
Pagi ini cuaca Jakarta cukup mendung. Tidak terkecuali di
rumah megah yang berdiri diatas pemukiman elit di tengah kota Jakarta ini. Ya,
inilah rumah Presdir KSM Group. Maureen Tirta Kusuma. Suasana pagi yang redup,
seredup perasaan Maureen saat ini. Rayen tidak sampai hati membiarkan istrinya
murung. Tapi apalah daya, Rayen hanya seorang Presdir dari anak perusahaan
milik Maureen. Tentu dalam struktur perusahaan, Maureen adalah atasan Rayen. Jadi
jika memang tidak diminta, maka sudah sewajarnya Rayen membatasi untuk
memberikan pandangan.
Hal ini wajar, karena disamping posisi Rayen yang memang
dibawah Maureen dalam struktur perusahaan, semua orang mengakui dan tahu bahwa Maureen
adalah sosok yang luar biasa. Maureen adalah alumni mahasiswi di salah satu
universitas ternama yang meraih predikat cumloud. Tidak hanya itu, dia juga
mendapatkan IP tertinggi di kampusnya saat wisuda. Jadi sangat wajar jika Rayen
merasa berada di bawah Maureen dalam hal kepintaran dan dalam hal kepemimpinan
di perusahaan. Dan itu ternyata sampai juga di dalam rumah tangga mereka.
“Bagaimana kondisi kandunganmu sayang?” Tanya Rayen pagi itu
selepas mereka sarapan bersama.
“Baik Ray, kemarin Maureen sudah mampir ke dokter spesialis
kandungan keluarga kita. Nampaknya janin yang ada di rahimku bergerak cukup
aktif. Dokter menyarankan untuk memperhatikan pola makan dan kandungan gizinya”.
“O, baguslah itu. Memang kadang kita kurang memperhatikan
keseimbangan gizi Reen sayang. Banyak diantara kita yang hanya berfikir bahwa
kita sudah cukup dengan makanan yang harganya mahal dan porsi yang banyak. Tapi
lupa, kandungan gizi itu harus seimbang” kata Rayen menambahkan.
“Betul Ray sayang, dokter juga memberikan saran demikian. Kandungan
dalam makanan itu beragam. Jadi yang terpenting bukan mahal tidaknya makanan. Tapi
seimbang dan sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh kita” jelas Maureen.
“O, iya sayang. Yang tidak kalah pentingnya, Maureen harus
lebih banyak istirahat. Jangan terlalu capek, kasihan si kecil”
“Iya Ray sayang. Maureen Cuma perlu sedikit kerja keras. Hari
ini beberapa anak perusahaan KSM Group ada yang defisit. Jadi perlu beberapa
evaluasi”
“Kenapa bisa begitu Maureen?”
“Beberapa perusahaan mengalami musibah karena banjir dan
terjadi pengurangan distribusi bahan baku dari supliyer, sehingga mengakibatkan
beban untuk bahan baku berlipat”
“O, berarti itu karena faktor alam. Terus rencana Maureen selanjutnya
__ADS_1
apa?”
“Aku belum tahu Ray, di satu sisi harus menyelamatkan
perusahaan. Disisi lain harus memikirkan dampaknya jika dilakukan pemangkasan
karyawan atau rolling perusahaan”
“Aku yakin, Maureen pasti mampu membuat solusi yang terbaik
untuk KSM Group” kata Rayen member semangat untuk Maureen.
“Iya Ray sayang. Bantu Maureen ya, biar keputusan yang Maureen
ambil betul betul bisa memberikan kebaikan bagi semua karyawan dan kelangsungan
KSM Group ke depan, juga demi anak kita”.
“Tentu sayang. Itu sudah pasti. Rayen berangkat ke kantor
dulu ya, beberapa klien ada yang sudah menunggu pagi ini.”
“Iya Ray sayang. Hati hati di jalan. Kelihatannya sebentar
lagi akan turun hujan. Mungkin Maureen agak siang berangkat ke kantor. Tadi Maureen
sudah meminta sekretaris Zhang menjadwal ulang agenda pagi. Nanti biar Maureen diantar
sama Pak Jay”.
