
Semenjak ketidak sengajaan itu, membuat Dinar dan Dandi setiap hari semakin dekat. Mulai dari yang berangkat sekolah bareng, hingga merencanakan sekolah di sekolahan ternama di kota itu. Namun, hingga suatu hari tiba-tiba kedua orang tua Dandi datang ke mereka, kala neneknya sakit di penghujung akhir sekolahnya.
Tok! Tok!!
Terdengar dengan jelas suara ketukan pintu utama di rumah Dandi.
"Siapa sih, malam-malam bertamu." Dandi beranjak dari tempat duduknya kala belajar.
"Buka saja, Nak. Siapa tahu orang pentin," suara serak Nenek Dandi kala berbicara.
"Iya, Nak," jawab Dandi dengan lembut.
Dandi berjalan menuju pintu utama. Saat membuka pintu terlihat dua orang yang selama ini ia rindukan dan sekaligus ia benci yaitu kedua orang tuanya. Dia tak tahu, harus merasa senang atau pun marah kala mereka datang ke sini.
"Dandi." Ibu Dandi hendak memeluknya.
Dandi bergegas mengelaknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mari masuk!" ajaknya.
Kedua orang tuanya secara bersamaan tersenyum, kala melihat Dandi.
"Nenek mana?" tanya Papa Dandi.
"Ada, lagi sakit," jawab Dandi, sembari berjalan menuju kamarnya lagi. Selama neneknya sakit, Dandi memutuskan jika neneknya harus tidur bersamanya sebab dia tak ingin, jika neneknya memanggil sewaktu-waktu dia tak mendengarnya.
Sebelum benar-benar masuk kamar, tiba-tiba Papa Dandi menarik bahunya sehingga membuat dia terhuyung.
"Kenapa kamu tak menghubungi kami?" Papa Dandi berkata dengan nada tinggi.
"Untuk apa?" jawab Dandi dengan nada santai.
Jawaban Dandi malah membuat Papanya murka, sehingga berani menampar pipinya.
__ADS_1
"Papa!" tegur Mamanya Dandi.
"Nenek itu orang tua, Papa. Seharusnya kamu memberitahu kami, kalau dia kenapa-napa. Kalau ada apa-apa dengan nenek, bisa apa kamu?" cerca papanya.
"Apa pentingnya kami buat kalian? Kalau dia benar-benar orang tuamu, kenapa selama ini tak pernah berkunjung ke sini? Nggak ada gunanya. Toh, jawaban kalian cuma satu. Repot!" jawab Dandi.
"Kamu!" Papanya mengacungkan tangan hendak menamparnya lagi, tetapi ia enggan melakukannya.
"Apa? Mau nampar? Silahkan. Sesukamu, kalau perlu bunuh aku sekalian biar puas." Dandi menyerongkan badan mendekat ke arah papanya.
Mama Dandi menarik tangan papanya menjauh dari Dandi.
"Nenek mana, sayang?" mamanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dandi hanya menjawab dengan menunjuk ke arah kamarnya saja, tanpa mengeluarkan suara apapun.
Mama Dandi segera menarik tangan papanya masuk ke dalam kamar. Saat masuk, terlihat tubuh wanita tua renta terbujur di atas kasur. Dengan kompres di dahinya dan selimut tebal yang menutupi seluruh badannya.
"Bu, maaf baru bisa ke sini. Kita ke dokter, ya," ajak Mama Dandi.
Mama dan Papa Dandi menuntun di sebelah kiri dan kanan wanita tua renta itu. Kaki terseok, badan bergetar dan kelopak mata yang sayu membuat Dandi semakin tak tega kala melihatnya. Dandi berjalan menghampiri, lalu segera mengangkat wanita tua itu dalam gendongannya.
"Dandi," ujar Papanya yang terlihat kaget.
"Nggak usah banyak omong. Cepat jalan aja," tegur Dandi yang masih merasa geram.
Saat berada di dalam mobil, Dandi sengaja duduk di belakang sembari memangku kepala neneknya. Dia tak henti-hentinya mengelus kepala nenek tua itu. Dalam hatinya berkata, 'Nenek yang kuat. Aku sayang nenek.'
