Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 25


__ADS_3

 


 


Suasana rumah Maureen siang itu kembali pulih. Seperti biasa,


Maureen dan Rayen sudah berada di rumah yang penuh dengan impian dan harapan. Bahkan


kebahagiaan mereka makin lengkap dengan akan hadirnya si buah hati dari kasih sayang


mereka. Ya, seorang anak yang didambakan akan menjadi penerus mereka.


Maureen begitu sangat bahagia, dan ia berharap bisa


memberikan cinta kasihnya untuk Rayen dan juga calon buah hatinya. Maureen menyadari


jika selama ini apa yang dikerjakan kurang pas sebagai seorang istri. Maureen berharap


bisa memperbaiki kesalahan kesalahan di masa lalu. Walaupun dia adalah Presdir


dari KSM Group, namun dia ingin memberikan perhatian juga untuk keluarga. Maureen


menganggap bahwa pekerjaan selamanya tidak akan pernah selesai. Itulah sebabnya,


disamping menggeluti pekerjaan dan menjalankan roda perusahaan, dia juga ingin


membangun keluarga dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


Sungguh satu tujuan yang mulia. Maureen yang selama ini


sangat jarang dirumah karena saking sibuknya mengurus perusahaan, hari ini


ingin mencoba berbagi waktu menjadi seorang istri yang baik. Alangkah bahagianya,


jika Maureen mampu mengimbangkan antara tugas perusahaan dan keluarga.


Hati Maureen siang itu memang bahagia, tapi tidak dengan


Rayen. Rayen masih memikirkan tentang sesuatu yang istimewa yang sudah


disiapkan untuk ulang tahun Maureen. Ah, semua hilang percuma. Ulang tahun Maureen


sudah terlewatkan, apalagi hadiah itu kini juga sudah tidak ada. Rayen lupa


ditaruh dimana. Jangankan untuk memberikan kepada Maureen, bahkan hadiah itu


kemarin belum sempat dibungkus. Masih polos dengan bungkus ala kadarnya dari


karton coklat.


Rayen sebenarnya ingin bertanya pada Maureen atau Bi Minah. Tapi


Rayen takut, jangan jangan dia yang lupa menaruhnya. Jangan jangan dia tidak


menaruhnya di rumah. Bisa jadi Rayen menaruhnya di kantor atau ditempat lain.


Meski hati Rayen hari ini agak sedih, tapi Rayen tidak ingin


menampakkan kesedihannya. Rayen tidak ingin menghancurkan perasaan Maureen yang


saat ini sedang gembira. Ya, gembira karena hari ini mendapatkan anugrah


seorang bayi yang berada di rahimnya. Betapa lengkap seandainya hari ini Rayen


bisa memberikan hadiah itu pada Maureen. Hadiah yang pasti akan sangat membuat Maureen


bahagia. Kuburlah impianmu itu Rayen, hadiah itu sekarang sudah tidak ada,


teriak batin Rayen. Ah, mengapa mesti memikirkan yang tidak ada, lebih baik


nikmati yang ada. Seorang istri yang cantik, yang akan memberikan seorang anak


yang sangat dia dambakan.

__ADS_1


Akhirnya Rayen pun memutuskan untuk berusaha melupakan


hadiah itu, toh hari ulang tahun Maureen pun sudah terlewat. Rayen kin fokus


untuk mempersiapkan diri menyambut Tuan Besar Tito, yang hari ini akan


berkunjung ke rumah Maureen, setelah pulang dari rumah sakit. Tentu Pak Tito


juga akan sangat bahagia, jika tahu bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai


seorang cucu dari anak semata wayangnya. Ya, calon penerus trah Tirta Kusuma.


Pukul 15.00, saat terlihat sebuah mobil mewah metallic, yang


pasti dari brand terkenal memasuki halaman rumah yang sangat luas. Siapa lagi


yang datang, kalau bukan Tuan Besar Tito.


“Selamat sore, Ayah. Selamat datang dirumah Maureen” sapa Maureen.


“Selamat sore, Ayah. Silahkan masuk” timpal Rayen di


belakang istrinya.


