
Kami pun segera menyelesaikan makan, agar cepat bisa melakukan pencarian ke rumah Om Hendra dan istri Om Boby.
Setelah kami selesai, kami bersiap-siap untuk segera berangkat. Istri Om Deni pun ingin ikut pencarian yang kami lakukan.
"Aku ikut, ya," ucap istri Om Deni.
Ternyata istri Om Deni bernama Erika, biasa di panggil Eri. Beliau pun ingin ikut kami, tetapi Om Deni tak mengizinkan karena melihat keadaannya saat ini.
"Tidak usah, lebih baik kamu istirahat saja," ucap Om Deni.
"Aku tidak mau, aku takut orang itu tetap datang ke sini," ujar Tante Eri.
"Iya, Den. Takut nanti si Boby datang lagi, bahkan istrimu bisa-bisa di celakai saat itu juga," sahut Ibu.
Om Deni pun mengangguk sembari mengelus kepala istrinya. Senyuman sumringah terlihat di wajah Tante Eri.
Kami pun segera berangkat mengendarai mobil Pak Budi, kami berinisiatif untuk kembali ke sekitar rumah Boby tadi. Kami ingin mengulik informasi dari tetangganya. Tetapi kali ini, kita lewat jalan utamanya.
Kami menuju rumah yang di anggap terdekat dengan rumah Om Bobby.
Tok-tok-tok!!
Ayah mengetuk pintu rumah tetangga Om Boby.
Pintu tak perlu menunggu lama pun terbuka. Nampak seorang gadis kecil mungkin dia seumuran dengan ku di balik pintu itu
"Iya, mau cari siapa ya?" tanya gadis itu.
"Mamanya ada, Dek?" tanya Ibu.
"Mama? Bentar ya, aku panggil dulu," jawab gadis itu.
Dia pun kembali masuk lebih jauh ke dalam rumahnya, sedangkan kami tetap menunggu di teras rumah itu.
Saat ini terlihat gadis itu berjalan beriringan dengan seorang wanita yang lebih dewasa. Mereka berjalan menghampiri kami.
"Iya, mari masuk dulu," ucap wanita itu tampak bingung, melihat kami yang datang dengan ramai.
"Silakan, duduk!" ucap wanita itu lagi.
Kami hening sejenak ketika wanita pemilik rumah ini tak melemparkan satu perkataan.
"Kami boleh bertanya sedikit hal kepada ibu?" ucap Ibu mengawali pembicaraan.
"Iya, silakan," ucapnya.
Beliau nampak melihat kami satu persatu, dari wajahnya terlihat dia nampak bingung.
"Apa Ibu mengenal Boby?" tanya Ayah.
__ADS_1
"Iya, dia rumahnya di sebelah. Tetapi dia sudah meninggal, ada apa ya?" tanya wanita itu.
"Tidak apa-apa, kami teman sekantornya. Sepertinya rumahnya kosong, istrinya apa sudah tidak tinggal di situ lagi?" tanya Ayah.
"Oh, sejak kematian anaknya, istri Boby kembali ke rumah orang tuanya, anaknya kan sudah meninggal sebelum kejadian Boby bunuh diri itu," terang wanita itu.
"Meninggal karena apa anaknya si Boby?" tanya Om Deni.
"Dengar-dengar sih kanker otak, dan mereka kabarnya juga sering berantem karena masalah pengobatannya itu," jelas wanita itu lagi.
Lagi-lagi aku melihat ayah dan Om Deni saling bertatapan. Seperti ada teka-teki yang mulai terjawab.
"Jadi ini sebabnya," ujar Ayah.
"Maksudnya, Yah?" tanya Ibu.
Ibu nampak bingung dengan ucapan sekilas yang di lontarkan ayah.
"Nanti kita bahas lain waktu. Lanjutkan lagi, Bu," ucap Ayah ke wanita itu.
"Nah, beberapa hari setelah anaknya meninggal, kabarnya lagi si Boby di pecat dari kantor. Tetapi kita juga tidak tahu sih karena apa," ucap wanita itu.
"Mereka malah intens berantemnya, entah punya pikiran dari mana itu si Boby melakukan bunuh diri," terang wanita itu.
"Kalau boleh tahu, alamat istrinya di mana ya?" tanya Om Deni.
