
Suasana di sore menjelang senja itu sangat sejuk. Burung burung
beterbangan di dahan dahan dan ranting tumbuhan perdu yang ada di sepanjang
jalanan ibukota. Sesekali mereka hinggap di atas kabel kabel yang ada di
sekitar jalanan itu. Burung bururng itu berkicau riang, laksana menyanyikan
kidung indah di kala sang surya beranjak ke peraduannya. Digantikan sang dewi
malam yang mulai menampakkan wajahnya di balik awan yang bergerak perlahan. Sungguh
suasana yang sangat indah.
Namun keindahan di senja itu, tidak berbanding lurus dengan
perasaan di hati Maureen. Sore itu dia duduk sendiri di serambi depan rumah
mewahnya. Hatinya sedang galau, sedih dan tentu saja beragam perasaan campur
aduk jadi satu. Bagaimana tidak, orang tua yang tinggal seorang ayah hari ini
harus berjuang dengan penyakit yang sangat ganas. Penyakit yang menjadi momok
pembunuh yang sangat ditakuti di seluruh dunia.
Maureen tidak bisa membayangkan jikalau harus secepat ini
ayahnya meninggalkan dia. Sungguh maureen tidak bisa membayangkan hal ini.
Lamunan Maureen buyar ketika tiba tiba merasa pundaknya
disentuh oleh seseorang.
“Bun, sudah hampir malam, sebaiknya makan malam, setelah itu
kita istirahat”. Sebuah suara yang sudah tidak asing lagi bagi dia. Suara yang
menemani hidupnya dalam beberapa tahun terakhir ini. siapa lagi kalau bukan
Rayen, suaminya tercinta.
“O, kamu sudah pulang Ray, maaf aku tidak tahu jika kamu
tadi sudah pulang sayang” kata Maureen.
“Tidak apa apa sayang, tadi waktu aku lewat di halaman, aku
lihat Bunda sedang duduk termenung. Sehingga aku memutuskan untuk langsung
masuk rumah dulu. O, iya, bagaimana kabarnya perkembangan ayah? Apakah tim
dokter sudah memutuskan kapan ayah akan berangkat ke Nevada Bun?” tanya Rayen.
“Sudah Ray, rencananya besok kami akan berangkat menuju ke
Nevada. Tim dokter sudah menyiapkan segala sesuatunya. Jadi nanti ayah tinggal
menuju ke Rumah Sakit dan mengikuti prosedur yang ada disana. Rencananya aku
mau mengontrak rumah di dekat rumah sakit sana saja agar setiap saat bisa
__ADS_1
memonitor kondisi ayah” kata Maureen.
“Apakah sekretarismu juga ikut kesana Bun?” tanya Rayen.
“Zhang biar disini saja Ray, nanti bisa bantu kamu untuk
mengurusi KSM Group, karena ada beberapa kendala di anak perusahaan yang belum
selesai kami tangani. Aku takut, jika tidak segera ditangani dampaknya akan
bisa meluas ke perusahaan yang lain. Biar nanti aku sama Bi Minah saja ke Nevada”
kata Maureen.
“Apa? Bi Minah? Apa tidak salah? Bukankah Bi Minah tidak
bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa yang lain?” tanya Rayen.
“Tidak apa apa sayang. Biar nanti untuk urusan lain aku yang
akan mengurusinya. Nanti Bi Minah biar membantu aku untuk di rumah kontrakan”
kata Maureen.
“Terserah bunda saja lah bagaimana baiknya. Yang penting
nanti sewaktu waktu ada kesulitan, bunda langsung menghubungi Jakarta ya?” kata
Rayen.
“Tidak usah kawatir Ray, disana banyak kolega yang bisa
membantu kita. Bukankah New York dan Nevada tidak terlalu jauh. Biar nanti aku
minta beberapa staf membantu mengurusi disana. Kamu, Zhang dan Vivi fokus ke
memperbesar kontrak dengan Putra Company. Jika ini betul terjadi, kamu bisa
pisahkan dulu Putra Company dengan KSM Group dulu. Karena sebuah perusahaan
rekanan harus punya nama sendiri untuk bisa dipandang bagus di lain perusahaan.”
Kata Maureen.
“Tapi Putra Company kan anak perusahaan KSM Group Bun? Apakah
ini tidak menyalahi prosedur dan tidak akan menimbulkan gejolak dengan anak
perusahaan yang lain?”tanya Rayen.
Rayen sedikit kawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh
Maureen. Hal ini wajar, karena sejatinya Putra Company adalah perusahaan yang
ada dibawah naungan KSM Group. Namun di sisi lain, Rayen juga membenarkan ide
brilian dari istrinya itu. Memang, jika Putra Company ingin mendapatkan
pengakuan penuh dan menjalin kerjasama dengan perusahaan perusahaan besar berskala
internasional, harus berdiri sendiri, bukan dibawah naungan KSM Group.
“Tidak apa apa sayang, kemarin ayah juga sudah mengatakan
demikian. Karena hakekatnya KSM Group juga milik kita. Jadi ayah meminta aku
__ADS_1
untuk melepas Putra Company berdiri sendiri, mengingat perkembangan nya akhir
akhir ini cukup bagus. Jadi keputusan ini sudah mendapat persetujuan dari ayah”
kata Maureen.
“O, apakah nanti bunda dan ayah Tito akan membawa pesawat
pribadi?” tanya Rayen.
“Tidak Ray, ayah menyarankan kami untuk naik pesawat
komersiil, karena kondisi cuaca akhir akhir ini tidak menentu. Jadi mengurangi
resiko di perjalanan” kata Maureen.
“Baiklah Bun, kalau begitu ayo sekarang bunda istirahat. Untuk
urusan perusahaan sementara dikesampingkan dulu. Biar nanti aku yang
mengurusinya. Bunda dan ayah fokus saja untuk kesembuhan ayah Tito” kata Rayen.
“Iya sayang. Maafkan aku ya? Belum bisa jadi istri yang
baik, karena masih harus berbagi dengan pekerjaan yang tiada habisnya” kata
Maureen sambil memeluk suaminya.
“Tidak apa apa Bunda sayang. Bukankah semua juga demi masa
depan kita dan buah hati kita” kata Rayen.
Keduanya salng berpelukan erat. Seakan akan tidak
terpisahkan. Dua insan yang saling mencintai dan menyayangi, berpacu dengan
gelora cinta. Suasana malam yang beranjak kelam menambah keindahan dan
kemesraan diantara mereka berdua.
Udara malam mulai terasa di badan, bintang gemerlap
menghiasi maya pada. Suara burung burung bernyanyi sudah tidak terdengar lagi,
semua sudah terlelap tidur. Demikian juga halnya dengan Maureen dan Rayen. Keduanya
tengah dibuai mimpinya masing masing. Esok adalah awal perjuangan. Perjuangan untuk
kesembuhan Tuan Besar Tito, perjuangan untuk memulihkan KSM Group dan
perjuangan untuk membesarkan Putra Company.
.
.
.
Jangan lupa, untuk readers tercinta, berikan vote, like
serta koment CUPU JADI RATU agar bisa terus mengawal perjalanan Maureen menjadi
Ratu yang sesungguhnya ( THE REAL QUEEN )
Juga simak novel novel author yang lain, agar selalu bisa
__ADS_1
memberikan hiburan untuk readers tercinta.
Selamat siang