Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 8 ( Edisi Valentine 2 )


__ADS_3

 


 


Siang itu Maureen dan Rayen sedang menikmati liburan di


Puncak Bogor. Suasana yang sangat indah, dipadu dengan udara pegunungan yang


bertiup sepoi sepoi, menghantarkan suasana romantis. Banyak diantara teman


teman alumni kampus mereka yang hari itu datang sudah tidak hanya berdua saja


dengan suami atau istrinya. Tapi sudah bertiga, dengan satu anaknya. Bahkan ada


yang sudah berempat. Nampak suasana yang cukup membahagiakan sekali. Keceriaaan


dan canda tawa si kecil mereka, sungguh membuat iri siapapun yang memandangnya.


Termasuk Rayen dan Maureen.


“Lihat Bun, betapa bahagianya mereka. Bersama buah hati yang


jadi wujud cinta kasih mereka…” kata Rayen.


“Iya Ray, aku jadi iri melihat mereka. Pasti anak kita yang


didalam ini juga sudah ingin bermain main seperti mereka ya?” kata Maureen merajuk


manja.


“Pasti dong sayang. Ayah ini, anak ayah besok jadi jagoan. Pintar


karate, jadi tentara membela tanah air untuk membanggakan ayahnya” kata Rayen


“Ye…. Emang anak kita cowok ya? Kalo aku maunya anak kita


jadi artis, biar ngetop. Jadi bintang iklan biar terkenal” kata Maureen.


“Wah, lebih ngaco lagi nih? Terus perusahaan kita mau


dikemanain nih?” Tanya Rayen.


“Wah, iya ya? Anak kita kan harus jadi penerus perusahaan


kita, menggantikan kita. Bagusnya kita berharap punya anak cowok ya, biar


gampang ngurus perusahaan. Kalo cewek mah ribet. Susah bagi waktunya antara


perusahaan dan keluarga.” Kata Maureen.


“Curhat ya Bun?” kata Rayen sambil meledek Maureen.


“Ih, ayah jahat” kata Maureen sambil mencubit paha Rayen.


Suasana romantis antara mereka betul betul terasa. Sebelum acara


dimulai, memang peserta reuni diberi kesempatan untuk menikmati indahnya puncak


pegunungan Gede Pangrango. Hamparan kebun teh seluas mata memandang di


Perkebunan Teh Gunung Mas dan Gantole/paralayang menambah kemesraan mereka


berdua.


Rayen juga menyempatkan diri mengajak Maureen untuk


menikmati hidangan di Restoran Riung Gunung, sebuah restoran yang dibangun oleh


mendiang Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia pertama.


Menurut Tourguide yang ada disana, masih banyak yang bisa


dinikmati di Puncak Bogor ini, diantaranya Taman Safari Indonesia, Taman Telaga


Warna, Taman Bunga Nusantara, Taman Wisata Matahari, dan Masjid Atta’awun. Tapi


Maureen dan Rayen ingin mencari sahabatnya dulu. Raka dan Chika. Mereka yakin


Raka dan Chika juga hadir disitu. Namun sampai detik ini mereka belum ketemu.


Saat Maureen dan Rayen ingin kembali berkumpul dengan teman


teman alumni kampus di tempat reuni, karena jadwal acara akan segera dimulai,


nampak dari arah bawah sebuah mobil silver melaju menuju ke tempat parkir. Maureen


hafal benar pemilik mobil ini. Ya, ini adalah mobil milik Chika.


Maureen bergegas menuju sebuah bungalow yang ada di dekat


tempat parkir itu. Maureen dan Rayen sengaja menanti Rhaka dan Chika di situ,


mereka ingin ngobrol dan saling tukar pikiran. Barangkali dengan demikian, maka


akan sangat membantu mengatasi problem yang dialami oleh mereka.


Tak lama setelah memarkir mobilnya, nampak Chika keluar dari


mobil, bersama Rhaka. Duh, mesranya bak Raja dan Ratu. Sebentar kemudian mereka


sudah lewat di dekat bungalow tempat Maureen dan Rayen.

