
Suasana rumah Maureen siang itu kembali pulih. Seperti biasa,
Maureen dan Rayen sudah berada di rumah yang penuh dengan impian dan harapan. Bahkan
kebahagiaan mereka makin lengkap dengan akan hadirnya si buah hati dari kasih sayang
mereka. Ya, seorang anak yang didambakan akan menjadi penerus mereka.
Maureen begitu sangat bahagia, dan ia berharap bisa
memberikan cinta kasihnya untuk Rayen dan juga calon buah hatinya. Maureen menyadari
jika selama ini apa yang dikerjakan kurang pas sebagai seorang istri. Maureen berharap
bisa memperbaiki kesalahan kesalahan di masa lalu. Walaupun dia adalah Presdir
dari KSM Group, namun dia ingin memberikan perhatian juga untuk keluarga. Maureen
menganggap bahwa pekerjaan selamanya tidak akan pernah selesai. Itulah sebabnya,
disamping menggeluti pekerjaan dan menjalankan roda perusahaan, dia juga ingin
membangun keluarga dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Sungguh satu tujuan yang mulia. Maureen yang selama ini
sangat jarang dirumah karena saking sibuknya mengurus perusahaan, hari ini
ingin mencoba berbagi waktu menjadi seorang istri yang baik. Alangkah bahagianya,
jika Maureen mampu mengimbangkan antara tugas perusahaan dan keluarga.
Hati Maureen siang itu memang bahagia, tapi tidak dengan
Rayen. Rayen masih memikirkan tentang sesuatu yang istimewa yang sudah
disiapkan untuk ulang tahun Maureen. Ah, semua hilang percuma. Ulang tahun Maureen
sudah terlewatkan, apalagi hadiah itu kini juga sudah tidak ada. Rayen lupa
ditaruh dimana. Jangankan untuk memberikan kepada Maureen, bahkan hadiah itu
kemarin belum sempat dibungkus. Masih polos dengan bungkus ala kadarnya dari
karton coklat.
Rayen sebenarnya ingin bertanya pada Maureen atau Bi Minah. Tapi
Rayen takut, jangan jangan dia yang lupa menaruhnya. Jangan jangan dia tidak
menaruhnya di rumah. Bisa jadi Rayen menaruhnya di kantor atau ditempat lain.
Meski hati Rayen hari ini agak sedih, tapi Rayen tidak ingin
menampakkan kesedihannya. Rayen tidak ingin menghancurkan perasaan Maureen yang
saat ini sedang gembira. Ya, gembira karena hari ini mendapatkan anugrah
seorang bayi yang berada di rahimnya. Betapa lengkap seandainya hari ini Rayen
bisa memberikan hadiah itu pada Maureen. Hadiah yang pasti akan sangat membuat Maureen
bahagia. Kuburlah impianmu itu Rayen, hadiah itu sekarang sudah tidak ada,
teriak batin Rayen. Ah, mengapa mesti memikirkan yang tidak ada, lebih baik
nikmati yang ada. Seorang istri yang cantik, yang akan memberikan seorang anak
yang sangat dia dambakan.
__ADS_1
Akhirnya Rayen pun memutuskan untuk berusaha melupakan
hadiah itu, toh hari ulang tahun Maureen pun sudah terlewat. Rayen kin fokus
untuk mempersiapkan diri menyambut Tuan Besar Tito, yang hari ini akan
berkunjung ke rumah Maureen, setelah pulang dari rumah sakit. Tentu Pak Tito
juga akan sangat bahagia, jika tahu bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai
seorang cucu dari anak semata wayangnya. Ya, calon penerus trah Tirta Kusuma.
Pukul 15.00, saat terlihat sebuah mobil mewah metallic, yang
pasti dari brand terkenal memasuki halaman rumah yang sangat luas. Siapa lagi
yang datang, kalau bukan Tuan Besar Tito.
“Selamat sore, Ayah. Selamat datang dirumah Maureen” sapa Maureen.
“Selamat sore, Ayah. Silahkan masuk” timpal Rayen di
belakang istrinya.
