Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Hari terakhir di rumah itu


__ADS_3

Beberapa anak malah antusias membuat lingkaran yang utuh mengelilingi mereka. Saat itu, juga sontak anak-anak yang lain mengikutinya dan para guru yang datang semakin terharu dengan hal yang dilakukan muridnya itu.


"Key, lihatlah. Satu sekolahan menyayangimu, kita bahagia bersama-sama. Kau kebanggan kami semua," ujar Dinar dengan sesenggukkan.


"Anak-anak, duduk yang rapi. Kita kirimkan doa untuk mendiang teman kalian, Ananda Keyla Anggraini. Semoga dengan kebahagiaan kita hari ini, dia juga merasakan hal yang sama melalui doa yang kita panjatkan untuknya." Pak Andi meminta ke semua anak-anak di seluruh sekolahan ini.


Mereka duduk berderet depan belakang pun terpenuhi. Lagi-lagi, hanya di dekat Dewi dan Dinar yang dibiarkan kosong. Merek melantunkan doa-doa dengan dibimbing Pak Andi yang guru-guru yang lain. Tangis haru biru saat itu, membuat semua anak seakan-akan merasakan kedatangan Keyla, untuk mengucapkan bahwa dia juga tak kalah bahagia di sana.


Setengah jam berlalu, doa pun telah usai. Pak Andi meminta anak-anak pulang untuk mengabarkan bahagia ini kepada kedua orang tua mereka.


"Anak-anak, berdoa dan pengumuman sudah selesai. Sekarang, kalian pulang ke rumah masing-masing dan beritahukan kabar ini kepada kedua orang tua tercinta. Bapak tak ingin mendengar ada konvoi-konvoi, atau kerusuhan yang di sebabkan oleh murid dari sekolahan ini." Pak Andi menghimbau mereka semua.


"Baik, Pak!" jawab mereka semua dengan serempak.


Anak-anak buyar dan menuju kelas masing-masing untuk mengambil tasnya.


"Dinar, aku sudah di depan sekolahmu dari berdoa. Semoga kamu cepat baca pesan ini, ya," ujar Dandi.


Dinar berlari menuju parkiran sekolah.


"Din, kemana?" teriak Bella.


"Aku duluan," jawabnya sembari berlari.


Dinar mengayuh sepedanya hingga depan sekolah. Dia melihat Dandi menunggunya dengan duduk di bawah pohon.


"Dandi!" Dinar berteriak sembari melambaikan tangan ke arahnya.


Dandi pun berdiri dan membalas melambaikan tangan ke arah Dinar.


"Maaf, ya. Sudah membuatmu menunggu lama," ujar Dinar.


"Iya, nggak apa-apa, kok. Gimana pengumumannya?" tanya Dandi.


"Alhamdulillah, lulus. Kalau kamu?" tanya Dinar balik.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kamu mau lanjut di mana?" tanya Dandi.


Dinar hanya menggelengkan kepalanya.


"Loh, kok gitu?" tanya Dandi lagi.


"Aku, besok rencana diajak keluarga pindah ikut Ayahku. Tapi nggak tahu, juga. Bingung mau sekolah di mana," jawab Dinar.


Raut wajah Dandi berubah sedih kala mendengar ucapan dari Dinar. Dia bingung, takut jika mereka tak pernah bertemu lagi. Entah apa yang membuat Dandi sedih, dia tak tahu alasannya. Tapi memang itu yang ia rasakan.


"Kita nggak akan bertemu lagi, dong?" tanya Dandi.


"Entahlah, Dan. Sama saja kita secara bersamaan pindah dan tahu tahu ke mana tujuannya. Semoga kita dipertemukan lagi, ya," ujar Dinar.


Dandi hanya tersenyum. Dia gak tahu harus berkata apa lagi. Antara senang dan sedih menjadi satu saat ini. Mereka mengayuh sepedanya secara bersamaan.


"Din, aku cuma mau pamit dan kasih itu aja ke kamu. Aku pulang sekolah langsung balik. Sebernanya ayahku sedari tadi sudah telepon terus tapi demi nungguin kamu, aku abaikan aja. Kapan lagi kita ketemu kalau nggak pas begini," ujar Dandi.


