
Sesampainya di rumah Ibu Ranti dan suaminya masih tak berhenti untuk bersyukur. Suatu hal yang selama ini mereka dambakan bertahun-tahun lamanya.
"Ya Allah, Yah. Bahagia banget rasanya." Bu Dian mengelus perutnya dengan berhati-hati.
"Sama, Bu. Dijaga baik-baik, ya. Apa yang dikatakan dokter, harus kamu patuhi. Anak pertama kita," ujar suaminya.
Bu Aliya pun menganggukkan kepala sembari tak berhenti untuk selalu tersenyum.
"Yah, kalau kita buat syukuran gimana?" tanya Bu Ranti.
"Nggak perlu, Bu. Nanti kita syukuran, sekalian empat bulanannya. Gimana?" tanya suami Bu Ranti.
______
Hamil muda, Bu Ranti terus-menerus merasa mual. Saat itu, bukannya dia malah manja terhadap suaminya tetapi malah tak mau di dekati.
"Yah, jangan dekat-dekat. Aku setiap dekat Ayah mual," ujar Ibu Ranti.
Sontak setiap suaminya bingung dan mencium bau badannya sendiri.
"Kenapa, Bu? Ayah bau?" suami Bu Ranti bingung.
"Enggak sih, Yah. Tapu aku mual," ujar Bu Ranti.
"Nggak usah pakai minya wangi kali, ya. Bentar Ayah ganti baju dulu." Suami Bu Ranti bergegas mengganti pakaiannya.
Kemudian setelah itu, beliau kembali mendekat ke arah Bu Ranti.
"Ayah, dibilangin aku mual." Bu Ranti, tak bisa menahan rasa mual di perutnya, sehingga berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Bu, Ayahkan juga pengen ngajak ngobrol dedeknya. Ayah kenapa, sih?" suaminya tetap bingung.
Bu Ranti menoleh ke suaminya sembari menggelengkan kepala. Dalam hati suami Bu Ranti berkata, 'Bawaan orang ngidam, seperti ini kali, ya? Aduh.'
"Ayah duduk bawah di sini, ya."
"Pengen peluk Ayah." Bu Ranti sembari cemberut.
"Nanti mual lagi?"
Lalu Bu Ranti berjalan menuju kasurnya, beliau memilih untuk berbaring.
"Aku kenapa sih, Yah? Apa iya orang ngidam seperti ini? Nggak suka nyium bau Ayah." Bu Ranti merengkuh guling yang di dekatnya.
"Ayah juga nggak tahulah, Bu. Sabar dulu, ya. Bapak mau ke kota, titip apa?"
"Nggak usah, Yah. Cepat pulang saja, ya." Bu Ranti kembali duduk, lalu hendak mencium tangan suaminya. Namun, lagi-lagi rasa mual kembali mendera.
"Nggak udah dipaksakan, Sayang. Aku berangkat dulu," ujar suaminya, sembari melangkahkan kaki keluar kamar.
Bu Ranti pun mengekor di belakangnya. Seperti biasa, beliau mengantarkannya sampai di depan pintu gerbang. Masih pagi, terlihat segerombolan ibu-ibu berkumpul di pedagang sayur dekat rumahnya.
"Hati-hati, Yah." Bu Ranti melambaikan tangan melepas suaminya pergi ke kota.
Ibu-ibu yang berkumpul menatap gerak-gerik mereka. Seperti biasa mereka selalu menggunjing sesuatu hal yang baru buat mereka.
Saat Bu Ranti hendak kembali menuju rumahnya, tiba-tiba salah satu dari mereka memanggilnya.
"Eh, Ranti," teriak salah satu ibu-ibu.
__ADS_1
Ibu Ranti pun menoleh ke arahnya.
"Eh, iya Bu Sumi." Bu Ranti tersenyum ke arahnya.
"Dengar-dengar, kau hamil, ya?" tanya Bu Sumi tetangganya.
