
Siang itu Maureen dan Rayen sedang menikmati liburan di
Puncak Bogor. Suasana yang sangat indah, dipadu dengan udara pegunungan yang
bertiup sepoi sepoi, menghantarkan suasana romantis. Banyak diantara teman
teman alumni kampus mereka yang hari itu datang sudah tidak hanya berdua saja
dengan suami atau istrinya. Tapi sudah bertiga, dengan satu anaknya. Bahkan ada
yang sudah berempat. Nampak suasana yang cukup membahagiakan sekali. Keceriaaan
dan canda tawa si kecil mereka, sungguh membuat iri siapapun yang memandangnya.
Termasuk Rayen dan Maureen.
“Lihat Bun, betapa bahagianya mereka. Bersama buah hati yang
jadi wujud cinta kasih mereka…” kata Rayen.
“Iya Ray, aku jadi iri melihat mereka. Pasti anak kita yang
didalam ini juga sudah ingin bermain main seperti mereka ya?” kata Maureen merajuk
manja.
“Pasti dong sayang. Ayah ini, anak ayah besok jadi jagoan. Pintar
karate, jadi tentara membela tanah air untuk membanggakan ayahnya” kata Rayen
“Ye…. Emang anak kita cowok ya? Kalo aku maunya anak kita
jadi artis, biar ngetop. Jadi bintang iklan biar terkenal” kata Maureen.
“Wah, lebih ngaco lagi nih? Terus perusahaan kita mau
dikemanain nih?” Tanya Rayen.
“Wah, iya ya? Anak kita kan harus jadi penerus perusahaan
kita, menggantikan kita. Bagusnya kita berharap punya anak cowok ya, biar
gampang ngurus perusahaan. Kalo cewek mah ribet. Susah bagi waktunya antara
perusahaan dan keluarga.” Kata Maureen.
“Curhat ya Bun?” kata Rayen sambil meledek Maureen.
“Ih, ayah jahat” kata Maureen sambil mencubit paha Rayen.
Suasana romantis antara mereka betul betul terasa. Sebelum acara
dimulai, memang peserta reuni diberi kesempatan untuk menikmati indahnya puncak
pegunungan Gede Pangrango. Hamparan kebun teh seluas mata memandang di
Perkebunan Teh Gunung Mas dan Gantole/paralayang menambah kemesraan mereka
berdua.
Rayen juga menyempatkan diri mengajak Maureen untuk
menikmati hidangan di Restoran Riung Gunung, sebuah restoran yang dibangun oleh
mendiang Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia pertama.
Menurut Tourguide yang ada disana, masih banyak yang bisa
dinikmati di Puncak Bogor ini, diantaranya Taman Safari Indonesia, Taman Telaga
Warna, Taman Bunga Nusantara, Taman Wisata Matahari, dan Masjid Atta’awun. Tapi
Maureen dan Rayen ingin mencari sahabatnya dulu. Raka dan Chika. Mereka yakin
Raka dan Chika juga hadir disitu. Namun sampai detik ini mereka belum ketemu.
Saat Maureen dan Rayen ingin kembali berkumpul dengan teman
teman alumni kampus di tempat reuni, karena jadwal acara akan segera dimulai,
nampak dari arah bawah sebuah mobil silver melaju menuju ke tempat parkir. Maureen
hafal benar pemilik mobil ini. Ya, ini adalah mobil milik Chika.
Maureen bergegas menuju sebuah bungalow yang ada di dekat
tempat parkir itu. Maureen dan Rayen sengaja menanti Rhaka dan Chika di situ,
mereka ingin ngobrol dan saling tukar pikiran. Barangkali dengan demikian, maka
akan sangat membantu mengatasi problem yang dialami oleh mereka.
Tak lama setelah memarkir mobilnya, nampak Chika keluar dari
mobil, bersama Rhaka. Duh, mesranya bak Raja dan Ratu. Sebentar kemudian mereka
sudah lewat di dekat bungalow tempat Maureen dan Rayen.
