Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 11


__ADS_3

 


 


Rayen terus memacu mobilnya menyusuri jalanan ibukota. Siang


itu, udara Jakarta sangat panas. Meskipun pada malam hari sempat turun hujan


gerimis, namun itu tidak mengurangi panasnya aspal jalanan ibukota.


Nampak mobil hilir mudik di jalan jalan yang dilalui oleh Maureen


dan Rayen. Di sepanjang perjalanan, mereka terus ngobrol tentang rencana


mereka. Dalam hati kecil mereka, ada rasa takut seandainya nanti Tuan Tito,


ayahanda mereka tidak setuju dengan rencana itu. Tapi mereka belum tahu, solusi


lain seandainya Pak Tito tidak setuju dengan rencana mereka.


.


.


Dua jam kemudian, mereka sudah sampai di kantor Pak Tito. Mereka


sengaja tidak memberitahukan terlebih dahulu kedatangannya. Karena Maureen yakin,


ayahnya tidak ada acara di luar kantor pada awal pekan ini.


Nampak pengacara Whang, orang yang sangat selalu setia pada


ayahnya berdiri di dekat pintu masuk. Ini adalah orang kepercayaan Pak Tito. Selain


orangnya sangat cerdas, beliau juga sangat menjunjung tinggi dedikasi sebagai


seorang pengacara. Terbukti selama menjadi pengacara di keluarga besar Tito


Tirta Kusuma, belum pernah sekalipun beliau mau menerima tips dari setiap


perkara yang ditangani selain apa yang sudah disepakati. Bagi pengacara Wang,


dedikasi dan pengabdian adalah diatas segalanya. Wang ingin setiap apa yang


diterima akan menjadi berkah bagi dia dan keluarganya jika diperoleh dengan


jalan yang baik.


Luar biasa memang dedikasi dan prinsip pengacara yang satu


ini. Di jaman yang sudah serba dipelintar pelintir demi uang dan jabatan, masih


ada orang seperti pengacara Whang. Itulah kenapa Pak Tito tetap mempercayakan


semua perkara dan urusan perusahaan dan kleluarga pada orang yang satu ini.


Melihat kehadiran Maureen dan Rayen, pengacara Wang segera


bergegas menghampirinya. Kemudian meminta salah satu karyawan untuk memarkir


mobil Rayen di tempat parkir khusus tamu kehormatan.


“Selamat sore Tuan Rayen, Nyonya Maureen. Senang sekali Tuan


dan Nyonya datang kesini sore ini” kata pengacara Wang.


“Selamat sore Pak Wang” kata Rayen.


“Selamat sore, Pak. Apakah ayah ada di kantor? “ Tanya Maureen.


“O, ada Nyonya Maureen. Tuan Besar sedang ada rapat direksi,


tapi sebentar lagi selesai. Silahkan Tuan dan Nyonya menunggu di ruang tamu

__ADS_1


saja, nanti biar saya sampaikan. Jadwalnya seharusnya sudah selesai, tapi tadi


ada beberapa laporan dari anak perusahaan yang perlu di tindak lanjuti, itulah


kenapa rapat direksi waktunya ditambah setengah jam” kata pengacara Wang.


“Baiklah Pak, saya akan menunggu disini. Biarkan dulu ayah


menyelesaikan pekerjaaannya, kami tidak terburu buru kok. Memang hari ini kami


sudah menyiapkan waktu untuk bertemu ayah” kata Maureen.


Pengacara Wang menemani mereka ngobrol di ruang tamu kantor


Pak Tito. Banyak hal yang dibicarakan mereka, terutama kondisi kesehatan Pak


Tito. Namun Maureen merasa ada yang disembunyikan oleh pengacara Wang. Tapi Maureen


tidak tahu. Dia tidak berani menebak. Maureen memilih menanti hasil


laboratorium dari Amerika saja. Toh dalam minggu ini hasilnya sudah akan


diterima oleh mereka.


Belum genap lima menit mereka bercakap cakap, nampak laki


laki paruh baya keluar dari ruang siding direksi. Memang lelaki ini sudah cukup


berumur, namun dari perawakannya yang tegap dan penuh wibawa, pasti dikala


mudanya, semua orang mengaguminya. Dialah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma,


ayahanda dari Maureen Tirta Kusuma.


