
Setelah pengajian yang diadakan sekolah, aku dan Dinar bergegas untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan kami tak henti-hentinya saling bertukar cerita tentang kejadian yang telah kita alami di sekolahan tadi.
"Key, jadi kamu dari awal sudah tahu yang merasuki si kakak kelas itu?" tanya Dinar.
"Aku baru tahu tadi lah Din, sumpah baru kali ini aku melihatnya," jawabku.
"Apa yang mengajak bicara kamu saat mengantar Dewi itu juga si Selvy penunggu itu ya Key?" ucap Dinar lagi.
"Kemungkinan juga dia sih Din, sudahlah kita doakan saja semoga dia tenang di alamnya," ucapku.
"Iya Key, tragis ya kisahnya! apa pembunuhnya bisa hidupnya bisa tenang ya Key?" kata Dinar.
"Tidak tahulah Din, sudah lama juga," kataku.
"Sampai saat ini yang masih jadi pertanyaanku cuma satu, apa orang tuanya si Selvy sudah tahu sebab anaknya meninggal secara tragis seperti itu?" kataku lagi.
"Iya juga ya Key, apa mereka sudah tahu? tapi kejadian itu sudah lama juga, mungkin orang tuanya menganggap anaknya bunuh diri, kemungkinan tidak di proses sih kasusnya," jawab Dinar.
Karena saking asiknya kita bercerita, tanpa ku sadari aku sudah berada di depan rumahku.
"Duluan ya Din," ucapku sembari melambaikan tanganku ke arah Dinar.
Dinar pun melambaikan tangannya ke arahku. Ku parkirkan sepedaku di depan garasi rumahku, aku mulai berjalan menuju pintu rumahku.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Dedek pulang Bu," ucapku.
"Waalaikumsalam, sebentar Dek," terdengar dari dalam rumah, ibu menjawab salamku.
Pintu mulai terbuka, terlihat ibu melemparkan senyuman ke arahku.
Ku raih tangan ibu, ku jabat tangan ibuku seperti biasa. Aku langkahkan kaki memasuki rumah menuju kamarku.
"Dek, nanti ikut Ibu ke pasar sore yuk!" kata Ibu mengajakku.
"Iya Bu, mau belanja banyak ya Bu?" tanyaku.
"Tidak kok Dek, tadi kebetulan motor baru Ibu antarkan ke bengkel untuk di servis tetapi kata mas-mas bengkelnya baru bisa diambil besok pagi," jawab Ibu.
"Iya Bu, Oh iya Bu jilbab Dedek yang warna pink kemarin ibu cuci di mana ya?" tanyaku.
"Masih di keranjang tempat baju, di ruang cuci itu Dek," jawab Ibu sembari melangkahkan kaki menuju kamar beliau.
Aku buka pintu kamarku, aku langkahkan kaki memasuki kamarku. Ku taruh tasku di atas meja belajar, sedangkan sepatuku asal aku lepas.
Ku rebahkan badanku di atas kasur dengan kaos kaki dan seragam masih melekat di tubuhku. Perlahan mataku mulai terpejam, terbuai aku ke alam mimpiku.
Tak terasa seberapa lama aku tertidur, mulai terdengar suara ketukan pintu kamarku.
__ADS_1
Tok tok tok
"Dek.. Kamu tidur ya?" terdengar suara Ibu dari balik pintu.
Dengan rasa malas yang masih menyelimuti, aku beranjak dari tempat tidurku untuk membuka pintu.
"Apa Bu?" tanyaku sembari menguap dan mengucek mataku sebelah kiri.
"Ya Allah, pantesan di panggil dari tadi gak menyahut kamu ketiduran? belum ganti baju, pasti belum dzuhur ya?" tanya Ibu.
"Astagfirullah, belum Bu," ucapku sambil membalikan badan mau masuk kamarku lagi.
"Sudah jam setengah tiga Dek sudah lewat, lain kali salat dulu baru tidur! Buruan makan terus ganti baju, ayo ikut Ibu ke pasar," Suruh Ibu.
Tanpa menjawab langsung ku kerjakan perintah Ibu. Selepas makan dan ganti baju aku bersiap untuk berangkat ke pasar.
"Bu, kita naik apa?" tanyaku ke Ibu yang lagi duduk di sofa dekat tv.
"Naik angkot Dek, tolong ambilkan tas belanja Ibu di dapur Dek," ucap Ibu.