Bu Ranti pun mengelus perutnya, sembari tersenyum. "Iya, Bu. Jalan dua bulan ini."
"Bukannya kalian tak memiliki benih untuk punya anak?" Bu Sumi bertanya-tanya.
"Oh, mungkin yang mandul suaminya. Buktinya dia bisa hamil," sahut yang lain.
Bu Ranti tersenyum mendengar cemoohan itu, tetapi beliau tetap mencoba bersabar.
"Kalau suami saya mandul, nggak mungkin saya hamil, Bu. Mungkin baru saat ini kami diberikan rejeki," ujar Bu Ranti dengan nada lembut.
"Eh, siapa tahu benih orang lainkan bisa. Suamimu mandul, kamu yang pengen punya anak cari orang buat buahin kamu. Ih, hati-hatilah sama Ranti, suami kalian digoda, loh," cemoohan orang-orang kali ini terlalu sakit buat dia. Beliau memutuskan untuk segera berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Bu Ranti menutup pintunya, lalu menyenderkan badannya di pintu itu. 'Ya Allah, apa lagi ini? Kenapa mereka bisa-bisa berpikir seperti itu?'
Di luaran sana, mereka masih asik menggunjing Bu Ranti. Mereka benar-benar tak memiliki rasa simpati sama sekali ke Bu Ranti, tak pernah memikirkan ucapannya bisa menyakiti hati Bu Ranti itu.
"Eh, bener juga ya, Bu. Bisa aja Ranti selingkuh. Dia dari dulukan ngebet punya anak. Kasihan suaminya, ya," ujar ibu-ibu yang di sana. Namun, tak semua orang bersikap buruk ke Bu Ranti. Beberapa orang ada juga yang simpati dan hanya orang-orang tertentu yang selalu suka menggunjing seperti itu.
"Kalian ini, kalau berbicara jangan asal. Belum tentu kebenarannya itu namanya fitnah, loh. Kasihan Ranti, kalau kalian tetap seperti ini," tegur salah satu tetangga Bu Ranti.
"Eh, Bu. Lihat deh, bertahun-tahun dia nggak punya anak, loh. Kok tiba-tiba hamil, ya nggak mungkin kalau hasil dari suaminya. Dia kan mandul," ujar Bu Sumi.
"Ya Allah, Bu. Dia berikhtiar seperti apa kita kan nggak tahu. Ibu tahu kalau suaminya mandul dari mana? Mungkin baru rejeki mereka diberikan titipan," ujar tetangga Bu Ranti yang baik.
"Ya, saya juga nggak tahu, sih. Tapi dari bertahun-tahun lamanya itukan sudah jadi bukti. Ih Ibu, hati-hati suamimu bakal di goda," ujar Bu Sumi tetap kekeh dengan fitnahannya.
"Pak, berapa semua? Saya mau cepat-cepat masak. Percuma di sini, banyak dosa," ujarnya ibu itu lagi.
Bu Ranti nangis sesenggukan di dalam rumah. Wanita hamil yang dominan sensitif perasaannya, membuat dia seketika rapuh. Cemoohan mereka sudah keterlaluan. Tak pernah sedikit pun di dalam hati mereka sesekali simpati terhadap Bu Ranti. Tiba-tiba perutnya terasa keram.
Untung saja, saat bersamaan ibu yang membelanya berkunjung. Beliau tahu, jika Bu Ranti saat sensitif seperti ini pasti down mendengar ucapan Bu Sumi yang sangat menyakitkan seperti itu.
Tok! Tok!!
"Ranti."
Tak ada jawaban daru Bu Ranti membuat beliau khawatir. Beliau kembali mengetuk pintunya dan memanggil-manggil namanya berkali-kali, tetapi tetap sama tak ada sahutan sama sekali, sehingga ibu itu memutuskan untuk asal masuk di rumahnya Bu Ranti.
