Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 12


__ADS_3

 


 


Malam ini Vivi dan Rayen dapat tidur nyenyak karena tugas


mereka telah selesai. Dan semuanya sesuai dengan apa yang telah direncanakan


oleh Rayen. Berkali kali Rayen mengucapkan terima kasih kepada Vivi, karena berkat


bantuan dialah proyek dan kerjasama yang dilakukan bersama Castillo Company ini


bisa berjalan dengan baik.


Sebenarnya Vivi tidak enak hati, jika Rayen menganggap apa


yang dilakukan nya terhadap Putra Company ini terlalu berlebihan. Sebenarnya Vivi


hanya ingin membalas kebaikan Maureen yang telah membantunya memberikan


pekerjaan sekaligus membuat kehidupannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.


Namun dalam perjalanannya, Vivi sendiri menjadi bingung. Rayen sangat baik


terhadapnya. Bahkan tidak jarang Bos Besarnya itu mencuri curi pandang terhadap


dia. Sebagai seorang wanita, tentu saja Vivi merasa bahwa ada sesuatu yang


disembunyikan oleh Bos Besarnya itu.


Apakah sebenarnya Rayen suka sama Vivi? Atau hanya Vivi saja


yang merasa ke GR an karena sikap Rayen yang sangat baik terhadapnya.


Tapi jika benar Rayen suka sama Vivi, apa iya Rayen tega


mengkhianati istrinya yang sedang haml tua? Atau Rayen ingin menjadikan Vivi


istri kedua? Ah, Vivi. Kamu jangan terlalu berharap besar. Mimpimu terlalu


tinggi, apa mungkin tidurmu miring? Kata anak anak sekarang……


Harusnya sih, Rayen dan Vivi tidurnya bisa nyenyak malam


hari ini. Namun karena Vivi kepikiran dengan sikap Rayen, akhirnya sampai jauh


larut malam Vivi baru bisa memejamkan mata.


.


.


Vivi baru saja memejamkan merasa baru saja memejamkan mata,


ketika tiba tiba dia merasa ada yang menyentuh kakinya. Siapa ya, malam malam


begini masuk kamarnya tanpa izin.


“Vi, bangun.” Terdengar suara yang sepertinya sudah tidak


asing lagi.


“Eh, Pak Presdir. Ada apa malam malam begini kok ke kamar


saya, apa Bapak tidak tidur?” kata Vivi setengah kaget. Karena ternyata yang


membangunkan dia adalah Presdir Putra Company.


Mendengar kata kata Vivi, Rayen justru tertawa bahkan sangat


keras…..


“ Hahaha……. Kamu itu kenapa sih Vi. Tidurmu yang salah, apa


karena kamu kepikiran seseorang, lihat tuh diluar. Yang bilang sekarang malam


itu siapa?” kata Rayen


Vivi melongok ke jendela kamar yang ditunjukkan sama Rayen. Wah,


ternyata benar, sudah siang. Mana dia masih pakai baju tidur lagi. Sementara disitu


ada Pak Rayen yang sedang berdiri di samping ranjang tempat tidurnya.


“Maaf Pak Presdir, saya kira masih malam. Maklum saya


kepikiran ibu saya di Jakarta” kata Vivi


“Ibu apa ibu? Sepertinya kamu sedang memikirkan seseorang. Iya


kan? Pasti orang itu sangat special buat kamu. Ya sudah, sekarang kamu mandi


sana. Mau ikut pulang apa pengin nginap disini lagi. Hahaha….. “ kata Rayen


sambil tertawa.


Wah, Pak Rayen kalau ketawa begitu makin gagah. Tapi gimana


nih, Vivi masih memakai baju tidur, kok Pak rayen belum juga keluar kamar ya? Kan


Vivi harus mandi. Ah, masa bodoh ah, kelihatan kelihatan sajalah Vivi mau

__ADS_1


mandi. Begitu pikir Vivi.