Sesampainya di rumah sakit, Dandi dengan cekatan mengangkat tubuh neneknya ke atas brankar. Dia ikut berjalan cepat kala neneknya di bawa ke igd. Sedangkan kedua orang tuanya dengan santai berjalan mengekor di belakang. Dandi dengan gelisah menunggu neneknya di depan ruangan itu. Dokter yang menanganinya tak kunjung keluar, membuat hatinya semakin khawatir.
"Dandi, duduk sini, Nak," pinta mamanya.
Dandi hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Biarkan saja, Ma. Dia tahu apa soal orang tua," gumam papanya.
Bara apa yang membara di dalam hatinya, saat ini tersulut kembali. Tetapi, dia mencoba bertahan dan diam akan itu semua.
"Keluarga Ibu Ranti," panggil dokter.
****
Ibu Ranti itu nama dari Nenek Dandi. Wanita single parent yang ditinggal suaminya meninggal karena kecelakaan kerja. Ia dengan tangguh merawat kedua anaknya yang beranjak dewasa. Yang mana anak pertama saat itu kelas dua smk dan yang satunya kelas satu smp. Beliau banting tulang dengan sekuat tenaganya untuk menghidupi dan menyekolahkannya, hingga menjadi orang saat ini.
Keluarga Nenek Dandi memang tergolong keluarga berada. Sawah di mana-mana dan sapi yang mereka miliki cukup banyak di rawat orang lain. Semua itu, mereka kumpulkan sedari mereka pertama kali menikah, hingga akhir hayat suaminya. Bukan waktu yang sebentar untuk menghasilkan itu semua, sebab jarak mereka menikah hingga memiliki anak cukup lama, yaitu dalam kurun waktu hampir sembilan tahu. Caci maki menjadi hal lumrah yang dirasakan Ibu Ranti saat itu. Julukan wanita mandul bahkan melekat selama sembilan tahun itu.
Tangisan yang ia tunjukan pun terasa sia-sia, sebab sebagian orang menganggap jika mereka hanga memikirkan harta tanpa berkeinginan memiliki anak. Padahal usaha mereka sedari pergi ke dokter untuk berkonsultasi hingga terapi yang mereka lakukan menunjukan mereka sehat dan bahkan para dokter bilang bahwa mereka mampu memiliki keturunan.
Tetapi, lagi-lagi kembali yang maha kuasa. Jika yang di atas belum berkehendak, sekuat apapun mereka berusaha harus tetap bersabar untuk menantikannya.
Suatu ketika, kala Ibu Ranti berjalan menghadiri aqiqahan anak salah satu tetangganya, ia menjadi pusat perhatian di sana. Gunjingan terdengar dengan jelas di telinganya, tetapi mencoba tak ia hiraukan.
"Heh, Ranti. Kapan kamu punya anak? Kamu menikah sudah lama, loh. Empat tahun, itu bukan waktu yang sebentar," tanya salah satu tetangganya.
"Belum tahu, Bu. Sama yang di atas belum di kasih," ujar Ranti mencoba untuk bersabar.
"Alah, kamu itu coba berhenti bekerja, siapa tahu dengan cara itu kamu bisa cepat memiliki anak. Kalian ini nggak berusaha, malah sibuk cari harta aja," ujar yang lain.
"Iya, Bu. Terima kasih, nanti saya usahakan untuk itu," jawab Ibu Ranti dengan santun.
"Ranti ... Ranti, harta nggak dibawa mati, kamu uber sampek kapan pun nggak akan pernah cukup. Kamu mandul, ya? Coba periksakan ke dokter sana," sahut yang lain lagi.
"Sudah, Ibu-ibu. Saya periksa, kata dokter bisa memiliki anak, kok. Mungkin, belum rejeki kami untuk diberi titipan," jawab Ibu Ranti, walaupun dalam hatinya terasa sesak.
"Alah, periksa itu jangan sekali. Mana tahu, dokternya salah perhitungan atau salah periksa." Perkataan seperti itu terus terlontar dari tetangganya kala itu. Saling sahut menyahut tanpa memikirkan perasaan Ibu Ranti.
Ibu Ranti yang merasa sakit hati pun, memilih untuk berpamitan terlebih dahulu. Beliau tak kuat jika harus di sana dengan cacian yang pedas tak henti mereka ucapkan untuknya.
__ADS_1
Bersambung ....