menghampiri ayah.


"Ayah, sudah," ucapku.


"Bun, tolong Pia bawa keluar dulu," suruh ayah.


"Aku di sini, dia nggak menyakiti aku," ujarku.


Ibu menarik ke gendongannya, lalu membawaku pergi keluar kamar. Aku meronta-ronta, mungkin rasanya aneh namun aku percaya hantu itu tidak akan menyakitiku.


Ibu menuruni anak tangga dengan lari kecil, sembari menggendongku yang meronta-ronta.


"Mak Ety! Zaky!" teriak bunda memeanggil asisten rumah tangga dan kakaku.


"Bunda, Pia ikut Ayah," ucapku sembari tanganku meninju bahu bunda.


Ibu tetap menggendongku menuju kamar Kak Zaky yang berada di lantai dasar. Aku melihat Kak Zaky berlari menghampiri dan Mak Ety melakukan hal yang sama.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2