Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Wulan


__ADS_3

Mbak Wulan saat itu pun datang menghampiri kami, lalu membantu memotong sayuran.


"Lan, Ayah dan Ibumu ke mana?" tanya nenek.


"Lagi keluar beli daging untuk nanti, Bu. Kalau Nenek dan Kakek baru saja berangkat ke makam Om Anton," jawab Mbak Wulan.


Aku di sini malah melihat Bu Kokom dan ibu-ibu di sebelahnya lagi saling berbisik.


"Kok Tante Rasni nggak ikut?" sahutku.


Mbak Wulan pun sontak menoleh ke arah Mbak Rasni yang ada di belakang rumah.


"Biarkan saja, kasihan. Mungkin dia masih belum nerima kalau suaminya sudah meninggal," jawab Mbak Wulan.


"Dari kapan sih Mbak, itu Mbak Rasni seperti itu?" tanya Kak Anita.


Mbak Wulan pun bercerita perihal Mbak Rasni mulai seperti ini.


******


Wulan PoV


Hari ini keluarga kami berduka dengan meninggalnya Omku yang bernama Anton. Dia adalah adek satu-satunya dari ibuku. Kabar itu baru kami terima hari ini, walaupun meninggal Om Anton sudah kemaren siang.


Om Anton meninggal saat perjalanan menuju tempatnya bekerja, beliau mengendarai bus antar kota yang biasa beliau kendarai. Namun nasib naas diterima Om Anton, bus yang ia kendarai kecelakaan karena di sebabkan rem blong.


Dan lebih naasnya, bus itu mengalami kebakaran sehingga melahap habis yang ada di dalamnya. Tetapi masih tetap ada barang-barang yang tak ikut terbakar sepenuhnya, termasuk dompet Om Anton beserta identitasnya.

__ADS_1


Evakuasi hingga menemukan identitas itu memerlukan waktu yang lama, yang membuat mereka susah menghubungi dikarenakan tak ada media untuk menghubungi secara cepat, misalnya menggunakan ponsel


Ponsel Om Anton ikut terlahap habis bersama dengan jenazahnya. Pihak kepolisian pun memberikan kabar dengan datang ke rumah Tante Rasni. Saat mendapat kabar itu, berulang kali Tante Rasni tak sadarkan diri.


Beliau tersadar sebentar, lalu menangis lagi. Beliau menanyakan keberadaan suaminya, lalu menangis dengan histeris dan tak sadarkan diri lagi.


Semua itu terjadi berulang-ulang, saat menerima kabar kalau di desaku malamnya sudah dianggap malam ketiga Om Anton meninggal, kami melakukan pengajian di rumahnya.


Tante Rasni yang dulunya seorang wanita yang ramah, ceria, saat ini berubah drastis menjadi orang yang pendiam. Bahkan saat ditanya pun dia hanya berlalu pergi tanpa menjawabnya.


Orang tuaku beserta nenek khawatir dengan keadaan Tante Rasni, sehingga mereka menyuruhku untuk menemaninya di rumahnya. Agar Tante Rasni tak merasa sendiri. Tante Rasni yang biasanya rajin salat saat ink tak pernah sekali pun aku melihatnya untuk melaksanakan kewajiban, bahkan untuk mandi pun beliau selalu menjelang magrib tiba.


Hari pertama aku menemaninya merasa biasa saja. Saat pagi tiba, aku yang memasak dan membantu mencuci pakaiannya, termasuk pakaian dalamnya. Semua aku lakukan karena merasa kasian dan balas budi akan kebaikan mereka selama ini.


Tante Rasni selalu mengurung diri di kamar, saat makan pun aku rela mengantar makanannya aku beliau tak telat untuk makan. Aku yang biasanya ikut salat dan mengajar ngaji ke masjid, hari ini aku memutuskan untuk tidak melaksanakan. Aku takut kejadian yang tidak aku inginkan terjadi, misalnya Tante Rasni depresi hinga melakukan bunuh diri.