Vivi bergegas menarik selimut yang dipakainya. Kemudian berdiri


tanpa mempedulikan sekitarnya, berharap Pak Rayen walaupun berdiri disitu


ataupun sedang memperhatikan dia, dia tak peduli. Siapa tahu Pak Rayen memang


benar benar suka sama dia.


Tapi begitu Vivi melangkah menuju kamar mandi, dia tengok


sekeliling kamar, sepi. Tidak ada Pak Rayen. Bagaimana mungkin Pak Rayen keluar


kamar begitu cepat. Apakah Pak rayen tadi hanya halusinasi Vivi saja karena


Vivi suka sama Pak Rayen, atau memang Pak Rayen betul betul membangunkan Vivi.


Ah, masa bodohlah. Vi, ayo cepat mandi. Mau kamu terlambat


sampai di bandara dan menginap lagi disini.


Vivi kemudian melangkah ke kamar mandi, dia mandi dengan


menyiramkan air yang sangat banyak. Bahkan dia menyabun tubuh cantiknya dengan


sabun berulkang kali. Diguyurnya kepala dan rambut indahnya. Dia berharap, jika


ini hanya mimpi, bangunlah Vi….. bangun……..


Selesai mandi, vivi kemudian berkemas. Peralatan yang akan


dibawa pulang disiapkan semua. Setelah itu dia bergegas ke kamar Pak Rayen.


Pintu kamar Pak Rayen terbuka, Vivi melihat Pak Rayen sedang


duduk sambil menikmati secangkir kopi. Bajunya sama dengan yang dipakai oleh


bayangan Pak rayen yang membangunkan Vivi. Apa Vivi memang tidak sedang


bermimpi.


Melihat kedatangan Vivi, Rayen segera menyapanya.


“Eh, Vi. Duduk dulu. Ini tadi aku sudah pesan dua cangkir


kopi. Ayo diminum” kata Rayen


“ I…. iya pak” kata Vivi sedikit gelagapan saking kagetnya.


“Kamu itu, mandinya lama sekali. Emangnya cewek mandinya harus


“Maaf pak, saya terlambat bangun”


Vivi kemudian duduk di kursi dekat Rayen. Mereka menikmati


secangkir kopi, sebelum kemudian nampak Mr. viencent yang akan mengantar mereka


ke bandara datang menjemput mereka.


.


Hari sudah beranjak siang, ketika mereka berpamitan pada


Tuan Castillo. Rupanya Tuan  Castillo


benar benar terkesan dengan cara kerja Rayen, terbukti beberapa cindera mata


juga diberikan kepada Rayen dan juga ada yang khusus buat Vivi. Kemudian dia


meminta kepada Mr, Viencent untuk mengantar tamunya menuju bandara di Meksiko


City.


Mobil mereka segera melaju melewati jalanan jalanan yang ada


di kota Meksiko. Suasana jalanan sedikit lengang, karena hari ini hari minggu. Sekolah


sekolah pada libur. Sementara mereka yang sedang menjalani PSG hanya beberapa


orang saja. Itupun jika minggu banyak yang tidak .masuk. jadi wajar jika


kondisi jalanan kota meksiko sedikit longgar.


Tidak memakan waktu lama, merekapun sudah sampai di bandara


internasional Meksiko. Suasana yang penuh keakraban terjalin, nampak Mr.


Viencent melepas kepergian mereka menuju ke pesawat. Dan tidak lama kemudian


pesawat yang ditumpangi Rayen sudah take off, meluncur ke angkasa biru, sebiru


perasaan mereka berdua karena sudah berhasil menjalankan misinya untuk menjalin


kerjasama dengan perusahaan raksasa yang menhadiahkan beberapa mega proyek yang


berhasil mengantar perusahaannya menjadi perusahaan terkemuka bertaraf


internasional.


