Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Siapa Wanita itu?


__ADS_3

Aku pun menuruti kemauan mereka saja, dari pada nambah perkara. Jeje pun pengertian segera membereskan buku pelajarannya, nenek dan tante segera menata masakan untuk makan malam kami.


Ayah membantuku untuk berjalan lagi dengan menopang tubuhku seperti tadi siang. Nenek, tante dan Jeje yang belum melihatnya pun terkejut kala melihatku.


"Keyla, kamu bisa berjalan lagi?" tanya Jeje terlihat terkejut.


Aku pun melemparkan senyum ke arahnya. Jeje menatapku dari ujung kepala hingga kaki, dia tampak tak percaya melihat perkembanganku sepesat ini.


"Oh iya, Bu. Saya kan ada nadzar kalau Keyla pulih mau buat syukuran, nah ini sebaiknya dilakukan dekat-dekat ini atau kalau sudah pulih sepenuhnya?" tanya ibu.


Nenek terlihat berpikir akan pertanyaan yang dilontarkan ibu kepadanya.


"Ehm, sebaiknya kalau sudah banyak kemajuan aja, Al. Misal Keyla sudah bisa berdiri sendiri tanpa menopang gitu," usul nenek.


"Misalkan sekarang sih nggak apa-apa, tapi kayanya lebih afdol kalau sudah banyak perkembangan yang lain," sahut Tante Santi.


Ayah dan ibu mengiyakan usulan dari mereka berdua. Setelah itu kita makan bersama sembari menunggu adzan isya. Kami hanya terdiam saat makan, hingga makan pun telah usai. Setelah itu kami salat isya, lalu memutuskan untuk berkumpul di teras rumah nenek, dengan membawa sedikit camilan untuk menemani.


Hal yang sudah aku nantikan saat-saat seperti ini, namun mataku malah tertuju ke arah rumah yang berada di seberang jalan. Rumah itu berlantai dua, namun di atas terlihat sosok perempuan yang berdiri dibalik gorden kamar yang berada di lantai atas.


"Nek, siapa orang itu? Kok sepertinya melihat ke arah kita," tanyaku.


"Oh rumah keluarga Jonathan, memangnya ada apa, Key?" tanya Jeje.


"Wanita di sana seperti ngawasin kita yang lagi kumpul, ya," ujarku sembari menunjuk ke arah rumah itu.


"Wanita?" tanya Tante Santi.


Aku pun menganggukkan kepala, sebab aku melihat wanita berada di sana.


"Bu." Panggil Tante Santi ke Nenek.


Entah ada apa dengan mereka, malah nenek menganggukkan kepalanya. Nenek beranjak dari tempatnya duduk, lalu membawa camilan yang tadi kami bawa ke sini.


"Kita masuk, ya," ujar nenek.


Kami semua hanya menuruti kemauan nenek, walaupun hatiku bertanya-tanya seperti ada kejanggalan dengan rumah itu.


Kami pun masuk ke dalam dan memutuskan untuk berkumpul di depan televisi saja.


"Ada apa, Nek?" tanyaku.

__ADS_1


Nenek tak lantas menjawabnya, namun malah saling tatap kembali dengan Tante Santi.


"Key, rumah itu nggak ada wanitanya. Di rumah itu hanya tinggal bertiga, Pak Jonathan bersama kedua anak laki-lakinya," sahut Tante Santi.


"Mungkin asisten rumah tangganya," sahut ibu.


"Mbak Indah selalu pulang tiap sore kalau pekerjaannya selesai. Itu pun di kamar atas tak pernah ditingali sejak kejadian istri Pak Jonathan hilang hingga saat ini," ujar nenek.


Aku, ayah dan ibu sontak kaget dengan ucapan nenek. Soalnya sebelumnya kami pernah mendengar saat kita ke sini keluarga mereka sedang berkunjung ke kampung, namun saat kita kembali ke sini malah mendapat kabar wanita pemilik rumah hilang.


"Pas aku ke sini kan ada orang juga, Nek. Apa itu juga istri Pak Jonathan itu?" tanyaku penasaran.


