
Makhluk itu berhasil memegang tanganku, terasa sedingin es kala dipegangnya.
"Pergi!" teriakku.
Terasa semakin erat genggaman makhluk itu, hingga terasa sakit di pergelangan tanganku.
"Ibu." Aku lagi-lagi mencoba membangunkannya.
"Haha haha haha." Suara tawa makhluk itu terdengar jelas.
Dengan mata tertutup aku tak tahu, ibu dan ayah dapat mendengar ucapanku atau tidak. Namun nyatanya mereka tak merespon teriakanku sama sekali.
"Pergi!" teriakku kembali.
"Ha ha ha, mereka tak akan pernah mendengar ucapanmu. Aku buat suaramu tak terdengar satu orang pun di bangunan ini," ucapnya dengan suara lantang.
Aku menghela napas yang terburu sejak kedatangan makhluk itu.
"Lantas mau mu apa?" tanyaku.
Semakin erat tanganku digengamnya. Sakit teramat sakit yang aku rasakan, seakan-akan tanganku ingin patah kala dicengkeramnya.
"Aku suka aura-mu yang terpancar. Aku ingin memilikinya, agar semua patuh terhadapku," ucapnya
Aku memberanikan diri untuk mencoba membuka mataku, perlahan namun rasa ragu kembali menyerangku. Aku takut makhluk itu tepat di depan mataku.
Aku memutuskan untuk menutup erat mataku. Namun hantu itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau punya kehebatan ternyata pecundang," ujar setan itu.
"Hahaha, aku tak pecundang seperti kamu. Kau hanya menggoda saat keadaan kami lemah, dasar pecundang!" ucapku dengan ketus.
Namun ucapanku membuat hantu itu semakin murka. Tanganku semakin erat di genggam dan wajahku saat ini terasa diraihnya juga.
Tangan yang besar, dingin dan kasar mengelus wajahku. Tangan itu memutar, mulai pipi kanan, lalu ke dagu, lanjut pipi kiri dan saat ini berhenti tepat di tengah-tengah keningku.
Tangan kasar itu terasa menekan keningku.
"Apa yang kau lakukan! Dasar makhluk pecundang!" hardikku.
Namun sepertinya ucapanku membuat dia semakin murka, tangan itu ditekan seakan-akan mencoba menembus keningku. Saat ini terasa sakit keningku.
"Berhenti!" terdengar teriakan dari arah luar ruangan ini.
Tangan kasar itu saat ini sudah tak memegang keningku lagi, tetapi genggamannya masih terasa namun semakin lemah. Saat itu juga aku memberanikan diri untuk membuka mataku.
Terlihat gadis kecil, mungkin seusiaku namun dia terlihat sadis di wajahnya.
(Sumber: Pinterest)
"Hahaha, anak yang memiliki kemampuan sama. Malam yang menguntungkan buatku, santapan yang lezat untukku," ucap makhluk itu dengan suara lantang.
"Dasar makhluk lemah! Beraninya kau mengganggu manusia yang tidak berdaya. Pergi!" gertak gadis itu.
__ADS_1
Makhluk itu dengan cepat melesat ke arah gadis itu, dengan tangan posisi seperti hendak mencekiknya.
"Awas!" teriakku.
Namun sepertinya, insting gadis ini sangat kuat. Sehingga saat makhluk itu akan menyentuhnya, dia dapat mengelak.
Aku melihat gadis itu tersenyum sinis ke makhluk itu saat dia berhasil mengelak serangannya.
"Sial*an, manusia licik!" hardik makhluk itu.
"Hahahaha." Gadis kecil itu hanya tertawa.
Setelah itu dia diam dan menatap makhluk itu dengan tajam. Tak terlihat rasa takut di wajah gadis itu, padahal makhluk itu terlihat menyeramkan bagiku.
"Kau harus mati!" ujar makhluk itu.
Gadis itu semakin lebar membuka matanya.
"Kau yang mati!" balas gadis itu.
Lagi-lagi makhluk itu dengan cepat kembali melesat, namun saat ini gadis itu tak mencoba mengelaknya. Tangan makhluk itu berhasil memegang lehernya, tetapi gadis itu hanya tertawa terbahak-bahak.
"Lemah!" seru gadis itu.
Terlihat semakin erat tangan makhluk itu mencengkeram, sehingga suara gadis itu terdengar tersendat. Tiba-tiba, dengan cepat makhluk itu terbawa pergi makhluk yang tak kalah tinggi dan besar.
