
Malam ini Vivi dan Rayen dapat tidur nyenyak karena tugas
mereka telah selesai. Dan semuanya sesuai dengan apa yang telah direncanakan
oleh Rayen. Berkali kali Rayen mengucapkan terima kasih kepada Vivi, karena berkat
bantuan dialah proyek dan kerjasama yang dilakukan bersama Castillo Company ini
bisa berjalan dengan baik.
Sebenarnya Vivi tidak enak hati, jika Rayen menganggap apa
yang dilakukan nya terhadap Putra Company ini terlalu berlebihan. Sebenarnya Vivi
hanya ingin membalas kebaikan Maureen yang telah membantunya memberikan
pekerjaan sekaligus membuat kehidupannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Namun dalam perjalanannya, Vivi sendiri menjadi bingung. Rayen sangat baik
terhadapnya. Bahkan tidak jarang Bos Besarnya itu mencuri curi pandang terhadap
dia. Sebagai seorang wanita, tentu saja Vivi merasa bahwa ada sesuatu yang
disembunyikan oleh Bos Besarnya itu.
Apakah sebenarnya Rayen suka sama Vivi? Atau hanya Vivi saja
yang merasa ke GR an karena sikap Rayen yang sangat baik terhadapnya.
Tapi jika benar Rayen suka sama Vivi, apa iya Rayen tega
mengkhianati istrinya yang sedang haml tua? Atau Rayen ingin menjadikan Vivi
istri kedua? Ah, Vivi. Kamu jangan terlalu berharap besar. Mimpimu terlalu
tinggi, apa mungkin tidurmu miring? Kata anak anak sekarang……
Harusnya sih, Rayen dan Vivi tidurnya bisa nyenyak malam
hari ini. Namun karena Vivi kepikiran dengan sikap Rayen, akhirnya sampai jauh
larut malam Vivi baru bisa memejamkan mata.
.
.
Vivi baru saja memejamkan merasa baru saja memejamkan mata,
ketika tiba tiba dia merasa ada yang menyentuh kakinya. Siapa ya, malam malam
begini masuk kamarnya tanpa izin.
“Vi, bangun.” Terdengar suara yang sepertinya sudah tidak
asing lagi.
“Eh, Pak Presdir. Ada apa malam malam begini kok ke kamar
saya, apa Bapak tidak tidur?” kata Vivi setengah kaget. Karena ternyata yang
membangunkan dia adalah Presdir Putra Company.
Mendengar kata kata Vivi, Rayen justru tertawa bahkan sangat
keras…..
“ Hahaha……. Kamu itu kenapa sih Vi. Tidurmu yang salah, apa
karena kamu kepikiran seseorang, lihat tuh diluar. Yang bilang sekarang malam
itu siapa?” kata Rayen
Vivi melongok ke jendela kamar yang ditunjukkan sama Rayen. Wah,
ternyata benar, sudah siang. Mana dia masih pakai baju tidur lagi. Sementara disitu
ada Pak Rayen yang sedang berdiri di samping ranjang tempat tidurnya.
“Maaf Pak Presdir, saya kira masih malam. Maklum saya
kepikiran ibu saya di Jakarta” kata Vivi
“Ibu apa ibu? Sepertinya kamu sedang memikirkan seseorang. Iya
kan? Pasti orang itu sangat special buat kamu. Ya sudah, sekarang kamu mandi
sana. Mau ikut pulang apa pengin nginap disini lagi. Hahaha….. “ kata Rayen
sambil tertawa.
Wah, Pak Rayen kalau ketawa begitu makin gagah. Tapi gimana
nih, Vivi masih memakai baju tidur, kok Pak rayen belum juga keluar kamar ya? Kan
Vivi harus mandi. Ah, masa bodoh ah, kelihatan kelihatan sajalah Vivi mau
__ADS_1
mandi. Begitu pikir Vivi.