Hari berlalu hingga menjelang ashar, biasanya saat sebelum Om Anton meninggal beliau sudah pergi untuk mandi, lalu salat. Namun saat ini beliau hanya mengurung diri di kamar, aku mencoba mengajaknya bicara tetapi beliau malah pergi menghindar.


Hari semakin sore, aku melihat jam menunjukan pukul 17.00 WIB. Aku menyiapkan pakaian Tante Rasni agar dikenakan saat selesai mandi, setelah itu aku memutuskan untuk memaksa beliau untuk mandi.


Aku melangkah menghampiri Tante Rasni yang terlihat murung di kursi ruang tamu.


"Tante, sudah sore. Mandi, yuk." Ajakku sembari memegang tangannya.


Beliau melepas pegangan tanganku, lalu beranjak pergi menuju kamarnya. Pintunya kembali ditutup, awalnya kukira Tante Rasni bakal ngurung diri lagi, namun dugaanku salah. Beliau mengenakan jarik yang dibuat kemben, lalu melangkah menuju ke arah kamar mandi.


Cukup lama beliau mandi, dari menjelang magrib hingga magrib telah usai. Tante Rasni keluar kamar mandi langsung masuk saja ke kamar mandi, tanpa menyapaku yang ada di dapur.

__ADS_1


Setelah itu, aku mengambil beberapa buku novel untuk ku baca. Kemudian aku melangkah menuju di kursi di ruang tamu.


Aku membacanya dengan seksama, tetapi sesekali aku melongok melihat ke arah kamar Tante Rasni yang berada tepat di samping kamar yang aku tempati.


Aku membaca buku cukup lama, dari selesai magrib hingga sesudah isya. Namun aku melihat tak ada tanda-tanda dari Tante Rasni untuk keluar kamar. Aku memutuskan untuk menyudahi untuk membaca buku.


Aku kembali melangkah ke dapur untuk memanasi makanan agar tak basi. Aku enggan untuk memanggil Tante Rasni untuk makan, karena di pikiranku mengira mungkin beliau sudah tertidur saat selesai mandi tadi.


Tak butuh waktu lama aku untuk memanasi, setelah itu aku kembali menatanya di meja makan. Setelah itu aku memutuskan untuk salat terlebih dahulu, lalu bergegas untuk menuju kamarku.


Aku masuk ke dalam kamar sembari menenteng buku yang tadi aku letakkan di atas meja di dekat kamarku. Jam baru menunjukan pukul 20.15, mata ini pun belom waktunya untuk tidur.


Alu berbaring di atas kasurku, lalu kembali membuka buku yang tadi ku baca. Aku melanjutkan cerita dari buku ini, terasa seru dan merasuk di dalam jiwa. Namun lamat-lamat aku mendengar suara seperti orang yang sedang mengobrol, namun hanya ada satu suara.


Aku pun meletakkan buku di atas kasur, lalu mendengarkan dengan seksama dari mana arah sumber suara ini. Namun suara itu terdengar dari arah kamar Tante Rasni.


Dalam benakku berkata, apa tante sedang bertelepon ya? Soalnya aku tak mendengar suara orang lain. Lagi pula dari tadi tak ada orang selain aku.


Aku pun memutuskan untuk kembali membuka bukuku, lalu melanjutkan membaca. Namun Tante Rasni tetap saja berbicara, tetapi suara Tante Rasni kini terdengar berat.


Tak Salah aku mendengar, sesekali aku mendengar Tante Rasni menyebut nama Om Anton saat itu. Kadang terdengar suara Tante Rasni suaranya terdengar mengerang sedikit mendes*ah.


Aku curiga dengan nada suaranya. Aku memutuskan untuk keluar kamar, untuk mengecek situasi. pertama kali aku mendatangi kamar Tante Rasni.


Tok tok tok!


"Tante. Sudah tidur belum?" panggilku.

__ADS_1


Namun tak terdengar jawaban dari Tante Rasni. Aku memutuskan untuk kembali mengetuk pintunya, namun tiba-tiba terasa sekelebat udara dingin mengenai kulitku. Dan saat bersamaan tante Rasni membuka pintunya.


Bersambung ....


__ADS_2