Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Wulan (3)


__ADS_3

Wanita itu pun menoleh, benar saja dia itu memang Tante Rasni. Aku bingung beliau sedang apa di sana, dia terlihat menyapu dan membawa tikar kecil.


Aku menghampiri karena merasa penasaran dengan Tante Rasni.


"Tante, sedang apa? Udaranya dingin, masuk yuk. Takut nanti masuk angin," ujarku dengan perlahan.


Beliau menatapku dengan mata berbinar.


"Mas Anton, ajak aku ke sini. Tapi kamu datang merusak semuanya, kamu pergi!" ucapnya dengan nada ketus.


Aku semakin panik dengan keadaan Tante Rasni yang seperti ini. Aku juga berpikir ada baiknya dengan usulan yang di berikan ibu-ibu yang ada di penjual sayuran tadi.


Aku takut terlambat mendapatkan penanganan dari dokter dan Tante Rasni tak dapat di sembuhkan. Aku pun menggandeng Tante Rasni untuk masuk ke dalam.


"Ayo, Tante." Aku menarik tangan Tante Rasni.


"Aku nggak mau, aku mau nunggu Mas Anton. Wulan pergi saja," celetuk Tante Rasni.


"Tante, Om sudah pergi. Doakan semoga tenang ya, Tante jangan seperti ini." Ujarku tanpa ku sadari, aku meneteskan air mata.


Tanganku pun dihempaskan oleh tante, sampai tubuhku terhuyung hendak terjatuh.


"Pergi!" teriak Tante Rasni dengan histeris.


Aku bingung dengan cara apa lagi untuk membujuknya, sebab semakin aku memaksa semakin Tante Rasni berteriak lebih kencang. Aku takut tetangga bakal mendengar dan menjadi bahan omongan.


"Tante, kita masuk dulu, yuk. Tante istirahat atau mandi dulu, nanti biar ketemu Om Anton sudah cantik," ujarku mencoba mencari alasan, walaupun dengan cara yang begitu salah.


Awalnya penolakan dan teriakan yang aku terima, namun karena bujukanku itu beliau menuruti kemauanku.


Senyum Tante Rasni pun merekah, lalu berjalan dengan menggandeng tanganku menuju ke dalam rumah. Aku mengantarkannya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan aku segera memasak agar ada makanan untuk sarapan nanti.


Aku memotong-motong bahan yang akan aku gunakan, tak berselang lama terlihat tante keluar sembari membawa handuk dan pakaiannya. Aku melihat beliau mendekati aku.


"Tante, mau mandi?" tanyaku.


"Iya, kamu masak apa?" tanya Tante Rasni.


Aku memperlihatkan bahan-bahan untuk aku masak sayur asem dan pepes ikan tongkol.


"Sayur asem dan pepes ikan tongkol, Tante," ujarku memberitahu.

__ADS_1


"Kesukaan Mas Anton itu, aku bantu masak, ya?" tanya tante dengan penuh semangat.


Aku menatapnya lalu tersenyum.


"Silahkan, Tante. Dengan senang hati," ujarku.


Saat ini aku tak nampak kesedihan atau amarah apapun dari Tante Rasni. Aku melihat Tante Rasni seperti biasanya.


"Tante mau masak yang mana? Pepes atau sayur?" tanyaku.


Tante Rasni mengambil beberapa sayuran, lalu dia cuci dulu.


"Biar saya saja yang memasak, kamu bantu potong-potong saja, ya," ujar Tante Rasni seperti tak pernah ada kabar duka seperti sebelumnya.


Aku pun tersenyum melihat kondisi tante yang berubah drastis, aku hanya berpikir mungkin tante sudah bisa menerima semuanya. Aku pun memutuskan tak jadi menghubungi ayah dan ibuku untuk mengajaknya berobat.


Acara masak-masak pun selesai, Tante Rasni menyiapkan makanan ke meja makan. Kemudian beliau kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Sedangkan aku, memutuskan untuk menyapu halaman depan rumah terlebih dahulu.


