Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
New Normal Perusahaan


__ADS_3

Perjalanan menuju ke kantor Rayen pagi itu terasa lama. Mungkn karena jalanan sudah mulai macet atau juga karena pikiran mereka berdua saat ini sedang terbagi antara menikmati perjalanan dan memikirkan kepergian Pak Rehan dan Ibu Kimnana nanti siang.


Sekitar pukul 08.30 wib, mobil memasuki pelataran kantor Putra Company.  Suasana meski belum seramai biasanya, tapi kesibukan di kantor itu sudah mulai terasa. Sebagian karyawan sudah bekerja seperti biasa. Hanya bagian publich relation yang masih belum optimal dalam melaksanakan aktivitas, karena masih terbentur oleh protocol kesehatan yang harus ditaati dalam menerima tamu yang datang ke kantor tersebut.


Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir khusus untuk pemilik perusahaan, Rayen dan Maureen segera bergegas menuju ke ruangannya.


Di ruangan lobi perusahaan Nampak beberapa staf administrasi berdiri sebentar untuk menyambut kedatangan big bos mereka. Tidak ketinggalan, Vivi, sekretaris Rayen yang juga sudah ada disana.


“Selamat pagi Pak Rayen, Ibu Maureen” sapa Vivi yang berdiri paling depan menyambut bigbos mereka.


“Selamat pagi Pak Rayen, Ibu Maureen” sapa semua karyawan yang ada di lobi kantor Putra Company pagi itu.


Sambil tersenyum, Rayen dan Maureen melangkah memasuki kantornya. Tidak lupa dia juga menyapa mereka semua.


“Selamat pagi semua.” Kata Rayen sambil meletakkan tangan didepan dada sebagai ganti saling berjabat tangan.


“Selamat pagi juga untuk semuanya” kata Maureen juga yang hampir bersamaan dengan Rayen mengucapkan selamat pagi untuk semua karyawannya.


Melihat Presdir mereka melakukan hal itu, serempak para karyawan juga meletakkan tangan mereka diatas dada. Dan ini merupakan salah satu dari protocol kesehatan di masa new normanl pandemic kali ini. Memang semua orang diusahakan untuk meminimalisir bersentuhan dengan orang lain, walaupun itu hanya sebatas berjabat tangan. Dan sebagai gantinya adalah dengan meletakkan tangan di depan dada, sambil saling mengucapkan salam.


Setelah mereka saling mengucapkan salam, Rayen kemudian berbicara kepada mereka.


“Saudaraku semua, karyawan Putra Company yang saya cintai, hari ini kita berkumpul kembali di kantor ini. Walaupun situasinya masih belum sepenuhnya normal seperti biasa, namun  kami berharap situasi new normal kali ini tidak mengurangi semangat kalia untuk bekerja. Mengabdi demi kemajuan perusahaan kita” kata Rayen.


Rayen menghela nafas panjang. Situasi yang baru saja dialami oleh perusahaannya bahkan oleh dunia saat ini memang begitu berat. Setelah beberapa saat, Rayen kemudian melanjutkan perkataannya.


“Saat ini kami menyadari, memang apa yang sedang kita hadapi sekarang ini cukup berat. Situasi saat ini memaksa kita melakukan kebiasaan baru yang membuat kita harus mengubah kebiasaan dan rutinitas kita. Tapi percayalah, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, semua pasti ada hikmahnya. Mungkin saat ini kita belum menyadari hikmah dibalik musibah ini. Tapi nanti, suatu saat setelah semua terjadi, kita akan tahu makna dari setiap kejadian yang kita lalui.

__ADS_1


Untuk itu, kami memohon kepada semua karyawan dan staf perusahaan untuk bersabar dengan peristiwa ini. Sampaikan kepada semua karyawan yang lain. Jaga kesehatan, rajin rajinlah untuk mencuci tangan dan menjaga kebersihan. Serta jaga jarak dengan orang yang belum kita kenal ataupun yang beresiko untuk menularkan kepada kita.


Semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Selamat bekerja dan memasuki masa new normal. Dedikasi dan loyalitas kalian terhadap perusahaan ini, sangat kami nantikan. Selamat bekerja”


Semua orang yang hadir di lobi itu mendengarkan dengan seksama apa yang menjadi pesan dan arahan dari Presdir mereka. Memang benar. Apapun yang terjadi, hidup harus berjalan. Jika kita berhenti, kita akan tergilas roda kehidupan.


Seberapa beratnya cobaan yang kita lalui, pasti akan menjadi sebuah pelajaran berharga jika kita mampu menjalaninya dengan sabar.