"Ya Allah, jadi nggak enak aku sama kamu. Makasih, ya. Aku akan jaga kenang-kenangan dari kamu," ujar Dinar.


"Aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa lain waktu," ujar Dandi sembari menghentikan sepedanya.


"Dandi, sekali lagi terima kasih, ya. Semoga kau selalu mengingatku," pinta Dinar.


Dandi meraih tangan Dinar. "Terima kasih juga, kamu sudah bersedia mendengar ceritaku kemarin. Duluan, ya."


Dandi kembali mengayuh sepedanya sembari melambaikan tangannya ke Dinar. Dinar dengan sadar, ia menitikkan air mata. Entah perasaan apa yang saat ini berkecamuk dalam hatinya, saat melihat Dandi menjauh terasa berat dan sedih.


Dinar belok ke jalanan arah rumahnya. "Kakak."


Anak kecil yang menempati rumah Keyla, saat ini kembali memanggilnya. Sontak Dinar tersenyum dan mengehentikan sepeda itu.


"Halo, Adek. Kamu, suka rumah di sini?" tanya Dinar.


"Iya, Kakak. Aku suka, Kakak main ke sini," ajak anak itu.

__ADS_1


"Adek, maafin Kakak, ya. Besok, Kakak mau pindah rumah, jadi hari ini mau beres-beres. Kita pamitan, yuk. Salam kenal buat kamu," ujar Dinar dengan lembut.


"Aku, sayang Kakak. Sampai jumpa lagi, Kakak." Anak kecil itu melambaikan tangan ke arah Dinar.


Dinar tersenyum dan membalas lambaian tangan itu, lalu kembali mengayuh sepedanya untuk pergi. Dia tak ingin, air matanya tumpah lagi kala mengingat Keyla. Dia bertekad ingin merelakan kepergian Keyla walaupun itu berat untuknya.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Dinar masuk ke dalam rumah lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia menatap langit-langit rumahnya. Dia ingin merasakan kenyamanan di rumah ini untuk terakhir kalinya.


"Enek cewek pulang, bisa-bisanya tak mengucapkan salam apapun." Kak Dita datang untuk menegurnya.


"Hehehe, lupa, Kak. Assalamualaikum." Dinar baru mengucapkan salam.


"Gimana hasilnya? Lulus, nggak?" tanya Kak Dita sembari duduk di dekatnya.


Dinar kembali duduk dan mengambil kertas yang ia terimanya tadi. Kemudian, Dinar menyerahkan kertas itu ke Kak Dita.


Kak Dita membacanya dengan seksama. "Alhamdulillah, lulus juga ini anak. Sekolah di mana nanti?"


"Nggak tahu, Kak. Tempat barunya aja nggak tahu, mana bisa nentuin sekolahnya di mana? Aneh.


"Okelah, alasan yang bisa di nalar akal sehat. Ikut kemauan Ayah saja, ya. Misal bisa masuk di sekolah favorit ya syukur. Kalau enggak ya, memalukan! Hahaha." Kak Dita lagi-lagi, hanya bisa mengejek Dinar.


Dinar beranjak dari tempat duduknya, sembari meraih kertas itu kembali. "Heh, mau ke mana, Dek?"


"Ganti baju, tidur. Hem, enaknya hidup, mau merasakan kenyamanan di rumah ini untuk terakhir kalinya," jawab Dinar dengan enteng.


"Heh, Dinar. Bisa-bisanya ngomong seenteng itu. Bantuin Kakak berkemas," ujar Kak Dita sembari berteriak.


"Nantilah, Kak. Aku mau rebahan dulu, santai dulu. Sore nanti, baru berkemas-kemas, oke. Lagian barangnya tinggal dikit doang yang belum di rapikan," jawab Dinar.


"Kebiasaan, kalau ada barang ketinggalan tahu rasa, deh," ujar Kak Dita.


Dinar hanya berangsur pergi masuk ke dalam kamar, tanpa mendengarkan perkataan Kak Dita. Dia meraih merpati itu, lalu dibawanya rebahan di atas kasur.


"Merpati, semoga kau menjadi lambang untuk persahabatan kita. Sejauh apapun kamu pergi dan terbang, pasti ingat kemana kamu akan pulang. "Dinar menatap gantungan kunci merpati itu dengan lekat. Dia memeluk gantungan kecil itu dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2