
Saat ini aku pun sendirian, ayah mengantarkan keluargaku ke depan rumah sakit, sedangkan ibu pergi untuk mandi. Tak ada lagi teman untuk bicara kala aku sendiri, yang biasanya ada Esther yang selalu cerewet.
Entah kenapa saat ini aku sangat merasa kehilangan, padahal sebelum itu Esther sudah kerap kali menghilang kala aku benar-benar membutuhkannya.
"Mungkin ini akal-akalan Esteh, deh. Bentar lagi juga muncul panggil-panggil namaku. Kaya gini, halo Keyla aku datang," aku mengoceh sendirian.
Dalam hatiku sebenarnya terasa ada yang kurang kala tak ada Esther. Hantu centil, cantik dan tak pernah jahat sekalipun terhadapku. Bahkan dia selalu membantuku.
Hening melingkupi seluruh ruangan ini. Tak tahu aku harus bagaimana, tiba-tiba terdengar suara pintu yang berderit. Pintu seperti akan terbuka.
Dag dig dug!
Jantungku berdetak lebih cepat, takut jika makhluk jahat itu datang lagi ketika senja mulai menampakan bias indahnya.
Krett!
Pintu pun terbuka, terlihat sosok manusia yang sedari tadi aku tunggu. Dia adalah Stevia, aku cukup tertarik dengan kisah hidupnya. Entah kenapa keberaniannya membuat aku cukup tertarik dengan dia.
"Hai, Keyla," ujar Stevia, dia melemparkan senyumannya ke arahku.
Lalu dia celingukan ke kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu yang tak tampak di depan matanya.
"Hai, Pia. Cari apa?" tanyaku mencoba menegurnya.
"Oh, iya. Maaf ya sudah nggak sopan, ngomong-ngomong orang tuamu mana? Kok kamu sendirian?" tanya Stevia.
Ternyata si Stevia mencoba mencari ayah dan ibuku.
"Tenang saja, sini masuk." Suruhku.
Dia berjalan dan kembali menutup pintu ruangan ini, namun di belakangnya aku melihat sosok makhluk tinggi dan bermulut lebar berjalan di belakangnya. Sontak aku terperangah dibuatnya.
"Belakangmu?" ucapku.
Dia berhenti dan menoleh ke arah makhluk di belakangnya, setelah itu tanpa banyak kata dia berjalan lagi. Saat berada di dekatku, dia segera duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
"Dia temanku," ucap Stevia.
Lagi-lagi aku terperangah dibuatnya, sebab dulu teman gaibku nggak semenakutkan ini.
"Mana Ayah dan Ibumu?" tanya Stevia lagi.
"Ayah lagi ke depan dan Ibu lagi mandi. Kamu baru ke sini?" tanyaku.
"Iya, aku tadi sekolah dulu makanya baru ke sini," jawab Stevia.
Selama Stevia berada di sini, aku mencoba bertanya-tanya apa yang menjadi pertanyaanku sejak semalam. Aku ingin tahu, bagaimana si Stevia bisa berani banget menghadapi makhluk itu.
"Ini kue, tadi dibawain bunda buat kamu," ujarnya.
"Kok bisa?" tanyaku.
Aku heran, kenapa orang tuanya bisa tahu. Apa mungkin dia bercerita kejadian semalam ke orang tuanya? Dan dia pun bercerita, jika memang dia semalam sehabis dari sini, bergegas memberitahu ibunya.
"Pia." Panggilku.
Dia yang sedang asik membuka kue, saat ini melihat ke arahku kala aku panggil.
"Iya," jawabnya.
__ADS_1
Aku kembali terdiam, sebab aku ragu bertanya lebih jauh. Soalnya aku baru kenal dengannya, takut lancang jika tahu tentang hidupnya.
"Nggak jadi, deh," ucapku.
____________
Tak berselang lama, ayah pun datang. Beliau membawa sesuatu di tangannya, mungkin makanan yang baru dibeli ayah.
"Eh, ada tamu. Pia sudah makan? Ini Om membawa makanan," ujar ayah.
Stevia tidak langsung menjawabnya, namun dia bergegas berdiri lalu mencium tangan ayah.
"Makasih Om, saya udah makan. Oh iya, saya ke sini mengantarkan kue buatan bunda untuk kalian," ucap Stevia memberitahu.
Stevia menyerahkan bungkusan plastik yang sedari tadi dibawanya dan berusah dibukanya untukku.
"Eh, makasih loh. Kok jadi ngrepotin," ujar ayah.
Stevia hanya tersenyum.
