
Kembali ke rumah megah, yang kali ini hanya kesunyian yang
ada. Ya, Rayen semenjak kepergian Maureen masih sering termenung sendiri. Apalagi
sampai hari ini, Maureen belum bisa dihubungi.
Sepeninggal pengacara Wang tadi, Rayen kembali mencoba
mencari tahu kemana kira kira kepergian Mauren saat ini. Dia tidak begitu
peduli dengan nilai dan harga saham yang anjlok. Baginya, yang terpenting saat
ini adalah memecahkan kesalahfahaman antara dia dan Maureen.
.
Tak terasa, jarum jam sudah mendekati pukul 15.00, ketika
tiba tiba telepon di ruang tamu Rayen berdering.
Kriiingg……
Diliriknya sekilas telepon itu, namun tetap dibiarkan
berbunyi. Nampak dari jauh tergopoh gopoh seorang perempuan paruh baya, siapa
lagi kalo bukan Bi Minah, pembantu setia di rumah itu…..
“Halo, selamat sore. Ada yang bias saya bantu?” kata Bi
Minah memulai percakapan di telepon.
“Ini Bi Minah ya? Tuan Rayen ada Bi?” kata suara di seberang
telepon.
“Maaf, ini dengan siapa ya?”, tanya Bi Minah
“Saya Azhar Bi, Temannya Tuan Rayen. Kalo Tuan ada, boleh
saya bicara Bi?”, tanya seseorang di seberang telepon yang ternyata adalah
Azhar, teman Rayen.
“O, Tuan Azhar ya. Tuan Rayen ada di rumah Tuan, sebentar
saya panggilkan dulu”.
Bi Minah bergegas menemui tuan nya, Tuan Rayen.
“Maaf Tuan, ada Tuan Azhar ingin bicara di telepon..”, kata
Bi Minah.
“O, iya Bi. Terima kasih. Bi Minah bias melanjutkan
pekerjaan.”
“Baik Tuan” kata Bi Minah sambil membungkuk member hormat
dan kemudian beranjak meninggalkan tempat itu, melanjutkan pekerjaaanya.
Setelah Bi Minah pergi, Rayen meraih telepon werelis yang
ada disampingnya.
“Hai Azhar, ada apa ya sore sore begini sudah menelepon?”, tanya
Rayen.
“Sorry Rayen, aku terpaksa mengganggumu. Tadi beberapa kali
ku telpon ke HP kamu, tapi ndak aktif. Jadi kucoba menghubungi lewat telepon
rumah.
“Iya, HP ku non aktif Azhar. Ada yang penting ya, info
tentang apa nih?,” tanya Rayen.
__ADS_1
“Apa kamu belum membuka web atau nonton TV siang ini?”
“Belum, memangnya ada berita apa lagi? Kemarin sampai pagi
ini saham Putra Company hancur, karena trending topic yang ndak jelas asal
usulnya,” kata Rayen.
“Justru karena itulah, aku menelponmu sore ini Rayen. Dari sekretarisku
tadi aku dapat info, jika nilai saham Putra Company sudah beranjak membaik. Dan
trending topic tentang kamu, Maureen dan Vivi sudah tidak ada di web dan
medsos,” kata Ashar menjelaskan tentang apa maksud dia menelpon sore itu.
“Benarkah?” tanya Rayen.
“Benar, aku sudah cek sendiri. Coba kamu cek saja, mudah
mudahan segera membaik. OK, itu dulu yang ku ketahui tentang perkembangan saham
Putra Company, maaf saya masih harus menyelesaikan pekerjaan Rayen,” kata Azhar
menyudahi perbincangan.
“OK, thank’s ya bos, coba ku cek dulu.”
Rayen bergegas menutup telepon, dan mengambil laptop yang ada
di meja kerjanya. Di buka bursa saham hari ini. Benar. Di sesi penutupan hari
ini, saham Putra Company sudah mengalami sedikit perbaikan. Kemudian Rayen
melihat trending topic hari ini. Dari sekian banyak trending topic, sudah tidak
ada trending tentang Rayen, Maureen, Putra Company ataupun KSM Group.
