
Mobil Maureen terus melaju melewati padatnya jalanan
ibukota. Setelah kemarin diguyur hujan yang lebat dan lama, kini nampak sang
surya yang dengan gagah memancarkan sinarnya yang menyengat di tengah cuaca
yang cukup menyengat siang itu.
Hari itu ada kepuasan tersendiri di hati Maureen, karena
sudah bisa mengunjungi rumah singgah yang diimpikan selama ini untuk membantu
anak anak yang kurang beruntung. Maureen duduk disamping Rayen, suaminya yang
sedang mengemudikan mobil. Diliriknya suaminya yang masih fokus dengan jalanan
yang beberapa tempat mulai agak bolong bolong tergerus banjir yang sudah
menjadi langganan di sekitar tempat itu. Ada rasa bangga di hati Maureen melihat
pria gagah dan tampan yang selama ini telah mendampingi hidupnya dan menemani
hari harinya. Maureen bersyukur dikaruniai seorang suami yang sabar, sabar
dalam menghadapi tingkahnya yang kadang kekanak kanakan. Apalagi sifat Maureen yang
suka cemburuan. Ah, mudah mudahan Rayen selalu sabar dan sabar dalam menghadapi
dirinya.
Kenangan Maureen berlari ke beberapa tahun yang lalu, di
kala dirinya pertama kali mulai dekat dengan sosok suaminya yang sekarang. Kalau
ingat masa masa itu, kadang Maureen suka senyum senyum sendiri. Bagaimana tidak,
ditengah malam buta, ketika orang sudah sebagian besar terlelap tidur, dirinya
malah lari ke taman, sampai disana nangis nangis, sampai pingsan. Untunglah saat
itu ada Rayen yang menolongnya. Dan semua itu Maureen petik hikmanya sekarang. Dimana
dia mendapatkan seorang suami yang penyabar dan penyayang. Bahkan ketika Maureen
belum bisa memanggilnya ayah seperti saat dia panggil Maureen dengan sebutan
bunda saja, rayen juga tidak pernah marah, tidak pernah protes. Justru yang
protes para readers….. iya nggak……..
Tidak terasa mobil Maureen sudah memasuki pelataran kantor KSM
Group. Nampak beberapa pegawai yang berpapasan dengan mobil mereka mengangguk
hormat. Siang itu Maureen ingin mengecek situasi kantor selama walaupun Cuma sebentar.
Ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Sementara Rayen akan menuju ke kantor
Putra Company.
Mobil berhenti di depan pintu masuk kantor. Nampak Rayen
turun dari mobil, kemudian beranjak ke samping untuk membukakan pintu untuk
istrinya Maureen.
“Aku ke kantor dulu ya Ray sayang. Nanti sore jemput aku
saat kamu pulang saja” kata Maureen sambil mencium tangan suaminya.
“Iya Bunda sayang. Bunda jaga diri baik baik ya, jangan
terlalu capek. Lebih baik istirahat. Biar nanti urusan kantor aku yang
ngerjain. Jaga anak kita yang ada dikandungan. Jangan capek ya?” kata Rayen.
“Iya sayang. Kemarin aku sudah nyuruh staf untuk membuatkan
tempat istirahat di samping ruang kerja. Jadi nanti kalau capek aku tinggal
melangkah ke ruangan samping, tidur deh. Aku Cuma mau mengontrol pekerjaan
beberapa staf saja kok” kata Maureen sambil melangkah menuju ke pintu kantor.
“OK sayang, hati hati ya, aku ke kantor dulu. Nanti kujemput”
kata Rayen sambil melangkah menuju pintu mobil. Dan sejurus kemudian, mobil itu
sudah hilang berbaur dengan ramainya lalu lintas di depan gedung kantor KSM
Group.
.
__ADS_1
Sementara itu, Maureen memanggil sekretaris Zang untuk
menghadap. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakan kepada Zang terkait tugas
yang selama ini telah dibebankan kepadanya. Nampak sekretaris Zang membawa
setumpuk berkas yang sudah disiapkan untuk Maureen hari ini.
“Selamat siang Ibu Presdir, ini berkas yang Ibu butuhkan
sudah saya siapkan semua” kata sekretaris Zang sambil meletakkan berkas yang
dibawanya di meja kerja Maureen.
“Siang Zang. Apakah sudah kamu temukan kejanggalan dari
laporan keuangan perusahaan perusahaan itu?” kata Maureen.
“Beberapa sudah Ibu Presdir. Tapi untuk mengarah ke satu
orang masih sulit. Jadi kita perlu bukti bukti yang lebih konkrit lagi. Kami masih
menyelidiki kasus ini Ibu Presdir” kata sekretaris Zang.
Rupanya selama ini Maureen juga merasakan aada yang tidak
beres dengan neraca keuangan yang dilaporkan oleh anak perusahaan KSM Group
kemarin. Meski jumlah kerugiannya tidak sampai mengganggu roda kinerja
perusahaan secara keseluruhan, namun imbasnya sangat terasa. Beberapa perusahaan
rekanan membatalkan kontrak kerjanya secara sepihak. Bahkan saham KSM Group pun
sempat mengalami penurunan yang signifikan. Untunglah media cetak dan
elektronik tidak terlalu mengekspos berita ini, sehingga isu ini tidak sempat
menjadi trending topic dan berhasil diredam.
