
Siang ini cuaca cukup terik di langit Jakarta. Vivi memutuskan
untuk datang ke rumah Rayen. Vivi yakin, Rayen sudah mengantisipasi agar tidak
timbul masalah baru yang membuat hubungan Rayen dan Maureen makin meruncing.
Rayen meminta Bi Minah untuk menemani mereka menyiapkan
laporan neraca perusahaan. Rayen berharap, dengan begitu jika Maureen menyangka
yang bukan bukan, Bi Minah bisa memberikan penjelasan.
Menjelang sore hari, laporan neraca perusahaan hampir selesai,
tinggal menyelesaikan kontrak yang perlu dikaji ulang karena beberapa kolega
sempat membatalkan kontrak kemarin.
“Vi, bisa saya minta tolong sekali lagi kepadamu?” Tanya Rayen.
“Minta tolong soal apa ya Pak Presdir? Sepertinya kalo
urusan perusahaan sudah hampir selesai, tinggal sedikit lagi”, kata Vivi.
“Bukan masalah itu, tapi mengenai rencana untuk memberikan
kado untuk Maureen, pada hari ulang tahunnya besuk”, jelas Rayen.
“Maaf Pak Presdir, saya kawatir terjadi salah faham lagi. Lagipula
mungkin saya kurang tepat untuk memilihkan hadiah untuk Ibu Presdir. Saya kurang
berpengalaman dalam memilih hadiah yang cocok, apalagi yang berkelas dan
brandeed. Maaf, saya tidak pernah membayangkan melihat barang barang mahal
seperti yang dimiliki Ibu Presdir”, kata Vivi memberi penjelasan. Vivi berharap
dengan penjelasan itu bisa membuat Rayen mengurungkan niatnya untuk meminta membeli
hadiah untuk Maureen.
“Bukan itu maksudku Vi. Saya hanya ingin kamu memberikan
saran, apa sebaiknya yang bisa saya berikan untuk Maureen, selebihnya nanti
biar saya yang mencari sendiri. Nanti saya bisa menyuruh staf lain untuk
mencarinya, saya hanya ingin saran dari kamu”, kata Rayen.
“Maaf Pak, mungkin jika tas brandeed atau barang barang
mahal lainnya, Ibu Maureen sudah pasti punya dan lebih mampu membelinya. Kalo saran
saya pak, Pak Presdir bisa memberikan kado yang berkesan dan mungkin pernah
memiliki kenangan tersendiri tentang kehidupan Pak Presdir dan Ibu Presdir. Meski
mungkin kelihatannya sangat sederhana, tapi akan mampu member kesan yang luar
biasa bagi Ibu Presdir”, kata Vivi.
“Masuk akal usulmu Vi. OK, nanti akan saya pikirkan kado
terbaik untuk Maureen, sekarang kamu boleh pulang. Terima kasih sudah membantu
tugasku sore ini, sehingga besuk laporan ini sudah bisa saya serahkan ke KSM
Group. Jangan lupa besuk sudah masuk kantor. Jangan sampai mengecewakan Ibu
Presdir”, kata Rayen sembari mempersilahkan Vivi untuk pulang.
“Baik Pak Presdir, mudah mudahan saya tidak mengecewakan Pak
Presdir dan Ibu Presdir. Selamat sore”, ucap Vivi sambil berpamitan pulang.
“Sore juga Vi. O iya Bi Minah, terima kasih sudah bersedia
__ADS_1
menemani saya mengerjakan laporan sore ini. Bi Minah bisa melanjutkan pekerjaan
yang lain”, kata Rayen.
“Baik Tuan Rayen. Bibi permisi”, kata Bi Minah.
Lega rasanya hati Rayen. Tugas beratnya hari ini sudah
selesai. Kini dia tinggal memikirkan kado special untuk ulang tahun istrinya
besuk.
Ia melangkah menuju kamar, ingin istirahat sambil mencari
ide, kado terbaik untuk Maureen.
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya……
“Ahay,….. aku sudah menemukan kado terbaik untuk Maureen. Dia
pasti tidak menyangka aku member kejutan ini untuk dia”, kata Rayen dalam hati.
Rayen merebahkan tubuhnya diatas kasur yang berukiran indah,
dan sebentar kemudian dia tertidur.
Sejenak dia melupakan peliknya kehidupan yang dia alami hari
ini…….
.
.
