
Rayen masih sibuk membujuk Maureen untuk mau di operasi Caesar.
Dia ingat pesan dokter yang menangani persalinan istrinya, bahwa kondisi
kehamilan Maureen ini adalah kondisi yang memang sangat beresiko jika dipaksa
untuk melahirkan secara normal. Kondisi dari sebagian kecil kehamilan yang
dialami oleh sebagian kecil wanita di dunia. Sungsang. Kondisi dimana bayi saat
mau lahir posisi kepala justru ada di atas dan pantat bayi berada di bawah.
Sementara itu, Maureen masih memegang prinsip bahwa dirinya
merasa sempurna sebagai seorang wanita jika dia bisa melahirkan dengan cara
normal. Maureen sedikitpun belum mau merubah pendiriannya.
Ah, Maureen. Siapapun tahu siapa perempuan ini. Dalam hal
berprinsip keras kepala dia memang jagonya.
Ibu Kim Nana yang sudah ada di rumah sakit pun berusaha
membujuk Maureen agar mau dioperasi. Wanita paruh baya ini berusaha memberikan
semangat dan juga bujukan agar Maureen mau menuruti saran dokter. Dia ingin
menantunya segera melewati masa yang sangat berat ini dan segera menimang cucu
yang sangat diharapkannya.
Namun, lagi lagi usaha yang dilakukan oleh ibu mertua Maureen
ini pun gagal. Maureen tetap bersikukuh untuk melahirkan secara normal. Dia rela
walaupun harus mengorbankan jiwanya untuk melahirkan anaknya.
Benar benar keras kepala si Maureen ini.
.
Rayen duduk di kursi penunggu pasien. Pikirannya masih
sangat kacau. Jika dia tidak dapat membujuk Maureen untuk dioperasi, dia takut
sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. Sungguh, rayen tidak bisa
membayangkan seandainya itu sampai terjadi.
Tiba tiba pundaknya dipegang oleh seseorang. Dia menoleh.
“Ah, Ibu. Ngagetin aja. Bagaimana bu, apakah Maureen mau Ibu
bujuk? “ Tanya Rayen
“Ah, belum Rayen. Kelihatannya Maureen itu kalau sudah punya
prinsip memang sangat dipegang kuat. Ibu sudah berusaha membujuknya, tapi dia
tetap pada prinsipnya” kata Ibu Kim Nana
__ADS_1
“Itulah yang menajdi pikiran Rayen Bu. Resiko untuk
melahirkan secara normal pada kondisi kehamilan Maureen itu cukup tinggi. Rayen
tidak berani mengambil resiko yang cukup berat Bu” kata Rayen
“Ibu berfikir, masih ada orang yang mampu membujuk Maureen anakku.
Bukankah dulu kamu pernah menceritakan bahwa yang bisa merubah penampilan Maureen
menjadi seperti sekarang ini adalah temannya yang bernama Chika? Kenapa kamu
tidak minta bantuan dia saja. Barangkali Chika bisa membujuk Maureen untuk mau
dioperasi” kata Ibu Kim Nana
O, iya. Kenapa Rayen sampai lupa pada sahabat Maureen sejak
masih kecil itu? Mungkin Chika lah yang akan mampu untuk membujuk Maureen agar
mau menuruti saran dokter.
“Iya Bu, biar saya jemput Chika Ya? “ kata Rayen sambil
melangkah pergi
“Kenapa kamu tidak menyuruh karyawan saja untuk menjemput
Chika anakku?” Tanya Ibu Kim Nana
“Tidak Bu, biar Chika saya jemput saja. Ini adalah tanggung
jawab saya sebagai suami. Saya ingin secepatnya Chika sampai disini dan
membujuk Maureen” kata Rayen
selama kamu menjemput Chika”
Maureen bergegas menuju ruang parkir rumah sakit. Dia ingin
secepatnya untuk segera meneui Chika dan mengajak nya untuk membujuk Maureen. Chika
adalah harapan satu satunya yang akan mampu memberikan pemahaman bagi Maureen tentang
kondisinya saat ini.
Sepanjang perjalanan, Rayen terus berdoa dan berharap agar
Chika bisa diajak menemui Maureen.
.
Memasuki jalanan menuju rumah Chika, suasana perkampungan
yang cukup nyaman dan asri. Memang merupakan tempat yang bagus untuk
menenangkan suasana.
Rayen terus melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah
sederhana namun apik, itulah rumah Chika.
Sekilas rumah itu nampak sepi. Dalam hati kecil Rayen
bertanya Tanya. Apakah Chika tidak ada di rumah?
__ADS_1
Rayen memarkir kendaraannya dipinggir jalan, kemudian dia
menuju ke pagar halaman tempat dimana ada tombol bel yang terletak disana.
Dipencetnya satu kali. Rumah itu masih tertutup. Ah, kemana
si Chika? Bukankah anaknya masih kecil. Seharusnya tentu dia ada dirumah.
Dipencetnya lagi tombol itu. Dua kali. Kenapa belum ada
sahutan dari dalam.
Dan ketika Rayen akan memencet bel untuk ketiga kalinya,
nampak pintu rumah terbuka. Dan keluarlah seorang wanita muda dengan
menggendong anaknya yang masih bayi. Dialah Chika Suroso, teman akrab dari
istrinya, Maureen.
“Eh, Rayen, Ayo masuk, maaf menunggu agak lama. Lagi mandiin
si kecil. Bi Surti lagi masak di belakang, jadi tidak tahu kalau ada tamu…..”
kata Chika
Rayen kemudian mengikuti Chika masuk ke rumah.
.
Rayen kemudian menceritakan maksud kedatangannya. Dia meminta
bantuan Chika untuk membujuk Maureen agar mau mengikuti saran dokter.
Chika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rayen dengan
serius.dia merasa sangat sedih mendengar cerita Rayen. Dia kenal betul watak Maureen.
Dia adalah seorang anak yang keras kepala, dia tidak akan segampang itu
menuruti apa kata orang, jika dia sudah punya prinsip yang diyakininya benar.
Chika menahan nafas panjang. Dia diam sejenak, seperti ada
yang sedang dipikirkan, namun apa?
Rayen menanti dengan harap harap cemas, apa yang akan
dikatakan oleh Chika
Dia sangat berharap Chika kali ini mampu menolongnya, dan
membujuk Maureen agar mau menuruti saran dokter.
.
.
Bagaimana kisah selanjutnya, bantu vote ya readers ku
tercinta, agar cerita ini terus berlanjut
Terima kasih, selamat membaca.
.
__ADS_1
.
.