Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 6


__ADS_3

 


 


Saatnya kita intip perjalanan Rayen dan Vivi ke Mexico. Suasana


penerbangan yang nyaman diselingi dengan alunan nada nada syahdu yang diputar


melalui layar monitor didepan Rayen, membuat suasana makin santai. Rayen sengaja


memilih music music santai untuk menemani perjalanannya. Disampingnya nampak


Vivi yang mengenakan baju santai tengah merapikan duduknya. Di tempat duduk


yang cukup nyaman mereka berdua beristirahat sambil menikmati perjalanan yang


cukup panjang.


Rayen sengaja memilih penerbangan Jakarta – Mexico dengan


satu kali transit saja. Ini untuk menghemat waktu. Untuk sampai di Mexico City,


Rayen butuh wajtu sekitar dua hari perjalanan. Rayen melirik Vivi yang sedang


mencari cari lagu yang enak untuk didengar melalui monitor di depan tempat


duduknya. Dasar Vivi, ternyata dia lebih nyaman dengan lagu lagu khas


tradisional jawa. ‘Vivi, Vivi ndesomu ki lo kok ndak ilang, wis teko Mexico barang’


“He, Vi “ sapaan Rayen membuyarkan akitvitas Vivi yang sibuk


mencari lagu favoritnya


“Eh, Iya Pak Presdir, ada apa ya?” Tanya Vivi setengah


kaget.


“Apa berkas berkas yang kita perlukan semua sudah kamu


siapkan? Kita tidak punya waktu lama disana. Kamu tahu kan, ayah belum sehat


benar. Sementara Maureen sudah hampir melahirkan. Jadi kita harus hemat waktu”


kata Rayen


“Siap Pak Presdir, semua sudah saya siapkan. Hardcopy ataupun


softcopy semua berkas sudah siap. Jika nanti diperlukan kita tinggal cetak


ulang disana jika dirasa kurang” kata Vivi.


“Baiklah Vi, terima kasih ya, selama ini sudah membantu


perusahaanku untuk berkembang. Tanpa kamu, mungkin saya belum mampu seperti


sekarang ini” kata Rayen


“Itu sudah menjadi kewajiban saya Pak Presdir. Sekaligus merupakan


rasa terima kasih saya pada Pak Presdir dan Ibu Maureen. Jika tanpa bantuan


beliau, saya pun tidak akan berarti apa apa. Mungkin masih membantu Ibu di kampong


jualan gudeg” kata Vivi merendah.


“Ya, Vi. Tapi jujur, kamu layak dibanggakan di Putra


Company. Baiklah, kamu silahkan istirahat. Kita pergunakan perjalanan ini untuk


mengistirahatkan badan kita, sampai di Mexico kita akan langsung bekerja” kata


Rayen


“Baik Pak”


Kemudian Rayen mencoba memejamkan mata. Rasa lelah membuat


dia segera terlelap tanpa menghiraukan Vivi yang masih asyik dengan audio


player yang ada di depannya.


.


Dua jam berlalu tanpa terasa, ketika Rayen tiba tiba


terbangun. Seperti ada beban berat di bahunya. Dia baru ingat kalau dia sedang


berada di pesawat dalam perjalanan ke Mexico. Dan beban berat itu….. ealah si

__ADS_1


Vivi ternyata tertidur dan tanpa sengaja kepalanya mengarah ke pundak Rayen. Perlahan


lahan Rayen menegakkan kepala Vivi, dan tanpa sengaja Rayen melirik belahan


d*d* Vivi yang sedikit terbuka. Segera saja Rayen berpaling. Ah\, kenapa juga


tuh si Vivi tidurnya tak diatur agar kepalanya tidak menindih pundak Rayen.


Setelah kembali pada posisi yang sudah semestinya, Rayen pun


meneruskan istirahatnya. Namun dia tidak bisa segera tidur. Dia masih terbayang


pada wanita yang sekarang sedang tidur dikursi samping dia. Ah, Vivi, sebenarnya


memang cantik. Andai saja……… hayo andai saja apa Rayen, jangan macam macam kamu………


Andai saja dia sudah punya calon suami, tentu Rayen bisa


membantunya untuk segera menikah kali ya….. ngeles nih……..


Buang pikiranmu yang tidak tidak Rayen, fokus untuk


mengerjakan tugasmu. Ingat selain kamu adalah pemimpin perusahaan, kamu juga


seorang suami dari istrimu yang telah menyelamatkan nyawamu.


Dan akhirnya Rayenpun kembali terlelap. Menikmati perjalanan


panjangnya menuju kota yang diimpikan bisa membuat Putra Company menjadi


perusahaan yang hebat dan diperhitungkan di berbagai belahan dunia.


.


.


.


