Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Sampai


__ADS_3

Dinar menggeliatkan badannya, secara perlahan mulai membuka mata.


"Sudah nyampek, Kak?" tanya Dinar.


"Belum, Din. Kami baru saja istirahat, di pos ronda dengan bapak-bapak yang lain. Sudah enakan badannya?" tanya Kak Andre.


"Alhamdulillah, Kak. Tapi kalau ingat, ngeri aja. Kaya melekat gitu dalam ingatanku wajah gadis itu," ujar Dinar.


"Banyak berdoa saja, biar nanti bayangan itu akan hilang dengan sendirinya. Masih larut, sebaiknya lanjutin tidurmu. Sebentar lagi sampai, nanti kakak bangunin kamu." Andre sengaja tak menceritakan itu dulu kepada Dinar. Dia hanya tak ingin, jika adik iparnya itu semakin ketakutan.


Semakin jauh mobil ini membawa mereka pergi. Gemerlap lampu kota kala malam hari, membuat hati terasa tenang. Tak ada rasa gundah seperti saat melewati jalanan hutan belantara seperti tadi.


Satu jam perjalanan kembali mereka tempuh, tetapi tak merasakan capek seperti tadi. Perjalanan lancar, hingga mereka sampai di tempat tujuan. Dinar dan Dita bangun dengan sendirinya.


"Nyampek, Yang?" tanya Kak Dita.


"Iya, Sayang. Bangun, yuk," ajak Andre.


Mereka pun turun, terlihat rumah megah berlantai dua. Cat putih yang mulai memudar dan halaman sedikit kotor karena dedaunan kering yang berjatuhan. Gelap gulita, sebab lampu di rumah ini sama sekali tak dinyalakan.  Tak ada penerangan lain, selain sorot lampu dari jalanan tepat di depan rumah mewah ini.


"Ini rumahnya?" tanya Dinar kepada kedua orang tuanya.


"Iya, Din. Bagian dalamnya sudah sedikit di bersihkan walaupun belum keseluruhan. Ayah lupa memberitahukan pemiliknya, jika kita berangkat malam ini. Sehingga kita tidak bisa langsung tidur di dalam, sebab masih banyak yang berdebu." Ayahnya menjelaskan sembari meminta pengangkut barang untuk menurunkan barang-barangnya.


"Bentar lagi pagi, kalian sementara bisa istirahat di dalam mobil saja. Biar besok, Ibu cari orang untuk bantu bersih-bersih. Yang penting barang-barangnya sudah di turunkan terlebih dahulu," sahut ibunya.


Dita dan Dinar memilih kembali ke mobil. Mereka melihat orang-orang sedang menurunkan barang-barang dari mobil. Tapi, pandangan mereka berdua tak lepas dari rumah itu.


"Rumah itu, sudah kosong lama ya, Kak? Ih, nakutin kalau ada penghuninya, gimana?" tanya Dinar.


"Kalau bersih-bersih sudah beres kita adakan syukuran, kita ngaji bareng sambil berkenalan sama tetangga baru. Nah, maka dari itu kita lakukan itu semua agar penghuni lamanya keluar. Paham adek?" tanya Dita.


"Hem, oke-oke." Dinar mengangguk-anggukkan kepala.


Dinar sibuk memainkan ponselnya sembari menemani Dita yang saat ini kembali memejamkan mata. Tak memakan waktu lama orang-orang menurunkan barang-barangnya itu, akhirnya pun selesai.


“Kami langsung pulang saja ya, Pak. Terima kasih sudah menyewa jasa dan kendaraan kami,” ujar salah satu sopir yang merupakan pemilik mobil angkutan itu.

__ADS_1


“Iya sama-sama, Pak. Terima kasih juga, maaf kalau sedikit merepotkan,” ujar Ayahnya Dinar.


“Oh iya, Pak. Saran saja, rumah baru, entah kosong lama atau baru dibangun, jangan lupa diadakan pengajian. Apalagi rumah ini terlihat sudah kosong lama, ya. Untuk anak perempuan yang sedang hamil, jangan lupa bacaan surat yasinnya, karena setahu saya bisa membuat tolak bala hal-hal yang mengancam kita terutama makhluk tak kasat mata,” saran yang lain.


“Iya, Pak. Makasih sekali lagi,” sahut ibunya Dinar.


“Kalau begitu, kami pulang terlebih dahulu. Jika memerlukan bantuan lagi, silakan hubungi nomor saya saja, Pak.” Pemilik penyewaan mobil itu.


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya menjauhi rumah itu. Sedagkan orang tua Dinar dan Andre pun duduk di teras rumah itu. Malam kian panjang, serasa waktu enggan berputar kala mata tak sanggup terpejam dan terbuai ke alam mimpi. Lelah, saat ini serasa mendera tubuh mereka karena perjalanan yang di tempuh sangat panjang apalagi di tambah gangguan tak kasat mata yang menyebalkan.


“Andre, kalau ngantuk ikut tidur Dinar dan Dita di mobil, Anak. Biarkan Ayah dan Ibu yang menjaga barang-barang in,” pinta Ibunya Dinar.


“Eh, enggak, Bu. Justru, Ibu yang wanita silakan istirahat. Ibu mungkin kelelahan karena perjalanan yang panjang tadi.” Andre malah ia dengan mertuanya.


“Sepanjang perjalanan Ibu malah tidur, Anak. Itu, Ayahmu sekarang tidur mungkin mengantuk sebab tak ada istirahat sedari pulang kerja terus berangkat lagi,” ujar ibunya Dinar.


