Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Rumah Sasa


__ADS_3

POV Sasa


Beberapa kali aku tanya Papaku tentang buku ini, jawabannya selalu sama. Pernah ketika papaku baru pulang kerja aku bertanya ke beliau.


"Pa, sebenarnya buku ku di taruh mana?" tanyaku.


"Kenapa setiap hari, selalu itu saja yang kamu tanyakan, beli buku lain kan bisa," jawab Papaku dengan nada ketus.


"Tapi Pa, buku itu beda," rengek ku.


"Sudah Papa, buang!" ucap Papa lagi.


Aku seketika menatap wajahnya, rasanya ingin menangis, dadaku terasa sesak.


"Papa tidak pernah sayang sama aku, sebenarnya aku ini anak Papa dan Mama bukan sih?" tanyaku sembari menatap wajah Papa dan tak terasa air mata mengalir dari sudut mataku.


"Sasa!" ucap Papa dengan nada tinggi dan tangannya tidak di sadari nya tega menamparku.


Plaaaak!


Tangan papa berhasil menampar pipiku.


Aku pun seketika memegang pipi bekas tamparan papa. Dadaku semakin sesak, tak terasa air mataku bertambah deras mengalir.


Dan aku kembali melihat kearah papa, si matanya terlihat penyesalan karena sudah tega menamparku


Aku bergegas pergi meninggalkan Papa dan mulai menaiki anak tangga dengan berlari.


"Sasa," panggil Papa.


Aku tidak menghiraukannya, tetap berlari menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku jatuhkan tubuhku di atas sofa di dalam kamar.


Aku menangis sejadi-jadinya, di pikiranku terus bertanya-tanya, "Kenapa orang tuaku sama sekali tidak ada yang mengerti? orang tuaku tidak pernah menyayangi aku."


Tok tok tok....


Terdengar suara ketukan pintu.


"Non," Bi Asih memanggil.


Aku tidak menjawabnya.


"Non Sasa, Bibi masuk, Non," ucapnya lagi.


Aku tetap tidak meresponnya, tiba-tiba pintuku terbuka.


"Non Sasa, maaf Bibi langsung masuk saja," ucapnya sembari menghampiriku.


Aku berdiri, lalu berjalan melangkahkan kaki menuju Bi Asih.


"Bibi," kataku sembari memeluknya.


"Sabar Non," ucapnya.


"Aku ini sebenarnya anak dari mereka atau bukan, Bi?" tanyaku.


Bi Asih mengelus kepalaku sembari menjawab pertanyaan ku.

__ADS_1


"Non Sasa, tidak baik ngomong begitu terus, Non Sasa anak dari Nyonya dan Tuan," jawab Bi Asih.


"Lalu kenapa mereka tidak pernah sekalipun memperhatikan aku?" tanyaku lagi.


"Mereka sibuk Non, sebenarnya mereka sangat menyayangi Non, mungkin cara penyampaiannya berbeda dari yang lain," jawab Bibi lagi.


Aku terus memeluknya saat itu.


***


Setelah sekian lama aku mencari buku itu, ternyata hari ini aku dapat menemukannya dari tangan papaku sendiri.


Dari awal aku sudah menyangka, jika papaku memang tak benar-benar membuangnya. Tapi, apa mungkin dengan adanya kejadian kerasukan ku hari ini, orang tuaku bisa mempercayaiku?


Aku sengaja cerita panjang lebar ke keluarga teman Papa. Anaknya teman Papa walaupun lebih muda tetapi dia dapat mengerti dan mampu memahami aku.


***


Pov Keyla


Saat ini, kami semua mendengarkan kejadian-kejadian dari Kak Sasa. Tapi ini kedengaran aneh, sebelumnya aku tidak pernah tahu jika hantu sampai terus menerus meneror, apalagi makhluknya pun berbeda-beda.


"Apa ada yang sengaja mengirim makhluk itu untuk mencelakai keluarga ini?" aku bertanya-tanya dalam pikiranku.


Kak Sasa pun merasa ceritanya cukup sebatas itu.


"Aku tidak bisa menjelaskan semua hal, terlalu panjang jika aku menceritakan semuanya," ucap Kak Sasa.


"Om, pernah merasa tidak sih, kalau ini sebenarnya ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab dan sengaja mengirim makhluk tak kasat mata itu?" tanyaku ke Om Adi.


"Sampai saat ini, Om tidak pernah loh kepikiran sejauh itu," jawab Om Adi.


Om Adi terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa ini semua ulah dari Bramono?" tanya Om Adi sembari melihat istrinya.


"Sepertinya Pa," jawab istrinya.


"Tapi kita tidak boleh suudzon dulu Pak," sahut Pak Kyai.


"Bukannya kami suudzon, tetapi selama ini semua yang bersangkutan dengan Bramono pun selalu begitu, tapi dangkalnya otakku tak pernah mengetahuinya jika semua ini ulahnya," ucap Om Adi.


"Lukisan itu pun dari dia," sahut Istrinya.