"Assalamualaikum." Ibu itu melihat Bu Ranti tergeletak di lantai. "Ya Allah, Ranti."
"Tolong ... tolong!" teriaknya.
Seketika orang-orang yang mendengarnya berlari menghampiri.
"Ya Allah, kenapa, Bu?" tanya salah satu tetangganya yang bernama Rizal.
Ibu-ibu yang bergerombol tadi juga ikut serta-merta berkumpul di sana. Salah satu tetangganya bernama Rizal, dia tetangga yang terdekat dengan rumah itu segera membopongnya, lalu di letakkan di sofa ruang tamu rumahnya.
"Eh, Rizal kok cekatan banget, ya. Simpati lagi, jangan-jangan Ranti selingkuh sama Rizal." Bu Sumi lagi-lagi membuat ulah.
"Di rumah saya ada minyak kayu putih. Bentar saya ambilkan." Rizal berlari menuju rumahnya.
Ibu-ibu yang baik itu bernama Heny. Beliau usianya tak jauh dengan Bu Ranti tetap lebih tua dia. Dia sosok orang yang baik, tak pernah berprasangka buruk ke orang lain. Dia salah satu orang yang selama ini membela Ranti jika segerombolan Bu Sumi menggunjingnya. Dia merasa iba, kala melihat Ranti yang selama ini baik selalu hadi bahan cemoohan.
"Ranti, bangun!" Bu Heny membantu mengipasi Bu Ranti menggunakan kertas yang kebetulan ada di mejanya.
__ADS_1
Saat itu, Rizal dengan cepat kembali mendatangi Bu Heni dan memberikan minyak kayu putih itu kepadanya.
"Zal, tolong ambilkan air, ya." Bu Heni meminta Rizal, tentunya dia bergegas pergi sesuai perintah. Rizal pun masuk ke dapurnya dan mengambilkan segelas air putih.
Tak berselang lama, akhirnya Bu Ranti bangun. melihat orang-orang sudah berkumpul di dalam rumahnya.
"Bu Heny." Suara Bu Ranti serak, dia berusaha untuk bangun dari sofa.
"Pelan-pelan, minum dulu." Bu Heny memberikan air putih untuk ditengguknya.
"Maaf merepotkan," ujar Bu Ranti.
"Enggak kok, Ranti. Dibuat tiduran saja," suruh Bu Heny.
"Mbak Ranti, ada yang sakit? Saya antarkan ke rumah sakit, ya? Atau saya telepon suami Mbak?" ujar Rizal.
Bu Sumi pun menyeringai kala mendengar Rizal tampak perhatian seperti itu. "Lihat, Rizal seperhatian itu ke dia. Benerkan ucapanku, pasti mereka selingkuh."
"Nggak usah, Zal. Makasih, ini sudah mendingan, kok," jawab Bu Ranti.
Bu Heny pun melihat gerak-gerik Bu Sumi dan segerombolannya. Beliau menduga juga dia menggunjing Ranti saat keadaannya seperti ini.
"Bu Sumi, kalau sudah nggak berkepentingan mending pulang saja. Kasihan suaminya menunggu makannya," usir Bu Heny.
"Ih, ini juga mau pergi. Takut ketularan dosa, sama orang yang suka selingkuh." Bu Sumi sembari mengajak yang lain pergi.
Bu Heny pun menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan mereka yang suka sekali berbicara buruk ke orang lain.
"Astagfirullah. Orang kok bebalnya seperti itu," ujar Bu Heny dengan lirih.
Terlihat Bu Ranti kembali menitikkan air mata. Rasa sakit yang tadi sudah mulai pudar, saat ini terasa tersayat kembali.
"Mbak, ada yang sakit lagi? Saya antarkan ke rumah sakit, biar diantar Bu Heny juga," ujar Rizal.