Rayen sedikit bisa bernafas lega. Walaupun belum semua
permasalahannya teratasi, setidaknya satu sisi sudah menunjukkan perkembangan kearah
Masih ada hal besar yang menjadi pikiran Rayen, ya, soal
Maureen yang sampai saat ini belum bisa dihubungi dan belum diketahui
keberadaannya.
.
.
Kita tinggalkan sejenak Rayen dengan segala permasalahannya.
Kembali ke hotel tempat Maureen berada. Ya, masih di New York. Saat itu hampir
menjelang pagi. Maureen belum juga bisa terlelap. Pikirannya masih dipenuhi
dengan kesalahfahamannya terhadap Vivid an Rayen. Antara merasa bersalah, dan
antara kebimbangan terhadap yang terjadi. Meski dari investigasi pengacara Wang
dan pengakuan Rayen serta pertimbangan dari sekretaris Zhang menguatkan bahwa
Rayen dan Vivi tidak bersalah, dan hanya ingin member kejutan kado untuk
Maureen, tapi hati kecil Maureen masih ragu.
“Ada apa kamu Maureen,
setega itu kamu menuduh Rayen dan Vivi? Ingat Maureen, Rayen itu suamimu, yang
sudah kamu kenal jauh hari sebelum jadi pendampingmu. Dan Vivi, dia adalah
sekretaris yang kamu pilih sendiri, untuk menjadi sekretaris pribadi suamimu. Pantaskah
mereka kau curigai,” teriak hati nurani Maureen, berkecamuk di hati Maureen
sepanjang malam ini.
__ADS_1
“Tapi Maureen, apa iya
mereka cuma sebatas rekan kerja, tidak
lebih. Kenapa harus telepon malam malam, saat Maureen tidak ada. Kenapa harus
bergandengan tangan saat ada di mall, dan kenapa sikap Rayen akhir akhir ini
sangat berbeda?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk di hati Maureen.
Sungguh suatu pekerjaan yang teramat berat, memutuskan sesuatu yang belum
jelas. Maureen masih ragu, apakah harus menerima kembali Vivi jadi sekretaris
pribadi Rayen lagi, ataukah mengganti dengan orang lain.
“Sangat tidak adil
Maureen, jika kamu memberikan hukuman kepada seseorang yang belum jelas
kesalahannya. Vivi sudah bekerja dengan baik selama ini. Dan dia juga belum
tentu menjalin hubungan dengan Rayen, jadi haruskah dia menanggung hukuman dari
sesuatu yang tidak dia kerjakan?” hati nurani Maureen terus berteriak.
“Tapi Maureen, apa iya
kamu akan memelihara musang di kandang ayam. Ingat Maureen, setiap hari Vivid
an Rayen selalu bersama. Sepanjang hari. Dan kamu? Kamu akan sibuk mengurusi
pekerjaanmu. Kamu tidak akan banyak punya waktu untuk Rayen. Bisa saja kan,
perhatiaan Rayen tertuju pada wanita lain, termasuk Vivi?” sisi gelap
Maureen pun tak kalah sengit mempengaruhi hati Maureen.
Bimbang, itulah yang dirasakan Maureen saat ini. Antara tetap
mempertahankan Vivi, atau mengganti Vivi dengan orang lain, atau setidaknya,
memindahkan Vivi ke posisi lain yang jauh dari Rayen.
Tapi adilkah itu?
Sementara bukti bukti menunjukkan bahwa Vivi tidak bersalah?
Tapi haruskah Maureen menunggu agar Vivi terbukti
berselingkuh dengan Rayen baru Maureen mengambil tindakan kepada Vivi?
Sungguh sangat membingungkan.
.
.
.
Apa yang akan dilakukan Maureen terhadap Vivi?
Apakah Putra Company dan Rayen akan berhasil melalui
rintangan dalam bursa saham?
Apakah Rayen dan Maureen akan kembali bersatu dan hidup
damai?
Apa yang akan dilakukan ayah Maureen selanjutnya.
Silahkan ditunggu kelanjutannya.
Selamat malam, dan selamat berfikir apa yang akan dilakukan
Maureen.
__ADS_1