Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 3


__ADS_3

 


 


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Chika, Maureen tidak


henti hentinya berfikir, bagaimana bisa, seorang Chika Suroso yang dulu paling


senang dengan dunia glamor, dunia wah, duna yang serba branded, tapi hari ini


sangat jauh berbeda.


Maureen heran, kenapa Chika yang sekarang betul betul Chika


yang bisa menghargai uang. Padahal dulu, Chika tidak peduli berapa uang yang


terbuang asal gengsi dan barang yang diinginkan tercapai.


Senja temaram menghias mayapada, ketika Maureen menapakkan


kakinya di halaman rumahnya. Nampak burung pipit dan burung gereja yang


berkerjaran diantara rimbunnya daun daun tanaman yang berjajar di pinggir


jalan. Sesekali mereka hinggap di kabel telepon yang melintang. Ah, betapa


bahagianya mereka. Mereka tidak pernah menghadapi persoalan persoalan hidup


yang rumit dan pelik sepertiku, batin Maureen.


Ya, mereka sangat bahagia, meski terkadang mereka tidak


tahu, besuk rejekinya ada dimana.


Ternyata manusia itu benar benar tidak bisa bersyukur. Semua


sudah dipunyai, tapi kadang untuk mendapatkan kebahagiaan, sungguh sangat


sulit.


Mungkin bagi orang lain, pasti akan menyangka bahwa Maureen


sangat bahagia. Bagaimana tidak, semua serba berlimpah. Jangankan hanya uang,


apapun dipunyai oleh Maureen. Jabatan tertinggi di perusahaan besar, pesawat


pribadi, hotel mewah, semua ada. Tapi tidak demikian bagi Maureen. Kadang


hatinya hampa. Keadaan memaksa Maureen untuk selalu bekerja dan bekerja. Hingga


lupa arti hakiki kebahagiaan. Ah, Maureen, sampai kapan kamu akan dapat mendapatkan


kebahagiaanmu yang hakiki?


Pikiran Maureen makin gundah. Maureen ingin mencari


kebahagiaan sejati seperti yang ditemui oleh Chika. Meskipun Maureen tahu,


untuk mendapatkan itu perlu perjuangan berat dan mungkin juga, butuh


pengorbanan yang cukup besar.


Maureen melangkah ke dalam rumah. Nampaknya Rayen belum


pulang. Suasana rumah megah itu masih sepi. Seandainya aku sudah punya anak,


tentu kesepian ini tidak akan terjadi, pikir Maureen. Maureen membayangkan


betapa bahagianya jika kelak buah hatinya sudah bisa bicara dan belajar


berjalan. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara jika bisa sempurna menjadi


seorang istri dan seorang ibu.


Tiba tiba Maureen teringat sesuatu. Senja ini Rayen belum


pulang. Kenapa Maureen tidak memasak saja untuk makan malam Maureen dan Rayen?


Bukankah Chika juga memasak sendiri makanan untuk suaminya? Bukankah tidak ada


salahnya, jika Maureen menyiapkan makanan special untuk Rayen? Semua tidak


harus pembantu, semua tidak harus cattering, semua tidak harus delivery order.


Maureen ingin memulainya dengan hal hal kecil yang berguna bagi keluarganya.

__ADS_1


Maureen kemudian melangkah ke dapur. Dipungutnya beberapa


barang dari kulkas untuk kemudian dimasak. Bi Minah heran, tidak seperti


biasanya Maureen bertingkah seperti ini. Namun Bi Minah tidak berani bertanya.


Bi Minah hanya memperhatikan saja, sambil berada di dekat Maureen. Bi Minah


hanya berjaga jaga seandainya suatu saat Maureen membutuhkan bantuannya, dia


sudah siap disampingnya.


Beberapa saat kemudian, masakan yang merupakan makanan


favorit dari Rayen sudah siap dihidangkan. Maureen mencoba mencicipinya.


“ah, kayaknya sudah sesuai dengan selera Rayen”,gumannya


dalam hati.


Kemudian dia bergegas memanggil Bi Minah.


“Bi Minah?” teriak Maureen.


“I… iya Nyonya. Ada apa?” Tanya Bi Minah sambil berlari


mendekat ke Maureen.


Setelah dekat, Maureen menyodorkan sendok berisi sedikit


masakan pada Bi Minah.


“Coba deh Bi kamu cicipi masakan Maureen. Apakah sudah pas


apa belum. Kalau menurutku sih, sudah cukup. Tapi kalau menurut Bi Minah kurang


bumbunya, nanti biar kuperbaiki”, kata Maureen.


Walaupun agak heran dengan tingkah Nyonya Muda majikannya


itu, Bi Minah tidak berani membantah. Diraihnya sendok berisi masakan hasil


kerja Maureen. Lalu diincipi nya masakan itu.


Minah dalam hati.


Bi Minah sampai merem melek merasakan masakan itu, sampai


lupa jika Bi Minah ada dihadapan Nyonya Muda Maureen.


