Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 1


__ADS_3

 


 


Pagi ini cuaca Jakarta cukup mendung. Tidak terkecuali di


rumah megah yang berdiri diatas pemukiman elit di tengah kota Jakarta ini. Ya,


inilah rumah Presdir KSM Group. Maureen Tirta Kusuma. Suasana pagi yang redup,


seredup perasaan Maureen saat ini. Rayen tidak sampai hati membiarkan istrinya


murung. Tapi apalah daya, Rayen hanya seorang Presdir dari anak perusahaan


milik Maureen. Tentu dalam struktur perusahaan, Maureen adalah atasan Rayen. Jadi


jika memang tidak diminta, maka sudah sewajarnya Rayen membatasi untuk


memberikan pandangan.


Hal ini wajar, karena disamping posisi Rayen yang memang


dibawah Maureen dalam struktur perusahaan, semua orang mengakui dan tahu bahwa Maureen


adalah sosok yang luar biasa. Maureen adalah alumni mahasiswi di salah satu


universitas ternama yang meraih predikat cumloud. Tidak hanya itu, dia juga


mendapatkan IP tertinggi di kampusnya saat wisuda. Jadi sangat wajar jika Rayen


merasa berada di bawah Maureen dalam hal kepintaran dan dalam hal kepemimpinan


di perusahaan. Dan itu ternyata sampai juga di dalam rumah tangga mereka.


“Bagaimana kondisi kandunganmu sayang?” Tanya Rayen pagi itu


selepas mereka sarapan bersama.


“Baik Ray, kemarin Maureen sudah mampir ke dokter spesialis


kandungan keluarga kita. Nampaknya janin yang ada di rahimku bergerak cukup


aktif. Dokter menyarankan untuk memperhatikan pola makan dan kandungan gizinya”.


“O, baguslah itu. Memang kadang kita kurang memperhatikan


keseimbangan gizi Reen sayang. Banyak diantara kita yang hanya berfikir bahwa


kita sudah cukup dengan makanan yang harganya mahal dan porsi yang banyak. Tapi


lupa, kandungan gizi itu harus seimbang” kata Rayen menambahkan.


“Betul Ray sayang, dokter juga memberikan saran demikian. Kandungan


dalam makanan itu beragam. Jadi yang terpenting bukan mahal tidaknya makanan. Tapi


seimbang dan sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh kita” jelas Maureen.


“O, iya sayang. Yang tidak kalah pentingnya, Maureen harus


lebih banyak istirahat. Jangan terlalu capek, kasihan si kecil”


“Iya Ray sayang. Maureen Cuma perlu sedikit kerja keras. Hari


ini beberapa anak perusahaan KSM Group ada yang defisit. Jadi perlu beberapa


evaluasi”


“Kenapa bisa begitu Maureen?”


“Beberapa perusahaan mengalami musibah karena banjir dan


terjadi pengurangan distribusi bahan baku dari supliyer, sehingga mengakibatkan


beban untuk bahan baku berlipat”


“O, berarti itu karena faktor alam. Terus rencana Maureen selanjutnya

__ADS_1


apa?”


“Aku belum tahu Ray, di satu sisi harus menyelamatkan


perusahaan. Disisi lain harus memikirkan dampaknya jika dilakukan pemangkasan


karyawan atau rolling perusahaan”


“Aku yakin, Maureen pasti mampu membuat solusi yang terbaik


untuk KSM Group” kata Rayen member semangat untuk Maureen.


“Iya Ray sayang. Bantu Maureen ya, biar keputusan yang Maureen


ambil betul betul bisa memberikan kebaikan bagi semua karyawan dan kelangsungan


KSM Group ke depan, juga demi anak kita”.


“Tentu sayang. Itu sudah pasti. Rayen berangkat ke kantor


dulu ya, beberapa klien ada yang sudah menunggu pagi ini.”


“Iya Ray sayang. Hati hati di jalan. Kelihatannya sebentar


lagi akan turun hujan. Mungkin Maureen agak siang berangkat ke kantor. Tadi Maureen


sudah meminta sekretaris Zhang menjadwal ulang agenda pagi. Nanti biar Maureen diantar


sama Pak Jay”.


