
Rakha dan Chika sudah sampai di rumah sakit, disusul oleh Azar dan Abellia.
" Ka, kamu udah kabarin maureen?" tanya Abellia.
" udah bell, cuma ga aktif ponsel Maureen, dan akhirnya aku hubungin asisten pribadinya, tapi sampai sekarang dia ga ada kabar, mungkin dia udah ga peduli sama Rayen!"
" Kasihan ya Rayen, pasti terpukul bangett kalau Maureen udah ga peduli sama dia,,,,"
" iya sih, yuk masuk kedalam jenguk Rayen.
Chika menggandeng tangan Abellia, sedangkan Rakha dan Azar mengikuti mereka dari belakang, mereka menuju loby rumah sakit untuk menanyakan kamar Rayen.
" Permisi kak, mau tanya dimana ruang rawat pasien atas nama Rayen Briliyan Putra?"
" apakah korban kecelakaan tadi siang!"
" benar kak!"
" oh, kalian siapanya?"
" kami sahabatnya kak!"
" Pasien masih diruang ICU karena belum sadarkan diri"
__ADS_1
" terima kasih kak".
Mereka ber empat berjalan menuju ruang ICU untuk melihat keadaan Rayen, setelah clingak clinguk mencari, mereka menemukan Ruang ICU. Terlihat dari jauh kim Nana dan Rehan terduduk lemas dikursi tunggu pasien.
" Selamat pagi om tante, gimana keadaan Rayen?" sapa Chika.
" masih seperti kemarin nak, belum sadarkan diri. Terima kasih telah jenguk Rayen!" jawab Rehan.
" lalu apa tindakan dokter om?" tanya Abellia.
" hiks,,, hiks,,, hiks. dokter menyarankan operasi nak, tapi kami terkendala biyaya" sahut kim Nana.
" berapa biyayanya tante?" tanya Rakha.
" oh tuhan, banyak sekali!" balas Azar.
" maafkan kami tante, kami tidak bisa membantumu!" kata Chika menyesal.
" tidak apa apa nak, saya tahu 10 milyar kemarin sangat berat bukan!" kata Rehan berusaha kuat, walaupun hatinya hancur karena harapannya meminta bantuan kepada teman temannya Rayen sudah pupus.
Chika dan teman-temannya melihat kondisi Rayen dari kaca Ruang Icu , air matanya menetes ketika melihat Rayen yang dulu periang harus terbaring lemah tak berdaya, dengan alat-alat penunjang kehidupan diseluruh tubuhnya. Chika dan Abellia berusaha keras menelfon Maureen, tetapi hasilnya nihil ponsel Maureen tidak aktif, begitu juga dengan ponsel Asisten Tina yang juga tidak dapat dihubungi, mereka putus asa dan akhirnya memutuskan untuk pamit meninggalkan Rumah sakit.
Disuatu Tempat Maureen sedang beristirahat bersama asisten Tina,
__ADS_1
"Asisten Tina kapan kita akan sampai di Indonesia?" (sambil meneguk minuman).
"Nona presdir, mungkin besok siang kita baru akab sampai!"
" ahh, kenapa lelet sekali helikopter kita!"
" helikopter mempunyai kecepatan terbang tebatas nona!"
" hemm baiklah, apakah ada kabar terkini dari Indonesia. Maksudku kabar tentang Rayen,".
" Tuan muda Putra masih belum sadar Nona!"
" Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan asisten Tina."
"Mari Nona".
Asisten Tina dan Maureen melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter milik Maureen, Maureen kesal karena ia tidak bisa sampai lebih cepat ke Indonesia tetapi apalah daya Kecepatan Helikopternya terbatas, sedangkan untuk memesan tiket pesawat pasti juga memakan waktu.
Maureen menatap kosong keluar jendela Helikopter bahkan Maureen tidak bertanya kepada Asisten Tina sudah sampai mana mereka. Maureen melamun, pikirannya hanya terfokus pada Rayen. Hatinya juga kacau balau antara cinta dan benci juga takut kehilangan menjadi satu.
asisten Tina beberapa kali menawarkan makan atau minuman tetapi ditolak oleh Maureen. Maureen menangis sendu, dia menyandarkan kepalany dibahu asisten Tina.
"Tenanglah Nona, Tuan muda Putra pasti akan baik baik saja" hanya itu yang dapat dikatakan Asisten Tina untuk menenangkan Majikannya itu.
__ADS_1