__ADS_1


“Hei, Chika, Rhaka. Sini. Kita santai dulu disini. Toh acaranya


belum mulai” teriak Maureen memanggil mereka berdua.


Setengah kaget Chika dab Rhaka serentak menoleh kea rah datangnya


suara. Dan nampak Maureen dan Rhaka tengah duduk sambil menikmati secangkir teh


hangat khas Puncak Bogor, yang masih fresh karena baru dipetik dari pohonnya.


“Hei. Kenapa kalian tidak gabung sama temen temen yang lain?”


kata Rhaka.


“Kami nunggu kalian, habis dari tadi kami cari cari tidak


kelihatan. Kami kira kalian tidak hadir.” Kata Rayen.


“Maaf, tadi saya mengantar Chika ke dokter dulu. Untuk memastikan


kesehatan dan kandungan Chika. Karena kita kan akan ke daerah yang cuacanya


agak berbeda dengan tempat kita. Kalau di Jakarta mah tidak ada yang perlu


dikawatirkan. Disini hawanya dingin, jadi perlu memastikan terhadap pengaruh


kesehatan” kata Rhaka.


“Nah tuh kan Rayen, Rhaka sangat perhatian sama Chika. Iya kan


Chik?”Tanya Maureen mulai merajuk karena merasa kurang diperhatikan sama Rayen.


“Ah, tidak juga Reen. Rayen kan sibuk. Harus mengurus


perusahaan, belum lagi beberapa perusahaan asing kayaknya sudah banyak yang


melirik perusahaan Rayen, jadi tentu sangat sibuk sekali kan?” kata Chika.


“Ah, Chika. Kamu tuh selalu mbelain Rayen.” Kata Maureen sambil


bersungut sungut.


“Bukan begitu Maureen. Kita sebagai istri, tidak boleh


egois. Walaupun kita punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dari suami, tapi


suamipun punya keterbatasan waktu, tenaga dan juga pikiran. Gimana caranya agar


kita bisa saling mengisi. Semua harus menyadari kelebihan dan kekurangan. Usahakan


kelebihan kita bisa menutupi kekurangan suami atau pasangan kita” kata Chika


menjelaskan masalah tadi pada Maureen.


kawan.” Kata Maureen membenarkan apa kata Chika. Memang seharusnya setiap


pasangan bisa memahami kelemahan dan kekurangan pasangannya. Tidak ada manusia


yang sempurna. Dan tugas kita menyempurnakan kekurangan pasangan kita.


Keempat sahabat itupun melanjutkan obrolannya. Banyak hal


yang mereka perbincangkan. Semua gembira, semua senang. Dan momentum ini sangat


berarti bagi Maureen dan Rayen.


Tiba tiba Rayen teringat sesuatu. Ada yang kurang disini. Ah,


Azhar dan Abelia belum hadir.


“Hei, tidakkah ada yang kurang kita disini kawan? Bukankah Azhar


dan Abellia belum nampak?” Tanya Rayen.


“Mereka ijin, datang agak terlambat Rayen. Karena anaknya


masih kecil, baru usia 5 bulan. Jadi rencananya mereka cuma sebentar disini. Setelah


saling bertemu, mereka pamit duluan. Kasihan anaknya jika harus dibawa ke


tempat yang masih asing. Apalagi hawanya agak berbeda dengan tempat tinggalnya.”


Jelas Chika.


“O, begitu. Pantas dari tadi kucari cari kok belum


kelihatan. Gimana nih, kita gabung sama yang lain atau nunggu Azhar dan Abellia


dulu?”Tanya Rayen.


Baru saja mereka selesai ngobrol, tiba tiba nampak mobil


merah muda menuju tempat parkir. Dan Chika tahu, itu mobil Abellia.


“Nah, tuh dia datang”kata Chika.