Vivi bergegas menarik selimut yang dipakainya. Kemudian berdiri
tanpa mempedulikan sekitarnya, berharap Pak Rayen walaupun berdiri disitu
ataupun sedang memperhatikan dia, dia tak peduli. Siapa tahu Pak Rayen memang
benar benar suka sama dia.
Tapi begitu Vivi melangkah menuju kamar mandi, dia tengok
sekeliling kamar, sepi. Tidak ada Pak Rayen. Bagaimana mungkin Pak Rayen keluar
kamar begitu cepat. Apakah Pak rayen tadi hanya halusinasi Vivi saja karena
Vivi suka sama Pak Rayen, atau memang Pak Rayen betul betul membangunkan Vivi.
Ah, masa bodohlah. Vi, ayo cepat mandi. Mau kamu terlambat
sampai di bandara dan menginap lagi disini.
Vivi kemudian melangkah ke kamar mandi, dia mandi dengan
menyiramkan air yang sangat banyak. Bahkan dia menyabun tubuh cantiknya dengan
sabun berulkang kali. Diguyurnya kepala dan rambut indahnya. Dia berharap, jika
ini hanya mimpi, bangunlah Vi….. bangun……..
Selesai mandi, vivi kemudian berkemas. Peralatan yang akan
dibawa pulang disiapkan semua. Setelah itu dia bergegas ke kamar Pak Rayen.
Pintu kamar Pak Rayen terbuka, Vivi melihat Pak Rayen sedang
duduk sambil menikmati secangkir kopi. Bajunya sama dengan yang dipakai oleh
bayangan Pak rayen yang membangunkan Vivi. Apa Vivi memang tidak sedang
bermimpi.
Melihat kedatangan Vivi, Rayen segera menyapanya.
“Eh, Vi. Duduk dulu. Ini tadi aku sudah pesan dua cangkir
kopi. Ayo diminum” kata Rayen
“ I…. iya pak” kata Vivi sedikit gelagapan saking kagetnya.
“Kamu itu, mandinya lama sekali. Emangnya cewek mandinya harus
“Maaf pak, saya terlambat bangun”
Vivi kemudian duduk di kursi dekat Rayen. Mereka menikmati
secangkir kopi, sebelum kemudian nampak Mr. viencent yang akan mengantar mereka
ke bandara datang menjemput mereka.
.
Hari sudah beranjak siang, ketika mereka berpamitan pada
Tuan Castillo. Rupanya Tuan Castillo
benar benar terkesan dengan cara kerja Rayen, terbukti beberapa cindera mata
juga diberikan kepada Rayen dan juga ada yang khusus buat Vivi. Kemudian dia
meminta kepada Mr, Viencent untuk mengantar tamunya menuju bandara di Meksiko
City.
Mobil mereka segera melaju melewati jalanan jalanan yang ada
di kota Meksiko. Suasana jalanan sedikit lengang, karena hari ini hari minggu. Sekolah
sekolah pada libur. Sementara mereka yang sedang menjalani PSG hanya beberapa
orang saja. Itupun jika minggu banyak yang tidak .masuk. jadi wajar jika
kondisi jalanan kota meksiko sedikit longgar.
Tidak memakan waktu lama, merekapun sudah sampai di bandara
internasional Meksiko. Suasana yang penuh keakraban terjalin, nampak Mr.
Viencent melepas kepergian mereka menuju ke pesawat. Dan tidak lama kemudian
pesawat yang ditumpangi Rayen sudah take off, meluncur ke angkasa biru, sebiru
perasaan mereka berdua karena sudah berhasil menjalankan misinya untuk menjalin
kerjasama dengan perusahaan raksasa yang menhadiahkan beberapa mega proyek yang
berhasil mengantar perusahaannya menjadi perusahaan terkemuka bertaraf
internasional.
