Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Mati dibalas Mati


__ADS_3

Candra pun merangkak hendak berdiri, dia mencoba kembali meraih senapannya. Tiba-tiba dari arah belakangku terasa bayangan sekelebat masuk, lalu menghampiri Candra itu.


Entah bagaimana, si Candra pun mengetahui jika ada kehadiran makhluk tak kasar mata yaitu mendiang mamanya Kevin.


"Nadin?" ujarnya.


Secara bersamaan dia terlihat terbang namun terangkat bagian leher seperti di cekik. Sosok mamanya Kevin pun membawa Candra terbang menuju lantai dua.


"Loh, Bos. Gimana kita, Bos?" tanya salah satu teman pria Candra saat melihatnya seperti itu.


Saat kedua pria itu fokus ke Candra dengan cepat pihak kepolisian menangkapnya, sedangkan ayah segera melepaskan ikatan papanya Kevin. Aku sengaja mengikuti sosok itu pergi, namun saat sampai tangga aku kesusahan bagaimana caranya untuk naik?


"Tante Nadin!" teriakku saat dia lantai dua.


Sosok mamanya Kevin pun seketika berhenti kala mendengar teriakanku. Entah dari kapan aku tak menyadari ayah, ibu dan Kevin beserta papanya sudah berada di dekatku.


"Ma, aku kangen. Biarkan wanita itu hidup dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Ma, Kevin sayang Mama," ujar Kevin.


Kala aku mendengar ucapan Kevin sontak terharu. Dari sifat yang terlihat sangat membenci Candra, ternyata dia masih ingin dia hidup.


"Ma, maafkan aku," ujar papa.


Sosok mamanya Kevin pun menurunkan Candra. Dia terlihat sedih kala mendengar ucapan anaknya itu. Aku sebenarnya nggak paham, apa mereka semua yang ada di sini mampu melihat mamanya Kevin.


"Yah, mamanya Kevin kelihatan ya?" tanyaku penasaran.


Ayah tak menjawabnya dengan ucapan namun dengan menggelengkan kepalanya. Kukira si Candra mendengar ucapan Kevin membuat dia terharu dan menyesali perbuatanya, ternyata aku salah. Berlari menghampiri Kevin yang ada di lantai dasar dan mengacungkan pisau tepat diperutnya.


"Ini anak yang kamu sayang-sayang. Akan kuantar menemui sekarang juga," ujar Candra sembari menusukkan pisau itu ke perut Kevin, lalu berlari ke arah luar.


Aku menatap Kevin matanya terbelalak lalu terkulai lemah. Pihak kepolisian terpaksa menembakkan pistol ke kaki Candra, agar dapat meringkusnya. Papanya Kevin berteriak, menangis kala melihat darah yang keluar dari perut Kevin terus mengucur.


Pandanganku beralih ke mamanya Kevin yang terlihat sangat mengerikan. Beliau kembali mencekik leher Candra dan membawanya terbang hingga langit-langit rumah ini.


"Nadin, lepaskan aku. Kau jangan gila!" ujar Candra dengan suara tercekik.

__ADS_1


"Hahahaha, kau bilang aku gila? Kau yang gila. Mati di balas dengan Mati," ujar mamanya Kevin sembari melempar Candra ke lantai dasar.


Saat terjatuh, tubuh Candra tepat mengenai anak tangga yang membuat kepalanya remuk seketika.


"Aaaaaa," teriak ibu sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Kevin!" teriak papanya sembari memeluk anaknya.


Pihak kepolisian segera membawa Kevin ke rumah sakit yang kebetulan dekat dengan lokasi kami. Aku, ayah dan ibu hanya terpaku menatap jasad Candra yang tergeletak.


"Kita antar Kevin, yuk," ajak ayah.


"Nanti saja. Aku masih mau di sini," ujarku.


Ternyata ayah dan ibu mengiyakan apa yang menjadi mauku.


"Hahaha, akhirnya kau mati! Balas dendamku terbayarkan, kau di beri kesempatan hidup malah dengan tega mencelakai anak kesayanganku," ujar sosok mamanya Kevin dengan menggema.


