
Malam itu. Setelah makan malam rayen dan Maureen bersiap
siap untuk tidur. Obrolan mereka masih tentang anak Chika. Mereka sangat
berharap diberi kelancaran dan kekuatan seperti Chika dalam menghadapi
persalinan. Sebenarnya selain itu da sesuatu yang ingin dikatakan oleh Maureen.
Tapi Maureen menyadari posisi keuangan KSM Group. Makanya dia belum berani
mengatakan pada Rayen. Sudah dua bulan ini mereka belum menyambangi rumah
singgah anak anak terlantar. Biasanya mereka rutin memberikan sedikit bantuan
untuk mereka.
Maureen menyadari bahwa kondisi keuangan KSM Group saat ini
sedang minim. Beberapa pos bahkan dibantu dari Putra Company. Sebenarnya, kalau
Rayen mau, KSM Group seharusnya sudah jadi anak perusahaan Putra Company. Tapi Rayen
ternyata berbeda, dia tidak ingin KSM Group turun. Maureen diam diam mengamati
apa yang telah dilakukan oleh Rayen. Maureen sengaja memasang seorang staf
untuk melihat bagaimana cara kerja suaminya. Jika memang suaminya mampu dan mau
menjalankan KSM Group, ada rencana tersendiri yang akan dilaksanakan oleh
Maureen dan ayahnya.
Disini Maureen juga tahu, bahwa ada seseorang yang bermain
di KSM Group, dan menyebabkan perusahaannya rugi. Tapi dia juga belum berani
menebak siapa dia. Gambaran itu masih cukup jauh bagi Maureen. Dia tidak
inginsalah dalam melangkah dan menentukan siapa yang layak dicurigai disini.
‘
“Bun, apakah bunda tidak ingin mengunjungi rumah singgah? Kan
sudah lama kita tidak kesana?” Tanya Rayen tiba tiba.
Maureen kaget, kok seperti ada yang mengingatkan Rayen ya,
bukankah dia juga masih memikirkan soal itu.
“Eh, iya Ray. Aku sebetulnya juga berfikir demikian. Tapi kamu
tahu sendiri kan, bagaimana kondisi financial dari KSM Group. Rasanya belum
memungkinkan untuk menggunakan pos untuk itu. Jadi gimana ya?”Tanya Maureen.
__ADS_1
“Bunda sayang, kini saatnya Putra Company ambil bagian. Bukankah
perusahaanku bisa bangkit juga karena ada KSM. Dan yang membantu bangkitnya
Putra Company juga orang yang bunda pilih. Jadi wajar jika sekarang kita
menggunakan sebagian keuntungan kita untuk mereka” kata Rayen
Dan akhirnya mereka sepakat, sebelum berangkat ke kantor
mereka akan mengunjungi rumah singgah terlebih dahulu. Sekaligus memastikan
bahwa mereka dalam kondisi sehat sehat saja. Maklum musim penghujan, dan
kondisi rumah singgah serta rumah mereka banyak yang ada di dekat bantaran
sungai.
Setelah selesai ngobrol, Rayen mengecup pipi dan kening
serta perut istrinya, dan mereka pun tertidur lelap dalam dekapan sang dewi
malam.
.
.
.
Suasana pagi di rumah singgah itu sedikit ramai. Anak anak jalanan yang biasanya
buku, ada yang memegang alat tulis. Semua sibuk. Memang disitu diarahkan untuk
saling membantu. Beberapa relawan yang
sudah hadir nampak memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi mereka. Demikian
juga, yang sudah bisa membaca dan menulis juga ikut mengajari yang lain yang
belum bisa.
Nampak Wak Somad sesepuh rumah singgah pagi itu juga
memantau anak anak yang sedang belajar. Mereka terbagi dalam dua kelas, kelas
pagi dan kelas sore. Ini dilakukan agar mereka tetap bisa membantu keluarga
mereka mencari nafkah dengan jualan Koran atau mengamen dan kegiatan kegiatan
lainnya, selain itu mereka juga bisa belajar di saat mereka tidak bekerja.
Rumah singgah disini memang masih dalam tahap rintisan,
dimana lokasi dan rumah yang dipakai adalah pemberian dari donator yang hanya
Wak Somad yang tahu. Dan Wak Somad sendiri adalah salah satu pemerhati
lingkungan di sekitar bantaran kali yang selama ini sangat peduli pada nasib mereka,
__ADS_1
sayangnya Wak Somad sendiri hidupnya juga masih jauh dari kata mampu.
Tapi Wak Somad bukan orang yang gampang menyerah. Dedikasinya
terhadap kemanusiaan sangat luar biasa. Terbukti anak anak yang sebelumnya
tidak bisa membaca dan menulis itu, kini sudah pandai. Bahkan ada diantara
mereka yang sudah pandai mengaji. Setiap ada kegiatan kampong, Wak Somad selalu
menampilkan anak anak itu. Takjarang mereka mendapatkan juara di lomba lomba
itu.
Pagi itu, nampak sebuah mobil warna metallic berhenti di
sana. Dan rupanya, Wak Somad sudah mengenali siapa pemilik mobil itu.
“Selamat pagi Tuan Rayen dan Nyonya Maureen. Alhamdulillah Tuan
dan Nyonya sudah datang kesini. Mudah mudahan kondisi Tuan dan Nyonya
sekeluarga dalam keadaan sehat. Mari masuk Tuan, Nyonya?” kata Wak Somad sambil
mempersilahkan Maureen dan Rayen untuk masuk ke serambi rumah singgah. Nampak anak
anak itu berbaris, mereka segera bersalaman sambil mencium tangan Rayen dan Maureen
satu persatu. Rayen dan Maureen sangat terharu melihat mereka. Dan juga merasa
bersyukur dalam hidupnya bisa membuat mereka tersenyum.
“Selamat pagi Wak Somad. Terima kasih sudah menerima
kehadiran kami. Maaf kami lama tidak bisa kesini, karena ayah saya kemarin
sakit dan harus berobat ke luar negeri. Jadi belum bisa kesini” kata Maureen.
“Iya Wak Somad, kami juga mohon doanya untuk ayah saya” kata
Rayen.
“O, Iya Tuan Rayen dan Nyonya Maureen. Dengan senang hati
kami akan mendoakan Tuan Besar agar segera sembuh dari sakitnya” kata Wak
Somad.
Wak Somad kemudian menceritakan tentang perkembangan rumah
singgah. Rayen dan Maureen sangat bahagia mendengar laporan Wak Somad. Dan sebelum
pulang mereka menitipkan sedikit dana untuk kebutuhan anak anak itu pada Wak
Somad, setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya ke kantor
.
.
__ADS_1
.