Andre hanya tersenyum, walaupun rasa kantuk saat ini mendera tetapi beliau tak tega jika ibu mertuanya harus terjaga hingga pagi nanti. Mereka memilih mengobrol entah apa itu yang menjadi topik pembicaraan mereka.


“Oh iya, Ibu tadi bawa sedikit cemilan di mobil. Biar Ibu ambilkan,” ujar ibunya Dinar.


Saat ibu mertuanya meninggalkanya, sayup-sayup terdengar di telinganya suara anak kecil sedang berbicara namun tak jelas apa yang dikatakannya. Andre mengusap wajahnya. ‘Apa ini efek nggak tidur, ya. Telinganya dengar yang tidak-tidak. Nggak mungkin juga, anak-anak kecil jam segini belum tidur.’


“Nggak apa-apa, Bu. Bu, Ayah nggak cerita rumah ini dulu milik siapa dan sudah kosong berapa lama?” tanya Andre yang merasa penasara.


“Nggak, Ndre. Ayah hanya cerita sebatas, jika rumah ini milik saudara teman Ayah. Rumah ini, di tempati orang tua dan dua putri kecilnya. Mereka katanya harus pindah ke luar kota begitu, jadi ayah nggak tahu pasti rumah ini kosong sejak kapan. Sebab, temannya itu tak menjelaskan dengan pasti.” Ibu mertuanya menjelaskan.


“Kenapa harus di tinggalkan, ya. Rumah sebesar ini, dibiarkan kosong begitu saja,” gumam Andre.


“Nggak tahulah, Anak. Mungkin kepentingan kerjaan seperti kita gini, jadi harus pindah mendadak dan rumah itu di jual. Mungkin, tak kunjung laku, makanya rumahnya terlihat tak terurus seperti ini,” jawab ibunya.


“Iya juga ya, Bu. Kita sepertinya harus mengadakan pengajian cepat ya, Bu. Nanti kalau sudah pagi, kita beres-beres lalu secepatnya melakukan pengajian,” pinta Andre.


“Iya, Anak. Kalau nggak gara-gara lampu di rumah ini padam, mungkin Ibu sudah mulai mencicil untuk merapikannya.


Rumah keluarga Sasongko, kosong semenjak kejadian itu. Sebulan, dua bulan lampu masih nyala terang benderang, hingga tak ada iuran perbulan yang dibayarkan, pihak PLN memilih untuk memutuskan listrik di rumah itu. Ayah Dinar saat membeli rumah itu, dalam kondisi siang hari. Beliau tahu, jika listrik di sana diputus tapi, beliau memilih untuk menyalakan saat sudah benar-benar berada di rumah itu.


Rumah mewah dua lantai dengan isi rumah yang masih lengkap dan diberi harga di bawah standar penjualan, membuat ayahnya Dinar tergiur saat ditawarinya. Rumah yang dibeli seminggu yang lalu sebelum mereka melakukan pindah ke sini. Saat memantaunya, tak perlu renovasi berlebih. Mungkin hanya perlu pengecatan ulang untuk membuat rumah mewah ini terlihat semakin elegan. Cukup lama mereka mengobrol dan kadang terdiam. Aktifitas mulai terlihat, kala orang mulai berlalu lalang di jalanan. Tak sekali dua kali, setiap orang yang melewatinya menatap heran ke arah mereka.

__ADS_1


Ibunya Dinar memilih membuka pagar rumah itu kembali. Beliau membawa sapu yang telah ia bawa dari rumah tadi. Setiap orang lewat, ibunya Dinar mencoba ramah dengan mencoba menyapa mereka.


“Mari, Bu,” ujar ibunya Dinar.


“Oh iya, mari. Baru pindah, Bu?” tanya salah satu tetangganya.


“Iya, Bu.” Ibunya Dinar menjawab sembari tersenyum merekah.


“Oh iya, Bu. Mari,” ujar tetangganya lagi


Dinar dan Dita sudah kembali bangun, mereka memilih keluar dari mobil dan menghampiri ibunya.


“Bu, beberes?” tanya Dita.


“Iya, Dit. Sana jalan-jalan sama Dinar. Biar tahu lingkungan sekitar,” perintah ibunya.


Mereka pun mengiyakan ucapan ibunya. Dinar dan Ditar melangkahkan kaki menuju jalan sebelum gang masuk di sini. Cukup ramai orang berlalu lalang, saat adzan subuh akan berkumandang. Baru beberapa langkah, Dinar mengajak kakaknya kembali.


“Kembali yuk, Kak. Kita ambil mukena, ajak yang lain bergantian untuk sholat,” ajak Dinar.


“Iya, Dek,” jawab Dita.


Saat mereka kembali, ada satu orang laki-laki dan satu perempuan yang sepertinya hendak pergi ke masjid.


“Assalamualaikum. Hendak ke mana, Dek?” tanya perempuan itu.


“Balik ke rumah, Bu.” Dita menjawabnya.


“Oh, warga baru, ya? Kok kami baru lihat pagi ini?” sahut laki-laki itu.


“Iya, Pak. Ini juga baru sampai,” jawab Dita lagi.


“Oh iya, nanti kalau sudah agak terang, pergi ke rumah saya, ya. Kebetulan saya RT di sini, jadi perlu data kalian.” Bapak itu memberitahukan.


“Baik, Pak. Kalau boleh tahu, rumahnya sebelah mana?” tanya Dita.


“Ini, Dek. Yang cat berwarna merah muda,” jawab Pak RT.

__ADS_1


“Baik, Pak. Mari, nanti kami segera ke sana,” ujar Dita berpamitan.


Ketua RT dan istrinya juga kembali melanjutkan perjalanan. Mereka juga belum tahu, jika merekalah yang akan menempati rumah kosong itu saat ini.


__ADS_2