
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Chika, Maureen tidak
henti hentinya berfikir, bagaimana bisa, seorang Chika Suroso yang dulu paling
senang dengan dunia glamor, dunia wah, duna yang serba branded, tapi hari ini
sangat jauh berbeda.
Maureen heran, kenapa Chika yang sekarang betul betul Chika
yang bisa menghargai uang. Padahal dulu, Chika tidak peduli berapa uang yang
terbuang asal gengsi dan barang yang diinginkan tercapai.
Senja temaram menghias mayapada, ketika Maureen menapakkan
kakinya di halaman rumahnya. Nampak burung pipit dan burung gereja yang
berkerjaran diantara rimbunnya daun daun tanaman yang berjajar di pinggir
jalan. Sesekali mereka hinggap di kabel telepon yang melintang. Ah, betapa
bahagianya mereka. Mereka tidak pernah menghadapi persoalan persoalan hidup
yang rumit dan pelik sepertiku, batin Maureen.
Ya, mereka sangat bahagia, meski terkadang mereka tidak
tahu, besuk rejekinya ada dimana.
Ternyata manusia itu benar benar tidak bisa bersyukur. Semua
sudah dipunyai, tapi kadang untuk mendapatkan kebahagiaan, sungguh sangat
sulit.
Mungkin bagi orang lain, pasti akan menyangka bahwa Maureen
sangat bahagia. Bagaimana tidak, semua serba berlimpah. Jangankan hanya uang,
apapun dipunyai oleh Maureen. Jabatan tertinggi di perusahaan besar, pesawat
pribadi, hotel mewah, semua ada. Tapi tidak demikian bagi Maureen. Kadang
hatinya hampa. Keadaan memaksa Maureen untuk selalu bekerja dan bekerja. Hingga
lupa arti hakiki kebahagiaan. Ah, Maureen, sampai kapan kamu akan dapat mendapatkan
kebahagiaanmu yang hakiki?
Pikiran Maureen makin gundah. Maureen ingin mencari
kebahagiaan sejati seperti yang ditemui oleh Chika. Meskipun Maureen tahu,
untuk mendapatkan itu perlu perjuangan berat dan mungkin juga, butuh
pengorbanan yang cukup besar.
Maureen melangkah ke dalam rumah. Nampaknya Rayen belum
pulang. Suasana rumah megah itu masih sepi. Seandainya aku sudah punya anak,
tentu kesepian ini tidak akan terjadi, pikir Maureen. Maureen membayangkan
betapa bahagianya jika kelak buah hatinya sudah bisa bicara dan belajar
berjalan. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara jika bisa sempurna menjadi
seorang istri dan seorang ibu.
Tiba tiba Maureen teringat sesuatu. Senja ini Rayen belum
pulang. Kenapa Maureen tidak memasak saja untuk makan malam Maureen dan Rayen?
Bukankah Chika juga memasak sendiri makanan untuk suaminya? Bukankah tidak ada
salahnya, jika Maureen menyiapkan makanan special untuk Rayen? Semua tidak
harus pembantu, semua tidak harus cattering, semua tidak harus delivery order.
Maureen ingin memulainya dengan hal hal kecil yang berguna bagi keluarganya.
__ADS_1
Maureen kemudian melangkah ke dapur. Dipungutnya beberapa
barang dari kulkas untuk kemudian dimasak. Bi Minah heran, tidak seperti
biasanya Maureen bertingkah seperti ini. Namun Bi Minah tidak berani bertanya.
Bi Minah hanya memperhatikan saja, sambil berada di dekat Maureen. Bi Minah
hanya berjaga jaga seandainya suatu saat Maureen membutuhkan bantuannya, dia
sudah siap disampingnya.
Beberapa saat kemudian, masakan yang merupakan makanan
favorit dari Rayen sudah siap dihidangkan. Maureen mencoba mencicipinya.
“ah, kayaknya sudah sesuai dengan selera Rayen”,gumannya
dalam hati.
Kemudian dia bergegas memanggil Bi Minah.
“Bi Minah?” teriak Maureen.
“I… iya Nyonya. Ada apa?” Tanya Bi Minah sambil berlari
mendekat ke Maureen.
Setelah dekat, Maureen menyodorkan sendok berisi sedikit
masakan pada Bi Minah.
“Coba deh Bi kamu cicipi masakan Maureen. Apakah sudah pas
apa belum. Kalau menurutku sih, sudah cukup. Tapi kalau menurut Bi Minah kurang
bumbunya, nanti biar kuperbaiki”, kata Maureen.
Walaupun agak heran dengan tingkah Nyonya Muda majikannya
itu, Bi Minah tidak berani membantah. Diraihnya sendok berisi masakan hasil
kerja Maureen. Lalu diincipi nya masakan itu.
Minah dalam hati.
Bi Minah sampai merem melek merasakan masakan itu, sampai
lupa jika Bi Minah ada dihadapan Nyonya Muda Maureen.