Setelah itu Aku dan Ibu berangkat, kami mulai berjalan sampai gang perumahan untuk menunggu mobil angkot datang.
Hari itu hari keberuntungan kita, tak begitu lama kita menunggu mobil angkot pun tiba.
Aku duduk bersebelahan dengan cewek berseragam SMA. Aku mencoba mengajaknya bicara.
"Kakak baru pulang?" tanyaku.
Jarak aku dan cewek paling ujung hanya di pisahkan sama cewek berseragam SMA ini.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban kakak yang paling ujung.
Sebenarnya hatiku bertanya-tanya, "Kenapa kakak yang paling ujung yang jawab, sedangkan yang aku ajak bicara kakak di sebelahku?" batinku.
"Adek mau kemana?" tanya cewek di ujung.
"Mau ke pasar sore sama Ibu kak," jawabku.
Di gang depan cewek yang paling ujung pun turun.
"Duluan ya Dek, Bu mari," ucap cewek itu lagi berpamitan.
"Mari," ucap Ibu sambil menganggukan kepalanya.
Di dalam angkot hanya ada aku, Ibu dan cewek berseragam SMA ini. Aku merasa aneh, karena sedari aku masuk angkot sampai sekarang dia hanya terdiam dan tertunduk kepalanya.
"Pak, turun di depan ya," ucap Ibu ke sopir angkot.
"Baik, kiri, kiri, kiri," ucap kernet angkot sambil mengetuk uang receh ke atap angkotnya.
__ADS_1
Kami pun turun duluan, aku mengucapkan kata "Mari," ke arah cewek itu. Tetapi cewek itu tetap sama, hanya terdiam tanpa merespon.
Aku turun dari angkot, jalan memasuki area pasar.
"Bu, kok ada sih orang di ajak bicara tanpa merespon sama sekali?"tanyaku.
"Memang Dedek ngajak bicara siapa tidak di respon? teman sekolah kamu?" tanya Ibu.
"Itu lho Bu, kakak yang di angkot sebelahku tadi," ucapku masih dengan melangkahkan kaki mencari barang yang mau dibeli.
"Tadi dijawab gitu lho Dek kalau baru pulang kerja," kata Ibu.
"Bukan kaka itu Bu, kakak yang ada di sebelahku itu lo Bu! kakak yang pakai seragam SMA," ucapku mencoba memperjelas.
"Mana sih Dek, wong dari awal kita cuma bertiga yang naik di angkot," kata Ibu lagi.
"Bertiga gimana sih Bu? wong tadi berempat gitu lho," kataku lagi.
Sebelum menjawab ibu berhenti di penjual ayam.
"Mang ayamnya paha aja dua kilo ya," ucap Ibu ke penjual.
Sambil menunggu ayam, ibu menjawab ucapanku.
"Emang kamu lihatnya penumpang ada 4 ya Dek? tanya Ibu.
"Iya Bu, kan di angkot ada aku, Ibu, kakak SMA sama Kakak yang diujung tadi," jawabku.
Penjual ayam memberikan dagangannya.
"Makasih Mang," ucap Ibu sambil memberikan uang ke penjual.
Kami melangkahkan kaki membeli barang lain.
"Tadi yang di lihat Dedek berarti bukan orang ," kata Ibu.
"Yang pakai seragam SMA maksud Ibu?"tanyaku.
"Iya Dek, karena Ibu tahu nya kita di dalam angkot, penumpang cuma bertiga," jawab Ibu.
"Pantes saja Bu, aku ngerasa aneh soalnya kakak yang aku tanya itu yang sebelahku, tetapi yang jawab kakak yang di ujung," kataku .
"Terus aku ngerasa aneh lagi karena kakak itu tidak meresponku sama sekali, kira-kira meninggalnya kenapa ya Bu? kok bisa nyangkut di angkot," kataku lagi.
"Kamu kira layangan Dek, pakai nyangkut segala hahaha," ucap Ibu dengan sedikit becanda.
Kami pun terus belanja, tetapi di hatiku masih banyak pertanyaan soal anak SMA itu.
"Dia meninggalnya karena apa ya? kok bisa masih di angkot? apa dia kasus pembunuhan kaya si Selvy? Apa dia korban kecelakaan angkot itu?" batinku masih bertanya-tanya.
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benakku. Hingga tak terasa barang yang dibutuhkan Ibu sudah terpenuhi.