“OK Reen sayang. Jaga diri baik baik ya, Rayen berangkat
dulu. Semoga urusan kita semua cepat selesai”
Rayen kemudian melangkah menuju ke mobil. Hari ini Rayen
sengaja membawa mobil sendiri karena banyak tempat yang harus didatangi, dan
Pak Jay juga harus mengantar Maureen.
kamar. Diraihnya laptop di meja kerjanya. Hari ini Maureen ingin memantau
sendiri pergerakan harga saham KSM Group. Defisit di tubuh anak perusahaan KSM
Group mungkin juga akan berimbas pada pergerakan harga saham, pikirnya.
Bursa saham hari ini terpantau lancar, saham KSM Group masih
berada di urutan 5 teratas. Turun satu peringkat disbanding kemarin. Sementara harganya
turun 2 poin dari sesi penutupan. Ah, awal yang kurang bagus.
Diraihnya ponsel keluaran terbaru yang harganya hampir bisa
dibuat untuk membeli mobil ini.
“Hallo, Zhang? Kamu sudah ada di kantor?” kata Maureen setelah
terlihat telepon menyambung ke seseorang yang ada di ujung telepon.
“Iya Ibu Presdir, saya sudah dari tadi ada di kantor. Kemarin
Ibu Presdir kan menyuruh saya datang langsung ke kantor pagi ini, jadi saya
langsung ke kantor”. Kata seseorang yang ada di ujung telepon yang ternyata
adalah sekretaris Zhang.
“Baiklah Zhang. Buka computer pagi ini. Lihat bursa saham di
BEJ dan BES. Pantau terus pergerakan harga saham kita. Segera kabari aku jika
ada yang perlu dievaluasi dan dicermati”.
“Baik Ibu Presdir”.
Setelah menutup telepon, Maureen kemudian melangkah menuju
__ADS_1
kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya dulu pagi ini. Setelah itu, baru
akan berangkat ke kantor. Banyak hal yang harus diselesaikan di kantor siang
nanti.
.
.
.
Sementara itu Rayen sudah sampai di kantor. Beberapa klien,
relasi dan juga utusan dari beberapa perusahaan sudah menunggu.
Mereka banyak yang simpatik terhadap Putra Company akibat
dari pemberitaan media bisnis dunia, juga TIME NEWS dan CNN yang memberitakan
tentang kontrak kerjasama Putra Company dengan sebuah perusahaan terkenal di
Mexico. Dan total kontrak kerjasama yang akan dilakukan dengar dengar akan
mencapai triliunan rupiah. Tentu bukan kerjasama yang asal asalan. Itulah kenapa
banyak perusahaan perusahaan lain yang hari ini mulai melirik untuk menjalin
kerjasama dengan Putra Company.
.
.
.
Selesai mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke
kantor, Maureen mendadak teringat pada sahabatnya Chika Suroso. Ah Chika, dimana
dia sekarang. Lama sekali Maureen tidak berjumpa dengannya. Apakah Chika sudah
jadi ibu rumah tangga yang baik, dan tidak perlu memikirkan ***** bengeknya
perusahaan seperti Maureen?
Diraihnya ponsel, dicari nama Chika disana.
Kring….
“Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah
beberapa saat lagi”
“Ah, sial. Kenapa tidak bisa dihubungi? Apa mungkin ganti
nomer. Atau mungkin salah nomer yang
kuhubungi”
Maureen kembali mencoba menghubungi Chika. Namun satu, dua,
tiga kali bahkan berkali kali tetap jawaban yang sama yang diterima.
Akhirnya Maureen memutuskan untuk berangkat ke kantor
terlebih dahulu. Toh kapan kapan dia bisa ke rumah Chika untuk bertemu, ngobrol
sekaligus minta nomer hpnya lagi. Maureen rindu saat saat kala mereka saling
akrab dulu. Rindu dengan Maureen yang masih polos, dan cupu.
.
.
.
__ADS_1