Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Proses penangkapan


__ADS_3

Tak berselang lama kami pun sampai di kantor polisi. Kevin yang terburu-buru hingga melupakan rasa sakit yang ada di kakinya.


"Ayo, Om," ajak Kevin.


Oh, iya. Kevin entah dari kapan aku baru sadar dia memanggil ayah dan ibu dengan sebutan om, padahal sebelumnya selalu memanggil mereka dengan sebutan pak atau pun bu. Namun, aku tak ingin memperkeruh hanya menanyakan perihal sebutan saja.


"Pelan-pelan, Kevin. Kakimu masih sakit," tegur ibu.


"Iya, Tante. Tapi aku khawatir dengan Papaku," ujar Kevin.


Ayah memindahkan aku ke kursi roda, sedangkan Kevin di temani ibu terlebih dahulu masuk ke kantor polisi.


"Semoga mendapat jalan keluar ya, Yah," ujarku.


"Iya, Dek. Kasihan, masih muda harus memikul pikiran seberat itu," ujar ayah.


Ayah mendorongku masuk ke dalam kantor polisi, untuk menyusul Kevin dan ibu. Terlihat di sudut ruangan Kevin dan ibu sedang bercakap-cakap dengan salah satu dari pihak kepolisian. Kami menghampiri mereke, terdengar jelas bagaimana si Kevin tampak mengkhawatirkan papanya.


"Saya mohon, Pak. Tolong bantu Papa saya," ujar Kevin.


Saat Kevin dimintai keterangan, saat itu juga ponselnya kembali berdering. Terlihat jelas nama di ponsel itu tertulis "Papa" kemungkinan besar wanita itu lagi yang menghubunginya.


"Pak, wanita itu. Minta tolong, bilang saya belum diketemukan, agar kita mudah melacaknya," ujar Kevin ke polisi dengan menyerahkan ponselnya.


Polisi itu pun dengan cepat meraihnya, lalu menjawab panggilan itu.


"Halo, selamat siang. Dengan siapa?" tanya polisi itu.


"Maaf, ini dengan siapa? Kok ponsel anak tiri saya bisa di tangan Anda?" telisik wanita itu.


"Saya dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa ponsel ini kami temukan saat olah tempat kejadian perkara. Kami akan segera menemui Anda, untuk meminta keterangan. Sekarang Anda berada di mana?" ujar polisi itu.


Wanita ular itu tak bergegas menjawabnya, kemudian memutuskan sambungannya.


"Bagaimana, Pak? Apa bisa dilacak melalui panggilannya?" tanya Kevin.


"Bisa, bahkan dari GPS ponsel yang digunakan juga bisa," jawab polisi itu.


"Mohon segera di check, Pak. Saya nggak ingin terjadi apa-apa dengan Papaku," ujar Kevin tampak gelisah.

__ADS_1


Lalu polisi itu membawa ponselnya menuju ke satu ruangan, cukup lama kami harus menunggu. Saat menunggu itu, Kevin tampak gelisah tak karuan. Aku tahu ada rasa takut, sedih dan amarah yang menjadi satu.


"Kevin, kita serahin saja ke pihak kepolisian. Tante yakin, pasti semua teratasi," ujar ibu mencoba menenangkan.


Kevin hanya menganggukkan kepala, walaupun ekspresinya tak berubah dari sebelumnya. Setelah itu, polisi itu kembali menghampiri kami dan menyampaikan sudah mengerahkan pasukan menuju tempat yang tertera di ponsel. Perasaan lega sontak datang di hati kami. Terlihat Kevin sudah tersenyum walaupun masih terlihat berat.


Kami meminta izin polisi agar bisa ikut, pihak kepolisian mengizinkan tetapi harus sesuai arahan mereka. Mereka tak ingin kita gegabah sehingga mampu membuat mereka berhasil kabur lagi.


Kita segera berangkat. Perjalanan yang dituju entah kenapa tak begitu asing dengan penglihatanku. Ini semua sama seperti jalan menuju ke rumah dokter itu, bahkan Kevin menduga si Candra kembali ke rumah lamanya.


"Ini kan ke arah rumah lamaku?" ujar Kevin.


"Sepertinya begitu. Tetapi apa iya, si Candra pergi ke sana?" sahut ibu.