Di dalam pesawat mereka sudah membayangkan, bagaimana

__ADS_1


ramainya majalah ekonomi dan bisnis serta media cetak dan elektronik


memberitakan tentang kontrak kerja mereka. Nampak Rayen yang duduk disamping


Vivi tersenyum puas. Cita citanya untuk mengangkat Putra Company berhasil


dengan sukses. Beberapa saat lamanya mereka terlibat obrolan santai. Rayen


membicarakan tentang apa yang akan dilakukan oleh Putra Company selanjutnya. Sementara


Vivi mendengarkan apa sajayang dikatakan oleh Rayen dengan seksama. Ah memang


namanya lelaki dimana manamungkin sama ya. Mereka selalu akan mengejar yang


namanya Harta, Tahta dan Wanita. Terbukti, dalam hidup mereka yang akan dikejar


adalah kekayaan dan kedudukan. Mungkin bagi mereka itulah kebanggaan hidupnya.


Vivi terlihat berfikir keras dengan perilaku manusia yang


namanya laki laki di dunia. Kenapa hidupnya selalu dipenuhi dengan berbagai


aktivitas yang digunakan untuk mengejar kekayaaan dan kedudukan? Apakah suaminya


kelak juga akan seperti itu? Ah, Vivi tak maul ah kalau suaminya nanti hanya


banyak mengejar tentang kedudukan dan kekayaan apalagi mengejar wanita, ih amit


amit deh……


Tapi gimana ya kalau jodohnya laki laki yang ada


disampingnya? Yang sekarang sudah beristri dan sudah meraih posisi yang super


wah? Kalau yang punya sifat seperti itu Pak Rayen sih, bagi Vivi tidak apa apa.


Walaupun dalam kenyataannya Pak Rayen sudah punya istri, meskipun harus jadi


istri kedua, Vivi terima kok. Yang penting cukup dua saja, tidak tiga apalagi


empat.


Ingatan Vivi terus menerawang jauh,jauh dan jauh. Dia tidak


ingat lagi Pak Rayen tadi ngomong apa. Vivi disibukkan oleh hayalannya sendiri


yang tengah melayang entah kemana. Mungkin juga mengikuti awan yang berlari


kian kemari terhantam oleh laju pesawat yang makin kencang, kencang dan


kencang. Pikiran itu menerawang jauh sekali, sampai ke titik batas keniscayaan.


Betapa bahagianya, seandainya dia betul betul menjadi orang yang special di


hati pria gagah yang ada disampingnya.


Sampai kemudian, Vivi baru saja tersentak dan kembali dalam


kesadarannya ketika pundaknya merasakan sesuatu. Pundaknya seperti tertindih


benda berat. Dan, astaga………


Rupanya karena saking capeknya melakukan pekerjaan demi


pekerjaan di Meksiko dan perasaan yang begitu senang karena keberhasilannya,


Pak Rayen tanpa sadar tertidur di pesawat. Dan tanpa sengaja, ternyata kepala


Pak Rayen tergolek ke samping dan bersandar di pundak Vivi.


Vivi bingung, antara senang dan takut. Senang karena pria


tampan yang menjadi dambaan setiap wanita yang ada disampingnya, yang selalu


dia kagumi saat ini sedang dekat, dekat bahkan sangat dekat dengan dia. Takut,


jangan jangan kalau nanti Pak Rayen terbangun, dia akan marah. Karena telah lancing


berani bersentuhan tubuh dengan dia.


Tapi, bukankah Vivi tidak minta Pak Rayen untuk menyandarkan


kepalanya di pundak Vivi? Tidak kan? Vivi juga tidak minta Pak Rayen untuk


tidur disamping Vivi. Jangan marah sama Vivi ya Readers, please deh.


Tapi yakin, sumpah deh. Di hati nurani Vivi yang paling


dalam dia amat senang, senang sekali. Benarkah sebenarnya Pak Rayen juga


menaruh hati pada Vivi seperti perasaannya?


Ah, seandainya Pak Rayen ingin bersandar di pundak Vivi


selamanya pun, Vivi ikhlas kok Pak Ray……..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2