
Vivi mundur dua langkah. Tangannya masih menggenggam erat sekuntum bunga mawar yang baru saja diambil dari tangan pria gagah yang ada di depannya. Semua mata tertuju pada sosok cantik dan pintar ini. Dalam hati mereka berharap Vivi mau menerima lamaran dari orang kepercayaan Tuan Castillo ini. Memang dalam diri Mr. Viencent ini sudah terkumpul apa saja yang wanita butuhkan. Harta melimpah, jabatan tinggi, tampan, sabar, kurang apa lagi.
Namun demikian, mereka tidak mau mendahului takdir. Semua tergantung pada Vivi. Karena mereka juga tahu bahwa Vivi adalah sosok yang pintar, sehingga apa yang akan diputuskan tentu akan dipertimbangkan dengan masak masak. Walaupun dalam hati kecil mereka berharap Vivi menjadi jalan untuk masa depan mereka, menggabungkan dua perusahaan raksasa ini menjadi lebih erat.
Lain karyawan, lain pula yang ada di benak Rayen. Dalam hati kecil Rayen sebenarnya selain senang karena ada sosok Mr. Viencent yang akan menjadi jembatan bagi perusahaannya untuk lebih dekat lagi, namun rasa was was pun ada. Karena jika benar Vivi menjadi istri orang Meksiko ini, tidak ada jaminan bahwa Vivi akan tetap di Putra Company untuk membantu Rayen. Disamping itu, Rayen akan kehilangan orangvyang selama ini mambantunya untuk membesarkan perusahaan. Sungguh suatu dilema yang membuat Rayen berfikir keras. Dalam hati kecil Rayen memang takut kehilangan Vivi.
Apa? Rayen takut kehilangan Vivi? Apa sebenarnya Rayen juga suka sama Vivi ya?
Semua serba misteri. Hanya Rayen sendiri yang tahu.
__ADS_1
Vivi masih berdiri mematung sambil menggenggam erat sekuntum mawar yang berada di tangannya. Ada perasaan yng berusaha di lawannya. Antara memilih jalan yang teramat sulit. Semua mempunyai resiko. Vivi sangat menyadari hal itu. Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka ini adalah awal di masa depannya.
Tiba tiba, Vivi kelihatan limbung. Semua yang hadir terkejut. Tubuh Vivi terhuyung huyung. Mr. Viencent dan Rayen yang kebetulan berada di dekat Vivi, dengan serta merta bersama menangkap tubuh Vivi yang hampir saja menyentuh lantai.
Sementara itu, Maureen segera berlari mendekat. Tidak lupa dia meminta salah satu karyawan untuk mengambil minyak gosok di ruang P3K. Semua cemas, semua tidak tahu apa yang terjadi pada Vivi. Maureen segera mengolesi dahi dan perut Vivi dengan minyak gosok dan membantu memijit mijit tangan Vivi. Semua berharap Vivi segera sadar.
Namun sampai 10 menit belum ada tanda tanda Vivi akan siuman.
Kemudian Rayen mengambil alih kemudi mobil Mr. Viencent. Ini dilakukan agar lebih cepat sampai di rumah sakit, karena tentu saja Rayen lebih tahu jalanan di Jakarta dibanding tamunya yang dari Meksiko itu.
__ADS_1
Sementara Maureen setelah meminta salah satu karyawan untuk menjemput ibunya Vivi di rumah, segera masuk ke mobil untuk mengantar Vivi. Maureen duduk di jok belakang bersama Mr. Viencent sambil menjaga tubuh Vivi yang dibaringkan di jok belakang. Sebenarnya Rayen sudah meminta istrinya untuk tidak ikut mengamtar Vivi. Namun rupanya Maureen bersikeras ingin ikut. Maureen tahu bahwa jasa Vivi terhadap kelangsungan perusahaan keluarganya cukuop besar. Sehingga wajar kalau misalnya Maureen juga sangat berterima kasih pada sosok Vivi dan bertanggung jawab atas keselamatan Vivi.
Ah, bertanggung jawab atas keselamatan Vivi, apa sebenarnya Maureen takut Rayen dekat dekat dengan Vivi? Itu mah cuma Maureen dan author yang tahu. Yang jelas baik Maureen, Mr. Viencent ataupun Rayen hanya ingin secepatnya tiba di rumah sakit, dan Vivi segera mendapatkan perawatan. Maureen baru saja kehilangan ayahnya, dia tidak ingin jika harus kehilangan karyawan terbaiknya apapun alasannya.
.
.
.
__ADS_1
Bantu vote dong readers, agar up nya bisa makin sering untuk mendukung cerita ini.
Thanks ya.......