“Selamat sore, anakku, menantuku. Senang sekali ayah hari
ini bisa datang kesini. Suatu kebahagiaan, kita bisa berkumpul bersama. Sudah lama
rasanya ayah tidak bertemu dan berkumpul bersama seperti ini” kata Pak Tito
sambil duduk di kursi yang ada diruangan yang super mewah dan luas yang
merupakan ruang keluarga milik Maureen.
“Iya, Ayah. Kita semua terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sampai
sampai kita hanya bisa bicara lewat telepon ayah” kata Maureen.
“Benar anakku. Ternyata walaupun kita bisa bicara setiap
terhingga” kata Pak Tito.
“Benar Ayah. Sejak Ibu meninggal, kita sangat jarang
berkumpul. Maureen rindu saat saat seperti ini. Maureen ingin ayah selalu
bersama Maureen”
“Ya tidak bisa to anak manja. Kamu sekarang sudah punya
suami, sudah jadi Predir KSM Group, bukan lagi anak Papi yang suka manja dan
kolokan. Anak ayah harus bisa mandiri. Bagaimana jadinya jika anak ayah
selamanya bergantung pada ayah?” kata Pak Tito
“Ah, Ayah. Kan hanya sekali kali. Bukankah selama ini Maureen
sudah bisa mandiri? Buktinya perusahaan Maureen yang di New York sudah bisa
berdiri kokoh, bahkan diperhitungkan oleh rival bisnis yang ada disana. Belum lagi
KSM Group, sahamnya sudah merajai Bursa Saham di Jakarta. Bukankah itu artinya Maureen
sudah bisa mandiri?” timpal Maureen tidak mau kalah.
“Iya, iya. Ayah mengakui jika Maureen sudah bisa diandalkan.
Tidak percuma ayah menyekolahkan kamu sampai ke tingkat tinggi.”
“Nah, gitu dong”
Maureen kelihatan senyum senyum mendengar pujian dari
__ADS_1
ayahnya.
“Gimana dengan kamu Rayen, apakah kamu sudah betul betul
sehat?” Tanya Pak Tito kepada Rayen yang dari tadi senyum senyum saja melihat
tingkah manja istrinya.
“Iya, ayah. Rayen sudah sehat. Cuma kadang masih agak
sedikit pusing. Mungkin akibat benturan kemarin” kata Rayen.
“O, ya harus bersabar, jangan dibuat kerja dulu. Urusan kantor
biar diselesaikan staf saja, nanti biar Maureen yang mengerjakan” kata Pak
Tito.
“Wah, sekarang yang banyak istirahat justru Maureen, Yah. Sebab
sebentar lagi ayah akan punya cucu”
“Benarkah?”
“Ya, Ayah. Maureen akan mempunyai buah hati”
“Ah, Ayah sangat bangga pada kalian berdua. Sebagai ungkapan
senang ayah, hari ini ayah akan menginap disini.”
“Benar ayah akan menginap disini?” Tanya Maureen dengan
manja.
“Ia Maureen, ayah akan menginap disini. Sekalian ada yang
akan kita bicarakan bertiga. Mengenai perusahaan, juga mengenai beberapa hal
yang ayah anggap penting”
“Ya, ayah. Silahkan ayah istirahat dulu. Kita bicara nanti
malam saja ya yah. Biar ayah dan Rayen istirahat dulu. Maureen akan menyiapkan
makan malam bersama Bi Minah. Makan malam special menyambut berkumpulnya kita
hari ini.”
Maureen kemudian pamit ke dapur untuk menyiapkan makan
malam. Sementara itu Rayen pamit untuk menuju ke kamar. Sedangkan Tuan Besar
Tito juga beranjak menuju kamar depan untuk beristirahat. Bahagia hati Pak Tito
hari ini. Seakan semua impiannya hamper menjadi kenyataan.
Semua serba sempurna, anak yang cantik, menantu yang tampan,
dan calon cucu yang sebentar lagi hadir. Ah, sungguh sempurna nikmat yang
diterima Pak Tito.
.
.
Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan Tuan Tito bersama
Rayen dan Maureen?
Simak di episode selanjutnya.
Terimakasih readers, juga untuk readers yang sudah mampir ke
__ADS_1
channel youtube author. Mudah mudahan kesehatan dan keberkahan selalu bersama
kita. Amin.