
Rayen terus memacu mobilnya menyusuri jalanan ibukota. Siang
itu, udara Jakarta sangat panas. Meskipun pada malam hari sempat turun hujan
gerimis, namun itu tidak mengurangi panasnya aspal jalanan ibukota.
Nampak mobil hilir mudik di jalan jalan yang dilalui oleh Maureen
dan Rayen. Di sepanjang perjalanan, mereka terus ngobrol tentang rencana
mereka. Dalam hati kecil mereka, ada rasa takut seandainya nanti Tuan Tito,
ayahanda mereka tidak setuju dengan rencana itu. Tapi mereka belum tahu, solusi
lain seandainya Pak Tito tidak setuju dengan rencana mereka.
.
.
Dua jam kemudian, mereka sudah sampai di kantor Pak Tito. Mereka
sengaja tidak memberitahukan terlebih dahulu kedatangannya. Karena Maureen yakin,
ayahnya tidak ada acara di luar kantor pada awal pekan ini.
Nampak pengacara Whang, orang yang sangat selalu setia pada
ayahnya berdiri di dekat pintu masuk. Ini adalah orang kepercayaan Pak Tito. Selain
orangnya sangat cerdas, beliau juga sangat menjunjung tinggi dedikasi sebagai
seorang pengacara. Terbukti selama menjadi pengacara di keluarga besar Tito
Tirta Kusuma, belum pernah sekalipun beliau mau menerima tips dari setiap
perkara yang ditangani selain apa yang sudah disepakati. Bagi pengacara Wang,
dedikasi dan pengabdian adalah diatas segalanya. Wang ingin setiap apa yang
diterima akan menjadi berkah bagi dia dan keluarganya jika diperoleh dengan
jalan yang baik.
Luar biasa memang dedikasi dan prinsip pengacara yang satu
ini. Di jaman yang sudah serba dipelintar pelintir demi uang dan jabatan, masih
ada orang seperti pengacara Whang. Itulah kenapa Pak Tito tetap mempercayakan
semua perkara dan urusan perusahaan dan kleluarga pada orang yang satu ini.
Melihat kehadiran Maureen dan Rayen, pengacara Wang segera
bergegas menghampirinya. Kemudian meminta salah satu karyawan untuk memarkir
mobil Rayen di tempat parkir khusus tamu kehormatan.
“Selamat sore Tuan Rayen, Nyonya Maureen. Senang sekali Tuan
dan Nyonya datang kesini sore ini” kata pengacara Wang.
“Selamat sore Pak Wang” kata Rayen.
“Selamat sore, Pak. Apakah ayah ada di kantor? “ Tanya Maureen.
“O, ada Nyonya Maureen. Tuan Besar sedang ada rapat direksi,
tapi sebentar lagi selesai. Silahkan Tuan dan Nyonya menunggu di ruang tamu
__ADS_1
saja, nanti biar saya sampaikan. Jadwalnya seharusnya sudah selesai, tapi tadi
ada beberapa laporan dari anak perusahaan yang perlu di tindak lanjuti, itulah
kenapa rapat direksi waktunya ditambah setengah jam” kata pengacara Wang.
“Baiklah Pak, saya akan menunggu disini. Biarkan dulu ayah
menyelesaikan pekerjaaannya, kami tidak terburu buru kok. Memang hari ini kami
sudah menyiapkan waktu untuk bertemu ayah” kata Maureen.
Pengacara Wang menemani mereka ngobrol di ruang tamu kantor
Pak Tito. Banyak hal yang dibicarakan mereka, terutama kondisi kesehatan Pak
Tito. Namun Maureen merasa ada yang disembunyikan oleh pengacara Wang. Tapi Maureen
tidak tahu. Dia tidak berani menebak. Maureen memilih menanti hasil
laboratorium dari Amerika saja. Toh dalam minggu ini hasilnya sudah akan
diterima oleh mereka.
Belum genap lima menit mereka bercakap cakap, nampak laki
laki paruh baya keluar dari ruang siding direksi. Memang lelaki ini sudah cukup
berumur, namun dari perawakannya yang tegap dan penuh wibawa, pasti dikala
mudanya, semua orang mengaguminya. Dialah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma,
ayahanda dari Maureen Tirta Kusuma.
