Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 3


__ADS_3

 


 


Mobil Maureen terus melaju melewati padatnya jalanan


ibukota. Setelah kemarin diguyur hujan yang lebat dan lama, kini nampak sang


surya yang dengan gagah memancarkan sinarnya yang menyengat di tengah cuaca


yang cukup menyengat siang itu.


Hari itu ada kepuasan tersendiri di hati Maureen, karena


sudah bisa mengunjungi rumah singgah yang diimpikan selama ini untuk membantu


anak anak yang kurang beruntung. Maureen duduk disamping Rayen, suaminya yang


sedang mengemudikan mobil. Diliriknya suaminya yang masih fokus dengan jalanan


yang beberapa tempat mulai agak bolong bolong tergerus banjir yang sudah


menjadi langganan di sekitar tempat itu. Ada rasa bangga di hati Maureen melihat


pria gagah dan tampan yang selama ini telah mendampingi hidupnya dan menemani


hari harinya. Maureen bersyukur dikaruniai seorang suami yang sabar, sabar


dalam menghadapi tingkahnya yang kadang kekanak kanakan. Apalagi sifat Maureen yang


suka cemburuan. Ah, mudah mudahan Rayen selalu sabar dan sabar dalam menghadapi


dirinya.


Kenangan Maureen berlari ke beberapa tahun yang lalu, di


kala dirinya pertama kali mulai dekat dengan sosok suaminya yang sekarang. Kalau


ingat masa masa itu, kadang Maureen suka senyum senyum sendiri. Bagaimana tidak,


ditengah malam buta, ketika orang sudah sebagian besar terlelap tidur, dirinya


malah lari ke taman, sampai disana nangis nangis, sampai pingsan. Untunglah saat


itu ada Rayen yang menolongnya. Dan semua itu Maureen petik hikmanya sekarang. Dimana


dia mendapatkan seorang suami yang penyabar dan penyayang. Bahkan ketika Maureen


belum bisa memanggilnya ayah seperti saat dia panggil Maureen dengan sebutan


bunda saja, rayen juga tidak pernah marah, tidak pernah protes. Justru yang


protes para readers….. iya nggak……..


Tidak terasa mobil Maureen sudah memasuki pelataran kantor KSM


Group. Nampak beberapa pegawai yang berpapasan dengan mobil mereka mengangguk


hormat. Siang itu Maureen ingin mengecek situasi kantor selama walaupun Cuma sebentar.


Ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Sementara Rayen akan menuju ke kantor


Putra Company.


Mobil berhenti di depan pintu masuk kantor. Nampak Rayen


turun dari mobil, kemudian beranjak ke samping untuk membukakan pintu untuk


istrinya Maureen.


“Aku ke kantor dulu ya Ray sayang. Nanti sore jemput aku


saat kamu pulang saja” kata Maureen sambil mencium tangan suaminya.


“Iya Bunda sayang. Bunda jaga diri baik baik ya, jangan


terlalu capek. Lebih baik istirahat. Biar nanti urusan kantor aku yang


ngerjain. Jaga anak kita yang ada dikandungan. Jangan capek ya?” kata Rayen.


“Iya sayang. Kemarin aku sudah nyuruh staf untuk membuatkan


tempat istirahat di samping ruang kerja. Jadi nanti kalau capek aku tinggal


melangkah ke ruangan samping, tidur deh. Aku Cuma mau mengontrol pekerjaan


beberapa staf saja kok” kata Maureen sambil melangkah menuju ke pintu kantor.


“OK sayang, hati hati ya, aku ke kantor dulu. Nanti kujemput”


kata Rayen sambil melangkah menuju pintu mobil. Dan sejurus kemudian, mobil itu


sudah hilang berbaur dengan ramainya lalu lintas di depan gedung kantor KSM


Group.


.

__ADS_1


Sementara itu, Maureen memanggil sekretaris Zang untuk


menghadap. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakan kepada Zang terkait tugas


yang selama ini telah dibebankan kepadanya. Nampak sekretaris Zang membawa


setumpuk berkas yang sudah disiapkan untuk Maureen hari ini.


“Selamat siang Ibu Presdir, ini berkas yang Ibu butuhkan


sudah saya siapkan semua” kata sekretaris Zang sambil meletakkan berkas yang


dibawanya di meja kerja Maureen.


“Siang Zang. Apakah sudah kamu temukan kejanggalan dari


laporan keuangan perusahaan perusahaan itu?” kata Maureen.


“Beberapa sudah Ibu Presdir. Tapi untuk mengarah ke satu


orang masih sulit. Jadi kita perlu bukti bukti yang lebih konkrit lagi. Kami masih


menyelidiki kasus ini Ibu Presdir” kata sekretaris Zang.


Rupanya selama ini Maureen juga merasakan aada yang tidak


beres dengan neraca keuangan yang dilaporkan oleh anak perusahaan KSM Group


kemarin. Meski jumlah kerugiannya tidak sampai mengganggu roda kinerja


perusahaan secara keseluruhan, namun imbasnya sangat terasa. Beberapa perusahaan


rekanan membatalkan kontrak kerjanya secara sepihak. Bahkan saham KSM Group pun


sempat mengalami penurunan yang signifikan. Untunglah media cetak dan


elektronik tidak terlalu mengekspos berita ini, sehingga isu ini tidak sempat


menjadi trending topic dan berhasil diredam.