“OK Reen sayang. Jaga diri baik baik ya, Rayen berangkat


dulu. Semoga urusan kita semua cepat selesai”


Rayen kemudian melangkah menuju ke mobil. Hari ini Rayen


sengaja membawa mobil sendiri karena banyak tempat yang harus didatangi, dan


Pak Jay juga harus mengantar Maureen.


kamar. Diraihnya laptop di meja kerjanya. Hari ini Maureen ingin memantau


sendiri pergerakan harga saham KSM Group. Defisit di tubuh anak perusahaan KSM


Group mungkin juga akan berimbas pada pergerakan harga saham, pikirnya.


Bursa saham hari ini terpantau lancar, saham KSM Group masih


berada di urutan 5 teratas. Turun satu peringkat disbanding kemarin. Sementara harganya


turun 2 poin dari sesi penutupan. Ah, awal yang kurang bagus.


Diraihnya ponsel keluaran terbaru yang harganya hampir bisa


dibuat untuk membeli mobil ini.


“Hallo, Zhang? Kamu sudah ada di kantor?” kata Maureen setelah


terlihat telepon menyambung ke seseorang yang ada di ujung telepon.


“Iya Ibu Presdir, saya sudah dari tadi ada di kantor. Kemarin


Ibu Presdir kan menyuruh saya datang langsung ke kantor pagi ini, jadi saya


langsung ke kantor”. Kata seseorang yang ada di ujung telepon yang ternyata


adalah sekretaris Zhang.


“Baiklah Zhang. Buka computer pagi ini. Lihat bursa saham di


BEJ dan BES. Pantau terus pergerakan harga saham kita. Segera kabari aku jika


ada yang perlu dievaluasi dan dicermati”.


“Baik Ibu Presdir”.


Setelah menutup telepon, Maureen kemudian melangkah menuju

__ADS_1


kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya dulu pagi ini. Setelah itu, baru


akan berangkat ke kantor. Banyak hal yang harus diselesaikan di kantor siang


nanti.


.


.


.


Sementara itu Rayen sudah sampai di kantor. Beberapa klien,


relasi dan juga utusan dari beberapa perusahaan sudah menunggu.


Mereka banyak yang simpatik terhadap Putra Company akibat


dari pemberitaan media bisnis dunia, juga TIME NEWS dan CNN yang memberitakan


tentang kontrak kerjasama Putra Company dengan sebuah perusahaan terkenal di


Mexico. Dan total kontrak kerjasama yang akan dilakukan dengar dengar akan


mencapai triliunan rupiah. Tentu bukan kerjasama yang asal asalan. Itulah kenapa


banyak perusahaan perusahaan lain yang hari ini mulai melirik untuk menjalin


kerjasama dengan Putra Company.


.


.


.


Selesai mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke


kantor, Maureen mendadak teringat pada sahabatnya Chika Suroso. Ah Chika, dimana


dia sekarang. Lama sekali Maureen tidak berjumpa dengannya. Apakah Chika sudah


jadi ibu rumah tangga yang baik, dan tidak perlu memikirkan ***** bengeknya


perusahaan seperti Maureen?


Diraihnya ponsel, dicari nama Chika disana.


Kring….


“Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah


beberapa saat lagi”


“Ah, sial. Kenapa tidak bisa dihubungi? Apa mungkin ganti


nomer.  Atau mungkin salah nomer yang


kuhubungi”


Maureen kembali mencoba menghubungi Chika. Namun satu, dua,


tiga kali bahkan berkali kali tetap jawaban yang sama yang diterima.


Akhirnya Maureen memutuskan untuk berangkat ke kantor


terlebih dahulu. Toh kapan kapan dia bisa ke rumah Chika untuk bertemu, ngobrol


sekaligus minta nomer hpnya lagi. Maureen rindu saat saat kala mereka saling


akrab dulu. Rindu dengan Maureen yang masih polos, dan cupu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2