“Hai, anakku tercinta, si bawel. Dan kau Rayen, putra
mantuku yang tersayang. Suah lama nunggu ya?” kata Pak Tito pelan namun penuh
wibawa.
kata Rayen sambil mencium tangan Pak Tito sebagai rasa hormat kepada ayah
mertuanya.
“Kami sudah ngobrol ditemani Pak Wang tadi yah, sambil
menanti ayah selesai rapat direksi” kata Maureen sambil merangkul ayahnya. Tidak
lupa kecupan mesra antara ayah dan anak yang biasa dilakukan. Pipi yang mulai
keriput itu, yang selalu Maureen rindukan untuk selalu bersama. Namun Pak Tito
bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia masih akan terus bekerja selama dia
masih bisa. Semangat itulah yang membuat takjud dan bangga bagi Maureen.
“O, baiklah jika begitu. Kita ngobrol didalam saja ya, biar
enak. Ayah sudah kangen sama kalian. Pak Wang, tunggu saya disini ya, nanti
sore, masih ada yang perlu kita kerjakan. Jadi saya minta pengacara Wang, nanti
tunggu saya dulu” kata Pak Tito.
“Baik Tuan Besar” kata pengacara Wang dengan hormat dan
sedikit menunduk. Dia masih ingat betul, sore nanti masih harus menemani Pak
Tito untuk sebuah urusan yang penting.
.
.
__ADS_1
.
“Apa, apa rencana kalian itu sudah kalian pikirkan dengan
matang? Berbuat baik itu memang terpuji. Tapi harus memakai akal dan logika. Bukan
hanya pemikiran sesaat. Semua orang pasti punya empati terhadap mereka. Tapi dengan
mengadopsi mereka jadi anak? Berapa mampu kita?” kata Pak Tito mendengar
rencana Maureen dan Rayen soal keinginannya untuk membantu anak anak jalanan
itu.
“Kami bingung ayah, Maureen tidak tega melihat mereka yang
seharusnya bermain, tapi bekerja. Yang seharusnya sekolah, tapi harus berjibaku
dengan panas di jalanan” kata Maureen.
Maureen dan Rayen berencana mengangkat anak anak jalanan itu
menjadi anak angkat, dan ternyata rencana itu menurut Pak tito kurang pas. Menurut
Pak Tito, tidak semua anak pasti mau diangkat anak oleh mereka. Selain itu
orang tua mereka pun belum tentu setuju jika anaknya di jadikan anak angkat
oleh orang lain. Belum lagi persyaratan administrasi dan biaya yang tidak perlu
yang akan terbuang percuma.
“Masih ada solusi lain yang jauh lebih baik, dan tidak
banyak mengeluarkan dana yang tidak berguna. Itupun jika kalian bisa
melaksanakannya, ayah sudah memikirkan ini jauh jauh hari sebelum kalian
mengutarakan hal ini. Namun ada beberapa kendala yang ayah belum mampu
memecahkan. Sehingga rencana itu sampai hari ini belum bisa ayah laksanakan. Ayah
berharap nanti kalian bisa mencarikan solusi atas masalah ini. Karena kita
butuh orang orang yang jenius tapi jiwa sosialnya tinggi, agar bisa membantu
rencana kita ke depan” kata Pak Tito panjang lebar.
“Siap ayah. Maureen dan Rayen akan berusaha semaksimal mungkin
untuk membantu rencana ayah” kata Maureen.
“Terus apa rencana ayah untuk mereka Yah?” Tanya Rayen
Pak Tito mengerutkan dahi. Nampak orang tua itu berfikir
keras. Semua menunggu penjelasan Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.
.
.
.
Apa sebenarnya rencana Tuan Besar Tito?
Tunggu di kelanjutan episode ini. Jangan lupa dukung author
untuk menjadikan novel ini terus berlanjut sampai Maureen yang dikenal CUPU
menjadi RATU seutuhnya. Baik Ratu dalam rumah tangga, perusahaan dan masyarakat
sekitarnya.
__ADS_1
Selamat membaca.