Pihak kepolisian tak terlalu banyak sehingga jenazah masih dibiarkan di sana, hanya di beri garis polisi. Sebab yang sebagian membawa dua pria yang berteman dengan Candra dan beberapa membawa Kevin ke rumah sakit. Kami sengaja tak mengantar Kevin ke rumah sakit terlebih dahulu, sebab aku masih ingin di sini melihat Candra.


"Bu," panggilku.


"Iya, Dek. Kenapa? Apa sosok mamanya Kevin masih di sini?" tanya ibu.


Aku menggelengkan kepala. Saat itu juga, ibu dan ayah memelukku secara bersamaan.


"Kok jadi seperti ini? Aku pembunuh juga?" tanyaku ke ibu.


"Kok Dedek bilang seperti itu?" tanya ayah.


"Lihat, Yah karena aku Tante Candra meninggal. Aku penyebab kerusuhan keluarga Kevin," ujarku tak sengaja menitikkan air mata.


Entah kenapa aku merasa bersalah. Awalnya aku hanya ingin menyampaikan ini ke Kevin saja, nggak ada pikiran untuk ikut jauh hingga saat ini. Melihat korban berjatuhan di kasus ini, membuat rasa bersalahku semakin dalam.


"Aku jahat ya, Bu?" ucapku.

__ADS_1


"Enggak, Dek. Kita juga nggak tahukan, apa yang terjadi jika kamu tak pernah bicara ini. Candra tidak akan pernah tertangkap bahkan Kevin bisa saja lebih parah dari ini," jawab ibu.


"Tapi Tante Candra mati, Bu. Dia nggak hanya tertangkap," ujarku.


"Itu bukan kuasa kita lagi, Dek. Kita nggak tahukan kejadiannya akan seperti ini, dia di beri kesempatan tadi sama mamanya Kevin. Tapi kamu lihat sendiri, dia keras kepala malah melukai Kevin," sahut ayah.


Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Merasa bersalah masih menghantui hatiku. Peristiwa ini sangat rumit, menghadapi wanita yang kerasa kepala dan sangat kejam. Tak tahu sebenarnya apa yang mendasari perbuatannya hingga akhir hidupnya. Dia seperti memendam sesuatu yang tak pernah dia utarakan ke siapa pun.


Ayah tanpa meminta persetujuanku, beliau bergegas mendorong kursi rodaku menuju mobil kita yang terparkir. Tanpa penolakan, aku hanya mengikuti ayah dan ibuku.


"Kita jenguk Kevin, ya," ujar ayah.


Namun aku tak meresponnya. Aku hanya menatap ke arah jendela saat mobil ini dikemudikan. Dari jauh aku melihat sosok mamanya Kevin melambaikan tangan ke arahku sembari tersenyum.


"Terimakasih," ujarnya terdengar dekat, walaupun sosoknya jauh dari pandanganku.


Aku hanya memalingkan wajahku, aku menyesal membantunya. Mungkin aku mengurungkan niatku membantu, jika tahu semua akan seperti ini. Tiga korban terlihat di depan mata. Bi Asih yang masih tak sadarkan diri di ICU di rumah sakit yang berbeda, Kevin yang saat ini juga dilarikan ke rumah sakit. Dan lebih parah Candra sang biang kerok meninggal dengan kondisi yang mengenaskan. Belum lagi Pak Joko, beliau terluka juga.


"Dek, kenapa diam?" tanya ibu.


"Aku jahat ya, Bu. Mereka semua terluka gara-gara masalah ini dan ini semua penyebabnya aku," ujarku.


"Keyla, sayang. Jangan berpikir seperti itu, coba saja Candra nggak terlampau jauh perbuatannya. Mungkin kasus ini selesai dengan mudah," jawab ibu dengan menyalahkan Candra.


"Ibu," ucap ayah saat mendengarnya.


"Sudahlah, Dek. Kita berdoa saja, semoga Kevin dan Bi Asih cepat sembuh seperti sedia kala," ujar ayah.


"Iya, Yah," jawabku.


Tak perlu waktu lama, kita pun sampai. Ayah dengan cepat memindahkan aku ke kursi roda, lalu bergegas mencari di mana Kevin di rawat. Terlihat dengan jelas polisi dan papanya Kevin berada di ruang ICU juga, di mana dulunya aku juga pernah di rawat di sana.


"Stop!" ujarku saat mendekati ruangan itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2