Kami pun menanti, cukup lama wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Kami tampak bingung dan terkadang berbisik satu sama lain. Sepertinya anak wanita itu mengerti apa yang kami pikirkan.
"Mama, kok lama," teriak gadis itu.
"Bentar," teriak orang itu di dalam kamar.
Wanita itu pun keluar dari kamarnya lalu menghampiri kami. Wanita itu terlihat menenteng buku di tangannya.
"Maaf ya, lama. Soalnya nyari buku ini masih nyelip tadi," jelas wanita itu ketika berada di dekat kami.
"Oh, tidak apa-apa," ucap Ayah.
"Memangnya itu apa?" tanya Ibu.
Wanita itu pun membuka buku itu, tenyata yang di bawa itu album poto. Semakin bingung aku melihatnya.
"Maksudnya?" tanya Ayah.
"Ini kemarin, ketika Boby dan Istrinya bertengkar, Istrinya boby pergi dari rumah. Nah, bertepatan di depan rumah saya album poto ini terjatuh," ucap Wanita itu.
Lalu beliau memberikan album poto itu ke kami. Terlihat keluarga kecil yang bahagia di sampulnya, di dalam terdapat beberapa poto di dalamnya. Mulai dari poto bayi sampai anak poto gadis kecil mungkin sekarang usia anak kelas satu SD.
Selain itu, terlihat poto Boby, istri dan anaknya. Iya benar, poto bayi dan gadis kecil itu mungkin anaknya.
__ADS_1
"Terus maksudnya gimana?" tanya Ayah lagi.
"Di halaman paling belakang, itu tercatat nomor handphone dan alamat. Coba kalian hubungi terlebih dahulu nomor itu mungkin alamat orang tuanya," ucap wanita itu lagi.
Istri Om Deni pun mengeluarkan ponselnya, lalu di serahkan ke Om Deni. Om Deni mencoba menghubunginya, tetapi hasilnya nihil nomor itu sudah tak terpakai.
"Tidak bisa, kita ke alamat ini saja," ucap Om Deni.
Kami pun berpamitan Ke wanita pemilik rumah, sebelum itu kami pun mengucapkan terimakasih, karena sudah bersedia membantu kami.
"Terima kasih," ucap kami semua.
Kami pun keluar dari rumah itu menuju mobil. Satu persatu kami mulai masuk mobil, lalu Pak Budi kembali melajukan mobilnya kearah alamat yang tertera di buku ini.
Alamat ini cukup jauh dari lokasi kami, tapi tak kenal lelah kami terus mencari. Kami semua ingin hidup tenang, semoga Om Boby cepat tertangkap.
Butuh waktu lama, akhirnya kami pun sampai. Di halaman terlihat bapak-bapak tengah berdiri menyiram tanaman. Kami pun turun untuk sekedar bertanya.
"Siang, Pak," ucap Kami.
Beliau pun melihat ke arah kami. Beliau berjalan menghampiri, lalu membuka pintu gerbang.
"Cari siapa, ya?" tanya Orang itu.
Ayah pun menunjukan foto yang di bawanya ke bapak itu.
"Oh, mari masuk dulu. Itu yang cewek di poto sepertinya anak saya mengenalnya," ucapnya sembari berjalan menuju teras rumah.
"Silakan duduk, saya panggilkan anak saya dahulu," ucap bapak itu sembari pergi.
Kami lagi-lagi harus menunggu. Sebenarnya momen seperti ini yang membuatku malas. Tapi harus bagaimana lagi.
Bapak itu pun datang bersama dengan wanita yang cantik, mungkin seumuran dengan yang ada di poto. Wanita itu tersenyum kearah kami, lalu bersalam dengan kami satu persatu.
Wanita itu tampak memandangi kami satu persatu.
"Ada apa, ya? Kok ramai-ramai?" tanya wanita itu.
Ayah pun menunjukan album poto itu ke si wanita.
"Panggil saja saya, Clara," ucapnya.
"Baik, kira-kira Clara kenal dengan wanita di poto itu?" tanya Ibu.
"Iya, saya sangat mengenalnya. Dia Sita, dia wanita yang baik dan ini anak dan suaminya. Saya cukup mengenal mereka," ucap Wanita itu sembari menunjuk satu poto di dalamnya.
Bersambung....
Siapa si Clara? yuk ikutin terus kisahnya.
__ADS_1