“Baiklah Zang. Selidiki terus kasus ini. Tapi kamu harus
terus pura pura tidak mengetahui soal ini agar tidak timbul kecurigaan. Apakah kecurigaanmu
mengarah ke orang dekat Zang?”kata Maureen.
“Benar Ibu Presdir. Maaf, bisa saya bisikkan saja namanya
Ibu, biar tidak ada yang mendengar” kata Zang sambil mendekati Maureen,
“Silahkan Zang” kata Maureen sambil mendekatkan telinganya
Nampak sekretaris Zang membisikkan sesuatu di telinga Maureen,
cukup serius Maureen mendengarkan aopa yang dikatakan oleh sekretaris Zang.
“Ah, masa sih Zang? Apa investigasimu tidak salah orang?” Tanya
Maureen.
“Tidak Ibu Presdir. Semua mengarah ke situ. Tapi kita perlu
bukti lagi yang lebih dalam lagi. Agar kita tidak asal tuduh dan gampang
dipatahkan tuduhan kita” kata sekretaris Zang.
“Baiklah Zang, teruskan penyelidikanmu. Mungkin sebentar
lagi saya juga harus istirahat di rumah. nanti untuk kedepannya perusahaan akan
saya serahkan pada Pak Rayen. Jadi nanti kamu tetap menjadi sekretaris saya
statusnya, tapi kamu bekerja dan bertanggung jawab pada Pak Rayen selama saya
belum menangani perusahaan kembali secara penuh. Ingat Zang, kamu sudah saya
anggap seperti keluarga sendiri. Saya minta kamu bisa menjaga KSM Group seperti
halnya menjaga perusahaan kamu sendiri” kata Maureen.
“Siap Ibu Presdir. Saya akan menjalankan amanat Ibu dengan
sebaik baiknya. Mudah mudahan saya segera bisa membuktikan apa yang sudah saya
temukan, sehingga aset KSM Group yang hilang bisa diselamatkan” kata sekretaris
Zang.
Sekretaris Zang kemudian melangkah meninggalkan Maureen yang
tengah sibuk meneliti berkas yang telah diserahkan oleh sekretaris Zang. Berkali
kali Maureen menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal
ini. Bukankah selama ini keluarga Tirta Kusuma sangat baik terhadapnya?
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, Rayen yang berada di kantornya sedang sibuk
untuk mempersiapkan beberapa berkas yang akan dibawa ke beberapa perusahaan
yang sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan Putra Company.
Belum selesai
meneliti semua berkas yang disodorkan oleh Vivi di siang itu, tiba tiba Vivi
datang dan menyerahkan telegram dari Castillo Company. sebagaimana diketahui
bahwa Castillo Company adalah Bigest Company atau perusahaan terbesar dari
Mexico yang sudah menjalin kerjasama dengan Putra Company beberapa waktu yang
lalu.
Dengan hati berdebar debar, perlahan lahan Rayen membuka
sampul telegram dan membacanya
Telegram tersebut dikirim dalam bahasa inggris…………
Dear
Mr. Rayen. Presdir Putra Company in Jakarta
Following up on our
collaboration a few months ago, we look forward to Mr Rayen's presence in our
office as soon as possible. don't forget to be with Miss Vivi. From : CASSTILO
COMPANY
Dalam telegram itu sangat jelas
mengharap kehadiran Rayen sesegera mungkin di kantor Castillo Company, Mexico
untuk membahas kerjasama yang sudah disampaikan oleh perwakilan perusahaan
kemarin. Dan benar saja, mereka tetap mengharap Rayen datang kesana bersama
Vivi, sekretarisnya.
Sungguh satu dilema bagi Rayen,
apakah nanti Maureen tidak akan berburuk sangka terhadap mereka?
Tapi bagaimana jika Vivi tidak
ikut? Bukankah yang mahir berbahasa Spanyol adalah Vivi, dan mereka berani
memberikan nilai kontrak yang fantastis juga karena peran Vivi yang berhasil
meyakinkan mereka akan kemampuan dari Putra Company.
Ah, mungkin lebih baik telegram
ini kubawa pulang saja, nanti kutunjukkan pada Maureen, agar Maureen tidak
salah sangka terhadap mereka. Begitu pikir Rayen. Dia berharap, dengan membaca
sendiri telegram dari Castillo Company, Maureen mau menyadari bahwa kontrak ini
sangat penting bagi kemajuan Putra Company. Apalagi saat ini KSM Group tengah
mengalami masalah. Jadi inilah kesempatan emas bagi Rayen dan Maureen untuk
bangkit kembali.
Rayen kemudian bergegas berkemas
untuk menjemput Maureen di kantor KSM Group. Hari sudah beranjak sore,
sepanjang perjalanan yang dipikirkan Rayen adalah bagaimana mengatakan
kepergiannya ke Mexico pada istrinya. Dia berharap jangan sampai ada salah
faham dan dugaan yang tidak tidak lagi terhadap Rayen dan Vivi.
Rayen terpaksa menunda
investigasinya terhadap KSM Group, karena Rayen ingin menyelesaikan kontrak
kerja dulu dengan Castillo Company. Kontrak ini harus berhasil. Itulah ada di
dalam pikiran Rayen.
.
.
__ADS_1
.