Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Cincin Seharga 800 Milyar.


__ADS_3

Aku melanjutkan melihat lihat cincin yang ada digaleri termahal, disana aku melihat sepasang cincin dengan kotak khusus sepertinya sepesial cincin itu memiliki bermata sebuah berlian pink,.


" mba coba jelaskan temtang Cincin yang ada dikotak tengah itu!" ucapku kepada seorang pramuniaga penjaga galery ke 3 atau galery termahal ditoko ini.


" Nona ini adalah cincin terbaik dari perusahaan kami ditengahnya ada Berlian bernama The Stenmeitz Pink  dengan harga 350 M." ucap Pramuniaga itu.


" Apakah saya boleh mecobanya, tolong pakaikan dijari kami!" ucap Maureen sambil meletakkan tangan kanannya dan tangan Rayen di atas etalase.


Dengan hati hati pramuniaga itu mengambil dan memakaikan cincin itu dijari Maureen dan Rayen!"


" Sangat pas nona!" ucap Pramuniaga itu.


" Mama Papa aku ambil ini ya!" ucapku minta persetujuan Calon Mertuaku.


" Itu sangat mahal nak!" ucap Kim Nana.


" Aku yang akan bayar ma," ucap Maureen.


" Lalu aku kerja buat apa dek!" ucap Rayen.


" Buat sewa WO mas, mba tolong bungkusin ini ya dan saya tunggu dikasir!" ucap Maureen kepada Rayen dan petugas itu.

__ADS_1


Sesampainya dikasir Maureen melihat ibunya Dimas yakni Desyana masih disana, entah ia menelfon siapa kelihatannya sangat sibuk.


" Mba berapa punyaku?" ucap Tante Desy, mungkin karena takut maureen merebut kembali cincinya.


" Rp 150.000.000.000 nyonya!" ucap Pegawa kasir itu.


Tante Desy segera membayar cincin itu tanpa berfikir panjang, tetapi ia tidak segera pergi sementara Maureen dan yang lain diam saja berpura pura tidak kenal.


" Mba berapa punyaku?" ucap Maureen.


" Anda membeli cincin terbaik ditoko kami nona dengam harga 800 M sepasang itu sudah terhitung 2 Permata segarga 700 Miliar dan juga cincinya nona!" ucap Pegawai kasir itu.


Maureen mengeluarkan ATM ku membayar Cash Cincin itu yang membuat Desyana melo, sama seperti anak dan calon menantunya tadi.


Didalam mobil Rayen mengatakan bahwa kali ini ia yang harus bayar karena ia merasa malu jika semua ditanggung oleh Maureen.


" Dek nanti aku yang bayar ya! kamu udah habisin banyak uang hari ini!" ucap Rayen sambil fokus menyetir.


Maureen menoleh dan menatap Rayen,


" Mas apa perusahaanmu sudah benar-benar pulih?" tanya Maureen kepada Rayen.

__ADS_1


" Jika hanya untuk membayar makanan dan sewa WO aku tidak akan kembali jatuh bangkrut sayang!" ucap Rayen sambil tetap fokus menyertir.


" Baiklah jika begitu mas, terserah kamu saja untuk gedung resepsi sudah disiapkan Ayah, masjid yang digunakan untuk akhad nikah juga sudah diatur sama Mama dan Papa!" ucap Maureen sambil sesekali melirik kejalan.


Rayen mengangguk walau ia belum tahu jika semua sudah diatur karena ia sibuk mengurus perusahaannya.


" Dek nanti pengen punya anak berapa?" tanya Rayen mengalihkan pembicaraan.


" Satu atau dua aja mas!, kalau kamu?" ucap Maureen.


" 2 dek, biar nanti satu urus perusahaanmu satu urus perusahaanku dan kita bisa menikmati masa tua bersama!" ucap Rayen.


" Ide bagus mas, 2 anak cukup he he he!" ucap Maureen sambil sedikit tertawa kecil.


Rayen tersenyum senyum, sampai akhirnya mereka telah sampai diresto tujuannya resto xx, disana sudah ada Kim Nana dan Rehan entah kapan mereka sampainya padahal mereka keluar bersama sama dari toko berlian tadi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2