Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Gaib 2


__ADS_3

Bu Sumi dengan langkahnya yang terlihat sombong dan tembang lagu yang semakin ia dendangkan dengan nada tinggi, membuat suara erangan itu semakin keras.


"Biar apa coba? Kita hidup sendiri-sendiri, jadi jangan pernah menggangguku. Kau tak tahu, siapa yang berada di hadapanmu ini." Bu Sumi benar-benar menantangnya.


Lambat laun, terdengar suara gamelan berbunyi. Gamelan dengan lantunan yang terdengar berurutan dan bagus, membuat Bu Sumi tertarik untuk menghampirinya.


Bu Sumi yang sebelumnya berjalan di jalan raya, saat ini berjalan melewati jalan setapak bebatuan dan sedikit kegenang air di beberapa bagian jalannya. Dari kejauhan terlihat sinar lampu terang benderang. Perlahan sorak-sorai terdengar semakin jelas di pendengaran.


"Hujan-hujan gini ada acara? Oh, mungkin orang-orang di gang anggrek makanya sepi, lagi lihat pertunjukan itu. Acara bersih desa mungkin, ya," gumam Bu Sumi.


Beliau berjalan semakin jauh dengan jalan raya dan berjalan mendekat dengan sumber suara itu. Terlihat panggung besar, terdapat gamelan dan orang-orang yang memainkannya, tetapi anehnya, tak ada satu perempuan yang biasanya bernyanyi. Kalau di jawa yang biasa di sebut dengan sindennya. Penonton sangat ramai, walaupun mereka duduk di bawah rintikan air hujan tak memadamkan riuhnya suasana saat ini. 'Orang di sini aneh, di tengah hujan tapi tak membawa payung untuk berteduh.'


Bu Sumi pun duduk mendekat ke satu keluarga, suami, istri dan beserta dua anak putrinya. Wajah mereka terlihat pucat pasi, namun Bu Sumi menganggap itu semua sebab terkena air hujan.


"Saya duduk di sini, ya?" Bu Sumi duduk di dekat si istri yang sedang memangku anak nomor duanya. Mungkin, anak ini masih usia sekitar lima tahunan. Mereka pun menoleh secara bersamaan ke arah Bu Sumi, lalu menganggukkan kepala pun secara bersamaan. Anak perempuan yang satunya lebih besar, mungkin sd kelas empat atau kelas lima.


Dengan kebersamaan tingkah laku, membuat bulu kuduk Bu Sumi berdiri. Sorot mata mereka pun tajam, bahkan bola mata dominan besar yang berwarna hitam.


Bu Sumi memalingkan wajahnya dari mereka, seketika pun melakukan hal yang sama dengan Bu Sumi. Beliau menatap ke arah gamelan, yang mana seluruh pemainnya menggunakan seragam bernuansa batik panjang dan anehnya mereka memainkan itu dengan cara menundukkan kepalanya.


"Kalau boleh tahu, sindennya belum datang, ya?" tanya Bu Sumi.


Lagi-lagi tak ada sahutan sama sekali dari mereka. 'Pada tuli kali, ya. Orang tanya, malah nggak dijawab, tapi ngapain lihatin terus seperti itu?'

__ADS_1


Tiba-tiba, di panggung naik perempuan cantik, putih berpakaian kebaya merah dan disanggul. Wanita itu berdiri di tengah-tengah panggung dan mulai menggerakkan badannya seirama dengan gamelan itu. Walaupun tak ada lantunan lagu, tapi dengan diiringi gamelan itu pun terlihat menawan.


Tanpa di sadari, Bu Sumi pun terbuai dengan irama gamelan itu. Perempuan cantik itu pun menuruni anak tangga dan menghampiri Bu Sumi. Wanita itu meraih tangan Bu Sumi untuk di ajaknya menuju ke panggung. Bu Sumi pun beranjak, lalu melihat respon orang-orang yang ada di sana. Mereka melihat Bu Sumi dengan lekat dan tanpa ekspresi apapun. Semua wajah di sini terlihat pucat pasi dan mulut sedikit membiru.


