
Makhluk yang mencengkeramku pun menoleh. Tapi, aku masih belum bisa melihat siapa yang berteriak hingga mampu mengalihkan si kunti merah ini.
Kunti ini melesat dengan cepat menghampiri. Dengan cepat kunti merah ini mencengkeram gadis itu hingga melayang di dalam ruanganku.
Ternyata gadis itu adalah Pia, dia kembali. Namun saat ini tak kutemui tante hantu berada di sampingnya.
"Pia." Teriakku.
Dan saat itu pula dari arah berlawanan, aku melihat tante hantu melesat menghampiri. Mencoba menyelamatkan Pia.
Namun saat tante hantu berhasil membawa kunti merah pergi si Pia jatuh dari genggamannya, untung saja dengan cepat seorang pria paruh baya menangkapnya.
dag dig dug ....
Suara jantungku berdetak lebih kencang saat melihat si Pia terjatuh.
"Alhamdulillah." Ujarku saat melihat pria itu berhasil menangkap Pia.
"Kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya pria itu ke Pia.
Pia tersenyum, lalu turun dari gendongan pria itu.
"Nggak apa-apa, Yah," jawabnya.
Lalu setelah itu, dari arah pintu terlihat seorang wanita juga menghampiri.
"Kenapa, Yah? Ada apa?" tanya wanita itu.
"Nggak apa-apa, Bun. Ayo sini aku kenalkan ke teman baruku," ajak Pia.
Kemudian mereka berjalan bersamaan menuju ke arahku. Aku perlahan duduk, menyalami mereka satu persatu.
"Keyla," ucapku memperkenalkan diri saat bersalaman kepada kedua orang yang baru datang ke sini.
"Ini Ayah dan Bundaku," ucap Pia.
Aku nggak tahu harus bicara seperti apa, sehingga aku hanya melemparkan senyumanku.
"Keyla sakit apa, Nak?" tanya Bunda Stevia.
"Aku kecelakaan, Tante. Koma beberapa minggu sehingga sarafku nggak terlalu berfungsi dengan baik saat ini," jelasku.
Bunda Stevia bergegas menghampiriku, lalu mengelus kepalaku dengan lembut. Terlihat orang yang begitu sabar dan perhatian kala melihat raut wajah kalem Bunda Stevia.
"Ayah sama ibumu mana?" tanya Pia.
"Ibu masih mandi, kalau Ayah tadi jemput Nenekku. Mungkin bentar lagi sudah kembali ke sini," ucapku.
Baru saja berkata seperti itu, benar saja ayahku sudah berada di depan pintu ruanganku.
"Eh, ada tamu," ucap ayah.
__ADS_1
Sontak mereka bertiga mendengar ucapan ayah langsung menoleh. Saat ini, ayah kembali dengan nenekku.
Mereka saling bersalaman secara bergantian. Lalu ayah dengan cepat membuka kembali gulungan kasur lantai yang sudah dilipat tadi.
"Silahkan duduk," ucap ayah.
Mereka segera duduk, kecuali nenekku. Beliau tersenyum lalu memelukku.
"Keyla sudah bisa duduk ya, Nak. Alhamdulillah, doa kita semua dikabulkan sang maha pencipta," ujar nenek.
"Iya, Nek," jawabku dengan singkat.
"Buat berbaring ya kalau capek. Jangan terlalu di paksa, pelan-pelan dulu yang penting sudah bisa," tegur nenekku.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Aku berbaring seperti anjuran nenekku, aku tak ingin memaksakan tubuhku untuk bergerak lebih.
Tak berselang lama, ibu pun datang menghampiri. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Sore itu kita lalui dengan kebersamaan dengan orang-orang yang baru kami kenal, namun terasa cepat akrab.
Mereka di sini hingga larut malam, mereka sengaja membawa makanan yang di masak oleh Bunda Stevia juga. Sedangkan malam ini, kebetulan dari keluarga Stevia yang lain sedang datang untuk menjenguk neneknya. Sehingga Stevia bersama kedua orang tuanya bisa menjengukku lebih lama.
Stevia beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekatiku.
"Keyla," panggil Stevia.
"Iya, Pia," jawabku.
Dia membawa dua kalung liontin kembar, salah satunya dia berikan kepadaku.
"Untuk kamu," ucapnya.
"Untukku?" tanyaku.