Di dalam pesawat mereka sudah membayangkan, bagaimana
__ADS_1
ramainya majalah ekonomi dan bisnis serta media cetak dan elektronik
memberitakan tentang kontrak kerja mereka. Nampak Rayen yang duduk disamping
Vivi tersenyum puas. Cita citanya untuk mengangkat Putra Company berhasil
dengan sukses. Beberapa saat lamanya mereka terlibat obrolan santai. Rayen
membicarakan tentang apa yang akan dilakukan oleh Putra Company selanjutnya. Sementara
Vivi mendengarkan apa sajayang dikatakan oleh Rayen dengan seksama. Ah memang
namanya lelaki dimana manamungkin sama ya. Mereka selalu akan mengejar yang
namanya Harta, Tahta dan Wanita. Terbukti, dalam hidup mereka yang akan dikejar
adalah kekayaan dan kedudukan. Mungkin bagi mereka itulah kebanggaan hidupnya.
Vivi terlihat berfikir keras dengan perilaku manusia yang
namanya laki laki di dunia. Kenapa hidupnya selalu dipenuhi dengan berbagai
aktivitas yang digunakan untuk mengejar kekayaaan dan kedudukan? Apakah suaminya
kelak juga akan seperti itu? Ah, Vivi tak maul ah kalau suaminya nanti hanya
banyak mengejar tentang kedudukan dan kekayaan apalagi mengejar wanita, ih amit
amit deh……
Tapi gimana ya kalau jodohnya laki laki yang ada
disampingnya? Yang sekarang sudah beristri dan sudah meraih posisi yang super
wah? Kalau yang punya sifat seperti itu Pak Rayen sih, bagi Vivi tidak apa apa.
Walaupun dalam kenyataannya Pak Rayen sudah punya istri, meskipun harus jadi
istri kedua, Vivi terima kok. Yang penting cukup dua saja, tidak tiga apalagi
empat.
Ingatan Vivi terus menerawang jauh,jauh dan jauh. Dia tidak
ingat lagi Pak Rayen tadi ngomong apa. Vivi disibukkan oleh hayalannya sendiri
yang tengah melayang entah kemana. Mungkin juga mengikuti awan yang berlari
kian kemari terhantam oleh laju pesawat yang makin kencang, kencang dan
kencang. Pikiran itu menerawang jauh sekali, sampai ke titik batas keniscayaan.
Betapa bahagianya, seandainya dia betul betul menjadi orang yang special di
hati pria gagah yang ada disampingnya.
Sampai kemudian, Vivi baru saja tersentak dan kembali dalam
kesadarannya ketika pundaknya merasakan sesuatu. Pundaknya seperti tertindih
benda berat. Dan, astaga………
Rupanya karena saking capeknya melakukan pekerjaan demi
pekerjaan di Meksiko dan perasaan yang begitu senang karena keberhasilannya,
Pak Rayen tanpa sadar tertidur di pesawat. Dan tanpa sengaja, ternyata kepala
Pak Rayen tergolek ke samping dan bersandar di pundak Vivi.
Vivi bingung, antara senang dan takut. Senang karena pria
tampan yang menjadi dambaan setiap wanita yang ada disampingnya, yang selalu
dia kagumi saat ini sedang dekat, dekat bahkan sangat dekat dengan dia. Takut,
jangan jangan kalau nanti Pak Rayen terbangun, dia akan marah. Karena telah lancing
berani bersentuhan tubuh dengan dia.
Tapi, bukankah Vivi tidak minta Pak Rayen untuk menyandarkan
kepalanya di pundak Vivi? Tidak kan? Vivi juga tidak minta Pak Rayen untuk
tidur disamping Vivi. Jangan marah sama Vivi ya Readers, please deh.
Tapi yakin, sumpah deh. Di hati nurani Vivi yang paling
dalam dia amat senang, senang sekali. Benarkah sebenarnya Pak Rayen juga
menaruh hati pada Vivi seperti perasaannya?
Ah, seandainya Pak Rayen ingin bersandar di pundak Vivi
selamanya pun, Vivi ikhlas kok Pak Ray……..
.
.
.
__ADS_1