
Menurutku perjalanan kereta ini menuju kota tempat ayah bekerja cukup lumayan lama. Saat itu aku terbangun dan melihat sekelilingku, orang-orang semuanya pada tidur.
Aku melihat jam tanganku, ternyata baru pukul 23.55 WIB. Rasanya aku ingin ke toilet saat ini, tetapi ketika aku hendak pergi jadi berpikir dua kali karena kejadian waktu itu.
"Bu, bangun. Aku pengen buang air kecil," ucapku membangunkan Ibu.
"Iya, Dek. pergi aja ke toilet," ucap Ibu.
"Anterin Bu, takut," rengekku.
Ibu pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo, kamu jalan duluan," ucap Ibu.
Aku langsung berjalan menuju toilet, ibu berjalan di belakangku. Sesampainya di toilet aku bergegas masuk, setelah selesai saat aku keluar tak menemui ibu di sana.
"Ibu," aku memanggil-manggil.
Aku sembari mencari Ibu, berjalan menuju tempat dudukku. Kereta ini mendadak terlihat suram dan sepi. Aku kembali melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukan pukul 00.01 WIB.
Aku berjalan sedikit berlari menuju tempat duduk, entah kenapa jaraknya yang sebelumnya hanya di pisah dengan beberapa kursi menjadi terasa berjalan cukup jauh.
Dalam hatiku bergumam, Ya Allah, gangguan apa lagi ini? Aku berserah kepadamu, entah tadirku seperti apa aku nurut saja dengan kuasamu Ya Allah.
Aku berjalan, terasa bergetar seluruh tubuhku. Aku ketakutan, aku lelah jadi tak tahu lagi harus seperti apa.
Setelah aku berucap seperti itu di hati, tiba-tiba terdengar Ibu memanggilku.
"Keyla," ucap Ibu.
Aku menoleh ke arah sumber suara, ibu berada di belakangku. Yang membuat aku bingung ternyata aku tak melangkahkan kakiku walaupun hanya sejengkal. Aku hanya dalam posisi mematung di depan toilet
"Ibu," ucapku sembari memeluk tubuhnya.
Ibu menggandeng tanganku, mengajakku ke tempat duduk yang kita tempati. Aku duduk dengan menyenderkan kepalaku ke bahu ibu.
"Kenapa, Bu?" tanya Ayah.
Aku terkejut ketika ayah bertanya, soalnya sedari tadi yang aku tahu ayah sedang tidur. Ibu menyadari ketika aku terperanjat karena kaget.
"Loh, ada apa, Dek?" tanya Ibu.
"Enggak apa-apa Bu, kaget aja mendengar suara Ayah," jawabku.
Ayah mengelus kepalaku.
"Bentar lagi kita sampai, Dek. Nanti langsung istirahat aja ya, Dek!" kata Ayah.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tak berselang lama setelah ayahku berhenti berbicara, kereta pun terhenti. Ayah bergegas menggandeng tanganku, untuk di ajaknya keluar kereta.
"Kita nunggu driver ojeknya di pintu masuk stasiun aja ya Bu, tadi Ayah sudah memesannya," Ayah memberitahu.
"Alhamdulillah ya Yah, masih ada driver ojek yang beroperasi tengah malam," sahut Ibu.
Tak perlu menunggu lama, mobil pun datang. Dengan ramah driver -nya turun, beliau menawarkan jasanya untuk mengangkut barang bawaan kami, setelah itu mempersilahkan kami untuk segera menaiki mobilnya.
Dengan perlahan tapi pasti, mobil mulai dilajukannya.
__ADS_1
"Bapak tengah malem masih beroperasi? Memangnya selalu ada penumpang?" tanyaku.
"Tidak Dek, anak saya lagi sakit jadi semampu saya kapan pun harus berusaha mencari uang untuk tambah pengobatannya," ucap Pak sopir.
"Sakit apa, Pak. Kalau boleh tahu?" sahut Ibu bertanya.
"Kanker sumsum tulang belakang, Bu. Kami terlambat mengetahuinya ketika sudah divonis stadium empat," jawab Bapak itu.
"Innalillahi, semoga cepat sembuh ya, Pak," ucap Ibu lagi.
Aku melihat ke ayah dan ibu.
"Bu," ucapku.
"Iya, Dek," jawab Ibu.
Aku bergeser mendekati ibu, lalu berniat untuk berbisik ke telinga beliau.
"Bu, pinjam uangnya," ucapku berbisik.
"Buat apa?" tanya Ibu, sembari berbisik juga.
"Aku mau memberi Bapak ini untuk tambah pengobatan anaknya, nanti uangnya bisa Ibu ambil dari tabunganku kalau sudah sampai rumah," jawabku.
Ibu menatap ke arah mataku ketika mendengar ucapan ku. Beliau mengelus kepalaku sembari melemparkan senyumannya.
"Lalu ini mobil Bapak sendiri?" tanya Ayah ke Bapak driver ojek.
"Iya, Pak. Jadi dulu rumah dan perusahaan saya terbakar, sepertinya ada yang sengaja berbuat itu kepada saya, sehingga dua aset harta saya yang saya miliki terbakar di waktu bersamaan walaupun beda tempatnya," ucap Bapak itu terlihat sedih.
"Ya Allah, sekejam itu ya," ucapku.
Aku mendengar ceritanya semakin iba, kenapa musibah bertubi-tubi menghampirinya. Aku yang merasa lebih beruntung tak henti-henti mengucapkan rasa syukur dalam benakku.