__ADS_1
“Hei, Chika, Rhaka. Sini. Kita santai dulu disini. Toh acaranya
belum mulai” teriak Maureen memanggil mereka berdua.
Setengah kaget Chika dab Rhaka serentak menoleh kea rah datangnya
suara. Dan nampak Maureen dan Rhaka tengah duduk sambil menikmati secangkir teh
hangat khas Puncak Bogor, yang masih fresh karena baru dipetik dari pohonnya.
“Hei. Kenapa kalian tidak gabung sama temen temen yang lain?”
kata Rhaka.
“Kami nunggu kalian, habis dari tadi kami cari cari tidak
kelihatan. Kami kira kalian tidak hadir.” Kata Rayen.
“Maaf, tadi saya mengantar Chika ke dokter dulu. Untuk memastikan
kesehatan dan kandungan Chika. Karena kita kan akan ke daerah yang cuacanya
agak berbeda dengan tempat kita. Kalau di Jakarta mah tidak ada yang perlu
dikawatirkan. Disini hawanya dingin, jadi perlu memastikan terhadap pengaruh
kesehatan” kata Rhaka.
“Nah tuh kan Rayen, Rhaka sangat perhatian sama Chika. Iya kan
Chik?”Tanya Maureen mulai merajuk karena merasa kurang diperhatikan sama Rayen.
“Ah, tidak juga Reen. Rayen kan sibuk. Harus mengurus
perusahaan, belum lagi beberapa perusahaan asing kayaknya sudah banyak yang
melirik perusahaan Rayen, jadi tentu sangat sibuk sekali kan?” kata Chika.
“Ah, Chika. Kamu tuh selalu mbelain Rayen.” Kata Maureen sambil
bersungut sungut.
“Bukan begitu Maureen. Kita sebagai istri, tidak boleh
egois. Walaupun kita punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari suami, tapi
suamipun punya keterbatasan waktu, tenaga dan juga pikiran. Gimana caranya agar
kita bisa saling mengisi. Semua harus menyadari kelebihan dan kekurangan. Usahakan
kelebihan kita bisa menutupi kekurangan suami atau pasangan kita” kata Chika
menjelaskan masalah tadi pada Maureen.
kawan.” Kata Maureen membenarkan apa kata Chika. Memang seharusnya setiap
pasangan bisa memahami kelemahan dan kekurangan pasangannya. Tidak ada manusia
yang sempurna. Dan tugas kita menyempurnakan kekurangan pasangan kita.
Keempat sahabat itupun melanjutkan obrolannya. Banyak hal
yang mereka perbincangkan. Semua gembira, semua senang. Dan momentum ini sangat
berarti bagi Maureen dan Rayen.
Tiba tiba Rayen teringat sesuatu. Ada yang kurang disini. Ah,
Azhar dan Abelia belum hadir.
“Hei, tidakkah ada yang kurang kita disini kawan? Bukankah Azhar
dan Abellia belum nampak?” Tanya Rayen.
“Mereka ijin, datang agak terlambat Rayen. Karena anaknya
masih kecil, baru usia 5 bulan. Jadi rencananya mereka cuma sebentar disini. Setelah
saling bertemu, mereka pamit duluan. Kasihan anaknya jika harus dibawa ke
tempat yang masih asing. Apalagi hawanya agak berbeda dengan tempat tinggalnya.”
Jelas Chika.
“O, begitu. Pantas dari tadi kucari cari kok belum
kelihatan. Gimana nih, kita gabung sama yang lain atau nunggu Azhar dan Abellia
dulu?”Tanya Rayen.
Baru saja mereka selesai ngobrol, tiba tiba nampak mobil
merah muda menuju tempat parkir. Dan Chika tahu, itu mobil Abellia.
“Nah, tuh dia datang”kata Chika.