Tetangga Tante Rasni saling bertegur sapa kala melihatku. Rumahku pun sebenarnya tidak terlalu jauh dari sini, hanya berbeda desa saja. Namun kebiasaanku dari dulu mengajar mengaji di desa ini sehingga aku cukup kenal baik dengan orang sekitar sini.


Aktivitas mengajarku pun dulu aku lakukan semenjak aku masih di bangku SMA hingga saat ini usiaku sudah berusia dua puluh tahun.


"Wulan." Terdengar suara Tante Rasni memanggil.


Aku melihat Tante Rasni berpakaian rapi dan mengenakan riasan di wajahnya. Aku memutuskan untuk menghampirinya.


"Tante, mau ke mana?" tanyaku.


"Kan nunggu Om Antonmu pulang," jawabnya.


Aku pun menggandeng tante untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tingkah lakunya seperti halnya biasa saja, namun kenapa pikirannya masih tetap sama?


"Tante, ikhlasin Om Anton. Kasian beliau kalau Tante seperti ini," ujarku.


Tante Rasni malah menatapku dengan tajam. Lalu tangannya dengan spontan menampar pipiku. Beliau kembali berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Aku pun tak ingin larut dengan kesedihan yang di sebabkan tamparan ini, aku memutuskan untuk segera mencuci beberapa bajuku dan baju tante yang kotor.


Sejak kejadian tadi, aku pun tak lagi melihat Tante Rasni keluar kamar. Aku melihat jam sudah menunjukan pukul 07.30. Aku kembali ke dapur untuk melihat makanan sudah di santapnya atau belom.


Ternyata makanan pun belom tersentuh sama sekali. Aku berinisiatif untuk mengajak Tante Rasni untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Tante, makan dulu, yuk. Biar perutnya nggak sakit," ujarku.


Namun tak ada jawaban darinya, aku mencoba membuka pintunya dan ternyata pintunya tak terkunci.


Aku mendapati Tante Rasni sedang bersimpuh di sudut kamarnya. Beliau terlihat terisak dan menangis. Aku bergegas untuk menghampirinya, aku ingin menenangkannya.


"Tante, jangan menangis. Ingat kami yang selalu menyayangimu, semangat untuk hidup Tante yang selanjutnya," ujarku sembari memeluknya.


Beliau pun memelukku ganti, isak tangis terus terdengar dari mulutnya. Aku pun sontak menangis karena duka masih begitu terasa melekat dengan kami.


"Kenapa kamu selalu bilang Om mu meninggal, aku yang jelas-jelas masih melihatnya tersayat dengan ucapanmu," celetuk Tante Rasni.


Aku melepas pelukannya langsung menatap mata Tante Rasni dengan seksama.


"Maksudnya gimana, Tante?" tanyaku yang bingung dengan ucapan Tante Rasni.


"Om mu masih datang, lalu kemudian pergi saat kamu mendekati kami," jawab tante.


Aku mengernyitkan dahiku karena merasa bingung dengan apa yang diucapkannya. Aku tak ingin menambah kesedihannya sehingga aku tak menjawab apapun dari ucapannya.


Aku mengajaknya berdiri, menuju meja makan. Kami menyantap makanan yang tadi sudah di masak tante. Setelah makan selesai aku mengajaknya bersantai di depan televisi.


Cukup lama kami menonton televisi, walaupun tak ada satu kata pun yang terucap daei mulut kami berdua.


Tok tok tok!


"Kak Wulan." Terdengar suara anak kecil memanggilku.


Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas membuka pintunya. Terlihat dua anak gadis kecil yang berdiri di sana. Mereka Gisela dan Salwa, mereka salah satu muridku saat mengaji.


"Iya, ada apa Isel sama Salwa panggil, Kakak?" tanyaku ke mereka.


Aku sudah biasa memanggil Gisela dengan panggilan Isel.


"Sama Mama suruh ngajarin les kami berdua, Kak," jawab Salwa dengan bahasa yang polos.


Aku tersenyum kala mendengarnya. Terlihat Isel menepuk bahu Salwa saat melihatku tertawa.


"Di suruh ngelesin kami, Kak," Isel mencoba menjelaskan.

__ADS_1


Aku mengelus kepala kedua gadis kecil itu dengan lembut.


Bersambung ....


__ADS_2