"Sabar ya, Pak," ucap Ibu.
Ketika di pertengahan jalan, suasana sepi dan gelapnya malam. Tiba-tiba ada yang memepet mobil ini sembari menggedor-gedor pintu mobil.
"Berhenti!" ucap dua orang yang mengendarai sepeda motor sembari menutup wajahnya dengan masker.
Mereka tak henti-hentinya menggedor pintu mobil yang kami kendarai saat ini. Dalam situasi yang menegangkan aku merasa takut, apalagi aku melihat mereka membawa senjata tajam dalam genggamannya.
"Bagaimana ini, Pak?" tanya Ibu ke sopir.
Pak Sopir tidak menjawab pertanyaan ibu, mungkin dalam situasi seperti ini beliau tidak tahu harus berbuat seperti apa. Sedangkan aku dan ibu saling berpelukan.
Kami berdoa semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Pengendara motor itu nekat memberhentikan mobil ini dengan cara mereka berhenti tepat di depan mobil.
"Turun!" salah satu dari mereka berteriak menyuruh kami turun.
"Bagaimana ini, Yah?" ucap Ibu dengan suara bergemetar.
Ayah membuka pintu mobilnya dan beliau memberanikan diri untuk keluar. Disusul pak sopir juga ikut keluar, sedangkan aku dan ibu dengan sengaja masih di dalam karena kami ketakutan.
Ayah dan Pak sopir di luar mencoba bernegosiasi dengan mereka, tetapi sepertinya mereka semakin murka tidak mau mendengarkan.
Salah seorang dari mereka mencoba mengacungkan senjata tajamnya ke arah Ayah.
__ADS_1
"Aaa," aku dan Ibu spontan berteriak sembari menutup mata kami.
Setelah itu aku memberanikan diri untuk melihat ke arah mereka lagi, apa yang aku lihat?
Orang yang mengacungkan sajam itu tetap dalam posisi yang sama, Esther berhasil menggengam tangannya sehingga dia tak bisa bergerak. Aku yang melihatnya sontak merasa heran, karena selama ini yang aku tahu Esther tak bisa menyentuh apapun.
"Esteh, lihat itu Bu, yang membawa senjata tajam tangannya dipegang sama Esteh," ucapku.
Terlihat penjahat yang satunya nampak kebingungan melihat temannya tak bisa melaksanakan tugasnya. Dia mencoba untuk mencoba menggoreskan sajamnya ke salah satu dari ayah dan pak sopir.
Tetapi lagi-lagi perbuatannya dapat di berhentikan oleh Esther. Saat itu Esther terlihat marah, tetapi entah mengapa aku melihat Esther kali ini tampak beda. Dia yang awalnya tampak mungil, kali ini tampak lebih menyeramkan.
Setelah mereka dalam genggaman Esther, mereka dihempaskan dengan kuat sehingga mereka terpental agak jauh dari lokasi saat ini. Ayah dan pak sopir melihat kejanggalan ini segera masuk ke dalam mobil.
Sebelum itu Pak sopir memindahkan motor mereka, lalu pak sopir dengan cepat melajukan mobilnya ke tempat yang lebih aman.
Ketika kami bisa menghindar dari mereka, yang aku rasakan adalah perasaan lega.
"Key, kenapa mereka bisa seperti itu?" tanya Ayah.
"Esteh, Yah," ucapku.
"Apa dia ikut kita?" tanya Ayah lagi.
"Dari awal kita berangkat ke Malang dia sudah ikut dengan kita, tetapi Ayah yang tidak mengetahuinya," jawabku.
"Alhamdulillah, ada gunanya juga itu makhluk," ucap Ayah.
Aku hanya tersenyum ke arah orang tuaku. Setelah itu mobil pun berhenti di depan salah satu hotel. Kami turun satu persatu, pak sopir dengan antusias membatu menurunkan barang bawaan kami.
Sebelum beliau pergi, aku memanggilnya.
"Pak," ucapku.
"Iya, Dek," ucapnya sembari menghampiriku.
Aku memberikannya sedikit uang yang aku pinjam dari Ibu.
"Pak, tolong terima ini, maaf cuma bisa membantu sedikit, mungkin bisa sedikit meringankan beban Bapak," ucapku sembari memberikan uang yang aku pinjam dari ibu dan semua uang yang ada di tasku.
"Terlalu banyak ini, Dek. Maaf bapak nggak bisa menerimannya," jawab Pak sopir.
"Terima saja, Pak. Hanya dengan ini kami sanggup membantu" ucap Ibu.
Pak sopir menerimanya, lalu melakukan sujud syukur kepada sang Maha kuasa. Setelah itu, beliau berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada kami.
"Bapak istirahat ya, langsung pulang saja ya Pak, semoga anaknya cepat sembuh," ucapku.
"Terimakasih, Dek. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluarga Adek, Bapak dan Ibu," ucap Pak sopir.
"Amin, makasih Pak," ucap Ayah.
Lalu pak sopir berlalu meninggalkan kami, setelah itu kami segera memasuki hotel agar segera bisa beristirahat.
Bersambung....
Saya ucapkan terimakasih kepada semua yang sudah mendukungku selama ini. Berkat kalian semua aku lebih semangat untuk menulis dan terus berkarya.
__ADS_1
Salam sayang dari saya selaku Author.
Lina Agustin๐๐๐ค๐ค.