
Aku saat itu terlelap dalam tidurku, tetapi dalam mimpiku masih selalu terbayang makhluk yang ada di usaha papa.
Aku bermimpi dia mengejarku, dia marah kepadaku.
"Hahaha, anak sialan, kau tidak akan pernah mampu menghalangiku, ku bakar sampai habis tak ada satupun yang tersisa," kata makhluk itu.
Setelah makhluk itu berhenti berbicara, seketika aku melihat usaha papaku benar-benar terbakar.
Aku melihat di mimpiku, papaku berada di sana ketika kebakaran. Aku melihat, ada satu potongan kayu yang terbakar akan terjatuh tepat di atas papaku.
"Aaaaaaa," aku terbangun dari tidurku.
Tok tok tok...
"Non, Non Sasa, ada apa Non?" ucap Bibi dengan suara panik di balik pintu kamarku.
"Saya masuk ya, Non?" Bibi meminta izin.
Dengan Nafas yang tersengal aku menjawab,
"I-iya Bi, masuk saja."
Bibi memasuki kamar, dan bergegas memberikan air yang sudah ada di atas
mejaku.
"Non, minum dulu," ucapnya sembari memberikan airnya.
Aku pun menuruti Bibi dan meminum airnya.
"Bi, Papa dan Mama belum pulang?" tanyaku.
"Belum Non, baru jam empat, biasanya pulangnya malam Non," jawab Bibi.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan pergi mengambil handphone ku di dalam tas.
Aku mencari kontak papaku, lalu menghubunginya.
Tuuuut tuuuut....
Panggilan pertama tidak di jawabnya.
"Ke mana sih Papa? Masa telfon aja ga sempat diangkat," ucapku dengan perasaan gelisah.
"Coba telfon lagi Non," sahut Bibi.
Tuuuut tuuuuut...
Panggilan kedua pun tak dihiraukannya.
"Papa, bener-bener deh," ucapku kesal.
Setelah panggilan kedua tetap tak dihiraukannya, aku mencoba menghubungi nomor telefon kantor di tempat usahanya.
Tuuuut....
"Halo, selamat sore, dengan PT. BERKAH JAYA, ada yang bisa kami bantu?" ucap seseorang perempuan yang berada di seberang telfon.
__ADS_1
"Halo, Mbak ini saya Sasa. Papa, masih di situ ga?" tanyaku.
"Masih Mbak, ada yang perlu saya sampaikan?" tanya pegawai Papa lagi.
"Tolong sampaikan ke Papa, aku telfon minta tolong suruh angkat ya," jawabku.
"Maaf Mbak, Saat ini Pak Adi sedang meeting dengan klien penting, jadi beberapa menit ini belum bisa di ganggu," ucapnya lagi.
Aku merasa kesal mendengar jawaban pegawai papaku.
"Aku ga mau tahu, bilang ke Papa, kalau tidak mau mengangkat telfon jangan pernah cari aku lagi!" ucapku sembari mematikan telfon.
Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata. Bibi yang mengetahuinya, bergegas menghampiriku.
"Non Sasa, yang sabar. Sebenarnya ada apa Non?" tanya Bibi sembari merengkuh tubuhku ke pelukannya.
"Bi, aku lihat usaha Papa kebakaran, dan aku melihat Papa meninggal dengan kondisi hangus terbakar di kejadian itu, hiks hiks hiks," ucapku sembari menangis.
Aku mendengar telfon ku berdering. Aku bergegas mengambilnya dan aku melihat nama yang tertera di layar *SILENT 1*.
Itu nama kontak papaku, sengaja aku kasih nama itu karena ketika papaku menelfon aku malas untuk mengangkat nya karena papa selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Halo Pa," ucapku.
"Apa-apaan kamu, mau mu sebenarnya apa sih Sa?" ucap Papa dengan nada kesal.
"Aku mau Papa pulang sekarang!" jawabku.
"Tapi Papa masih ada tamu penting, Papa ga bisa," jawab Papaku.
"Ga mau tau, kalau Papa masih sayang aku, turutin kemauanku sekarang!" ucapku mematikan telfonnya.
"Non, nanti kalau Papanya marah bagaimana, ucapan Non terlalu kasar buat orang tua, itu ga sopan, Non?" tanya Bibi.
"Biarin Bi, mending Papa marahin aku, dari pada aku harus kehilangan Papa, Bi," ucapku.