Nampak Azhar dan Abellia keluar dari mobil. Merka kemudian


bergabung denga teman teman yang lain. Suasana keakraban nampak terasa di arena


reuni kali ini. Beberapa dari mereka nampak asyik ngobrol dalam beberapa

__ADS_1


gerombol. Masing masing memiliki topic sendiri sendiri. Ada yang membicarakan


bisnis. Ada yang membicarakan keluarga, kendaraan, rumah. Semua merasa seperti


bertemu dengan saudara dan keluarga yang terpisah lama. Maklum, kesibukan


mereka sangat membatasi jarak dan komunikasi antar sesama teman.


Menjelang sore, Azhar dan Abellia pamit untuk pulang


terlebih dahulu. Maklum, karena bayinya masih berusia 5 bulan, dan masih sangat


perlu Air Susu Ibu. Jadi Abellia tidak berani meninggalkannya di rumah terlalu


lama. Satu setengah jam saja baginya sudah terlalu lama.


Maureen dan Chika nampak juga sudah tidak sabar ingin segera


menimang buah hatinya. Ah, alangkah bahagianya jika mereka sudah punya anak ya……..


.


.


Menjelang malam, nampak udara sudah mulai dingin. Menurut data


dari BMKG, suhu sudah mendekati 18 derajat celcius. Padahal baru pukul 18.30.


gimana  kalau nanti tengah malam ya?


Maureen dan Rayen memang sudah booking villa, sengaja mereka


booking villa yang agak besar, rencananya mereka mau mengajak Rhaka, Chika,


Azhar dan Abellia menginap di villa itu. Namun Azhar dan Abellia sudah pulang


duluan.


Suasana mala mini memang sangat indah. Meski musim


penghujan, namun nampaknya mala mini cuaca cukup cerah. Lampu lampu kota dari


arah Bogor dan Cianjur nampak demikian bagus. Suasana pegunungan yang asri. Namun


sayangnya cukup dingin.


Maureen agak gelisah. Kok cuacanya sangat dingin ya? Jangan jangan


berpengaruh terhadap kesehatannya?


Baru saja Maureen akan membicarakan hal ini dengan Rayen,


tiba tiba nampak Rhaka dan Chika di depan pintu. Nampaknya mereka berkemas mau


pulang.


“Lo, kenapa kalian berkemas kemas?” Tanya Maureen.


“Iya nih Reen. Tadi kami dipesan oleh dokter, jika dirasa


cuacanya sangat dingin dan membuat kesehatan Chika bisa terganggu, lebih baik


tidak menginap. Jadi kami berniat untuk pulang” kata Rhaka.


“Aku tadi sebenarnya juga berpikiran begitu, baiklah. Kita pulang


sama sama saja. Biar nanti Rayen yang ijin sama ketua panitia. Kayaknya buah


hati kita harus jadi prioritas nomer satu” kata Maureen.


Sesaat kemudian, Maureen segera meminta Rayen untuk


menghubungi ketua panitia untuk ijin pulang bersama Rhaka dan Rayen. Sementara Maureen


memanggil Pak Jay untuk berkemas kemas pulang malam hari ini. Rencana untuk


bermalam dibatalkan.


Setelah berpamitan, merekapun segera menuju mobil masing


masing.


Mobil segera meluncur menuruni jalanan dari Puncak Bogor. Jalanan


malam hari ini sudah agak sepi, sehingga perjalanan mereka agak lebih lancar. Mobil


terus melaju membelah jalanan Kota Bogor menuju ke Jakarta.


Selamat tinggal kota hujan, sampai bertemu lagi di liburan


yang akan datang, bersama buah hati Maureen dan Rayen.


Selamat menikmati Hari Valentine, semoga semua tetap dalam


limpahan kasih sayang.


Salam author untuk readers dan orang orang terdekat di hati


readers.


Terima kasih dukungan readers, berkat dukungan readers, CUPU

__ADS_1


JADI RATU berhasil masuk nominasi.


__ADS_2