"Untuk apa aku ikut berdiri?" tanya Bu Sumi kepada wanita yang mengajaknya. Tapi, tiba-tiba jari telunjuk wanita itu di letakan di depan mulut Bu Sumi menyuruhnya agar terdiam.


Bu Sumi pun terdiam seribu bahasa dan bingung apa maksud wanita ini. Wanita itu meminta Bu Sumi untuk duduk di dekat penabuh gamelan itu.


"Bernyanyilah!" suara wanita cantik ini terdengar serak dan berat meminta Bu Sumi untuk bernyanyi.


"Tapi, suaraku jelek." Bu Si mencoba menolaknya.


"Bernyanyilah!" gertak wanita itu.


Bu Sumi pun dengan tangan bergemetar, menyapu keningnya yang di basahi oleh air hujan dan sedikit keringatnya. Perlahan, Bu Sumi kembali mendendangkan tembang jawa yang sama dengan yang ia nyanyikan sebelum ke sini.


Cukup lama, Bu Sumi pun merasa lelah dan suaranya semakin serak. Beliau mencoba membuka matanya, tiba-tiba semua terasa hening. Tak ada panggung, gamelan, penari maupun orang-orang yang menjadi penonton. Bu Sumi pun duduk di atas rumput ilalang yang tumbuh dengan tinggi. Beliau seketika menjadi orang linglung, sebab ia dengan sadar bahwa tadi duduk di atas panggung dan ada keramaian di sini.


Bu Sumi pun beranjak dari tempat duduknya, bajunya basah kuyup membuat tubuhnya menggigil. "Aku di mana ini?"


Pepohonan tinggi dan rumput yang lebat menjadi pemandangan yang menghiasi sekelilingnya. Langit yang gelap, membuat pandangannya terbatas.


"Tolong!" teriak Bu Sumi.

__ADS_1


Sama sekali tak ada sahutan dari satu orang pun. Suara kerikan jangkrik yang saat ini ia mampu ia dengar. Bu Sumi teringat, bahwa beliau ke sini melewati jalan setapak, beliau mencoba berjalan untuk mencari jalan setapak itu.


Beliau berjalan, tak menemukan jalan setapak itu. Lalu, memilih untuk berhenti sejenak.


"Ini, aku jalan semakin masuk hutan atau keluar hutan? Mana jalan setapak tadi?" gumam Bu Suki merasa ketakutan.


Bu Sumi memilih untuk berbalik arah, beliau kembali mencari jalan setapak dengan arah yang berbeda.


"Tolong!" teriak Bu Sumi kembali. Lagi-lagi tak ada sahutan yang menjawab teriakannya.


Dia berjalan semakin jauh dari titik awal ia berada. Entah berapa menit perjalanannya, tapi masih tak menemukan jalan setapak itu. Hanya rumput menjulang tinggi yang ada di depan matanya.


"Tolong!" teriak Bu Sumi kembali.


"Tolong!" tiba-tiba suara menggema seolah-olah menirukan suaranya terdengar dengan jelas di telinganya.


"Hei, kau siapa?" teriak Bu Sumi yang benar-benar ketakutan.


Tak berselang lama, suara menggema itu pun kembali terdengar. "Hei, kau siapa?"


Bu Sumi menatap ke arah langit. Gelap gulita, tak ada bintang satupun yang menjadi penghias malam ini. Hujan pun tak kunjung reda, walaupun rintik-rintik kecil tetapi awet sedari tadi.


"Tolong keluarkan aku!" Bu Sumi pun kembali berteriak.

__ADS_1


"Tolong keluarkan aku!" Lagi-lagi suara menggema pun terdengar dengan jelas. Suara itu tetap saja menirukan gaya bicara, bahkan suaranya sama persis dengan Bu Sumi. Tetapi, jarak Bu Sumi dan suara itu terpaut agak jauh.


Bu Sumi pun seperti orang yang putus asa. Ia memilih duduk di bawah pohon dan menangis tersedu-sedu. Kakinya di tekuk, lalu ia memeluk lututnya sendiri dengan erat. Wajahnya pun di benamkan di antara lututnya itu.


__ADS_2