Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 2


__ADS_3

 


 


Malam itu. Setelah makan malam rayen dan Maureen bersiap


siap untuk tidur. Obrolan mereka masih tentang anak Chika. Mereka sangat


berharap diberi kelancaran dan kekuatan seperti Chika dalam menghadapi


persalinan. Sebenarnya selain itu da sesuatu yang ingin dikatakan oleh Maureen.


Tapi Maureen menyadari posisi keuangan KSM Group. Makanya dia belum berani


mengatakan pada Rayen. Sudah dua bulan ini mereka belum menyambangi rumah


singgah anak anak terlantar. Biasanya mereka rutin memberikan sedikit bantuan


untuk mereka.


Maureen menyadari bahwa kondisi keuangan KSM Group saat ini


sedang minim. Beberapa pos bahkan dibantu dari Putra Company. Sebenarnya, kalau


Rayen mau, KSM Group seharusnya sudah jadi anak perusahaan Putra Company. Tapi Rayen


ternyata berbeda, dia tidak ingin KSM Group turun. Maureen diam diam mengamati


apa yang telah dilakukan oleh Rayen. Maureen sengaja memasang seorang staf


untuk melihat bagaimana cara kerja suaminya. Jika memang suaminya mampu dan mau


menjalankan KSM Group, ada rencana tersendiri yang akan dilaksanakan oleh


Maureen dan ayahnya.


Disini Maureen juga tahu, bahwa ada seseorang yang bermain


di KSM Group, dan menyebabkan perusahaannya rugi. Tapi dia juga belum berani


menebak siapa dia. Gambaran itu masih cukup jauh bagi Maureen. Dia tidak


inginsalah dalam melangkah dan menentukan siapa yang layak dicurigai disini.



“Bun, apakah bunda tidak ingin mengunjungi rumah singgah? Kan


sudah lama kita tidak kesana?” Tanya Rayen tiba tiba.


Maureen kaget, kok seperti ada yang mengingatkan Rayen ya,


bukankah dia juga masih memikirkan soal itu.


“Eh, iya Ray. Aku sebetulnya juga berfikir demikian. Tapi kamu


tahu sendiri kan, bagaimana kondisi financial dari KSM Group. Rasanya belum


memungkinkan untuk menggunakan pos untuk itu. Jadi gimana ya?”Tanya Maureen.

__ADS_1


“Bunda sayang, kini saatnya Putra Company ambil bagian. Bukankah


perusahaanku bisa bangkit juga karena ada KSM. Dan yang membantu bangkitnya


Putra Company juga orang yang bunda pilih. Jadi wajar jika sekarang kita


menggunakan sebagian keuntungan kita untuk mereka” kata Rayen


Dan akhirnya mereka sepakat, sebelum berangkat ke kantor


mereka akan mengunjungi rumah singgah terlebih dahulu. Sekaligus memastikan


bahwa mereka dalam kondisi sehat sehat saja. Maklum musim penghujan, dan


kondisi rumah singgah serta rumah mereka banyak yang ada di dekat bantaran


sungai.


Setelah selesai ngobrol, Rayen mengecup pipi dan kening


serta perut istrinya, dan mereka pun tertidur lelap dalam dekapan sang dewi


malam.


.


.


.


Suasana pagi di rumah singgah itu  sedikit ramai. Anak anak jalanan yang biasanya


buku, ada yang memegang alat tulis. Semua sibuk. Memang disitu diarahkan untuk


saling membantu.  Beberapa relawan yang


sudah hadir nampak memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi mereka. Demikian


juga, yang sudah bisa membaca dan menulis juga ikut mengajari yang lain yang


belum bisa.


Nampak Wak Somad sesepuh rumah singgah pagi itu juga


memantau anak anak yang sedang belajar. Mereka terbagi dalam dua kelas, kelas


pagi dan kelas sore. Ini dilakukan agar mereka tetap bisa membantu keluarga


mereka mencari nafkah dengan jualan Koran atau mengamen dan kegiatan kegiatan


lainnya, selain itu mereka juga bisa belajar di saat mereka tidak bekerja.


Rumah singgah disini memang masih dalam tahap rintisan,


dimana lokasi dan rumah yang dipakai adalah pemberian dari donator yang hanya


Wak Somad yang tahu. Dan Wak Somad sendiri adalah salah satu pemerhati


lingkungan di sekitar bantaran kali yang selama ini sangat peduli pada nasib mereka,

__ADS_1


sayangnya Wak Somad sendiri hidupnya juga masih jauh dari kata mampu.


Tapi Wak Somad bukan orang yang gampang menyerah. Dedikasinya


terhadap kemanusiaan sangat luar biasa. Terbukti anak anak yang sebelumnya


tidak bisa membaca dan menulis itu, kini sudah pandai. Bahkan ada diantara


mereka yang sudah pandai mengaji. Setiap ada kegiatan kampong, Wak Somad selalu


menampilkan anak anak itu. Takjarang mereka mendapatkan juara di lomba lomba


itu.


Pagi itu, nampak sebuah mobil warna metallic berhenti di


sana. Dan rupanya, Wak Somad sudah mengenali siapa pemilik  mobil itu.


“Selamat pagi Tuan Rayen dan Nyonya Maureen. Alhamdulillah Tuan


dan Nyonya sudah datang kesini. Mudah mudahan kondisi Tuan dan Nyonya


sekeluarga dalam keadaan sehat. Mari masuk Tuan, Nyonya?” kata Wak Somad sambil


mempersilahkan Maureen dan Rayen untuk masuk ke serambi rumah singgah. Nampak anak


anak itu berbaris, mereka segera bersalaman sambil mencium tangan Rayen dan Maureen


satu persatu. Rayen dan Maureen sangat terharu melihat mereka. Dan juga merasa


bersyukur dalam hidupnya bisa membuat mereka tersenyum.


“Selamat pagi Wak Somad. Terima kasih sudah menerima


kehadiran kami. Maaf kami lama tidak bisa kesini, karena ayah saya kemarin


sakit dan harus berobat ke luar negeri. Jadi belum bisa kesini” kata Maureen.


“Iya Wak Somad, kami juga mohon doanya untuk ayah saya” kata


Rayen.


“O, Iya Tuan Rayen dan Nyonya Maureen. Dengan senang hati


kami akan mendoakan Tuan Besar agar segera sembuh dari sakitnya” kata Wak


Somad.


Wak Somad kemudian menceritakan tentang perkembangan rumah


singgah. Rayen dan Maureen sangat bahagia mendengar laporan Wak Somad. Dan sebelum


pulang mereka menitipkan sedikit dana untuk kebutuhan anak anak itu pada Wak


Somad, setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya ke kantor


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2