
Saatnya kita intip perjalanan Rayen dan Vivi ke Mexico. Suasana
penerbangan yang nyaman diselingi dengan alunan nada nada syahdu yang diputar
melalui layar monitor didepan Rayen, membuat suasana makin santai. Rayen sengaja
memilih music music santai untuk menemani perjalanannya. Disampingnya nampak
Vivi yang mengenakan baju santai tengah merapikan duduknya. Di tempat duduk
yang cukup nyaman mereka berdua beristirahat sambil menikmati perjalanan yang
cukup panjang.
Rayen sengaja memilih penerbangan Jakarta – Mexico dengan
satu kali transit saja. Ini untuk menghemat waktu. Untuk sampai di Mexico City,
Rayen butuh wajtu sekitar dua hari perjalanan. Rayen melirik Vivi yang sedang
mencari cari lagu yang enak untuk didengar melalui monitor di depan tempat
duduknya. Dasar Vivi, ternyata dia lebih nyaman dengan lagu lagu khas
tradisional jawa. ‘Vivi, Vivi ndesomu ki lo kok ndak ilang, wis teko Mexico barang’
“He, Vi “ sapaan Rayen membuyarkan akitvitas Vivi yang sibuk
mencari lagu favoritnya
“Eh, Iya Pak Presdir, ada apa ya?” Tanya Vivi setengah
kaget.
“Apa berkas berkas yang kita perlukan semua sudah kamu
siapkan? Kita tidak punya waktu lama disana. Kamu tahu kan, ayah belum sehat
benar. Sementara Maureen sudah hampir melahirkan. Jadi kita harus hemat waktu”
kata Rayen
“Siap Pak Presdir, semua sudah saya siapkan. Hardcopy ataupun
softcopy semua berkas sudah siap. Jika nanti diperlukan kita tinggal cetak
ulang disana jika dirasa kurang” kata Vivi.
“Baiklah Vi, terima kasih ya, selama ini sudah membantu
perusahaanku untuk berkembang. Tanpa kamu, mungkin saya belum mampu seperti
sekarang ini” kata Rayen
“Itu sudah menjadi kewajiban saya Pak Presdir. Sekaligus merupakan
rasa terima kasih saya pada Pak Presdir dan Ibu Maureen. Jika tanpa bantuan
beliau, saya pun tidak akan berarti apa apa. Mungkin masih membantu Ibu di kampong
jualan gudeg” kata Vivi merendah.
“Ya, Vi. Tapi jujur, kamu layak dibanggakan di Putra
Company. Baiklah, kamu silahkan istirahat. Kita pergunakan perjalanan ini untuk
mengistirahatkan badan kita, sampai di Mexico kita akan langsung bekerja” kata
Rayen
“Baik Pak”
Kemudian Rayen mencoba memejamkan mata. Rasa lelah membuat
dia segera terlelap tanpa menghiraukan Vivi yang masih asyik dengan audio
player yang ada di depannya.
.
Dua jam berlalu tanpa terasa, ketika Rayen tiba tiba
terbangun. Seperti ada beban berat di bahunya. Dia baru ingat kalau dia sedang
berada di pesawat dalam perjalanan ke Mexico. Dan beban berat itu….. ealah si
__ADS_1
Vivi ternyata tertidur dan tanpa sengaja kepalanya mengarah ke pundak Rayen. Perlahan
lahan Rayen menegakkan kepala Vivi, dan tanpa sengaja Rayen melirik belahan
d*d* Vivi yang sedikit terbuka. Segera saja Rayen berpaling. Ah\, kenapa juga
tuh si Vivi tidurnya tak diatur agar kepalanya tidak menindih pundak Rayen.
Setelah kembali pada posisi yang sudah semestinya, Rayen pun
meneruskan istirahatnya. Namun dia tidak bisa segera tidur. Dia masih terbayang
pada wanita yang sekarang sedang tidur dikursi samping dia. Ah, Vivi, sebenarnya
memang cantik. Andai saja……… hayo andai saja apa Rayen, jangan macam macam kamu………
Andai saja dia sudah punya calon suami, tentu Rayen bisa
membantunya untuk segera menikah kali ya….. ngeles nih……..
Buang pikiranmu yang tidak tidak Rayen, fokus untuk
mengerjakan tugasmu. Ingat selain kamu adalah pemimpin perusahaan, kamu juga
seorang suami dari istrimu yang telah menyelamatkan nyawamu.
Dan akhirnya Rayenpun kembali terlelap. Menikmati perjalanan
panjangnya menuju kota yang diimpikan bisa membuat Putra Company menjadi
perusahaan yang hebat dan diperhitungkan di berbagai belahan dunia.
.
.
.
