
Ibunya Dinar memilih menghampiri jendela terlebih dahulu. Beliau ingin membukanya agar angin dan sinar matahari masuk ke dalam kamar. Kamar ini terasa sedikit pengap, sebab debu dan cahaya matahari tertutup oleh gorden jendela ini. Beliau menyingkap setengahnya agar angin juga tak terlalu banyak masuk. Beliau tak ingin, banyak debu berterbangan ke mana-mana nantinya.
"Nah, ginikan lebih terang. Sejuk juga di sini, Dinar di suruh nempatin ini aja kali, ya." Ibunya Dinar menyapu ruangan ini kembali. Namun, saat beliau menyapu di arahkan ke pintu, tiba-tiba gorden itu menyingkap sepenuhnya.
Sreek!!
Ibunya Dinar dengan cepat menoleh. "Huft, anginnya lumayan kencang juga, ya."
Beliau berjalan menghampiri ke arah jendela. Menyingkap tirai itu dalam posisi setengah. Kemudian hendak kembali meneruskan menyapu.
Srek!! Gorden itu kembali menyingkap sepenuhnya, kala beliau baru melangkahkan kaki menjauhi jendela itu.
"Nggak terlalu terasa kalau anginnya besar, tapi kok bisa nyingkap sendiri ya," gumamnya dengan lirih.
Beliau hendak kembali menyingkapnya, tetapi saat beliau menariknya entak kenapa gorden itu serasa berat dan terasa seperti ada yang menahannya. "Duh, macet kali, ya."
Ibunya Dinar melepaskan tirai itu, tapi di depan mata kepalanya sendiri tirai itu menyingkap setengahnya dengan sendirinya. Beliau sedikit mundur kala melihatnya. Jantung berdegup kencang, keringat dingin pun ikut bercucuran. Beliau terus sedikit mundur, hingga tubuhnya terasa menabrak seseorang di sana, beliau sontak berkata. "Ampun, saya nggak akan menganggu. Saya hanya bantu membersihkan dan menjaga rumah ini dengan baik."
"Ibu, apa-apaan, sih? Kenapa?" terdengar suara suaminya di sana.
Beliau pun menoleh ke arahnya. "Ayah, sejak kapan datang?"
"Ya, baru saja. Abisnya Ayah mau pindahin barang ke atas, mau lihat-lihat ruang yang pas. Eh, malah lihat Ibu jalan mundur-mundur. Ada apa emangnya?" tanya suaminya.
Ibunya Dinar memilih menarik suaminya untuk keluar dari kamar itu, lalu turun ke bawah menghampiri tempat Dita berada.
"Duduk," pinta ibunya Dinar saat berada di dekat Dita.
Dita menatap mereka dengan heran.
"Kenapa, Bu?" tanya Dita.
"Tak tahu, tuh. Ibumu aneh banget," jawab ayahnya.
Dinar dan Andre yang melihat mereka berkumpul, seketika juga merasa penasaran dan memilih untuk menghampirinya.
"Kenapa-kenapa?" tanya Dinar saat menghampiri mereka.
"Jadi, saat Ibu masuk di salah satu kamar yang berada di lantai atas, kamar itu bagus, bernuansa pink dan semua barang masih tertata rapi di sana. Awalnya nggak merasakan apa-apa, hingga Ibu memilih menghampiri meja kecil yang ada di antara dua kasur di sana. Aku memuji foto itu, tiba-tiba terdengar suara anak cewek bilang terima kasih. Lalu, aku membuka gorden jendela itu setengah, kemudian meneruskan menyapu. Gorden itu menyingkap dengan sendirinya," jelas ibunya Dinar menghentikan ceritanya.
"Angin mungkin, Bu," sahut Dinar.
__ADS_1
"Awalnya Ibu juga mengira begitu. Ibu singkap lagi setengahnya biar debu nggak berterbangan gara-gara angin. Baru saja melangkah, tiba-tiba menyingkap lagi. Tak terasa angin saat kejadian itu. Ibu masih berpikir positif, tapi saat hendak menutupnya kembali, gorden itu terasa berat seperti macet, tetapi saat ibu memutuskan melepaskan gorden itu, tiba-tiba menyingkap denhan sendirinya. Tahukan seperti apa gorden di tarik?" cerita ibunya Dinar.
"Jangan-jangan, penunggu rumah ini." Dinar menduga-duga.
"Namanya rumah pasti semua ada penunggunya. Apalagi, rumah ini kosong sudah lama. Semoga penunggunya tidak terlalu mengganggu, mereka hanya ingin memberitahukan jika mereka ada," ujar Dita dengan tenang.
Tiba-tiba suara lirih anak perempuan kembali terdengar. "Iya."
Semua orang yang berada di sini pun mendengar. Mereka terbelalak menatap ke atas.
"Kalian mendengarnya?" tanya ibunya.
Dinar hanya menganggukkan kepala tanpa sanggup menjawabnya.