(Sumber: Pinterest)
Gadis itu, lagi-lagi tersenyum sinis ke arah kedua makhluk yang mengerikan itu.
"Habisi dia," ujar gadis kecil itu.
Dan aku melihat makhluk bermulut lebar itu mengangguk, sembari melesat dengan cepat membawa makhluk yang mencoba menyerangku pergi jauh, hingga tak terlihat lagi.
Gadis itu masih berdiri dan terpaku menatap kepergian kedua makhluk itu, setelah itu berbalik arah melihatku.
Dia tersenyum, namun senyimnya saat melihatku terlihat manis, cantik dan terlihat ramah. Ekspresi wajahnya berbeda dengan tadi saat melihat mereka.
Gadis itu, melangkah menghampiri. Tidak lupa dia menutup pintu yang terbuka oleh makhluk tadi.
"Halo." Ucapnya.
Ucapannya yang lembut, tak mencerminkan dia jahat.
"Halo, makasih ya," ucapku.
"Iya sama-sama, kamu nggak apa-apakan? Apa ada yang sakit karena ulah makhluk itu?" tanya dia.
"Iya, tanganku," ucapku sembari memperlihatkan tanganku ke arahnya.
Dia menyibak lengan bajuku yang panjang, terlihat memar di pergelangan tanganku saat ini. Dia perlahan mengelus tanganku dengan lembut, tangan yang semula terasa sakit saat ini sudah hilang rasa sakit itu. Namun bekas memar itu masih terlihat di sana, dia melepas tanganku.
"Kamu ...." ucapku menggantung.
__ADS_1
Dia menatapku, lalu tersenyum kembali.
"Yupz ... kita sama," jawabnya.
"Oh, iya. Namaku Keyla, kamu siapa?" tanyaku.
"Aku Stevia, panggil saja pia. Kamu sakit apa?" tanya dia.
Aku terdiam sebentar sebelum menjawabnya. Dia kembali mencoba memegang tanganku, dia terpejam lalu kembali membuka matanya.
"Kamu kecelakaan?" tanya dia mencoba memastikan.
"Iya," jawabku.
Aku tahu dia memiliki kemampuan yang sama, sehingga dia mampu melihat kilas balik ceritaku.
Mungkin saat ini ayah dan ibuku sudah mampu mendengarnya, sehingga mereka beranjak dari tempat tidurnya.
"Eh, ada tamu malam-malam. Maaf kami tidak tahu," ucap ibu sembari bersalaman.
Setelah itu ayah pun tersenyum ke Stevia, sembari bersalaman.
"Enggak apa-apa Tante, Om," ujar Stevia.
"Ada apa ya, Dek?" tanya ayah.
Aku melihat ke arah Stevia dan dia pun sebaliknya.
"Anu Om, tadi kebetulan aku lagi jalan-jalan cari angin dan tadi aku melihat pintunya terbuka, jadi aku bantu nutup. Kebetulan Keyla juga lagi nggak tidur, jadi aku menghampirinya," ujar Stevia memberi alasan.
Aku kembali tersenyum saat mendengar Stevia memberi alasan, mungkin itu cara dia tak ingin membuat orang tuaku khawatir.
"Iya, Yah, Bu. Kenalin dia Pia." Aku memperkenalkan Stevia ke orang tuaku.
"Salam kenal ya, Pia. Oh iya, kamu ada keluarga yang sakit?" tanya ibu.
"Iya, Tante. Nenekku sakit, kebetulan hari ini aku datang untuk menjenguknya. Keyla, masih sekolah?" tanya Stevia.
Ayah dan ibu mereka secara bersamaan menatapku.
"Masih, saat ini dia kelas tiga SMP. Tetapi karena musibah ini sehingga dia belum bisa bersekolah," sahut ayah.
"Kamu kelas berapa?" tanya ibu.
"Sama seperti Keyla, Tante," jawab Stevia.
Stevia terlihat melirik jam dinding yang terpasang. Aku pun mengikutinya, jam baru menunjukan pukul 23:45 WIB.
"Om, Tante, Keyla, aku pamit dulu, ya. Takutnya nanti Ayah dan Bundaku mencari keberadaanku," ucap Stevia, sembari kembali bersalaman ke kami secara bergantian.
"Besok ke sini lagi, ya. Itu pun kalau kamu mau dan belum pulang," ujarku.
Stevia tersenyum.
"Oke siap, jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa berdoa," ucapnya sembari melangkah menuju pintu.
__ADS_1
Bersambung ....