Aku merasa heran, dia yang baru mengenalku dalam hitungan jam memberikan aku sesuatu yang mungkin berharga buat dia.
"Iya, aku sengaja beli itu tadi sebelum ke rumah sakit. Aku harap kita nanti dapat bertemu lagi, kita bisa bersahabat dengan baik," ujar Stevia.
Aku menatap ke arah liontin kalung ini, liontin ini punyaku bergambar Spongebob sedangkan punya Stevia bergambar Patrick.
Aku tertawa kala melihatnya.
"Kenapa harus Patrick dan Spongebob?" tanyaku.
Dia juga membalas pertanyaanku dengan tertawa.
"Tahu nggak, sejauh apapun salah satu dari mereka pergi. Seberapa banyak orang mengelilingi, seberapa sering mereka bertingkah konyol bahkan saling menyakiti, mereka berdua tetap bersatu dan kembali. Mereka berdualah yang tetap setia dan slalu mengingat sahabatnya," ujar Stevia.
Stevia terdiam dan orang-orang yang ada di ruangan ini pun sontak terdiam kala mendengar ucapan Stevia saat ini.
"Aku berharap, kamu dapat mengingatku. Entah kapan kita bertemu lagi, aku harap kita dapat bertemu kembali," ujar Stevia lagi.
__ADS_1
Aku menyunggingkan senyumanku.
"Makasih, ya. Aku harap juga begitu, kita dapat bertemu lagi," ujarku.
Aku perlahan mencoba duduk kembali, lalu tanganku meraih tangan Stevia untuk mencoba memeluknya.
"Aku tahu, mungkin kamu juga mempunyai sahabat baik. Jangan lupa kenalin ke aku ya suatu saat nanti, biar kita sama-sama saling berteman," ujar Stevia sembari memelukku.
Aku mengangguk di pundaknya.
"Pasti," jawabku singkat.
Saat itu juga aku melihat kedua orang tua kami saling berdiri. Lalu menghampiri kami.
"Kami senang melihat kalian berdua walaupun baru kenal bisa seakrab ini," ujar Ayah Stevia.
"Iya, jarang ada loh seperti kalian," sahut ayahku.
Setelah itu, mereka berpamitan hendak pulang, agar kami bisa istirahat. Sebab malam sudah begitu larut. Stevia melepaskan pelukanku.
"Jangan lupa di pakai ya," ujar Stevia sebelum pergi meninggalkan ruanganku.
"Siap," jawabku sembari tanganku aku taruh kepala dalam posisi hormat.
Stevia melambaikan tangan, lalu mereka semua pergi dari ruangan ini. Ayah dan ibu sengaja mengantar mereka sampai depan pintu, sedangkan aku berada di dalam kamar bersama nenek.
"Keyla, pulang ke rumah Nenek, ya," ujar nenek.
Aku menatap nenekku dengan tajam.
"Kenapa, Nek? Kan udah lama nggak pulang ke rumah," tanyaku.
Nenek tak menjawab pertanyaanku sampai ibu dan ayah datang menghampiri.
"Ayah, apa kita mau ke rumah Nenek?" tanyaku.
Ayah dan ibu tak lantas menjawabnya, namun mereka saling bertatapan mata.
"Ehm ... iya, Dek. Kan Ayah mau kerja di perusahaan Nenek, jadi kita lebih dekat dengan ayah jika tinggal di rumah Nenek," jawab ibu.
Namun aku merasa ada yang aneh ketika mendengar jawaban ibu. Seperti ada yang sengaja mereka tutup-tutupi.
"Kan Ayah bisa pulang setiap minggu, Bu?" tanyaku lagi.
Lagi-lagi mereka saling menatap sebelum menjawabnya. Seakan-akan mereka mencari alasan setiap pertanyaanku.
"Yah, kenapa?" tanyaku.
"Ayah ingin lebih dekat dengan kamu, Dek," ayah memberi alasan.
"Keyla, nggak mau ya tinggal sama Nenek? Kan nanti ada Jeje dan Tante Santi," sahut nenek.
__ADS_1
Aku terdiam terlebih dahulu. Bukannya aku tak mau, tetapi aku kangen dengan suasana rumahku selama ini. Sudah cukup lama aku tak tidur di kamarku, aku kangen main bersama teman-temanku di rumahku.
Bersambung ....