"Kita nunggu rumah ini bersih, ku rasa cukup lama. Kita sewa orang untuk membantunya gimana, yah? Ibu ingin, hari ini selesai semua dan besok bisa mengadakan pengajian itu." Ibunya Dinar memikirkan hal itu.
Tok! Tok!
Saat bersamaan, malah terdengar suara ketukan pintu utama rumahnya.
"Siapa?" teriak Dinar, sebab ia merasa sedikit ketakutan.
Kak Andre segera membuka pintu dan mempersilakan untuk masuk ke dalam.
"Mari, Pak." ujar Kak Andre.
Dua orang dari PLN pun mengekor di belakang Andre.
"Silakan duduk, Pak." Andre kembali duduk di tempatnya dan mereka pun duduk di sofa yang sama dengan mereka.
Keluarga Dinar pun menanyakan prosedur untuk menyalakan kembali listrik yang ada di rumah ini. Lalu, pihak PLN menjelaskan, jika listrik telat dalam tiga puluh hari akan di putuskan sambungan MCBnya dan jika lebih dari enam puluh hari maka akan diputuskan dari tiangnya langsung.
"Lalu, untuk menyalakan kembali seperti apa?" tanya ayahnya Dinar.
"Kalian harus menyelesaikan pembayaran beserta dendanya dan pembayaran untuk pemasangan baru," jawab pegawai PLN.
"Lalu, untuk tagihan semuanya berapa?" sahut ibunya Dinar.
Mereka memberikan selembaran yang berisikan jumlah pembayaran denda. Kemudian mereka juga menjelaskan untuk prosedur untuk pemasangan baru. Mereka tetap memasang listrik sesuai daya yang digunakan rumah ini sebelumnya. Keluarga Dinar meminta untuk prosesnya jika bisa dilakukan hari ini juga.
"Bu, mending kamu ke rumah Bu RT. Minta tolong carikan orang membantu membersihkan rumah ini. Kalau beramai-ramai tak akan terasa capeknya dan cepat selesai." Suaminya menyarankan itu.
__ADS_1
"Baik, Yah," jawab Ibunya Dinar, lalu berjalan untuk kembali menuju rumah Pak RT lagi.
Sesampainya di sana, beliau meminta tolong seperti apa yang disarankan suaminya. Bu RT pun meminta tolong ke orang-orang yang bersedia membantunya. Beberapa orang, perempuan dan laki-laki berbondong-bondong menolong ibunya Dinar. Toleransi tetangga sekitar rumah Dinar sangat baik dan membuat mereka merasa nyaman.
Walaupun kadang mereka semua terlihat sedikit ketakutan, tetapi mereka tak ingin memperlihatkan rasa itu kepada keluarga Dinar. Mereka tak ingin, keluarga Dinar merasa ketakutan dan malah tak nyaman.
Andre dan Dita memutuskan untuk membeli makanan dan minuman untuk disuguhkan ke mereka. Saling mengobrol, becanda dan tertawa bersama. Namun, lagi-lagi saat mereka tertawa di situ pula terdengar anak perempuan tertawa menggema. Tetapi, tak semua orang yang mendengar, hanya beberapa dari mereka.
"Bapak, Ibu. Istirahat dulu, mari makan," ajak Andre sembari menenteng makanan yang dibawanya.
Mereka berbondong-bondong menghampiri Andre dan Dita.
"Ya Allah, Dek. Makasih, repot-repot bawa makanan sebanyak ini," ujar Dita.
"Justru kami yang terima kasih, Bu. Kalian mau membantu kami," ujar Dita.
"Oh iya, Bu. Sekalian, besok datang ke rumah. Kami rencana untuk melakukan pengajian jika rumah ini sudah bersih," ujar Ibunya Dita.
"Baik, Bu. Kami besok bantu untuk itu," jawab Bu RT.
Mereka menyantap makanan secara bersama-sama. Dinar pun tersenyum, 'Alhamdulillah, banyak orang baik di sini. Semoga kebahagiaan mereka, membuat kami nyaman dan betah di sini.'
"Ramai." Suara anak kecil menggema di dalam ruang ini.
Kali ini, semua orang mendengarnya. Beberapa orang ada yang merasa ketakutan. Setelah itu, malah terdengar suara tawa anak perempuan lagi.
"Tenang, itu dia. Biarkanlah, mungkin dia bangga kala kita berada di sini bersama-sama." Bu RT mencoba menenangkan yang lain.
"Kami nggak ganggu, Kok. Kita bantu membersihkan rumahmu, akan ada yang bantu menjaganya," sahut yang lain.
Sontak, Dinar dan keluargannya merasa penasaran apa maksud mereka.
"Ada apa, Bu?" tanya Dinar
"A-anu, Dek. Nggak apa-apa, kok." Bu Rt tetap mencoba menyembunyikannya.
"Ada yang kalian sembunyikan, kah?" tanya Dinar lagi.
"Enggak, Nak," jawab Bu RT.
Bu RT menatap yang lain. Beliau ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1