"Oh iya, Pia bisa melihat hantu kaya Keyla?" tanya ayah.
"Bisa Om, kebetulan juga ayahky memliki kemampuan yang sama," jawabnya.
"Oh, pantes kamu pemberani," ujar ayah.
Saat itu juga ibu keluar dari kamar mandi dan melihat kami sudah ramai di sini.
"Loh, ada tamu," ujar ibu.
Saat itu juga si Stevia kembali berdiri dan berjalan menghampiri ibu. Dia berjabat tangan dan mencium tangan ibu. Ternyata selain pemberani, si Stevia anak yang sopan.
Dia memang terlihat judes kalau belum pernah kenal, namun sedikit tahu aja kalau dia sebenarnya anak yang baik dan cukup ramah.
Mereka berdua berjalan kembali ke arah tempat tidurku, lalu duduk di kasur yang saat ini di siapkan ayah.
"Mari duduk, maaf ya Pia kamarnya berantakan," ujar ayah.
Pia lagi-lagi tersenyum sembari berkata, "Tidak apa-apa Om," jawabnya.
Saat Stevia asik berbincang ke ayah dan ibu, entah kenapa pandanganku selalu kemakhluk yang dibawanya. Memang rada takut kala melihatnya, namun lagi-lagi rasa penasaranku lebih besar dari segalanya.
"Pia, dia selalu ikut kamu?" tanyaku penasaran.
Dan saat itu juga, tanganku menunjuk ke arah makhluk yang dibawa Stevia.
"Dia? Iya, dia selalu ikut ke mana pun aku pergi," jawab Stevia.
Orang tuaku terlihat bingung dengan percakapan kami.
"Dia siapa?" sahut ayah.
Kami terdiam dan saling bertatap mata.
"Temanku, Om," jawab Stevia.
Ayah saat ini malah menatapku.
"Seperti Esteh ya, Dek?" tanya ayah.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayah yang dilontarkannya.
"Esteh?" pertanyaan Stevia.
Namun ucapanku, mungkin membuat dia bertanya-tanya.
"Oh iya, dia teman gaibku," jawabku.
Setelah menjawab, malah membuat Stebia kembali celingukkan.
"Di mana? Kok nggak muncul?" tanya Stevia.
Aku terdiam enggan menjawab pertanyaanya.
"Kenapa? Kok diam," ucap Stevia.
"Dia pergi," jawabku.
Jawabanku hanya singkat, sebab Esther memang saat ini pergi. Aku merasa Esther tak benar-benar ingin berteman denganku.
"Kok pergi?" tanya Stevia.
"Entahlah, dia berpamitan dan tubuhnya memudar saat itu juga," jawabku lagi.
Namun saat ucapanku itu, si Stevia hanya terdiam seperti menaruh pertanyaan namun enggan diutarakan.
"Ayah mandi dulu, ya. Pia, Om tinggal dulu," ucap ayah.
"Oh, iya Om," jawabnya.
Ibu membukakan kue yang dibawa Stevia tadi dan membuka beberapa makanan dari keluargaku yang dari Kota Malang sebelumnya, lalu disuguhkan ke Stevia.
"Eh, kok jadi ngrepotin Tante," ujarnya.
"Enggak, mari dimakan," ucap ibu mempersilahkan, sembari tersenyum ramah ke Stevia.
Stevia pun bergegas mengambil makanan yang disuguhkan, mungkin itu cara dia untuk menghargai.
"Pia, bisa lihat hantu seperti Keyla?" tanya ibu.
"Iya, Tante," jawab Stevia.
"Kata Keyla, kamu pemberani. Pagi tadi, Keyla banyak cerita tentang kamu, makasih ya sudah nolongin anak Tante," ujar ibu.
Stevia kembali tersenyum, lalu melihat ke arahku.
"Sama-sama, Tante. Memang sepantasnya saya membantu, sebab mereka mencoba menyakiti manusia yang sedang sakit," jawab Stevia.
Sejenak kami terdiam, aku mau bertanya pun segan.
"Kamu dari kecil bisa?" tanya ibu.
Sebelum Stevia menjawab, aku ingin menyuruh Stevia cerita sedikit tentang pengalaman memiliki kemampuan itu.
"Pia, cerita dong," ucapku.
"Cerita apa?" tanya Stevia.
"Ehm, cerita sedikit tentang kamu dan kemampuanmu, tapi itu jika kamu mau sih," ucapku.
__ADS_1
Stevia lagi-lagi hanya tersenyum.
Bersambung ....