“Gimana Bi, ada yang masih kurang” Tanya Maureen.
Bi Minah kaget. Dia tersadar dari lamunannya.
“Ehm, anu…. Nyonya. Eh…. Iya. Masakan nyonya luar biasa. Bi Minah
sampai lupa bahwa Bi Minah disuruh mencicipi masakan ini. Sungguh masakan yang
pas rasanya. Pasti Tuan Muda sangat menyukai masakan ini Nyonya”, kata Bi Minah
gelagapan.
“Ah, jangan ngeledek Bi. Maureen serius. Ini kubuat special untuk
Rayen”.
“Betul Nyonya Muda. Ini sudah pas, sangat pas. Bi Minah jadi
pengin belajar masak sama Nyonya. Tidak disangka, sudah beberapa tahun Bi Minah
ikut di rumah ini. Tapi baru kali ini Bi Minah melihat Nyonya memasak dan betul
betul meresapi masakannya. Sungguh luar biasa Nyonya. Pasti Tuan Rayen akan
senang dengan masakan Nyonya” puji Bi Minah.
“Iya Bi. Dulu Maureen senang memasak. Namun karena kesibukan
mengurusi bisnis beberapa perusahaan, akhirnya Maureen sudah tidak punya
kesempatan lagi untuk mengembangkan hobi Maureen ini. Pekerjaaan ini sangat
menuntut waktu dan tenaga Bi”
“Kenapa Nyonya tidak meminta Tuan Rayen untuk sementara
__ADS_1
mengurus perusahaan Nyonya saja, agar Nyonya bisa sedikit beristirahat. Bibi lihat,
akhir akhir ini Nyonya sangat letih. Mungkin kecapekan Nyonya. Sebaiknya Nyonya
lebih banyak istirahat. Kalau Bibi perhatikan, Nyonya sudah akan punya momongan”,
kata Bi Minah.
“Ah, Bi Minahkayak dukun saja. Darimana Bibi tahu kalau Maureen
akan punya momongan?”
“Nyonya, Bibi ini sudah tua. Bibi juga pernah punya anak,
sekalipun sekarang anak Bibi lebih dulu meninggalkan Bibi. Jadi Bibi tahu tanda
tanda jika seseorang sudah hamil apa belum”.
“Benar Bi. Maureen memang sudah hamil, sudah jalan beberapa
minggu ini. Apa memang kalau hamil muda itu bawaannya capek melulu Bi, setiap
mau melaksanakan pekerjaan seperti ogah ogahan Bi.’
“Itulah bawaan orok Nyonya. Biasanya saat hamil muda, banyak
perempuan yang mengeluh capek. Bawaannya pengin istirahat saja. Mungkin sebaiknya
Nyonya memang harus istirahat. Kasihan yang ada didalam Nyonya.”
“Iya Bi. Maureen akan coba bicara dengan Rayen. Kira kira
langkah apa yang bisa diambil. Agar perusahaan tidak terganggu tapi Maureen bisa
istirahat.”
“Itu lebih baik Nyonya” kata Bi Minah.
Maureen Tanya banyak soal orang hamil pada Bi minah. Maureen
memang bukan tipe orang yang sering membeda bedakan kasta. Bagi Maureen,
siapapun punya kedudukan yang sama dalam hal pengetahuan. Buka berarti Bi Minah
yang notabenenya seorang pembantupasti lebih bodoh disbanding Maureen. Dalam hal
pengetahuan akademik, mungkin memang Bi Minah tidak ada apa apany dibandingkan
seorang Maureen yang merupakan lulusan S2 sebuah perguruan tinggi ternama di
Jakarta dan lulus dengan predikat coumload. Namun dalam hal pengalaman, Bi
Minah sudah pernah punya suami, sudah pernah punya anak, meski mereka sekarang
sudah mendahului Bi Minah menghadap Sang kuasa.
Tidak terasa, waktu sudah beranjak malam, nampak suara mobil
Rayen memasuki halaman rumah mewah ini. Maureen menanti dengan berdebar debar,
apakah nanti Rayen akan suka dengan masakannya?
Lalu apakah yang akan dilakukan Maureen untuk tetap
menjalankan perusahaannya, tapi agar dia bisa juga menyisihkan waktu untuk
beristirahat.
Apakah usulan Bi Minah untuk menyerahkan kendali perusahaan
pada Rayen masuk akal?
Nantikan jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa, penggemar cerita action dan penuh misteri,
simak cerita baru author yang berjudul PENGANTIN LEMBAH NAGA, mulai rilis hari
ini. Bukan update harian, tapi author berharap bisa menghibur. Mohon doa
readers agar author bisa terus berkarya menghibur readers semua.
Selamat pagi, selamat memulai aktivitas readers semua. Semoga
sukses selalu menyertai readers tercinta. Amin.
__ADS_1