“Hai, anakku tercinta, si bawel. Dan kau Rayen, putra


mantuku yang tersayang. Suah lama nunggu ya?” kata Pak Tito pelan namun penuh


wibawa.


kata Rayen sambil mencium tangan Pak Tito sebagai rasa hormat kepada ayah


mertuanya.


“Kami sudah ngobrol ditemani Pak Wang tadi yah, sambil


menanti ayah selesai rapat direksi” kata Maureen sambil merangkul ayahnya. Tidak


lupa kecupan mesra antara ayah dan anak yang biasa dilakukan. Pipi yang mulai


keriput itu, yang selalu Maureen rindukan untuk selalu bersama. Namun Pak Tito


bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia masih akan terus bekerja selama dia


masih bisa. Semangat itulah yang membuat takjud dan bangga bagi Maureen.


“O, baiklah jika begitu. Kita ngobrol didalam saja ya, biar


enak. Ayah sudah kangen sama kalian. Pak Wang, tunggu saya disini ya, nanti


sore, masih ada yang perlu kita kerjakan. Jadi saya minta pengacara Wang, nanti


tunggu saya dulu” kata Pak Tito.


“Baik Tuan Besar” kata pengacara Wang dengan hormat dan


sedikit menunduk. Dia masih ingat betul, sore nanti masih harus menemani Pak


Tito untuk sebuah urusan yang penting.


.


.

__ADS_1


.


“Apa, apa rencana kalian itu sudah kalian pikirkan dengan


matang? Berbuat baik itu memang terpuji. Tapi harus memakai akal dan logika. Bukan


hanya pemikiran sesaat. Semua orang pasti punya empati terhadap mereka. Tapi dengan


mengadopsi mereka jadi anak? Berapa mampu kita?” kata Pak Tito mendengar


rencana Maureen dan Rayen soal keinginannya untuk membantu anak anak jalanan


itu.


“Kami bingung ayah, Maureen tidak tega melihat mereka yang


seharusnya bermain, tapi bekerja. Yang seharusnya sekolah, tapi harus berjibaku


dengan panas di jalanan” kata Maureen.


Maureen dan Rayen berencana mengangkat anak anak jalanan itu


menjadi anak angkat, dan ternyata rencana itu menurut Pak tito kurang pas. Menurut


Pak Tito, tidak semua anak pasti mau diangkat anak oleh mereka. Selain itu


orang tua mereka pun belum tentu setuju jika anaknya di jadikan anak angkat


oleh orang lain. Belum lagi persyaratan administrasi dan biaya yang tidak perlu


yang akan terbuang percuma.


“Masih ada solusi lain yang jauh lebih baik, dan tidak


banyak mengeluarkan dana yang tidak berguna. Itupun jika kalian bisa


melaksanakannya, ayah sudah memikirkan ini jauh jauh hari sebelum kalian


mengutarakan hal ini. Namun ada beberapa kendala yang ayah belum mampu


memecahkan. Sehingga rencana itu sampai hari ini belum bisa ayah laksanakan. Ayah


berharap nanti kalian bisa mencarikan solusi atas masalah ini. Karena kita


butuh orang orang yang jenius tapi jiwa sosialnya tinggi, agar bisa membantu


rencana kita ke depan” kata Pak Tito panjang lebar.


“Siap ayah. Maureen dan Rayen akan berusaha semaksimal mungkin


untuk membantu rencana ayah” kata Maureen.


“Terus apa rencana ayah untuk mereka Yah?” Tanya Rayen


Pak Tito mengerutkan dahi. Nampak orang tua itu berfikir


keras. Semua menunggu penjelasan Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.


.


.


.


Apa sebenarnya rencana Tuan Besar Tito?


Tunggu di kelanjutan episode ini. Jangan lupa dukung author


untuk menjadikan novel ini terus berlanjut sampai Maureen yang dikenal CUPU


menjadi RATU seutuhnya. Baik Ratu dalam rumah tangga, perusahaan dan masyarakat


sekitarnya.

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2