"Ya, nggak tahu juga, Bu. Mungkin si Candra juga menganggapnya pihak kepolisian nggak akan ke rumah itu lagi," ujar ayah.


"Mungkin juga begitu," jawab Kevin.


Kita hanya mengikuti ke mana pun pihak kepolisian pergi. Awalnya yang kami kira ke rumah lama Kevin, ternyata salah. Pihak polisi masih melanjutkan mobil itu hingga masuk ke gang cukup kecil.


"Kok ke gang ini? Bukannya ini jalanan ke perumahan kosong itu," ujar Kevin menduga-duga.


"Perumahan terbengkalai?" ujarku.


"Iya, sedari aku kecil sudah terbengkalai. Jadi jika kalian tanya kenapa? Pasti jawabanku tak tahu," ujar Kevin.


Setelah itu, terlihat dari kejauhan mobil yang begitu di kenal oleh Kevin. Kevin terlihat nggak sabar untuk segera mengakhiri sandiwara Kevin selama ini.


Mobil polisi dan mobil kami berhenti tepat di salah satu perumahan kosong ini. Pintu rumah awalnya terbuka, saat ini di tutup saat kami datang.


"Aku yakin, wanita itu di sini. Ayo, Om," ujar Kevin sembari keluar dari mobil.


Kevin dengan kaki pincang berjalan cepat, hingga saat tongkatnya tersangkut di rerumputan aku melihat dia hendak terjatuh. Namun, aku melihat ayah dengan sigap menangkapnya.


"Pelan-pelan saja, Nak," ujar ayah.


Pihak kepolisian di sini menyuruh mereka untuk menyerahkan diri dulu, sebelum mereka dengan kasar memaksa untuk keluar.


Dorr!

__ADS_1


Dentuman dari tembakan senapan polisi terdengar begitu jelas. Polisi memberikan tembakan peringat, agar mereka mau keluar. Namun hasilnya behitu saja mereka acuh, setelah itu kepolisian memutuskan untuk segera masuk dan menemukan keberadaan Candra dan dua orang itu.


Saat kita masuk, kami menuju di salah satu kamar yang kami curiga. Dan benar saja, kami melihat mereka di sana. Papa Kevin di tali di kursi dan mulutnya di tutup dengan perekat.


"Lepaskan, Papaku!" teriak Kevin sembari mencoba mendekat.


"Kamu, stop! Jangan mendekat, atau Papamu akan mati," ujar Candra.


Kevin pun seketika berhenti. Papanya terlihat meronta dan mencoba melepaskan diri, namun dengan cepat tangan Candra menjambak rambutnya.


"Diam, sayang. Aku tak akan melukaimu," ujar Candra.


"Jangan gila, kau. Segera lepaskan Papaku," ujar Kevin memaksa.


"Kenapa kau bawa polisi ke sini? Suruh mereka pergi, atau Papamu benar-benar kubunuh!" gertak Candra.


Tiba-tiba Candra menyuruh salah satu pria yang bersamanya, untuk mengambilkan senapan di dalam tasnya.


"Ambilkan senapan itu," ujar Candra.


Dengan cepat pria suruhannya mengambilkan dan menyerahkan ke Candra. Kemudian, dia mengacungkan senapan itu tepat di pelipis papanya.


"Candra! Jangan gila, kau!" teriak Kevin.


"Hahaha, aku gila? Kau yang membuat aku gila, kenapa kau tak mati-mati. Beberapa kali aku mencoba membunuhmu, kenapa kau masih hidup?" ujar Candra yang terlihat begitu tertekan.


"Allah selalu menyayangiku, taubatlah aku akan memaafkan kamu. Kumohon, lepaskan Papamu," ujar Kevin memohon.


Namun Candra hanya tertawa terbahak-bahak. Dan dua pria yang bersamanya hanya mampu dia tak melakukan apa pun. Mereka terlihat begitu tenang walaupun terlihat polisi berada di depan mata mereka.


Candra pun entah ngapain memutari papa, saat berada di depannya tiba-tiba kaki papa menendangnya hingga tersungkur.


Bruk!


Candra terjatuh dan mengenai papan kayu di sana.


"Sialan! Kau benar-benar menginginkan mati untuk saat ini," ujar Candra terlihat begitu marah.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2