Sementara itu, Maureen malam hari itu belum juga terlelap. Pikirannya


masih dibayangi ketakutan jikalau suaminya sampai tergoda dengan wanita lain. Malam


semakin larut, udara malam terasa makin dingin. Malam itu sebenarnya Maureen sudah


minta ditemani oleh Bi Minah, namun ternyata Bi Minah tidak mau tidur di kasur,


malah tidur di lantai, akhirnya Maureen memilih minta Bi Minah pindah ke kamar


membantunya tidur di lantai.


Maureen mencoba memejamkan mata, namun lagi lagi bayangan


Rayen menari nari di pelupuk matanya. Apakah Maureen terlalu mencintai suaminya


hingga dia sampai terhalusinasi hal hal yang tidak diinginkan? Apakah karena


dia sedang mengandung anak pertama, yang kata orang biasanya selalu ingin


bersama suaminya.


Maureen meraih ponsel, baru saja dia berniat mau menelepon


suaminya. Waduh, bagaimana bisa ditelepon, bukankah sekarang posisinya masih


ada di pesawat? Rayen baru akan tiba di Mexico besok malam, itupun jika


perjalanan lancar.


Maureen, hari sudah malam. Lupakan dulu masalahmu. Percayalah


suamimu pasti bisa menjaga kepercayaanmu, sekarang tidurlah. Ingat kesehatanmu


dan bayimu…….


Maureen akhirnya tertidur, namun tidak bisa pulas, beberapa


kali dia terbangun. Entah mimpi apa, yang jelas mimpinya mala mini buanyak,


sangat banyak…………. Kalau saja mimpinya ditulis disini, mungkin 10 episode


isinya adalah mimpi Maureen malam ini.


Tidur yang lelap Maureen, esok kamu harus ke kantor, banyak


tugas menumpuk di Putra Company dan KSM yang harus kamu kerjakan…….


.


.

__ADS_1


.


Pagi ini udara masih cukup dingin. Angin bertiup sepoi sepoi


mengantarkan irama keindahan. Kuncup bunga mekar, daun daun menghijau, alam


seakan menyambut datangnya sang mentari yang dengan gagahnya menyembul dari


ufuk timur, menyeruak diantara merahnya cakrawala. Burung burung berkicauan


menyanyikan lagu keindahan, seakan mengajak seseorang yang sedang duduk


termenung sendiri di serambi depan rumah mewah itu untuk bergembira bersama…..


Beberapa saat kemudian, nampak seorang perempuan setengah


tua menghampiri wanita muda yang sudah berdandan rapi, namun duduk termenung di


serambi itu.


“Nyonya, sarapan sudah siap. Nyonya silahkan sarapan dulu


kalau mau berangkat ke kantor” kata Bi Minah.


“Eh, Iya Bi. Apakah Pak Jay sudah siap Bi?” Tanya Maureen.


“sudah sedari tadi Nyonya. Pak Jay lagi Ngopi di dapur


sekarang, menunggu perintah Nyonya” kata Bi Minah


“Ehm baiklah Bi. Saya mau sarapan dulu, setelah sarapan,


tolong nanti Pak Jay suruh segera temui aku ya Bi?” kata Maureen


“Iya Nyonya” kata Bi Minah sambil permisi untuk melanjutkan


pekerjaannya.


Sementara itu Maureen bergegas menuju ruang makan, untuk


sarapan. Beberapa potong roti dan nenrapa suap nasi ternyata sudah mampu


mengganjal perutnya yang kosong karena seharian kemarin hanya sempat makan satu


kali. Ternyata nikmatnya makanan itu bukan pada mahalnya harga makanan atau


enaknya masakan, tapi lebih dari itu, ternyata juga sangat tergantung dari


suasana hati.


.


“Pak Jay, mari kita berangkat” seru Maureen memanggil Pak


Jay setelah selesai sarapan pagi itu


“Eh, iya Nyonya. Siap, berangkat” kata Pak Jay setengah


becanda.


“Wah, Pak Jay kira saya Purnomo apa kok siap berangkat kayak


sinetron tukang ojek” kata Maureen sambil tertawa


“Ya, habisnya Nyonya Maureen cemberut terus dari kemarin. Biar


bisa ketawa gitu” kata Pak Jay sambil cengengesan.


Ah, betapa bahagianya Maureen, ternyata orang orang


disekitarnya sangat peduli terhadapnya. Ya, kadang memang dari orang orang yang


jauh dari kata mampu seperti inilah ketulusan hati itu banyak terpancar. Bukan teman


atau sahabat yang hadir dikala suka, namun ketika duka tiada yang peduli. Pepatah


mengatakan jika sedang diatas, semua mengaku saudara, giliran terjungkal ke


bawah, semua orang tidak mengenali kita.


“Kita ke kantor Putra Company dulu Pak Jay, baru nanti siang


kita ke KSM Group. Saya harus membagi waktu” kata Maureen.


“Baik Nyonya” kata Pak Jay sambil melajukan kendaraannya


menembus padatnya jalanan ibukota, mengarah ke kantor Putra Company.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2