Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 21


__ADS_3

 


 


Rayen masih sibuk membujuk Maureen untuk mau di operasi Caesar.


Dia ingat pesan dokter yang menangani persalinan istrinya, bahwa kondisi


kehamilan Maureen ini adalah kondisi yang memang sangat beresiko jika dipaksa


untuk melahirkan secara normal. Kondisi dari sebagian kecil kehamilan yang


dialami oleh sebagian kecil wanita di dunia. Sungsang. Kondisi dimana bayi saat


mau lahir posisi kepala justru ada di atas dan pantat bayi berada di bawah.


Sementara itu, Maureen masih memegang prinsip bahwa dirinya


merasa sempurna sebagai seorang wanita jika dia bisa melahirkan dengan cara


normal. Maureen sedikitpun belum mau merubah pendiriannya.


Ah, Maureen. Siapapun tahu siapa perempuan ini. Dalam hal


berprinsip keras kepala dia memang jagonya.


Ibu Kim Nana yang sudah ada di rumah sakit pun berusaha


membujuk Maureen agar mau dioperasi. Wanita paruh baya ini berusaha memberikan


semangat dan juga bujukan agar Maureen mau menuruti saran dokter. Dia ingin


menantunya segera melewati masa yang sangat berat ini dan segera menimang cucu


yang sangat diharapkannya.


Namun, lagi lagi usaha yang dilakukan oleh ibu mertua Maureen


ini pun gagal. Maureen tetap bersikukuh untuk melahirkan secara normal. Dia rela


walaupun harus mengorbankan jiwanya untuk melahirkan anaknya.


Benar benar keras kepala si Maureen ini.


.


Rayen duduk di kursi penunggu pasien. Pikirannya masih


sangat kacau. Jika dia tidak dapat membujuk Maureen untuk dioperasi, dia takut


sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. Sungguh, rayen tidak bisa


membayangkan seandainya itu sampai terjadi.


Tiba tiba pundaknya dipegang oleh seseorang. Dia menoleh.


“Ah, Ibu. Ngagetin aja. Bagaimana bu, apakah Maureen mau Ibu


bujuk? “ Tanya Rayen


“Ah, belum Rayen. Kelihatannya Maureen itu kalau sudah punya


prinsip memang sangat dipegang kuat. Ibu sudah berusaha membujuknya, tapi dia


tetap pada prinsipnya” kata Ibu Kim Nana

__ADS_1


“Itulah yang menajdi pikiran Rayen Bu. Resiko untuk


melahirkan secara normal pada kondisi kehamilan Maureen itu cukup tinggi. Rayen


tidak berani mengambil resiko yang cukup berat Bu” kata Rayen


“Ibu berfikir, masih ada orang yang mampu membujuk Maureen anakku.


Bukankah dulu kamu pernah menceritakan bahwa yang bisa merubah penampilan Maureen


menjadi seperti sekarang ini adalah temannya yang bernama Chika? Kenapa kamu


tidak minta bantuan dia saja. Barangkali Chika bisa membujuk Maureen untuk mau


dioperasi” kata Ibu Kim Nana


O, iya. Kenapa Rayen sampai lupa pada sahabat Maureen sejak


masih kecil itu? Mungkin Chika lah yang akan mampu untuk membujuk Maureen agar


mau menuruti saran dokter.


“Iya Bu, biar saya jemput Chika Ya? “ kata Rayen sambil


melangkah pergi


“Kenapa kamu tidak menyuruh karyawan saja untuk menjemput


Chika anakku?” Tanya Ibu Kim Nana


“Tidak Bu, biar Chika saya jemput saja. Ini adalah tanggung


jawab saya sebagai suami. Saya ingin secepatnya Chika sampai disini dan


membujuk Maureen” kata Rayen


selama kamu menjemput Chika”


Maureen bergegas menuju ruang parkir rumah sakit. Dia ingin


secepatnya untuk segera meneui Chika dan mengajak nya untuk membujuk Maureen. Chika


adalah harapan satu satunya yang akan mampu memberikan pemahaman bagi Maureen tentang


kondisinya saat ini.


Sepanjang perjalanan, Rayen terus berdoa dan berharap agar


Chika bisa diajak menemui Maureen.


.


Memasuki jalanan menuju rumah Chika, suasana perkampungan


yang cukup nyaman dan asri. Memang merupakan tempat yang bagus untuk


menenangkan suasana.


Rayen terus melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah


sederhana namun apik, itulah rumah Chika.


Sekilas rumah itu nampak sepi. Dalam hati kecil Rayen


bertanya Tanya. Apakah Chika tidak ada di rumah?

__ADS_1


Rayen memarkir kendaraannya dipinggir jalan, kemudian dia


menuju ke pagar halaman tempat dimana ada tombol bel yang terletak disana.


Dipencetnya satu kali. Rumah itu masih tertutup. Ah, kemana


si Chika? Bukankah anaknya masih kecil. Seharusnya tentu dia ada dirumah.


Dipencetnya lagi tombol itu. Dua kali. Kenapa belum ada


sahutan dari dalam.


Dan ketika Rayen akan memencet bel untuk ketiga kalinya,


nampak pintu rumah terbuka. Dan keluarlah seorang wanita muda dengan


menggendong anaknya yang masih bayi. Dialah Chika Suroso, teman akrab dari


istrinya, Maureen.


“Eh, Rayen, Ayo masuk, maaf menunggu agak lama. Lagi mandiin


si kecil. Bi Surti lagi masak di belakang, jadi tidak tahu kalau ada tamu…..”


kata Chika


Rayen kemudian mengikuti Chika masuk ke rumah.


.


Rayen kemudian menceritakan maksud kedatangannya. Dia meminta


bantuan Chika untuk membujuk Maureen agar mau mengikuti saran dokter.


Chika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rayen dengan


serius.dia merasa sangat sedih mendengar cerita Rayen. Dia kenal betul watak Maureen.


Dia adalah seorang anak yang keras kepala, dia tidak akan segampang itu


menuruti apa kata orang, jika dia sudah punya prinsip yang diyakininya benar.


Chika menahan nafas panjang. Dia diam sejenak, seperti ada


yang sedang dipikirkan, namun apa?


Rayen menanti dengan harap harap cemas, apa yang akan


dikatakan oleh Chika


Dia sangat berharap Chika kali ini mampu menolongnya, dan


membujuk Maureen agar mau menuruti saran dokter.


.


.


Bagaimana kisah selanjutnya, bantu vote ya readers ku


tercinta, agar cerita ini terus berlanjut


Terima kasih, selamat membaca.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2