Sementara itu, Maureen malam hari itu belum juga terlelap. Pikirannya
masih dibayangi ketakutan jikalau suaminya sampai tergoda dengan wanita lain. Malam
semakin larut, udara malam terasa makin dingin. Malam itu sebenarnya Maureen sudah
minta ditemani oleh Bi Minah, namun ternyata Bi Minah tidak mau tidur di kasur,
malah tidur di lantai, akhirnya Maureen memilih minta Bi Minah pindah ke kamar
membantunya tidur di lantai.
Maureen mencoba memejamkan mata, namun lagi lagi bayangan
Rayen menari nari di pelupuk matanya. Apakah Maureen terlalu mencintai suaminya
hingga dia sampai terhalusinasi hal hal yang tidak diinginkan? Apakah karena
dia sedang mengandung anak pertama, yang kata orang biasanya selalu ingin
bersama suaminya.
Maureen meraih ponsel, baru saja dia berniat mau menelepon
suaminya. Waduh, bagaimana bisa ditelepon, bukankah sekarang posisinya masih
ada di pesawat? Rayen baru akan tiba di Mexico besok malam, itupun jika
perjalanan lancar.
Maureen, hari sudah malam. Lupakan dulu masalahmu. Percayalah
suamimu pasti bisa menjaga kepercayaanmu, sekarang tidurlah. Ingat kesehatanmu
dan bayimu…….
Maureen akhirnya tertidur, namun tidak bisa pulas, beberapa
kali dia terbangun. Entah mimpi apa, yang jelas mimpinya mala mini buanyak,
sangat banyak…………. Kalau saja mimpinya ditulis disini, mungkin 10 episode
isinya adalah mimpi Maureen malam ini.
Tidur yang lelap Maureen, esok kamu harus ke kantor, banyak
tugas menumpuk di Putra Company dan KSM yang harus kamu kerjakan…….
.
.
__ADS_1
.
Pagi ini udara masih cukup dingin. Angin bertiup sepoi sepoi
mengantarkan irama keindahan. Kuncup bunga mekar, daun daun menghijau, alam
seakan menyambut datangnya sang mentari yang dengan gagahnya menyembul dari
ufuk timur, menyeruak diantara merahnya cakrawala. Burung burung berkicauan
menyanyikan lagu keindahan, seakan mengajak seseorang yang sedang duduk
termenung sendiri di serambi depan rumah mewah itu untuk bergembira bersama…..
Beberapa saat kemudian, nampak seorang perempuan setengah
tua menghampiri wanita muda yang sudah berdandan rapi, namun duduk termenung di
serambi itu.
“Nyonya, sarapan sudah siap. Nyonya silahkan sarapan dulu
kalau mau berangkat ke kantor” kata Bi Minah.
“Eh, Iya Bi. Apakah Pak Jay sudah siap Bi?” Tanya Maureen.
“sudah sedari tadi Nyonya. Pak Jay lagi Ngopi di dapur
sekarang, menunggu perintah Nyonya” kata Bi Minah
“Ehm baiklah Bi. Saya mau sarapan dulu, setelah sarapan,
tolong nanti Pak Jay suruh segera temui aku ya Bi?” kata Maureen
“Iya Nyonya” kata Bi Minah sambil permisi untuk melanjutkan
pekerjaannya.
Sementara itu Maureen bergegas menuju ruang makan, untuk
sarapan. Beberapa potong roti dan nenrapa suap nasi ternyata sudah mampu
mengganjal perutnya yang kosong karena seharian kemarin hanya sempat makan satu
kali. Ternyata nikmatnya makanan itu bukan pada mahalnya harga makanan atau
enaknya masakan, tapi lebih dari itu, ternyata juga sangat tergantung dari
suasana hati.
.
“Pak Jay, mari kita berangkat” seru Maureen memanggil Pak
Jay setelah selesai sarapan pagi itu
“Eh, iya Nyonya. Siap, berangkat” kata Pak Jay setengah
becanda.
“Wah, Pak Jay kira saya Purnomo apa kok siap berangkat kayak
sinetron tukang ojek” kata Maureen sambil tertawa
“Ya, habisnya Nyonya Maureen cemberut terus dari kemarin. Biar
bisa ketawa gitu” kata Pak Jay sambil cengengesan.
Ah, betapa bahagianya Maureen, ternyata orang orang
disekitarnya sangat peduli terhadapnya. Ya, kadang memang dari orang orang yang
jauh dari kata mampu seperti inilah ketulusan hati itu banyak terpancar. Bukan teman
atau sahabat yang hadir dikala suka, namun ketika duka tiada yang peduli. Pepatah
mengatakan jika sedang diatas, semua mengaku saudara, giliran terjungkal ke
bawah, semua orang tidak mengenali kita.
“Kita ke kantor Putra Company dulu Pak Jay, baru nanti siang
kita ke KSM Group. Saya harus membagi waktu” kata Maureen.
“Baik Nyonya” kata Pak Jay sambil melajukan kendaraannya
menembus padatnya jalanan ibukota, mengarah ke kantor Putra Company.
.
__ADS_1
.
.