Nenek mencoba mengingat jawaban beliau saat lampau, soal aku bertanya ada orang di balik jendela kamar yang sama. (kisahnya baca ulang part rumah nenek~2)


"Pas waktu Nenek bilang mereka pergi mengunjungi saudaranya yang sakit di kampung," aku mencoba mengingatkan.


"Oh iya, Nenek ingat. Memang setelah itu, saat mereka perjalanan pulang mengalami kecelakaan, namun saat di temukan oleh yang menolongnya hanya Pak Jonathan dan kedua putranya. Sang istrinya tak tahu rimbanya hingga saat ini," jelas nenek.


"Iya, bahkan dia hidup atau meninggal pun tak tahu. Kalau meninggal entah kenapa mayatnya tak pernah di temukan, tetapi kalau hidup kenapa nggak pernah ingin untuk pulang," sahut Tante Santi.


"Sudah deh, nggak boleh omongin orang," ujar nenek memperingati.


Malam telah larut, kami memutuskan untuk segera tidur karena kami tak ingin besok saat pergi check up tak kesiangan.


"Bu, tidur denganku, ya," pintaku.


Ibu tanpa menjawab bergegas naik ke kasurku. Beliau memelukku, sembari tangannya mengelus kepalaku. Aku pun memejamkan mata, hingga tak perlu waktu lama aku pun terlelap.


******


Keesokan harinya ....


Mataku masih terpejam, namun sudah tak merasakan pelukan dari ibu lagi. Tanganku meraba-raba ke samping di tempat ibu sebelumnya terbaring. Aku membuka mata, dan menoleh ke arah ibu.


"Aaaaa." nampak wanita tanpa bola mata tepat di depan mataku sembari berteriak.


Sontak guling yang berada di sampingku, kulemparkan ke arahnya dan mataku terpejam.


"Pergi! Pergi! Setan nggak ada akhlak," ucapku.


Wanita itu hanya tertawa yang begitu nyaring. Terasa ada tangan yang memegang bahuku. Aku pun berteriak saat itu juga.

__ADS_1


"Aaaaaa," teriakku.


"Dek ... ini Ayah, Nak." Ayah menggoyangkan bahuku.


Aku pun membuka mata secara perlahan, ternyata memang ayah yang memegang bahuku. Aku celingukkan mencari wanita tadi, namun sudah tak kutemui lagi.


"Kenapa, Dek?" tanya ayah.


"Tadi aku melihat wanita itu lagi," ujarku.


"Wanita yang mana? Yang di rumah Pak Jonathan?" tanya ayah.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Lalu?" tanya ayah.


"Wanita yang kulihat di toilet itu, Yah. Apa


Apa mungkin ada hubungannya dengan rumah Pak Jonathan? Jangan-jangan, dia hantu istrinya Pak Jonathan?" ucapku menduga-duga.


Ayah mengedikkan bahunya, tak berselang lama ibu pun datang menghampiri kami. Beliau membawa satu mangkok di nampan dan segelas susu.


"Loh, udah bangun. Sarapan, Yuk," ujar ibu.


Aku menatap jam ternyata sudah pukul 05.00. Kebetulan hari ini aku sedang libur tak melaksanakan kewajibanku terhadap Tuhan yang Maha Esa, jadi aku terlambat untuk bangun.


"Apa itu, Bu?" tanyaku.


"Bubur, Dek. Spesial buat kamu, lama nggak biat bubur ayam buat kamu," ujar ibu sembari tersenyum.


Aku pun bangun dari tempat tidur. Aku duduk dengan menyenderkan badanku di bantal yang aku tata tinggi. Lalu ibu memberikan nampan yang berisi susu dan semangkok bubur ke pangkuanku.


Aku segera melahapnya hingga habis tak tersisa. Setelah itu, ayah membantuku untuk berdiri lalu menaiki ke kursi roda. Ayah dengan janjinya kalau ingin mengajakku untuk jalan-jalan ketika selesai salat subuh tiba.


Ayah mendorong kursi rodaku keluar kamar. Aku melihat Tante Santi sudah berlalu lalang dengan aktivitasnya, Tante Santi berhenti saat melihat aku dan ayah.


"Keyla, sudah bangun? Mau ke mana?" tanya Tante Santi.


"Mau jalan-jalan, Tante," jawabku.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2