“Selamat sore, anakku, menantuku. Senang sekali ayah hari


ini bisa datang kesini. Suatu kebahagiaan, kita bisa berkumpul bersama. Sudah lama


rasanya ayah tidak bertemu dan berkumpul bersama seperti ini” kata Pak Tito


sambil duduk di kursi yang ada diruangan yang super mewah dan luas yang


merupakan ruang keluarga milik Maureen.


“Iya, Ayah. Kita semua terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sampai


sampai kita hanya bisa bicara lewat telepon ayah” kata Maureen.


“Benar anakku. Ternyata walaupun kita bisa bicara setiap


terhingga” kata Pak Tito.


“Benar Ayah. Sejak Ibu meninggal, kita sangat jarang


berkumpul. Maureen rindu saat saat seperti ini. Maureen ingin ayah selalu


bersama Maureen”


“Ya tidak bisa to anak manja. Kamu sekarang sudah punya


suami, sudah jadi Predir KSM Group, bukan lagi anak Papi yang suka manja dan


kolokan. Anak ayah harus bisa mandiri. Bagaimana jadinya jika anak ayah


selamanya bergantung pada ayah?” kata Pak Tito


“Ah, Ayah. Kan hanya sekali kali. Bukankah selama ini Maureen


sudah bisa mandiri? Buktinya perusahaan Maureen yang di New York sudah bisa


berdiri kokoh, bahkan diperhitungkan oleh rival bisnis yang ada disana. Belum lagi


KSM Group, sahamnya sudah merajai Bursa Saham di Jakarta. Bukankah itu artinya Maureen


sudah bisa mandiri?” timpal Maureen tidak mau kalah.


“Iya, iya. Ayah mengakui jika Maureen sudah bisa diandalkan.


Tidak percuma ayah menyekolahkan kamu sampai ke tingkat tinggi.”


“Nah, gitu dong”


Maureen kelihatan senyum senyum mendengar pujian dari

__ADS_1


ayahnya.


“Gimana dengan kamu Rayen, apakah kamu sudah betul betul


sehat?” Tanya Pak Tito kepada Rayen yang dari tadi senyum senyum saja melihat


tingkah manja istrinya.


“Iya, ayah. Rayen sudah sehat. Cuma kadang masih agak


sedikit pusing. Mungkin akibat benturan kemarin” kata Rayen.


“O, ya harus bersabar, jangan dibuat kerja dulu. Urusan kantor


biar diselesaikan staf saja, nanti biar Maureen yang mengerjakan” kata Pak


Tito.


“Wah, sekarang yang banyak istirahat justru Maureen, Yah. Sebab


sebentar lagi ayah akan punya cucu”


“Benarkah?”


“Ya, Ayah. Maureen akan mempunyai buah hati”


“Ah, Ayah sangat bangga pada kalian berdua. Sebagai ungkapan


senang ayah, hari ini ayah akan menginap disini.”


“Benar ayah akan menginap disini?” Tanya Maureen dengan


manja.


“Ia Maureen, ayah akan menginap disini. Sekalian ada yang


akan kita bicarakan bertiga. Mengenai perusahaan, juga mengenai beberapa hal


yang ayah anggap penting”


“Ya, ayah. Silahkan ayah istirahat dulu. Kita bicara nanti


malam saja ya yah. Biar ayah dan Rayen istirahat dulu. Maureen akan menyiapkan


makan malam bersama Bi Minah. Makan malam special menyambut berkumpulnya kita


hari ini.”


Maureen kemudian pamit ke dapur untuk menyiapkan makan


malam. Sementara itu Rayen pamit untuk menuju ke kamar. Sedangkan Tuan Besar


Tito juga beranjak menuju kamar depan untuk beristirahat. Bahagia hati Pak Tito


hari ini. Seakan semua impiannya hamper menjadi kenyataan.


Semua serba sempurna, anak yang cantik, menantu yang tampan,


dan calon cucu yang sebentar lagi hadir. Ah, sungguh sempurna nikmat yang


diterima Pak Tito.


.


.


Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan Tuan Tito bersama


Rayen dan Maureen?


Simak di episode selanjutnya.


Terimakasih readers, juga untuk readers yang sudah mampir ke

__ADS_1


channel youtube author. Mudah mudahan kesehatan dan keberkahan selalu bersama


kita. Amin.


__ADS_2