Nampak Azhar dan Abellia keluar dari mobil. Merka kemudian
bergabung denga teman teman yang lain. Suasana keakraban nampak terasa di arena
reuni kali ini. Beberapa dari mereka nampak asyik ngobrol dalam beberapa
__ADS_1
gerombol. Masing masing memiliki topic sendiri sendiri. Ada yang membicarakan
bisnis. Ada yang membicarakan keluarga, kendaraan, rumah. Semua merasa seperti
bertemu dengan saudara dan keluarga yang terpisah lama. Maklum, kesibukan
mereka sangat membatasi jarak dan komunikasi antar sesama teman.
Menjelang sore, Azhar dan Abellia pamit untuk pulang
terlebih dahulu. Maklum, karena bayinya masih berusia 5 bulan, dan masih sangat
perlu Air Susu Ibu. Jadi Abellia tidak berani meninggalkannya di rumah terlalu
lama. Satu setengah jam saja baginya sudah terlalu lama.
Maureen dan Chika nampak juga sudah tidak sabar ingin segera
menimang buah hatinya. Ah, alangkah bahagianya jika mereka sudah punya anak ya……..
.
.
Menjelang malam, nampak udara sudah mulai dingin. Menurut data
dari BMKG, suhu sudah mendekati 18 derajat celcius. Padahal baru pukul 18.30.
gimana kalau nanti tengah malam ya?
Maureen dan Rayen memang sudah booking villa, sengaja mereka
booking villa yang agak besar, rencananya mereka mau mengajak Rhaka, Chika,
Azhar dan Abellia menginap di villa itu. Namun Azhar dan Abellia sudah pulang
duluan.
Suasana mala mini memang sangat indah. Meski musim
penghujan, namun nampaknya mala mini cuaca cukup cerah. Lampu lampu kota dari
arah Bogor dan Cianjur nampak demikian bagus. Suasana pegunungan yang asri. Namun
sayangnya cukup dingin.
Maureen agak gelisah. Kok cuacanya sangat dingin ya? Jangan jangan
berpengaruh terhadap kesehatannya?
Baru saja Maureen akan membicarakan hal ini dengan Rayen,
tiba tiba nampak Rhaka dan Chika di depan pintu. Nampaknya mereka berkemas mau
pulang.
“Lo, kenapa kalian berkemas kemas?” Tanya Maureen.
“Iya nih Reen. Tadi kami dipesan oleh dokter, jika dirasa
cuacanya sangat dingin dan membuat kesehatan Chika bisa terganggu, lebih baik
tidak menginap. Jadi kami berniat untuk pulang” kata Rhaka.
“Aku tadi sebenarnya juga berpikiran begitu, baiklah. Kita pulang
sama sama saja. Biar nanti Rayen yang ijin sama ketua panitia. Kayaknya buah
hati kita harus jadi prioritas nomer satu” kata Maureen.
Sesaat kemudian, Maureen segera meminta Rayen untuk
menghubungi ketua panitia untuk ijin pulang bersama Rhaka dan Rayen. Sementara Maureen
memanggil Pak Jay untuk berkemas kemas pulang malam hari ini. Rencana untuk
bermalam dibatalkan.
Setelah berpamitan, merekapun segera menuju mobil masing
masing.
Mobil segera meluncur menuruni jalanan dari Puncak Bogor. Jalanan
malam hari ini sudah agak sepi, sehingga perjalanan mereka agak lebih lancar. Mobil
terus melaju membelah jalanan Kota Bogor menuju ke Jakarta.
Selamat tinggal kota hujan, sampai bertemu lagi di liburan
yang akan datang, bersama buah hati Maureen dan Rayen.
Selamat menikmati Hari Valentine, semoga semua tetap dalam
limpahan kasih sayang.
Salam author untuk readers dan orang orang terdekat di hati
readers.
Terima kasih dukungan readers, berkat dukungan readers, CUPU
__ADS_1
JADI RATU berhasil masuk nominasi.