Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Liburan semester


__ADS_3

Di sepanjang jalan pulang tak luput dari pandanganku makhluk tak kasat mata.


Dalam fikiranku cuma bilang "Ya sudahlah toh mereka tidak merugikan, membahayakan perjalan kami."


Waktu hampir 2 jam aku tempuh perjalanan dari rumah Nenekku ke rumahku.


Sesampainya di rumah aku langsung masuk rumah tanpa membantu Ayah dan Ibuku untuk menurunkan barang bawaan.


Aku memasuki kamarku, ku baringkan badanku di atas kasurku.


Ku pejamkan mataku untuk sampai ke dunia mimpiku.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku pun bangun. Aku berjalan keluar kamar untuk hampiri kedua orang tuaku.


Hari ini hari yang membahagiakan untukku, karena hari ini aku lewati dengan kedua orang tuaku dan tidak ada satu pun kejadian yang aku alami.


Hari dari pagi, siang berganti malam ku lewati dengan perasaan sukacita.


Keesokan hari selepas salat subuh, aku bergegas mengambil sepeda berniat untuk bersepeda keliling komplek sekaligus akan menghampiri Dinar untuk mengajaknya bersepeda.


Sebelum bersepeda, Aku melakukan pemanasan sederhana lalu aku mulai mengayuh sepedaku untuk pergi ke rumah Dinar terlebih dahulu.


Sesampainya di depan rumah Dinar, aku membunyikan bel agar Dinar tahu kalau aku berada di depan rumahnya


Beberapa kali aku membunyikan bel hingga bel ke tiga Dinar baru membukakan pintu pagar, Dinar masih menggunakan piyama tidurnya.


“Ada apa Key pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Dinar.


“Ayo bersepeda, hitung-hitung olahraga juga,“ jawabku.


Dinar menganggukkan kepala dan bergegas mengganti baju dan mengambil sepedanya.


“Ayo key," kata Dinar yang sudah siap bersepeda.


Aku dan Dinar bersepeda mengelilingi komplek hingga taman yang dekat dengan rumah kami.


Sesampainya di taman kami berhenti sebentar untuk sekadar bermain-main.


“Bagaimana liburan di rumah Nenekmu Key? Seru tidak? Sayangnya aku Cuma di rumah saja," kata Dinar.


“Iya lumayan lah Din, tetapi kemarin aku batal ke pantai yang biasa aku kunjungi kalau lagi di sana karena ada longsor di jalan menuju pantai," jawabku.


“Syukurlah, untung kamu tidak kenapa-napa Key,"ucap Dinar.


Aku mengedikkan bahu sebagai jawaban atas ucapan Dinar. Aku sengaja tak menceritakan bahwa gagalnya ke pantai karena sebelumnya aku sudah mendapat penglihatan tanah longsor tersebut.


Dinar pun kembali bertanya kepadaku.

__ADS_1


"Oh iya Key, bukannya kamu tidak berani lewat rumah Mbak Sekar?" tanya Dinar.


"Loh iya Din, aku kok lupa," jawabku sambil menepukkan tanganku ke keningku.


"Mengapa kamu ingetin aku sih Din, jadi tidak berani lagi aku nanti, tanggung jawab anterin aku pulang," kataku lagi.


Kami berdua pun mengayuh sepeda untuk pulang. Dan Dinar pun mengantarkan aku sampai di depan rumahku.


Selesainya bersepeda dengan Dinar, aku bergegas mandi dan menyusul kedua orang tuaku untuk sarapan bersama.


Selama sarapan tak ada percakapan yang panjang, Ayahku pun sudah mengetahui perihal acara ke pantai yang gagal dari cerita Ibu semalam.


Ayah memaklumi semua itu, aku juga sudah mulai bangga, karena mulai terbiasa dengan kelebihan yang di berikan oleh yang Mahakuasa ini kepada ku.


Aku juga tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk hal yang negatif, bahkan aku masih banyak belajar agar dapat terbiasa dengan semua ini.


Hari mulai sore, matahari mulai beranjak menyinarkan sinar jingganya aku yang sedari tadi selepas asar masih santai duduk di teras rumah sambil melihat ke arah jalan.