Kita tinggalkan Rayen yang sedang lelap dalam mimpinya. Kita
lihat perjalanan Maureen dan sekretaris Zhang. Sabtu sore pesawat pribadi milik
Maureen sudah take off dari bandara John F Kennedy Intl., New York. Jika jadwal
tidak terganggu kurang lebih 25 jam akan sampai di Jakarta.
sekretaris Zhang untuk berada di ruang santai. Jika biasanya Maureen lebih suka
berada di kamar. Tapi kali ini ada yang akan dibicarakan dengan sekretaris
Zhang.
“Duduklah Zhang, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu
hari ini”, kata Maureen.
“Baik Ibu Presdir, apa yang bisa saya bantu untuk Ibu
Presdir”, Tanya sekretaris Zhang.
“Apakah telegram yang kusuruh buat kemarin sudah kamu kirim
ke Putra Company”, Tanya Maureen.
“Sudah Ibu Presdir, sesuai dengan perintah Ibu Presdir,
sudah saya beritahukan bahwa Ibu Presdir akan meninjau Putra Company sekaligus
akan memeriksa neraca keuangan Putra Company besuk Senin. Telegram sudah saya
kirimkan hari Jumat kemarin”, kata sekretaris Zhang.
“Baiklah, untuk sementara itu dulu yang perlu kamu kerjakan.
Saya ingin tahu, apakah Vivi masih bisa dipercaya dan bisa diandalkan untuk
membantu Rayen mengurus Putra Company. Saya tahu Vivi itu pintar, itulah
sebabnya dulu kuterima menjadi karyawan di Ksm Group dan kutempatkan sebagai
sekretarisnya Rayen. Semoga dia tetap bisa dipercaya dan diandalkan kinerjanya”,
jelas Maureen.
“Baik Ibu, jika sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi,
__ADS_1
saya akan beistirahat dulu di kamar, Ibu juga istirahat. Jaga kesehatan Ibu Presdir”,
kata Zhang.
“Terima kasih Zhang. Saya akan beristirahat juga. Semoga perjalanan
kita lancar samapai Jakarta besok”, kata Maureen sambil melangkah menuju kamar
VVIP, kamar pribadinya di pesawat pribadi miliknya.
.
.
Keesokan harinya. Hari Senin, ada kesibukan luar biasa di
kantor Putra Company. Ya, hari ini dijadwalkan Presdir KSM Group akan meninjau
Putra Company. Bahkan bukan hanya itu, Beliau juga minta laporan Neraca
Perusahaan. Di tengah kemelut yang baru saja melanda saham Putra Company, tentu
akan sangat berpengaruh terhadap neraca keseimbangan dari Putra Company.
Nampak Vivi pagi itu menemani Rayen untuk mempersiapkan
segala sesuatunya. Rayen dan Vivi tidak ingin ada kesalahan yang fatal hari
ini. Mereka ingin agar laporan pertanggungjawaban neraca perusahaan berjalan
dengan seempurna.
Semua karyawan, staf dan pegawai kantor Putra Company pagi
ini sibuk. Ya, karena yang akan disambut adalah Presdir KSM Group. Dimana semua
tahu bahwa Putra Company adalah salah satu anak perusahaan dari KSM Group.
Menjelang siang, persiapan selesai. Rayen dan Vivi
berkeliling untuk melihat persiapan penyambutan kedatangan Presdir KSM Group.
Maureen Tirta Kusuma. Semua sudah siap. Rayen faham, biasanya Maureen akan
datang ke kantor jam 12.00 siang. Itulah sebabnya, jam 11.00 semua sudah
diharuskan siap..
Tepat pukul 12.00
Belum ada tanda tanda Maureen datang ke kantor Putra
Company.
Pukul 12.30
Belum juga muncul Presdir KSM Group.
Pukul 14.00
Belum juga hadir. Rayen dan Vivi serta seluruh karyawan
Putra Company berharap harap cemas. Apa yang terjadi pada Maureen. Tidak seperti
biasanya, Maureen tidak pernah terlambat samapi lebih dari satu jam. Ini sudah
lebih dari dua jam. Apakah Maureen masih marah pada Rayen?
.
.
.
Apa yang terjadi pada Maureen/
Apakah perjalanan Maureen menuju Jakarta mengalami gangguan,
ataukah ada sebab lain, ikuti kisahnya di episode selanjutnya.
Selamat malam.
__ADS_1