Handphone ku pun kembali berbunyi. Aku tak bergegas mengangkatnya karena di pikiranku pasti itu papaku.
"Non, ga diangkat dulu?" tanya Bibi.
"Biarin saja, mungkin itu Papa," jawabku.
"Saya ambilkan ya Non?" ucap Bibi lagi.
Aku sengaja tak menjawabnya karena masih merasa kesal dengan papa. Bibi bergegas mengambil handphone yang aku letakkan di atas meja, lalu memberikan kepadaku.
Aku lihat dulu nama yang ada di layar handphone ku *SILENT 2*. Itu nama kontak mamaku, aku memberikan nama itu dengan alasan yang sama dengan papaku.
"Halo Ma," ucapku.
"Sayang, Papamu tadi telfon katanya kamu nyuruh dia pulang, kamu mau minta apa sayang, nanti Papa sama Mama berikan?" tanya Mamaku.
Semakin bercucuran air mataku mendengar ucapan mamaku, dan tak menjawab pertanyaannya.
"Halo, Sasa," panggil Mamaku di telfon.
"Kalian sayang ga sih sama Aku? Aku mau kalian sekarang pulang, kalau tidak lebih baik aku mati saja, aku tidak ada gunanya buat kalian!" ucapku sembari melemparkan handphoneku ke tembok hingga pecah.
Bibi semakin erat memelukku.
__ADS_1
"Non, pamali Non, sabar. Ingat masih ada Bibi dan Pak Diman(sopirku) yang sayang Non," ucap Bi Asih menasihati.
Aku tetap menangis sesegukan.
"Non, belum makan ya? Makan dulu yuk, biar ke isi perutnya," ucap Bibi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Ga boleh gitu, Non biar sehat, Bibi ambilkan makanan dulu ya," ucap Bibi sembari beranjak dari tempat duduknya semula.
Sebelum Bi Asih melangkah, aku tarik tangannya.
"Ga usah Bi, aku makan di bawah aja, Panggil Pak Diman ya, kita makan bersama-sama," ucapku.
"Baik Non," ucap Bibi sembari berlalu pergi.
Aku pun dengan rasa malas beranjak dari tempatku, Aku keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga secara perlahan.
Aku langkahkan kaki menuju ruang makan, dan ternyata sudah ada Bi Asih dan Pak Diman yang berdiri di dekat meja makan.
"Ngapain pada berdiri, ayo duduk semua," ucapku.
Aku melihat mereka tersenyum.
"Ayo makan," ucapku lagi.
"Tapi Non, kita ga pantas duduk di sini, kita duduk di bawah aja," ucap Pak Diman.
"Apa bedanya aku sama Bapak, kita sama saja, aku gak mau di beda-bedakan, ayo cepat makan,"ucapku.
Aku melihat mereka mengambil nasi dan lauk hanya dengan cah kangkung saja.
"Makanan sebanyak ini, siapa yang mau habiskan? Itu ayamnya di ambil juga dong Bi, Pak," ucapku sembari mengambilkan ayam ke atas piring mereka.
"Makasih Non," ucap mereka bersamaan.
Aku melihat dengan lahapnya mereka makan, aku yang awalnya bersedih sekarang bisa tersenyum dengan adanya mereka.
Seandainya aku bisa makan bersama Papa dan mamaku pasti bahagia banget hidupku. pagi aja papa dan mama hanya sebentar duduk di meja makan ini karena buru-buru kerja.
Siang pasti gak di rumah, kalau malam mereka sudah makan di luar. Aku selalu kesepian.
Lagi enak-enaknya makan aku mendengar suara klakson mobil dari depan rumah.
Pak Diman bergegas berdiri dan berlalu pergi membukakan pintu pagar dan Bi Asih pun sama berlalu pergi.
"Pasti itu, Papa," ucapku sedikit lega karena mimpiku tak jadi kenyataan.
Aku tetap melanjutkan makananku, tak menghiraukannya datang.
"Mana Sasa, Bi?" terdengar ucapan Papaku dengan suara seperti orang marah.
"Pa, sudah Pa," Sahut Mama, yang ternyata mereka berdua pulang secara bersamaan.
"Ada di ruang makan Tuan, Nyoya," jawab Bibi.
Papa pun berjalan menghampiriku. Dalam benakku, "Pasti akan ada perang dunia di rumah ini, malas banget aku."
__ADS_1