"Ranti, jangan dengarkan mereka. Anggap aja mereka hanya angin lalu. Kasihan janinmu, jika ucapannya kamu hiraukan. Takutnya berefek dengan kamu, masih usia muda sangat rentan." Bu Heny mencoba menasehati. Bu Ranti saat itu memilih menceritakan semua ke beliau. Usahanya untuk bisa mengandung, bahkan karena ceemoohan itu beliau juga ikut apa yang mereka katakan. Bahkan pernah, beliau hampir bunuh diri karena merasa jadi wanita yang tak sempurna yang pernah dikatakan Ibu Sumi waktu lalu.
Pernah suatu ketika, saat mereka berkumpul belanja mengatakan jika Bu Ranti bukan wanita sempurna karena tak bisa hamil. Hal itu berkali-kali ia dengar, tak pernah sekalipun mempunyai pikiran untuk membalasnya. Tapi entah kenapa mereka tak sekalipun merasa kasihan kepadanya. Bahkan terparah pagi tadi, hingga beliau difitnah selingkuh untuk bisa hamil seperti ini.
"Ya Allah, Mbak. Sabar, ya. Nggak usah didengarkan," ujar Rizal.
"Kadang aku mikir, punya salah apa aku ke mereka? Aku tak kunjung mengandung, mereka cemooh dengan julukan wanita mandul. Saat aku hamil, mereka malah seenaknya bilang kalau saya selingkuh. Kurang sabar apa aku selama ini?" ujar Bu Ranti.
"Sabar ya, Ranti. Pikiran mereka dangkal, sehingga apapun yang kita lalui pasti jadi bahan omongan mereka. Yakinlah, tuhan menyayangimu, sehingga memberikan cobaan melalui tetangga yang suka ikut campur. Sekarang apa yang kamu rasakan? Biar kami antar ke rumah sakit." Bu Heny tampak sangat simpati ke beliau.
"Nggak ada, Bu. Tadi keram sedikit, tapi sekarang sudah enakkan, kok. Makasih sudah mendengar keluh kesahku," ujar Bu Ranti.
"Ya sudah, saya pulang dulu, ya." Bu Heny beranjak dari tempat duduknya. "Rizal, ayo pergi. Bukan apa-apa, takut jadi bahan omongan kalau kamu tetap di sini. Kasihan Ranti."
"Baik, Bu." Rizal pun mengekor di belakang Bu Heny untuk pergi.
Kepergian mereka, membuat Bu Ranti merasa bersyukur sebab masih ada orang yang baik dan bersimpati kepadanya. Saat yang lain berlomba-lomba untuk menjatuhkannya, berbeda dengan Bu Heny yang sejak awal selalu membelanya. 'Terima kasih, Ya Allah. Saat yang lain membuatku down, tetapi Bu Heny bersikap sebaliknya. Justru beliau memberikan semangat kepadaku. Jaga dia, muliakan hidupnya, Ya Allah.'
Ponsel Bu Ranti di atas meja kamar pun berdering. Beliau segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Halo, Yah," ujar Bu Ranti.
"Bu, perasaan Ayah nggak enak. Ibu nggak apa-apa, kan?" tanya suaminya dari seberang telepon.
"Enggak, kok. Ayah hati-hati saja. Ibu Di rumah baik-baik saja," jawabnya mencoba menutupi hal yang terjadi.
__ADS_1
"Oh, iya Bu. Kalau ada apa-apa segera hubungi Ayah." Suami Bu Ranti setelah itu memutuskan panggilannya. Bu Ranti pun duduk di pinggiran kasur, sembari menatap ke arah luar jendela. Beliau masih melihat beberapa orang bergerombol di sana dan sesekali menatap ke arah rumahnya.
"Ya Allah, Bu Sumi. Kamu yang janda dari dulu, tak pernah sekalipun aku berniat untuk menjelekkanmu, kenapa aku yang jelas-jelas bersuami menjadi bahan omonganmh? Apa sih, yang buat kamu seperti itu?" guman Bu Ranti.