“Baiklah Zang. Selidiki terus kasus ini. Tapi kamu harus


terus pura pura tidak mengetahui soal ini agar tidak timbul kecurigaan. Apakah kecurigaanmu


mengarah ke orang dekat Zang?”kata Maureen.


“Benar Ibu Presdir. Maaf, bisa saya bisikkan saja namanya


Ibu, biar tidak ada yang mendengar” kata Zang sambil mendekati Maureen,


“Silahkan Zang” kata Maureen sambil mendekatkan telinganya


Nampak sekretaris Zang membisikkan sesuatu di telinga Maureen,


cukup serius Maureen mendengarkan aopa yang dikatakan oleh sekretaris Zang.


“Ah, masa sih Zang? Apa investigasimu tidak salah orang?” Tanya


Maureen.


“Tidak Ibu Presdir. Semua mengarah ke situ. Tapi kita perlu


bukti lagi yang lebih dalam lagi. Agar kita tidak asal tuduh dan gampang


dipatahkan tuduhan kita” kata sekretaris Zang.


“Baiklah Zang, teruskan penyelidikanmu. Mungkin sebentar


lagi saya juga harus istirahat di rumah. nanti untuk kedepannya perusahaan akan


saya serahkan pada Pak Rayen. Jadi nanti kamu tetap menjadi sekretaris saya


statusnya, tapi kamu bekerja dan bertanggung jawab pada Pak Rayen selama saya


belum menangani perusahaan kembali secara penuh. Ingat Zang, kamu sudah saya


anggap seperti keluarga sendiri. Saya minta kamu bisa menjaga KSM Group seperti


halnya menjaga perusahaan kamu sendiri” kata Maureen.


“Siap Ibu Presdir. Saya akan menjalankan amanat Ibu dengan


sebaik baiknya. Mudah mudahan saya segera bisa membuktikan apa yang sudah saya


temukan, sehingga aset KSM Group yang hilang bisa diselamatkan” kata sekretaris


Zang.


Sekretaris Zang kemudian melangkah meninggalkan Maureen yang


tengah sibuk meneliti berkas yang telah diserahkan oleh sekretaris Zang. Berkali


kali Maureen menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal


ini. Bukankah selama ini keluarga Tirta Kusuma sangat baik terhadapnya?


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu, Rayen yang berada di kantornya sedang sibuk


untuk mempersiapkan beberapa berkas yang akan dibawa ke beberapa perusahaan


yang sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan Putra Company.


Belum selesai


meneliti semua berkas yang disodorkan oleh Vivi di siang itu, tiba tiba Vivi


datang dan menyerahkan telegram dari Castillo Company. sebagaimana diketahui


bahwa Castillo Company adalah Bigest Company atau perusahaan terbesar dari


Mexico yang sudah menjalin kerjasama dengan Putra Company beberapa waktu yang


lalu.


Dengan hati berdebar debar, perlahan lahan Rayen membuka


sampul telegram dan membacanya


Telegram tersebut dikirim dalam bahasa inggris…………


Dear


Mr. Rayen. Presdir Putra Company in Jakarta


Following up on our


collaboration a few months ago, we look forward to Mr Rayen's presence in our


office as soon as possible. don't forget to be with Miss Vivi. From : CASSTILO


COMPANY


Dalam telegram itu sangat jelas


mengharap kehadiran Rayen sesegera mungkin di kantor Castillo Company, Mexico


untuk membahas kerjasama yang sudah disampaikan oleh perwakilan perusahaan


kemarin. Dan benar saja, mereka tetap mengharap Rayen datang kesana bersama


Vivi, sekretarisnya.


Sungguh satu dilema bagi Rayen,


apakah nanti Maureen tidak akan berburuk sangka terhadap mereka?


Tapi bagaimana jika Vivi tidak


ikut? Bukankah yang mahir berbahasa Spanyol adalah Vivi, dan mereka berani


memberikan nilai kontrak yang fantastis juga karena peran Vivi yang berhasil


meyakinkan mereka akan kemampuan dari Putra Company.


Ah, mungkin lebih baik telegram


ini kubawa pulang saja, nanti kutunjukkan pada Maureen, agar Maureen tidak


salah sangka terhadap mereka. Begitu pikir Rayen. Dia berharap, dengan membaca


sendiri telegram dari Castillo Company, Maureen mau menyadari bahwa kontrak ini


sangat penting bagi kemajuan Putra Company. Apalagi saat ini KSM Group tengah


mengalami masalah. Jadi inilah kesempatan emas bagi Rayen dan Maureen untuk


bangkit kembali.


Rayen kemudian bergegas berkemas


untuk menjemput Maureen di kantor KSM Group. Hari sudah beranjak sore,


sepanjang perjalanan yang dipikirkan Rayen adalah bagaimana mengatakan


kepergiannya ke Mexico pada istrinya. Dia berharap jangan sampai ada salah


faham dan dugaan yang tidak tidak lagi terhadap Rayen dan Vivi.


Rayen terpaksa menunda


investigasinya terhadap KSM Group, karena Rayen ingin menyelesaikan kontrak


kerja dulu dengan Castillo Company. Kontrak ini harus berhasil. Itulah ada di


dalam pikiran Rayen.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2