Lama kelamaan aku mulai melihat sesuatu di seberang jalan, ada seseorang berdiri di bawah pohon tepat di depan rumah tetanggaku.


Karena rasa penasaran aku terus memperhatikan sosok tersebut, seseorang itu tidak terlihat wajahnya karena tampak seperti memunggungi.


Aku hanya berdiri dan diam saja di tempat. Aku mulai merasa merinding karena aku mulai tahu apa yang aku perhatikan sejak tadi.


Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah. Aku segera menghampiri kedua orang tuaku yang sedang duduk di depan tv, aku duduk di dekat Ayah dan hanya diam saja.


“kenapa Nak?" tanya ayah.


“Itu yah, di sebrang jalan tepat di bawah pohon ada yang berdiri di sana Yah," jawabku dengan menundukkan kepalaku.


Ayahku sepertinya sudah tahu apa yang aku maksud, dan segera mengelus kepalaku dengan lembut.


"Tidak usah terlalu di pikirkan, memang mereka kan selalu berdampingan dengan hidup kita semua,"


"Ayah yakin Dedek anak hebat, Dedek kan sudah mulai terbiasa akan semua," Kata Ayah.


"Makanya kalau mau magrib jangan suka duduk sendirian di luar rumah Dek, lain kali di ingat ya," tambah Ibu menasehatiku.


Tetapi aku pun tidak bisa menghilangkan sosok itu dari pikiranku.


Sepanjang aku menonton tv aku masih memikirkannya.


Aku pun pamit kedua orang tuaku untuk pergi tidur terlebih dahulu. Sesampainya di kamar aku masih tetap memikirkannya.


Tidak berselang lama aku dengar pintu kamarku di ketuk.


Tok tok tok..

__ADS_1


Suara ketukan pintu kamarku.


Biasanya yang mengetuk pintu sebelum masuk itu Ayah.


"Iya Yah masuk aja, Dedek belum tidur," jawabku.


Ayah mulai masuk ke kamarku dan duduk di kursi dekat meja belajar.


"Dedek masih kepikiran ya?" tanya Ayah.


"Iya Yah," jawabku.


"Memangnya Dedek lihat apa kalau Ayah boleh tahu?" tanya Ayah lagi.


"Aku lihat Sosok tinggi besar di sana yah, awalnya aku kira orang Yah, aku lihatin lama kelamaan dia itu tambah besar Yah kalau bisa di rinci itu tingginya 2 kali Ayah loh," aku bercerita ke Ayah.


"Dari awal lihat kenapa Dedek tidak langsung masuk rumah? mengapa harus di lihatin terlebih dahulu," ucap Ayah.


"Hehehehe, aku penasaran Yah," jawabku sambil tertawa dan tanganku menggaruk kepala.


"Kan begini jadi nya Dedek jadi kepikiran, pelan-pelan saja dek untuk adaptasinya ke mereka," ucap Ayah.


"Iya Yah," jawabku


"Sudah jangan dipikirkan terus, banyak-banyak berdoa ya Dek, selamat malam semoga mimpi indah ya Dek," ucap Ayah sambil mengecup keningku.


Ayah berlalu pergi meninggalkanku.


Aku mencoba berdoa apa saja yang aku bisa, aku zikir dan bersholawat sampai aku tertidur.


Malam yang panjang telah aku lewati, pagi mulai menunjukan ciri khasnya dengan kokok kan ayam jantan yang mulai terdengar.


Kukuruyuuuk..


Ayam berkokok.


Aku pun segera bangun dari tempat tidurku.


Aku lihat jam baru menunjukkan pukul setengah lima, aku segera melaksanakan kewajiban aku. Aku lewati hari-hari dengan biasa saja seperti biasa tidak pergi ke mana-mana hanya setiap sore pergi ke pasar sore di daerahku.


Selama dua minggu liburan semester ini kegiatanku hanya itu-itu saja berulang-ulang.


Selama itu juga aku mantapkan hatiku untuk menerima keadaanku.


Aku kangen berkumpul dengan teman-teman yang baik mau menerima keadaanku.


Aku tak lagi menghiraukan ejekan teman yang tak menyukaiku jika nanti sudah kembali sekolah.

__ADS_1


__ADS_2