Maureen yang mendengarkan perkataan suaminya, merasa sangat bahagia. Tidak terasa, air matanya perlahan menetes di kedua pipinya yang merona merah. Dia sangat terharu. Suaminya yang sekarang sungguh sangat berfikiran dewasa. Dan sangat mampu mengayomi terhadap semua anak buahnya.


Rayen yang dulu lebih dikenal sebagai anak yang cenderung manja dan sering masih ketergantungan dengan orang tuanya, rupanya sekarang sudah sangat berubah.


Sepeninggal Tuan Tito, mertua sekaligus ayah Maureen, dan berbagai terpaan persoalan yang dihadapi oleh perusahaan nya dan KSM Group, membuat Ryen kini menjadi lebih dewasa. Semua tindakan dan keputusannya penuh dengan perhitungan yang cermat.


Setelah menyampaikan pesan kepada para karyawannya, Rayen kemudian mengajak Maureen untuk masuk ke dalam ruangannya. Tidak lupa sebelum masuk ke ruangannya, Rayen menghampiri Vivi.


“Vi, nanti jika ada orang yang membawa cv untuk melamar pekerjaan, yang bernama Ronald, suruh masuk langsung ke ruanganku ya” kata Rayen


“O. ya. Apakah ada agenda mendesak hari ini?” kata Rayen


“Belum ada pak. Mungkin nanti sore ada beberapa acara, tapi belum mendesak” kata Vivi.


“O. jika belum mendesak, untuk agenda nanti sore di cancel saja ya, karena nanti jam 12.00 kami harus pulang. Ada acara keluarga yang penting” kata Rayen.


“Baik pak” jawab Vivi.


Rayen kemudian masuk ke ruangannya. Diikuti oleh Maureen yang berjalan di belakangnya. Mereka kemudian segera tenggelam dengan pekerjaannya masing masing. Suasana new normal yang mereka jalani, tidak menghalangi mereka untuk terus melaksanakan aktivitas.

__ADS_1


Tidak ada aktivitas khusus di hari pertama mereka masuk kantor hari ini. Beberapa OB juga sibuk mengecek peralatan kantor seperti AC, dan perangkat computer serta alat alat kantor yang lain. Beberapa perangkat keras yang bebrapa waktu lalu sempat dipasang di rumah Maureen sebagai sarana untuk bekerja secara daring dalam Work From Home, kini sudah dipindahkan ke kantor lagi. Beberapa alat itu sudah bisa berfungsi dengan normal di tempat baru ini. Hanya beberapa alat yang belum sempat terpasang karena belum mendesak untuk digunakan.


____


Pukul 09.30 wib


Sebuah sepeda motor memasuki pelataran kantor Putra Company. Mengenakan helm dan berjaket hitam, membuat beberapa satpam dan karyawan kesulitan untuk melihat siapa dia. Namun ketika memasuki ruang pemeriksaan tamu dan orang itu membuka helmnya, barulah mereka tahu bahwa yang mengendarai sepeda motor itu adalah seorang pemuda yang berumur sekitar 25 tahunan.


Kemudian pemuda itu segera menunjukkan kartu nama yang diserahkan kepada petugas jaga di pos depan kantor. Kartu nama itu milik Tuan Rayen, Presdir Putra Company.


Setelah memperkenalkan diri, ternyata pemuda itu bernama Ronald Aditya. Dan bermaksud melamar pekerjaan.


Akhirnya seorang petugas jaga bergegas menuju ke ruang lobi. Sementara Ronald masih menunggu di ruang tunggu pos penjagaan.


Agak lama petugas jaga itu masuk ke lobi, sementara itu Ronald masih menunggu di pos itu sambil berharap harap cemas. Bagaimanapun ini adalah kali pertama dia masuk ke perusahaan ini. Bahkan bertemu dengan Tuan Rayen pun baru satu kali kemarin. Walaupun dia datang kesini atas rekomendasi dari Tuan Rakha yang merupakan bekas majikan dari Pak Dirgo, ayahnya, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa jangankan dia, Pak Dirgo saja belum pernah sekalipun akrab dengan Presdir Putra Company.


Antara harap harap cemas, Ronald menunggu sambil sesekali menghela nafas panjang.


Apakah Ronald akan berhasil bertemu dengan Presdir Putra company.


Dan apa yang akan dilakukan oleh Rayen selanjutnya…


.


.


Jangan lupa untuk terus mengikuti kelanjutan kisah ini. Mohon dukungan dari readers untuk like dan vote agar kami terus bisa berkarya.

__ADS_1


Dengarkan juga audiobook di akun Bharata FM Trenggalek, dan follow akunnya untuk selalu mendapat pemberitahuan saat ada episode baru dan novel baru dari kami.


Terima kasih dan selamat membaca…


__ADS_2