“Gimana Bi, ada yang masih kurang” Tanya Maureen.


Bi Minah kaget. Dia tersadar dari lamunannya.


“Ehm, anu…. Nyonya. Eh…. Iya. Masakan nyonya luar biasa. Bi Minah


sampai lupa bahwa Bi Minah disuruh mencicipi masakan ini. Sungguh masakan yang


pas rasanya. Pasti Tuan Muda sangat menyukai masakan ini Nyonya”, kata Bi Minah


gelagapan.


“Ah, jangan ngeledek Bi. Maureen serius. Ini kubuat special untuk


Rayen”.


“Betul Nyonya Muda. Ini sudah pas, sangat pas. Bi Minah jadi


pengin belajar masak sama Nyonya. Tidak disangka, sudah beberapa tahun Bi Minah


ikut di rumah ini. Tapi baru kali ini Bi Minah melihat Nyonya memasak dan betul


betul meresapi masakannya. Sungguh luar biasa Nyonya. Pasti Tuan Rayen akan


senang dengan masakan Nyonya” puji Bi Minah.


“Iya Bi. Dulu Maureen senang memasak. Namun karena kesibukan


mengurusi bisnis beberapa perusahaan, akhirnya Maureen sudah tidak punya


kesempatan lagi untuk mengembangkan hobi Maureen ini. Pekerjaaan ini sangat


menuntut waktu dan tenaga Bi”


“Kenapa Nyonya tidak meminta Tuan Rayen untuk sementara

__ADS_1


mengurus perusahaan Nyonya saja, agar Nyonya bisa sedikit beristirahat. Bibi lihat,


akhir akhir ini Nyonya sangat letih. Mungkin kecapekan Nyonya. Sebaiknya Nyonya


lebih banyak istirahat. Kalau Bibi perhatikan, Nyonya sudah akan punya momongan”,


kata Bi Minah.


“Ah, Bi Minahkayak dukun saja. Darimana Bibi tahu kalau Maureen


akan punya momongan?”


“Nyonya, Bibi ini sudah tua. Bibi juga pernah punya anak,


sekalipun sekarang anak Bibi lebih dulu meninggalkan Bibi. Jadi Bibi tahu tanda


tanda jika seseorang sudah hamil apa belum”.


“Benar Bi. Maureen memang sudah hamil, sudah jalan beberapa


minggu ini. Apa memang kalau hamil muda itu bawaannya capek melulu Bi, setiap


mau melaksanakan pekerjaan seperti ogah ogahan Bi.’


“Itulah bawaan orok Nyonya. Biasanya saat hamil muda, banyak


perempuan yang mengeluh capek. Bawaannya pengin istirahat saja. Mungkin sebaiknya


Nyonya memang harus istirahat. Kasihan yang ada didalam Nyonya.”


“Iya Bi. Maureen akan coba bicara dengan Rayen. Kira kira


langkah apa yang bisa diambil. Agar perusahaan tidak terganggu tapi Maureen bisa


istirahat.”


“Itu lebih baik Nyonya” kata Bi Minah.


Maureen Tanya banyak soal orang hamil pada Bi minah. Maureen


memang bukan tipe orang yang sering membeda bedakan kasta. Bagi Maureen,


siapapun punya kedudukan yang sama dalam hal pengetahuan. Buka berarti Bi Minah


yang notabenenya seorang pembantupasti lebih bodoh disbanding Maureen. Dalam hal


pengetahuan akademik, mungkin memang Bi Minah tidak ada apa apany dibandingkan


seorang Maureen yang merupakan lulusan S2 sebuah perguruan tinggi ternama di


Jakarta dan lulus dengan predikat coumload. Namun dalam hal pengalaman, Bi


Minah sudah pernah punya suami, sudah pernah punya anak, meski mereka sekarang


sudah mendahului Bi Minah menghadap Sang kuasa.


Tidak terasa, waktu sudah beranjak malam, nampak suara mobil


Rayen memasuki halaman rumah mewah ini. Maureen menanti dengan berdebar debar,


apakah nanti Rayen akan suka dengan masakannya?


Lalu apakah yang akan dilakukan Maureen untuk tetap


menjalankan perusahaannya, tapi agar dia bisa juga menyisihkan waktu untuk


beristirahat.


Apakah usulan Bi Minah untuk menyerahkan kendali perusahaan


pada Rayen masuk akal?


Nantikan jawabannya di episode selanjutnya.


Jangan lupa, penggemar cerita action dan penuh misteri,


simak cerita baru author yang berjudul PENGANTIN LEMBAH NAGA, mulai rilis hari


ini. Bukan update harian, tapi author berharap bisa menghibur. Mohon doa


readers agar author bisa terus berkarya menghibur readers semua.


Selamat pagi, selamat memulai aktivitas readers semua. Semoga


sukses selalu menyertai readers tercinta. Amin.

__ADS_1


__ADS_2