"Lebih baik Bapak dan Ibu lakukan hal yang mampu menjauhkan makhluk itu dari rumah ini, tidak ada gunanya jika Ibu dan Bapak mengurusi manusianya, sesungguhnya manusia itu tempatnya iri," ucap Pak Kyai.


"Lalu bagaimana cara kita untuk menjauhkan makhluk itu Pak?" tanya Istri Om Adi.


"Pertama-tama kalian harus dapat meyakini kalau dunia mereka memang ada walupun sikap kalian bodo amat, kedua jauhkan patung-patung dan gambar Bernyawa dari rumah ini karena itu salah satu tempatnya setan untuk bersembunyi," jawab Pak kyai.


"Ketiga lakukan pengajian di rumah ini, mungkin waktu dekat ini sesering mungkin kalau perlu kalian adakan ruqyah di rumah ini, keempat itu yang terpenting dari dalam diri kalian sendiri untuk memagari tubuh kalian, yaitu dengan rajin sholat lima waktu dan baca Al'quran," ucap Pak kyai lagi.


Aku melihat Om Adi dan istrinya pun tertunduk ketika mendengar ucapan pak kyai untuk yang keempat.


"Kenapa Om, Tante?" tanyaku.


"Memang kami selama ini terlalu mengejar dunia kami, sampai-sampai lupa kewajiban kami terhadap sang Mahakuasa," ucap Om Adi.

__ADS_1


"Tidak ada kata terlambat, mulai hari ini kalian bisa memperbaikinya dan melakukannya," kata Ibuku.


"Sesibuk apapun waktumu, sempatkan menunaikan kewajiban mu, toh itu juga sebentar masih lama urusan duniamu," sahut Ayah.


"Satu lagi, rubah prinsip kalian saat ini, jika kebahagiaan anak semata wayang kalian bukan hanya soal kecukupan materi, dia sangat butuh kasih sayang, perhatian dan dukungan kalian," ucap Ayah lagi.


Aku melihat respon yang diberikan Om adi beserta istrinya. Mereka terlihat memikirkan sesuatu dan tampak kesedihan di wajahnya.


Mereka berdua melihat ke arah Kak Sasa, lalu bergegas memeluknya.


"Maafkan Papa dan Mama sayang, selama ini ternyata kami salah, kami tak pernah ada waktu untuk hanya sekedar berkumpul bersama," ucap Om Adi sembari sedikit menitikkan air mata.


"Tidak apa-apa Pa, Sasa sudah memaafkan kalian, tidak ada sedikit pun benci di hatiku walaupun terkadang aku selalu marah-marah dan bilang kalau aku benci kalian," jawab Kak Sasa.


"Kita mulai dari awal lagi dengan kebahagiaan ya Sayang," sahut Mamanya.


Kak Sasa hanya mengangguk


"Lalu kami adakan pengajian itu mulai kapan Pak?" tanya Om Adi ke Pak Kyai.


Kalau bisa secepatnya sebelum ada teror lain lagi dari makhluk-makhluk itu.


"Lebih baik kita adakan mulai besok Pa," ucap Istri Om Adi.


"Tapi, kita tidak tahu apa yang perlu di siapkan," ucap Om Adi.


"Maaf menyela, kalian kan tidak perlu mengundang banyak orang, cukup orang-orang di sekitar kalian yang terpenting doanya," sahut Ibuku.


"Kami mau kok membantu," ucap Ayah.


"Iya Pak, nanti juga bisa saya bantu membimbing baca-baca ayah suci Al'quran nya," ucap Pak Kyai.


"Alhamdulillah, baik Pak mulai besok akan kami adakan pengajian di rumah ini, mohon bantuannya ya Pak?" ucap Om Adi ke Pak kyai.


"Kamu juga beserta keluarga ke sini besok," ucap Om Adi ke Ayahku.


"Kita adakan mulai siang hari saja ya Pak, soalnya sore kan harus sholat tarawih kita di awal bulan ramadhan," ucap Pak Kyai.


"Baik Pak," Om Adi menyetujui.


Setelah itu, kami semua dari Aku, Dinar, Pak Kyai, Ayah dan Ibu mulai berpamitan untuk pulang.


***


Sembari nunggu lanjutan ceritanya, boleh dong Author menyarankan novel yang bagus untuk dibaca dari teman Author.


Yang suka genre romantis bisa chek novel ini.


Jebakan Terindah (Beautiful Trap) by: Linanda Anggen.



Sinopsis : Ansel Mahardika adalah seorang aktor dan penyanyi terkenal namun dia dijebak oleh seseorang yang tidak diketahui, dia terlibat skandal dengan artis muda wanita yang tengah naik daun Angela Rose. Akhirnya Ansel dan Angela terpaksa menikah untuk meredam skandal tersebut.


Apakah jebakan ini bisa menjadi takdir yang indah bagi mereka? Apakah mereka dapat memperbaikinya karirnya?


***

__ADS_1


Di tunggu next episodenya ya🤗🤗 Author menyayangi kalian.


__ADS_2